Syarat Mufassir: Syarat Aqliyah [2]


tafsir4[1] Dalil yang kuat

Seorang mufasir wajib memiliki kemampuan akal yang sempurna, dalil yang kuat dan hasil kesimpulan yang baik. Dan masuk dalam hal ini adalah Ilmu al-Mauhibah yang diartikan oleh ar-Raghib al-Asfahani sebagai ilmu yang Allah wariskan kepada orang yang mengamalkan apa yang ia ketahui, hal ini sesuai dengan isyarat dari Nabi SAW: “Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan mewariskan baginya ilmu yang belum ia ketahui.”[1]

 

Bahkan Allah akan memberikan ilmu Nurani Ilahi untuk hati yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah:”Dan bertaqawalah kepada Allah dan Allah akan mengajarkanmu.”

 

Para Sahabat dalam tafsir mereka berpegang pada ijtihad dan kekuatan istimbath, selain didukung oleh kemampuan akal dan ilmiyah dan kekuatan istimbath yang terikat kuat dengan kuatnya berdalil

 

Tafsir Thabari dikenal sebagai penghulu kitab tafsir serta paling terkenal, dijadikan sebagai rujukan awal oleh mufasir dalam naql sekalipun waktu itu banyak kitab-kitab tafsir lain dari tafsir aqli, tetapi hal ini tidak mengurangi posisi kitab tersebut. Ini tidak akan terjadi kecuali jika pengarangnya mempunyai istidlal yang kuat dan istimbath yang baik

 

[2] Pemahaman yang mendalam

Wajib bagi seorang mufasir mempunyai pemahaman yang mendalam yang mampu membantunya untuk mentarjih makna atau menyimpulkan makna sesuai dengan nash syari’at.

 

Dr Az-Zahabi mengatakan bahwa pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang luas adalah fadhilah Allah yang Ia berikan pada siapa yang Ia kehendaki. Banyak ayat al-Quran yang dalam maknanya dan maknanya tersembunyi. Tidak bisa diketahui kecuali orang yang telah diberi pemahaman dan cahaya bashirah. Dan Ibnu Abbas salah seorang yang paling banyak memiliki hal ini. Ini masuk dalam berkah dari doa’ Nabi SAW : “Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia ta’wil.”[2]

 

[3] Kemampuan Untuk Mentarjih dan Menjama’ di antara perkataan-perkataan

Wajib bagi orang yang bergelut dalam tafsir agar mampu dalam mentarjih jika ada dalil yang saling betentangan dan mampu menjama’perkataan dan menimbang pendapat-pendapat ketika terjadi ikhtilaf, mengetahui hakikat perbedaan perkataan tersebut, karena kebanyakan perbedaan dalam ikhtilaf tanawu’ bukan ikhtilaf tadhath. Sekaligus memperhatikan cara mentarjih ketika ihtimal.

 

 

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa wajib bagi seorang mujtahid -dalam setiap masalah dan tafsir- agar melihat pada ujma’, jika ia telah mendapatkannya, ia tidak butuh untuk melihat pada selainnya.”[3] Hal itu karena ijma’ ulama adalah macam tafsir yang paling tinggi.

 

Di antara para mufasir yang banyak mentarjih dan menjama’ dalam tafsirnya adalah Ibnu Jarir, Imam al-Qurtubi, dan Ibnu Atiyah.

 

Selesai pembahasan Syarat Aqliyah pembahasan selanjutnya adalah tentang Syarat Ilmiyah

 


[1] Hilyatul Auliya’ 10/15

[2] Tafsir wal Mufasirun 1/41

[3] Raudhatun Nadhir wa Jannatul Manadhir 2/456

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: