Direktur Jepang, Si Penjual Susu


Kisah sukses seorang direktur Jepang, Sato, pemilik supermarket terbesar di Amerika, dengan luas 8 Acre, layak untuk kita renungkan dalam beberapa aspek utamanya oleh pihak yang memiliki banyak konsumen.

Perbincangan kita mulai dari kisah sukses Sato yang dipungut dari belajar semasa kecil yang kemudian ia elaborasi untuk menghadapi dinamika kehidupan setelah besar.

Sato berkata, “Dulu aku selalu bermain catur dengan kakakku. Dalam setiap permainan ia selalu memenangkannya, meskipun aku berupaya berkali-kali dan berusaha membaca permainannya berkali-kali, melalui pengalaman panjang yang aku petik darinya atau dari yang lainnya. Namun aku belum pernah berhasil mengalahkannya, meski itu hanya sekali.

Di tengah pertandingan, ia mengejutkanku dengan menutupnya melalui permainan yang cantik. Ketika duduk-duduk istirahat, aku bertanya kepadanya tentang sebab kemenangannya yang sejak dulu ia menutupinya dariku.

Namun kali ini, karena desakanku ia berkata, “Dalam setiap pertandingan pandanganmu hanya terfokus pada bidak caturmu. Tapi aku selalu memfokuskan ke bidak caturku dan bidak caturmu!”

Sato berkata, “Setelah itu, aku selalu mengingat ungkapan ini dalam mengelola setiap pekerjaanku: ‘Jika Anda ingin menarik seseorang, maka Anda harus mengetahui kebutuhan dan titik kelemahannya, serta berusaha untuk memberikan apa yang ia butuhkan itu kepadanya.’

Dalam berinteraksi dengan konsumen, aku tidak hanya mengatakan produk yang aku berikan baik dan bermutu. Tapi setelah itu, aku mencela mereka karena tidak dapat membedakan mana produkku dan mana yang bukan. Melainkan Aku terus berusaha menarik mereka dengan persahabatan yang aku fokuskan melalui pemenuhan setiap kebutuhan mereka, juga terus memperhatikam mereka dan tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri saja.”

Demikianlah, kerelaan konsumen dan mencermati kebutuhan mereka telah membuat Sato unggul dalam persaingan pasar. Dan terkadang dengan hal-hal kecil dan sederhana kehidupan seseorang bisa merubah arah kehidupannya. Kisah serupa juga dialami pendiri Motorola, ayah dari Bob Galvin yang berkata:

“Suatu ketika Ayah melihat pada sebarisan karyawan perempuan dan berpikir, “Mereka seperti ibu saya sendiri, mereka memiliki anak-anak, rumah yang harus dijaga, dan orang-orang yang membutuhkan mereka.” Hal ini memotivasinya untuk bekerja keras agar ia bisa memberi mereka sebuah kehidupan yang lebih baik karena ia melihat ibunya dalam diri seluruh karyawan perempuan itu.”

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: