Praktek Metode Tahfidh Pakistani Di Pesantren Tahfidh Bina Qolbu


bina qolbuDi beberapa postingan terdahulu saya pernah membahas tentang Metode Pakistani dan bagaimana sistem metode ini berjalan. Secara singkat saya sebutkan bahwa metode ini terdiri dari sistem Sabak, Sabki dan Manzil yang ketiga istilah itu berasal dari bahasa Urdu, bahasa negeri Pakistan. Nah, di postingan ini saya ingin menunjukkan bagaimana praktek metode ini di sebuah pesantren, yang kali ini saya contohkan prakteknya di Pesantren Bina Qolbu tempat saya mengajar beberapa bulan yang lalu dan meneliti tentang efektivitas metode Pakistani untuk tugas akhir kuliah saya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz tahfidh diungkapkan bahwa ketika santri mendaftar di pesantren, mereka terlebih dahulu diuji bacaan Al-Qurannya, selanjutnya setelah diterima mereka kemudian dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuan bacaannya dan masuk pada program Tahsin Tilawah yaitu program untuk memperbaiki bacaan Al-Quran dengan baik dan benar dan mereka ditarget untuk membaca Al-Quran sekitar 5 juz perhari. Kebijakan ini berjalan maksimalnya 6 bulan dan sebagian santri ada yang kurang dari itu.

Bacaan yang mereka baca harus diperdengarkan kepada ustadz atau istilahnya Talaqqi yaitu membaca Al-Quran secara langsung dibimbing oleh seorang guru Al-Quran. Dengan membacakan hafalan kepada ustadz tahfidh maka kesalahan bacaannya akan dibetulkan ustadz dan akan terekam dalam pikiran.

Setelah santri melakukan tahsin (perbaikan bacaan) Al-Quran sesuai waktu yang ditentukan dan telah mendapat izin dari guru tahfidh untuk memulai hafalan, maka mereka diizinkan untuk mulai menghafal dan setoran kepada ustadz yang biasanya dimulai dari juz 30, 29 dan 28 baru setelah itu mulai menghafal dari juz pertama sampai habis 30 juz.

Dalam pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu menggunakan metode Pakistani yang terdiri dari sabak, sabki dan manzil. Dimana yang dimaksud sabak adalah penambahan hafalan baru yang wajib disetorkan santri setiap harinya. sabki adalah sabak yang sudah disetorkan. Adapun manzil simpanan yang sudah mencapai satu juz penuh”.[1]

Metode Pakistani cukup berat dibandingkan metode menghafal yang lain tapi bila berhasil dilaksanakan akan menjadikan santri mempunyai hafalan yang tidak keropos karena santri dituntut untuk tetap menyetorkan hafalan yang sudah dihafal dan mereka punya beban menghafal dan muraja’ah (mengulang) setiap harinya.

Pelaksanaan Tahfidhul Quran dengan metode Pakistani dan jadwal menyetor dan muraja’ah yang sudah dibuat berjalan efektif, sehingga harapannya terwujud hasil yang diinginkan yaitu insan Qurani, yang bisa menghafal Al-Quran dengan baik dan benar serta nantinya bisa mengamalkan Al-Quran dengan baik dalam aplikasi kehidupannya.

Suatu proses belajar dapat dikatakan efektif jika telah diuji melalui beberapa efektivitas. Sebagaimana diungkapkan oleh Tim Penyusun Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya bahwa indikator efektivitas dalam pembelajaran Al-Quran adalah:

  1. Anak didik dapat membaca Al-Quran dengan cepat dan bertajwid
  2. Siswa mampu membaca Al-Quran dengan baik dalam waktu minimal 7 bulan
  3. Siswa mampu membaca Al-Quran tanpa ditunjuk dalam waktu singkat[2]

Berdasarkan pengamatan dan test yang peneliti lakukan dapat dijelaskan bahwa rata-rata santri di Bina Qolbu sudah bisa membaca Al-Quran dengan bacaan tajwid yang benar hal ini dibuktikan dengan nilai test santri yang rata-rata diatas 80. Santri juga sudah bisa membaca Al-Quran dengan baik dalam waktu kurang dari 7 bulan hal ini dibuktikan dengan adanya program membaca 5 juz perhari bagi santri yang masih belum lancar bacaannya . Dan dalam kelancaran membaca dan menghafal  Al-Quran juga sudah bagus sebagaimana hasil test bahwa nilai rata-rata tajwid adalah 90 dan nilai rata-rata bidang Fashahah dan Adab adalah 80.

Maka pelaksanaan pembelajaran Al-Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu dengan menggunakan Metode Pakistani adalah efektif sebagaimana keterangan Etzioni bahwa “efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasarannya”.[3] Hal ini juga terbukti dari sebagian besar santri tahfidhul Quran sangat lancar ketika menyetorkan hafalan tambahan dan muroja’ahnya.

Kelebihan Metode Pakistani: Sabak, Sabki dan Manzil

1)   Hafalan menjadi kuat karena menekankan kepada penguatan hafalan dengan secara rutin mengulang hafalan yang lalu setiap kali setoran baru.

2)   Santri terbimbing dalam hafal Al-Quran dan tidak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.

3)   Dengan Sabki hafalan baru menjadi lebih kuat dan dengan Manzil hafalan lama menjadi kuat dan memudahkan santri mengulang hafalan satu juz.

4)   Dengan memaksakan manzil maka seluruh hafalan dapat terulang meskipun tidak satu juz walau hanya dengan menyetorkan rubu’-rubu’

5)   Dengan sistem sabak, sabki, manzil musyrif dapat berkreasi dalam menerapkan sistem setoran

6)   Disiplin waktu

7)   Menjadikan tilawah harian yang dibaca menjadi lebih baik dari segi tahsin tilawah.

8)   Penekanan hafalan baru sesuai dengan keadaan siswa.

9)   Pendidikan dalam membaca Al-Quran baik dalam shalat maupun dalam luar shalat.

 

Kekurangan Metode Pakistani: Sabak, Sabki dan Manzil

1)   Banyaknya pengulangan yang terus menerus membuat beberapa di antara santri menjadi menjemukan.

2)   Santri dan ustadz membutuhkan energi yang tidak sedikit, contohnya untuk memenuhi setoran sabak, sabki, manzil santri membutuhkan persiapan  di luar waktu halaqah, untuk ustadz dengan sistem ini memaksa untuk selalu standby setiap  harinya,hal ini mengurangi waktu keluar dan bersama keluarga bagi yang sudah berkeluarga.

3)   Pada sebagian santri perlu menyesuaikan dengan metode ini terlebih pada santri yang malas atau terpaksa.

4)   Pada program takhassus menghafal Al-Quran program ini berjalan baik tapi pada program tahfidh plus kurangnya waktu yang diperlukan untuk sistem ini.

5)   Metode ini membutuhkan perhatian yang besar dari pembimbing sehingga apabila kurang perhatian dari pembimbing maka metode ini kurang berjalan dengan baik.

)* Penelitian oleh Jumal Ahmad tentang Efektivitas Metode Pakistani di Pesantren Tahfidh Bina Qolbu


[1]Rahmad Rahadi, Metode Pembelajaran Tahfiz Al-Quran Program Ibtidaiyyah (Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta), Skripsi Sarjana FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta

[2] Tim PenyusunDidaktikMetodikKurikulum IKIP Surabaya, PengantarDidaktikMetodikKurikulum PBM, (Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 1993) Cet. Ke-5, hal. 164

[3]www.sisdiknas.co.id diakses tanggal 14 Maret 2013 jam 14.15 WIB

One Response

  1. Subhanaulloh

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: