Syarat Mufassir: Syarat Syar’iyyah dan Akhlaqiyah [1]


tafsir3[1] Benar Aqidahnya

Imam Ibnu Jarir berkata: “Ketahuilah bahwa termasuk dari syarat seorang Mufasir adalah benar aqidahnya terlebih dahulu kemudian melazimi sunnah.”[1]

 

Imam Zarkasyi berkata: “ketahuilah bahwa seorang peneliti tidak akan bisa memahami makna wahyu secara haqiqi, tidask akan ditamopakkan rahasia ilmu yang ghaib sedangkan dihatinya ada bid’ah, berkubang dalam dosa, atau dalam hatinya ada kesombongan, hawa nafsu dan kecondongan pada dunia.”[2]

 

Ibnu Taimiyah telah memperingatkan bahwa ada sebagian orang yang meyakini suatu pendapat lantas membawanya pada lafaz-lafaz al-Quran, yang tidak ada contohnya dari para Sahabat, Tabi’indan tidak juga dari para imam, baik dalam pendapat dan juga dalam tafsri mereka, hal ini tidak lain adalah dalil risaknya aqidah mereka.”[3]Diantara contoh Tafsiran yang salah adalah tafsir Rafidhi contoh, “Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa.”[4] Mereka mengatakan Abu Bakar dan Umar, contoh yang lain “Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”[5] Mereka mengatakan antara Abu Bakar, Umar serta Ali dalam Khilafah.

 

Contoh yang lain adalah Tafsir Batiniyah, mereka mengatakan bahwa Wudhu sebagai perwalaan kepada Imam dan shalat sebagai ibarat dari rasul, zakat artinya mensucikan jiwa, Ka’bah artinya Nabi, al-Bab artinya Ali, Shafa artinya Nabi dan Marwah artinya Ali.

 

Contoh Tafsir lain yang batil adalah Tafsiran Mu’tazilah, diantaranya adalah Tafsir Zamakhsyari ketika menafsirkan QS al-A’raf:143, Ia mengatakan bahwa Nabi Musa berbicara tanpa ada penghalang seperti berbicaranya seseorang kepada raja, ia banyak menafsirkan ayat untuk menolong mazhabnya dan keyakinannya, ie manjelaskan bahwa Kalamullah adalah makhluq, kemudian akan kita temukan idtirab (kontriversi) ketika Zamakhsyari berusaha untuk menafikan ru’yatullah, dan menafsirkan kisah tentang musa di atas dengan tafsiran uyang jauh dari makna.

 

Ibnu Munayir al-Iskandari mengatakan bahwa idtirab yang paling banyak ada dalam ayat ini, ia mencampur antara kebenaran dengan kesesatan.”[6]

 

[2] Jauh dari Hawa Nafsu

Karena hawa akan menyebabkan pelakunay untuk menolong mazhabnya sekalipun mazhabnya batil, dan memalingkanya sekalipun ia benar.

 

Maka bagi seorang Mufasir hendaknya menjauhihawa nafsu dan pendapat mazhab sertabtujuna dunia, melazimi jalan kebenaran, menadsirkan al-Quran sesuai maknanya karena ia adaalah hujjah Allah atas makhluq-Nya.

 

Ibnu Jarir mengatakan bahwa seseorang akan bisa ikhlas jika iazuhud terhadap dunia, karena jika ia tidak suka untuk berbuat zuhud, maka ia tidak akan sampai pada tujuannya yang benar serta akan merusak benarnya amalnya.”[7]

 

Diantara Tafsiran yang mengandung unsur hawa nafsu adalah tafsiran al-Jashassh ketika menafsirkian QS an-Nur : 55 “Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”

 

Jashash mengatakan “bahwa ayat ini menjadi dalil benarnya imamah khalifah yang empat, Karena Allah telah memberi kekuasaan pada mereka di bumi dan mengukuhkan mereka, dan tidak masuk dalam hal ini Muawiyah, karena ketika itu ia belum beriman.”[8] Jashash mengeluarkan Muawiyah dari sifat  itu tidak lain adalah karena Hawa Nafsu dan Ta’ashub Aqidah.

 

[3] Ikhlas dan niat yang baik

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bebuat ikhlas dalam beribadah, tidak ingin kecuali mandapatkan surge dan selamat dari neraka, tanpa tujuan lain dari dunia dan perhiasannya. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

 

`Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa seorang Muslim hendaknya menghadirkan niat dalam setiap ibadanya, dengan tiga hal: 1) Niat beribadah, 2) Beramal hanya karena Allah, 3) Untuk melaksanakan perintah Allah[9]

 

Adapun faidah ikhlas secara umum adalah dengan ilhlas manusia akan menerima pekerjaan kita, mereka akan mengambil manfaat dari pekerjaan kita dan akan menjadi kengangan begi mereka. Dan seorqan mufasir dan pengarang ketika amalannya itu ikhlas, akan banyak orang yang menerimanya.

 

[4] Wara’

Wara’ adalah menjauhi dosa, maksiat, menjauhi syubhat dan takut terjerumus pada halal yang haram.”[10] Maka seoran mufasir hendaknuya wara’ dalam dirinya dan tidak memasukkan dalam tafsirnya itu tafsir yang bukan berdasarkan ilmu dan hendaknya ia takut pada Allah.

 

Sayid Qutub berkata: “Wajib bagi orang yang menginginkan hidayah Al-Quran untuk menghadirkan hati yang selamat dan hati yang ikhlas, hati yang takut dan bertaqwa. Menghindari kesesatan atau hampir terjerumus dalam kesesatan. Maka ketika itu al-Quran akan membuka rahasia dan cahayanya.”[11]

 

Contoh wara’ dari para salaf tentang menafsirkan apa yang tidak ia ketahui.

  • Abu Bakar berkata: “Bumi manakah yang akan menjadi tempatku berpijak dan langit manakah yang akan menaungiku, sekiranya aku mengatakan tentang al-Quran sesuatu yang tidak aku ketahui.”[12]
  • Sa’id bin Musayib berkata jika ia ditanya tentang tafsir al-Quran: “kami tidak mengatakan tentang al-Quran sesuatu pun.”[13]
  • As-Sa’bi berkata: “tiga hal yang aku tidak akan berkata tentangnya hingga aku mati: al-Quran, ruh dan mimpi.”[14]
  • Ibnu Atiyah berkata: “ada sebagian salaf seperti Sayid bin Musayib dan Amir as-Sa’bi dan selainnya sangat mengagunglkan tafsir al-Quran, bertawaquf karena wara’ dan berhati-hati.”[15]

 

Riwayat dan atsar ini menujukkan akan ketakutan mereka terjerunus pada sesuatu yang tidak mereka ketahui, akan tetapi jika berbicara tentang ilmu yang mereka ketahui, tidak apa-apa bahkan wajib, sebagaimana wajib diam dari sesuatu yang tidak ia ketahui.

 

[5] Berakhlaq yang baik

Wajib nagi seseorang yang ingin bergelut dalam masalah tafsir agar memiliki akhlaq yang baik dalam amal, perkataan dan perbuatan. Seorang mufasir adalalh orang yangt beradab dan tidak akan bisa beradab kecuali orang yang memiliki akhlaq dan keutamaan.

 

Hendaknya ia berkhlaq yang baik dalam perbuatan seperti bertawadhu’, jiwanya mulia, tidak mengharap gelar serta amar ma’ruf nahi mungkar.

 

Hendaknya ia mendahulukan orang yang lebih utama, tidak mendahulukan perkataan mereka, berpakaian dengan pakaian ulama, sopan ketika duduk, tidak menghadiri majlis yang sia-sia.

 

Selesai pembahasan Syarat Syar’iyyah dan Akhlaqiyah pembahasan selanjutnya adalah tentang Syarat Aqliyah

 

 


[1] Al-Itqan 2/1198

[2] Al-Burhan 2/180

[3] Muqaddimah Ushul Tafsir 85-86

[4] Al-Lahab 1

[5] Az-Zumar 65

[6] Al-Intishab 2/146

[7] Al-Itqan 2/1198-1199

[8] Ahkamul Quran lil Jashash

[9] Sarh Riyadhus Shalihin

[10] Mu’jam Lughatul Fuqaha’ 247

[11] Fi Dhilalil Quran 1/38-39

[12] Fadhailul Quran 375

[13] Muqaddimah Ushul Tafsir 111

[14] Tafsir Thabari 1/87

[15] Muharar al-Wajiz 1/41

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: