Menjaga Ilmu Lewat Menghafal


menjaga ilmu lewat menghafalIslam merupakan agama yang kaya tradisi dan warisan sejarah. Dalam Islam keotentikan ilmu sangat diperhatikan dan dijaga, karena dalam Islam, ilmu adalah bagian dari agama. Jika sumber dari segala ilmu adalah Al-Quran, maka Al-Quran adalah harta paling utama yang harus dijaga. Dalam sejarah Islam, budaya menghafal mempunyai peran signifikan, terutama dalam menjaga orisinilatitas Al-Quran dan Sunnah.

Dengan diturunkannya Al-Quran lewat seorang Nabi yang Ummi (buta huruf), maka proses penerimaan wahyu dari Malaikat Jibril pun dilakukan dengan cara hafalan. Demikian pula proses transformasi selanjutnya dari Nabi ke Sahabat, dan dari Sahabat satu ke Sahabat lainnya. Karena keterbatasan perantara baca tulis kala itu, para Sahabat pun dengan penuh semangat menghafal ayat-ayat Al-Quran yang mereka terima.

Bahkan karena demikian semangatnya para Sahabat dalam menghafal Al-Quran, lahirlah halaqah atau perkumpulan rahasia untuk menghafal Al-Quran dan Sunnah, di Makkah disebut Halaqah Ridhwan sedangkan di Madinah disebut Halaqah Thayyibah.

Dari perkumpulan ini lahirlah para Sahabat yang dikenal sebagai Hafidz (penghafal) Al-Quran seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Sayyidah Aisyah, Sayyidah Hafshah dan banyak lainnya. Tradisi ini belum berhenti dan terus dilestarikan sampai sekarang.

Dan salah satu keistimewaan tradisi keilmuan Islam adalah proses transformasinya dilaksanakan secara langsung dari guru ke murid yang disebut dengan istilah Talaqqi. Tradisi ini sudah dipraktekkan oleh Rasulullah dan diteruskan oleh Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, hingga ulama salaf dan khalaf.

Imam As-Suyuthi berargumentasi sehubungan perlunya Talaqqi atau membaca Al-Quran dari seseorang yang dikenal bagus bacaannya yaitu bahwa Nabi Muhammad saw mengulang atau mengapresiasikan hafalannya ke Jibril setiap tahun di bulan Ramadhan dan dua kali di akhir hidup beliau.

Para Sahabat pun menempuh metode ini sampai di antara mereka dikenal sebagai pencetus bacaan yang tujuh atau Qira’ahSab’ah dan dari mereka banyak orang belajar Qira’ah Sab’ah.

 

Dan saya tahu pasti, Talaqqi adalah cara terbaik dalam mengajarkan Al-Quran dan paling mudah karena sang pelajar hanya perlu meniru saja da nmeniru bisa dilakukan semua orang dari anak kecil sampai orang tua sekalipun, ketika kecil pengajaran orang tua lewat meniru. Menghafal Al-Quran kepada seorang guru yang ahli dan mapan dalam Al-Quran adalah sangat diperlukan agar seseorang bisa menghafal dengan baik dan benar, sebagaimana Rasulullah saw yang menghafal Al-Quran dengan Jibril dan mengulanginya pada bulanRamadhan sampai dua kali khatam.

Dilihat dari sisi konsep pendidikan, mengajar Al-Quran dengan cara ini sesuai dengan konsep Active Learning dimana siswa lebih banyak aktif atau sama-sama aktif antara guru dan murid.

Kaitannya dengan guru ngaji atau pengajar Al-Quran perlu diperhatikan pribadi pengajar dan juga konsistensinya terhadap Islam, penampilan dan citranya, kebaikan akhlak ketika sendiri atau ditengah masa, juga dituntut bisa memahami perihal muridnya.

Ketika mengajar ngaji, guru hendaknya menghindarkan bacaan-bacaan indah dan hanya mengacu kepada bacaan yang benar dan dikenal seperti bacaan murattal. Perbaiki pergaulan dengan anak didik agar mereka siap menghafal dan dapat dibentuk sesuai pola yang ada. Berikut beberapa tips mengajartahfidz Al-Quran yang mungkinbisadipraktikkan.

  1. Pengajar tahfidz hendaknya mengajarkan Makharijul Huruf terlebih dahulu tanpa mengajarkan hukum-hukum tajwid.
  2. Pengajar membacakan ayat dan ditiru para santri dan mengulang-ulangnya kemudian pengajar memperbaiki yang salah.
  3. Menggunakan perangkat seperti mp3
  4. Mendengarkan siaran-siaran Al-Quran kalau memang ada atau pengajar memperlihatkan video-video murattal para masayikh.

Selanjutnya, untuk menguatkan hafalan, hendaknya sesering mungkin mengulangi hafalan yang sudah pernah dihafal. Jangan sampai hafalan Al-Quran yang sudah pernah dihafal kita tinggal dalam tempo yang lama, karena hal ini akan menyebabkan hilangnya hafalan tersebut. Menghafal itu mudah dan siapa saja bisa, yang susah adalah menjaga hafalan dan mengulanginya secara kontinyu.

Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Abi Hatim, seorang ahli hadits yanghafalannya sangat terkenal dengan kuatnya hafalannya. Pada suatu ketika, ia menghafal sebuah buku dan diulanginyaberkali-kali, mungkin sampai tujuh puluh kali. Kebetulan dalam rumah itu ada nenek tua. Karena seringnya diamengulang-ulang hafalannya, sampai nenek tersebut bosan mendengarnya, kemudian nenek tersebut memanggil IbnuAbi Hatim dan bertanya kepadanya,”Wahai anak, apa sih yang sedang engkau kerjakan?” “Saya sedangmenghafal sebuah buku“, jawabnya. Berkata nenek tersebut, “Nggak usah seperti itu, saya saja sudahhafal buku tersebut hanya dengan mendengar hafalanmu“. ”Kalau begitu, saya ingin mendengarhafalanmu,” kata Ibnu Abi Hatim. Lalu nenek tersebut mulai mengeluarkan hafalannya. Setelah kejadian itu berlalu setahun lamanya, Ibnu Abi Hatim datang kembali kepada nenek tersebut dan meminta agar nenek tersebut mengulangi hafalan yang sudah dihafalnya setahun yang lalu, ternyata nenek tersebut sudah tidak hafal sama sekali tentang buku tersebut, dan sebaliknya Ibnu Abi Hatim, tidak ada satupun hafalannya yang lupa.

Semogabermanfaat.WallahuA’lamBisshawab.[]

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: