Bagaimana Al-Quran Menjelaskan Tentang Alam Semesta


alam


Pendahuluan

Artikel ini saya tulis sebagai tugas mandiri dengan materi pembahasan penjelasan Al-Quran tentang penciptaan alam semesta. Ini merupakan pembahasan yang panjang dan membutuhkan beragam cabang keilmuan, maka untuk membatasinya penulis hanya akan membahas tentang teori penciptaan alam semesta yaitu Big Bang atau Dentuman Besar dimana teori ini adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta dan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al-Quran.

 

Asal-Usul Penciptaan Alam Semesta Berdasarkan Perspektif Al-Qur’an

Penciptaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan menciptakan.Para ilmuwan diseluruh dunia  saat ini telah sepakat bahwa alam semesta ini terjadi dari tiada secara kebetulan dan menimbulkan dentuman besar. Ke-tiada-an (berasal dari tidak ada) adalah menunjukan akan adanya penciptaan (diciptakan).

Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau Big Bang.

Adapun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam semesta adalah :

[1] Q.S. Al-Sajdah :4

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْدُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَاشَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”(Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi serta telah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.

Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka Dia pun bersemayam di atas Arasy, sesuai dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya.Allah SWT menegaskan bahwa tidak seorangpun yang dapat mengurus segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka dan siksa. Dan tidak seorangpun yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah semata, karena Dialah Yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu.Kemudian Allah SWT memperingatkan: “Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah selain Allah?(Sumber: Tafsir Depag)

[2] Q.S. Al-Kahfi :51

مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَاخَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَاكُنْتُمُ متَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

Artinya: “aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”(Q.S. Al-Kahfi [18] :51 )

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia. Setan itu tidak mempunyai hak sebagai pelindung, tidak hanya disebabkan kejadiannya dari lidah api saja tetapi juga karena mereka tidak mempunyai saham dalam menciptakan langit dan bumi ini. Allah SWT menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya, bahkan tidak pula penciptaan dari mereka sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak hadir dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam penciptaan tersebut.

Patutkah setan-setan itu dengan keadaan demikian dijadikan sekutu Allah? Allah SWT dalam menciptakan langit dan bumi ini tidak pernah sama sekali menjadikan setan-setan, berhala-berhala, sembahan-sembahan lainnya sebagai penolong, hanya Dia sendirilah yang menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan siapapun. Bilamana setan-setan itu dan berhala-berhala itu tidak ikut serta dalam menciptakan itu tentulah mereka tidak patut dijadikan sekutu Allah dalam peribadatan seseorang hamba Nya. Sebab orang yang ikut disembah yang ikut pula dalam penciptaan bumi dan langit ini. Sekutu dalam penciptaan, sekutu pula dalam menerima ibadah. Dan sebaliknya tidak bersekutu dalam penciptaan, tidak bersekutu pula dalam menerima ibadah. (Sumber: Tafsir Depag)

[3] Q.S. Al-Baqarah: 29

هُوَالَّذِي خَلَقَلَكُمْ مَافِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya :“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”(Q.S. Al-Baqarah [2] :29 )

(Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu); sebagai kemuliaan dari-Nya dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk waktu tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh “Tsummas tawa: (artinya): ‘dan Dia berkehendak (menciptakan)’ ”, mashdar/kata bendanya adalah istiwa’. Jadi, al-Istiwa’ artinya meninggi dan naik keatas sesuatu sebagaimana makna firman Allah Ta’ala (dalam ayat yang lain-red): “Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…”. (QSAl-Mu’minun/23:28). (lalu dijadikan-Nya); meluruskan (menyempurnakan) penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat didalamnya-red) [Zub]. (tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu); meskipun demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia Yang tiada ilah dan Rabb (Yang berhak disembah) selain-Nya. (Sumber: Tafsir Depag).

Dari ketiga ayat di atas ini menunjukan bahwa Allah SWT lah dengan segala ke maha kuasaan-Nya  yang telah menciptakan alam semesta, tanpa ada campur tangan dari siapapun. Ketiga ayat di atas pun sekaligus menentang pada pernyataan para philosof materalis yang mengatakan bahwa “alam semesta ini telah ada sejak dulu tanpa ada perubahan apapun dan akan tetap menjadi seperti ini sampai akhir nanti.” (Harun Yahya).

 

Teori Big Bang

Big Bang merupakan model penciptaan alam semesta yang menerangkan bahwa alam semesta telah “diciptakan dari ketiadaan.” Edwin Hubble (1929) memulai penelitian  di observatorium Mount Wilson California, Amerika. Dia membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.

Sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain.Dari sini dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang”.

Adapun arti mengembang, maka ini menunjukan bahwa pada awalnya ia berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa “titik tunggal” ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki “‘volume nol”, dan “kepadatan tak hingga”. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.dan ledakan inilah yang disebut dengan Big Bang.

Teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.

Fase-Fase Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Quran

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ‘fase’ adalah tingkatan masa (perubahan, perkembangan, dsb)[1]. Sehingga dapat disimpulkan perkembangan ataupun perubahan tahap-tahap penciptaan alam semesta dalam hal ini ditinjau dari al-Qur’an dan tidak lupa juga menyertakan penjelasan di dalam Hadits. Akan tetapi, menyusun tahapan penciptaan alam semesta di dalam a-Qur’an bukan perkara yang mudah – disamping minimnya referensi terutama asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) ataupun penjelasan dari hadits berkaitan dengan fase-fase penciptaan diperparah dengan kemunculan cerita-cerita dari Israiliyat dan hadits yang dlaif maupun maudlu (palsu).

Sebab, dari segi susunan ayat yang menerangkan tahapan penciptaan di dalam al-Qur’an seolah mengalir seperti firman Allah di dalam surat Fushilat ayat 9-12. Tidak seperti puzzle yang memang harus disusun sehingga membentuk satuan gambar yang utuh bisa dikenali. Namun, jika disusun seperti puzzle yang pernah kita mainkan maka akan membentuk sebuah gambaran penciptaan alam semesta yang saat ini dunia akui keabsahannya dari berbagai rangkaian eksperimen dan bukti yang otentik.

Enam Masa Penciptaan Alam Semesta

Al-Qur’an menyebutkan dalam sittati ayyaamin yang berarti enam masa yang panjang.

Sebagaimana dalam al-qur’an   (Q.S. Al-Sajdah [32] :4 ):

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْدُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya : “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy.Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”

Dari ayat di atas Allah SWT menyebutkan penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyaamin) selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa yang disebut dengan  (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses bukan enam hari sebagaimana mengartikan kata ayyaamin.

Adapun kronologis penciptaan dalam Al-Qur’an adalah :

 

Fase Pertama

َوَلَمْيَرَالَّذِينَ كَفَرُواأَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُون

Artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. AlAnbiya [21] :30)

Ini dimulai dengan sebuah ldakan besar (bigbang) sekitar 12-20 miliar tahun lalu.Inilah awal terciptanya materi, energy, dan waktu. “Ledakan” pada hakikatnya adalah pengembangan ruang.Materi yang mula-mula terbentuk adalah hydrogen yang menjadi bahan dasar bagi bintang-bintang generasi pertama.Hasi fusi nuklir antara inti-inti hydrogen, meghasilkan unsure-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi atau disebut juga Nukleosintesis Big Bang.

Nukleosintesis Big Bang terjadi pada tiga menit pertama penciptaan alam semesta dan bertanggung jawab atas banyak perbandingan kelimpahan 1H (protium), 2H (deuterium), 3He (helium-3), dan 4He (helium-4), di alam semesta.Meskipun 4He terus saja dihasilkan oleh mekanisme lainnya (seperti fusi bintang dan peluruhan alfa) dan jumlah jejak 1H terus saja dihasilkan oleh spalasi dan jenis-jenis khusus peluruhan radioaktif (pelepasan proton dan pelepasan neutron), sebagian besar massa isotop-isotop ini di alam semesta, dan semua kecuali jejak-jejak yang tidak signifikan dari 3He dan deuterium di alam semesta yang dihasilkan oleh proses langka seperti peluruhan kluster, dianggap dihasilkan di dalam proses Big Bang. Inti atom unsur-unsur ini, bersama-sama 7Li, dan 7Be diyakini terbentuk ketika alam semesta berumur 100 sampai 300 detik, setelah plasma kuarkgluon primordial membeku untuk membentuk proton dan neutron. Karena periode nukleosintesis Big Bang sangat singkat sebelum terhentikan oleh pengembangan dan pendinginan, tidak ada unsur yang lebih berat daripada litium yang dapat dibentuk.(Unsur-unsur terbentuk pada waktu ini adalah dalam keadaan plasma, dan tidak mendingin ke keadaan atom-atom netral hingga waktu lama).

Fase Kedua

هُوَالَّذِي خَلَقَلَكُمْ مَافِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)

Masa ini adalah pembentukan langit. Pengetahuan saat ini menunjukan bahwa langit biru hanyalah disebabkan hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar atmosfer langit biru tak ada lagi, yang ada hanyalah titik cahaya bintang , galaxy, dan benda-benda langit lainnya. Jadi, langit bukanlah hanya kubah biru yang ada di atas sana, melainkan keseluruhan yang ada di atas sana (bintang-bintang, galaxy, dan benda-benda langit lainnya), maka itulah hakikat langit yang sesungguhnya. Adapun dalam fase ini, pembentukan bintang-bintang di dalam galaxy yang masih berlangsung hingga saat ini.

 

Fase Ketiga

Pada masa ini dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya, termasuk bumi. Selain itu pada masa ini juga terjadi proses pembentukan matahari sekitar 4,6 miliar tahun lalu dan mulai di pancarkannya cahaya dan angin matahari. Proto-bumi (bayi bumi) yang telah terbentuk terus berotasi menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi sebagaimana yang Allah SWT firmankan dengan indah :

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَ أَخْرَجَ ضُحَاهَا

Artinya : “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.” Q.S An-Nazi’at [79] : 29  

 

Fase Keempat

Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsure-unsur radioaktif di bawah kulit bumi.

Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawahkulit bumi menjadi lebu,antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi  dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumiyang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang tampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” .sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

Artinya :“dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.”(Q.S. an-Naziat [79] :30)

 

Fase Kelima

Hadirnya air dan atmosfer di bumi menjadi prasyarat terciptanya kehidupan di bumi. Sebagaimana firmanAllah SWT :

…وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya :“…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup… “ (Q.S. al-anbiya [21] : 30

Selain itu, pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca dibumi, yakni awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya akan gas metan (CH4)dan ammonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigenbebas dengan bantuan energy listrik dan halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organic.Senyawa organic yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Sebagaimana dikembalikan pada surat Al Anbiya [21] ayat 30 yang telah menyebutkan bahwasannya semua makhluk hidup berasal dari air.

 

Fase Keenam

Masa keenam dalam proses penciptaan ala mini adalah dengan lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan.Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ini pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempengan tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Setelah mengkaji cara Al-Quran menjelaskan tentang penciptaan alam semesta. Penulis menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan antara satu sama lainnya. Seperti yang penulis kutip dari seorang ilmuan besar Albert Einsten: ”religion without science is blind and science without religion is damage.” (Albert Einstein, 1960)

Ilmu yang tidak disertai dengan agama akan hancur dan tumbang karena tidak adanya kekuatan iman. Sedangkan agama tanpa ilmu akan menjadi rusak karena akan dapat salah mengartikannya. Sebagaimana orang-orang materalis yang selalu menentang akan adanya penciptaan alam semesta. Ini merupakan contoh yang sangat signifikan jika ilmu pengetahuan tidak disertai dengan ajaran-ajaran agama.

Untuk itu penulis dapat menyimpulkan bahwa :

[1] Kebenaran Al-Qur’an akan selalu terbukti sampai kapanpun.

[2] Alam semesta berasal dari ketiadaan dan kemudian menjadi ada, ( terjadi proses penciptaan) oleh Allah SWT

[3] Penciptaan alam semesta terjadi secara berproses (berkembang) sebagaimana yang telah Al-Qur’an jelaskan dan tidak statis (tetap).

[4] Al-Qur’an lebih dahulu  menceritakan tentang proses penciptaan alam semesta jauh sebelum ilmu pengetahuan mencapainya (sekitar abad 6) dan kini kebenaran Al-qur’an itu sudah dapat dibuktikan kebenarannya dengan adanya kecocokan dalam sains (abad-20).

[5] Ilmu dan agama akan selalu sejalan selaras bersamaan.

 

Sumber :

62 Responses

  1. bang jangan merubah makna yang ada dalam Al-quran ya kata enam hari dengan enam masa beda makna lho

    • setuju sama kang bagus sulistiadi

    • Bukan merubah makna. Silahkan anda baca keterangan berikut dari Sayyid Qutub tentang makna Hari yang disebutkan dalam Al-Quran.

      Sayyid Qutb mengatakan bahwa tidak disangsikan lagi hari-hari itu adalah hari-hari yang batasannya hanya Allah saja yang mengetahuinya. Ia bukanlah hari-hari di bumi. Hari-hari di bumi hanyalah qiyas waktu yang ada setelah kelahiran bumi.

      Dan sebagaimana di bumi terdapat hari-hari yaitu waktu perputarannya mengelilingi matahari, begitu juga dengan planet-planet yang memiliki hari-harinya dan bintang memiliki hari-hari yang berbeda dengan hari-hari bumi, sebagiannya lebih pendek dari hari-hari bumi dan sebagian lainnya lebih panjang.

      Hari-hari yang diciptakan didalamnya bumi pertama kali kemudian mencakup diatasnya gunung-gunung, menentukan kadar-kadar makanannya adalah hari-hari yang diqiyaskan dengan ukuran yang lain yang tidak kita ketahui akan tetapi kita mengetahui bahwa hal itu jauh lebih panjang dari hari-hari bumi yang kita kenal.

      Dan yang paling dekat bisa kita renungkan sesuai dengan pengetahuan kita sebagai manusia adalah bahwa hari-hari itu adalah zaman yang telah dilalui bumi masa demi masa sehingga bumi kokoh dan padat permukaannya sehingga menjadi layak untuk dihuni. Dan hal itu seperti yang telah disebutkan oleh berbagai teori yang ada dihadapan kita yaitu sekitar dua ribu juta tahun dari tahun-tahun bumi!

      Ini hanya sebatas perkiraan ilmiyah yang bersandar pada riset bebatuan dan perkiraan usia bumi dengan perantaraannya. Kita didalam dirosah Al Qur’an tidaklah mengatakan bahwa perkiraan-perkiraan itu adalah realita akhir padahal asalnya bukanlah demikian. Dan tidaklah perkiraan itu kecuali sebatas teori-teori yang memungkinkan adanya perbaikan.

      Kita tidak menempatkan Al Qur’an untuk hal yang demikian akan tetapi kita mendapati bahwa terkadang teori-teori itu benar dan kita melihat adanya kedekatan antara teori-teori itu dengan nash Al Qur’an dan kita mendapati bahwa teori itu bisa menjadi penjelasan bagi nash Al Qur’an tanpa adanya upaya tipu daya. Dari sini kita dapati bahwa teori ini yang paling dekat dengan kebenaran karena ia paling dekat dengan kandungan nash Al Qur’an. (Fii Zhilalil Qur’an juz V hal 3110)

      Sekian.

    • Bener tuh gan… jadi kepengaruh kata “enam fase” sama “enam Hari” (jelas beda makna… 😊

      • Waalaikum salam wr wb

        Mandi adalah mengalirkan air pada sesuatu secara mutlak, adapun alghislu artinya adalah yang digunakan untuk mencuci seperti pasta,sabun,sampo dan lain sebagainya.

        Secara istilah adalah mengguyurkan atau menyiramkan air yang bersih keseluruh sisi badan dengan cara yang khusus, disebutkan dalam kitab Fiqih Ahkamun Nisa’.

        Dan yang disunnahkan untuk membersihkan hadats besar adalaj dengan mandi atau mengguyur. Adapun kalau dengan berenang atau nyelup kolam saja, itu masih kurang dan di dalam mandi besar ada tata cara sendiri sebagaimana dalam fikih.

        Jika ingin tetap di kolam, maka bersih diri di kolam dan terakhir ditutup dengan mandi besar.

      • Bukan merubah makna. Silahkan baca dengan detail nukilah keterangan dari Sayid Qutub yang kami nukil di ataa.

  2. mas numpang ambil yah, untuk di jadikan bahan referensi

    • Baik, silahkan dan terima kasih

  3. Izin di tampilkan di Portal Teknologi Islami (www.teknoislam.com)
    sekaligus undangan sebagai Kontributor pada Portal kami..
    Kami tunggu email kesediannya..

    Jazakallah Khair ..

    • SIlahkan dan terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  4. maaf…penulisan arab surat as-sajadah ayat 4 itu ada sedikit perbedaa tulisan dengan di alqur’an

    • terima kasih atas responnya, alhamdulillah sudah kami perbaiki

  5. Reblogged this on ichikromahblog.

  6. ijin share

    • SIlahkan dan terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  7. Kebetulan saya nelurin buku yang serupa… monggo direview…

    https://multatulie.wordpress.com/2015/07/28/adz-dzikr-sebuah-buku-tentang-perjalanan-alam-semesta-yang-dijelaskan-di-dalam-al-quraan/

    Jazakumullah😀

    • Siap. Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  8. alquran bumi diciptakan hanya butuh waktu 6 hari padahal ilmu pengetahuan big bang mengatakan bumi terbbentuk butuh waktu milyaran tahun, terus mana yg benar teori big bang atau alquran ?

    • Waktu itu adalah Sesuatu yang Relatif, Waktu hanya Pemikiran Manusia tentang Berapa Lama atau Cepat. Coba pelajari teori relativitas einstein

      • Betul sekali, waktu itu bersifat relatif.

        Untuk mempelajari makna hari dalam ayat-ayat yang disebutkan oleh Al-Quran, silahkan membuka postingan kami di atas ketika kami menjawab pertanyaan dari Bapak Bagus Sulistiadi.

        Sekian..

  9. baca artikel tu harus teliti, agar tidak salah paham. Alquran itu tidak penah salah dan selalu benar,

    • Tujuh langit yang diciptakan itu yang mana yah?

      • Itu ghaib, dalam artian demikian orang pertama yang sudah melewati 7 langit ini adalah Nabi Muhammad saw ketika beliau melaksanakan isra mi’raj.

        Ada yang mengatakan bahwa langit dan tata surya kita ini barulah langit tingkat pertama. wallahu a’lam.

    • Benar sekali bahwa Al-Quran tidak pernah salah dan selalu benar, itu juga saya sangat meyakini melebihi diri anda.

      Jika yang anda masksud artikel disini artikel tentang ilmu pengetahuan dan tata surya, maka anda salah jika menyalahkan saya dan mungkin orang lain yang seperti saya.

      Penemuan Ilmu pengetahuan mereka berguna untuk menambah keyakinan kita terhadap keagungan Allah. Bukankah Allah mengajari Nabi Ibrahim agar melihat matahari dan bulan? itu isyarat agar kita memperhatikan alam semesta, agar semakin besar dan tumbuh keimanan.

      Sekian.

  10. mantap

    • Alhamdulillah dan terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  11. Reblogged this on duniahimmah and commented:
    Ayat ayat al Quran tentang penciptaan alam semesta

    • Alhamdulillah dan terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  12. Trima kasih .artikelnya sangat bermanfaat.
    mohon maaf. Sekedar koreksi bahwa dalam penulisan ayat2 Al Quran dlm artikel ini rangkaian hijaiyah nya tidak sesuai dg rangkaian Al Quran. Kalimat yang seharusnya di pisah malah di hubungkan dengan kalimat selanjutnya begitupun sebaliknya.trima kasih

    • Alhamdulillah sudah kami koreksi penulisannya dan terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  13. Ijin copas, boleh ?

    • Boleh, silahkan

  14. Jadi dengan cara apakah Allah menciptakan semua ciptaan nya??

    • Didalam sunnah disebutkan bahwa bumi diciptakan dalam tujuh hari, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw memegang tanganku dan bersabda,’”Allah swt telah menciptakan tanah pada hari sabtu, menciptakan di bumi gunung-gunung pada hari ahad, menciptakan pepohonan pada hari senin, menciptakan yang tidak disukai pada hari selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, menyebarkan binatang melata di bumi pada hari kamis, menciptakan Adam pada hari jum’at setelah ashar yang merupakan akhir penciptaan di akhir waktu dari waktu-waktu hari jum’at yaitu antara ashar hingga malam.”

      Para ulama berbeda pendapat tentang hadits ini, Yahya bin Ma’in, Abdurrahman bin Mahdiy, Bukhori dan yang lainnya mengatakan bahwa hadits itu keliru dan ia bukanlah dari perkataan Nabi saw, bahkan Bukhori menjelaskan didalam “at Tarikh al Kabir” bahwa itu adalah perkataan Ka’ab seorang alim.

      Diantara yang berpendapat seperti itu juga Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim. Syeikhul Islam mengatakan bahwa dalil terhadap mereka adalah telah jelas disebutkan didalam Al Qur’an, Sunnah dan Ijma bahwa Allah swt telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan yang terakhir diciptakan adalah Adam pada hari jum’at. Terdapat perbedaan terhadap hadits ini yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan itu semua dalam tujuh hari, dan terdapat riwayat dengan sanad yang lebih shahih dari itu bahwa awal penciptaan adalah pada hari ahad. (Majmu’ al Fatawa juz I hal 256)

      Ada kalangan ulama yang menshahihkan hadits ini dan mengatakan bahwa tidak ada pertentangan antara hadits itu dengan al Qur’an. Al Qur’an menyebutkan bahwa penciptaan langit dan bumi dalam enam hari sementara hadits ini menyebutkan penciptaan segala yang ada di bumi berupa tanah, gunung-gunung dan yang lainnya, dan tujuh hari itu bukanlah enam hari yang disebutkan didalam Al Qur’an.

      Asy Syeikh Al Albani dalam catatannya terhadap “Misykat al Mashobih” (3/1598) mengatakan bahwa hadits itu tidaklah bertentangan dengan Al Qur’an dari sisi manapun, berbeda dengan anggapan sebagian orang. Sesungguhnya hadits itu menjelaskan tentang keadaan penciptaan bumi saja dan itu berlangsung dalam tujuh hari sedangkan nash Al Qur’an menyebutkan bahwa penciptaan langit dan bumi dalam enam hari dan bumi dalam dua hari yang tidak bertentangan dengan hadits diatas karena adanya kemungkinan bahwa enam hari ini berbeda dengan tujuh hari yang disebutkan didalam hadits.

      Bahwa hadits tersebut menceritakan tentang satu tahapan dari tahapan-tahapan perkembangan penciptaan bumi sehingga layak untuk dihuni yang dikuatkan oleh Al Qur’an yang menyebutkan sebagian hari disisi Allah sama dengan seribu tahun dan sebagiannya setara dengan lima puluh ribu tahun. Maka apakah ada halangan bahwa enam hari itu seperti demikian? Dan yang tujuh hari seperti hari-hari kita? sebagaimana dijelaskan hadits, dengan demikian tidak ada pertentangan antara hadits dengan al Qur’an.

      Hal itu juga dikuatkan oleh yang diriwayatkan oleh al Hakim dan al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari Said bin Jabir berkata,”Telah datang seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas dan berkata,”Aku menyaksikan berbagai pertentangan didalam Al Qur’an.’ Ibnu Abbas berkata,’Berikan apa yang menurutmu bertentangan.’

      Orang itu berkata,’aku mendengar firman Allah swt, “Katakanlah: ” Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari.” Hingga firman-Nya “dengan suka hati”. Dia swt memulai penciptaan bumi didalam ayat ini sebelum penciptaan langit, kemudian firman-Nya swt didalam ayat lain”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah Telah membinanya” kemudian Dia berfirman “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” Allah swt menyebutkan penciptaan langit sebelum penciptaan bumi. Ibnu Abbas menjawab,’Adapun penciptaan bumi dalam dua hari. Sesungguhnya bumi diciptakan sebelum langit, langit dahulunya adalah asap kemudian Allah jadikan tujuh langit dalam dua hari setelah penciptaan bumi. Adapun firman-Nya,” “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” dia berkata,’Dia menjadikan di bumi gunung, sungai, pohon dan lautan.

      Ini menunjukkan adanya dua penciptaan : penciptaan bumi pada awalnya dan penciptaan apa-apa yang ada diatasnya, seperti gunung-gunung dan sungai-sungai. (www.islamweb.net)

      Mohon maaf jika belum jelas, jika ada yang kurang silahkan disampaikan..

  15. Trimakasih karena saya jadi tahu bagaimana penciptaan bumi yang semestinya

    • Sama sama alhamdulillah jika tulisan kami bermanfaat

  16. Assalamualaikum wr.wb,
    jika semua benda di dalam alam semesta pada awalnya suatu wujud dan kemudian terpisah-pisah oleh karena suatu ledakan berarti teori big bang kurang tepat.

    kita mengetahui bahwa atas seluruh kejadian pada awalnya melalui proses.

    sebelum sesuatu itu ada, yg ada hanya Allah.
    surat al anbiya ayat 30 hanya menegaskan setelah proses terjadi
    ,
    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

    tetapi bagaimana situasi sebelumnya?
    firman Allah:
    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Hud: 7)

    Dengan ini artinya bahwa sebelum dijadikanNYA langit dan bumi bahwa singgasanaNYA berada di atas air.

    sebenarnya dari air lah semuanya dijadikan oleh Allah S.W.T.
    bukankah sampe sekarang ini kaum kafir masih menyangka teori big bang? dangkal benar pikiran mereka dan benarlah firman Allah diatas itu.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

    • Teori Big Bang atau Dentuman Besar hanyalah sebatas perkiraan ilmiyah yang bersandar pada riset. Kita didalam dirosah Al Qur’an tidaklah mengatakan bahwa perkiraan-perkiraan itu adalah realita akhir padahal asalnya bukanlah demikian. Dan tidaklah perkiraan itu kecuali sebatas teori-teori yang memungkinkan adanya perbaikan.

      Kita tidak menempatkan Al Qur’an untuk hal yang demikian akan tetapi kita mendapati bahwa terkadang teori-teori itu benar dan kita melihat adanya kedekatan antara teori-teori itu dengan nash Al Qur’an dan kita mendapati bahwa teori itu bisa menjadi penjelasan bagi nash Al Qur’an tanpa adanya upaya tipu daya. Dari sini kita dapati bahwa teori ini yang paling dekat dengan kebenaran karena ia paling dekat dengan kandungan nash Al Qur’an.

  17. Syukron atas artikelnya. Smoga ini bs meningkatkan ilmu dan kecintaan trhdp ALLOH.

    maukah and menuliskan artikel ttg alam semesta adalah hologram, dalam kacamata Islam.

    Syukron

    • Saya pun masih belum terlalu paham dengan maksud alam semesta sebagai hologram. Itu temuan dari Hogan, yang menurut saya membuat sesuatu menjadi lebih simpel untuk diteliti, seperti tentang ruang dan waktu.

      Menurut Hogan, prinsip holografis secara radikal mengubah gambaran kita mengenai ruang dan waktu. Para teorisi fisika sejak lama percaya bahwa efek kuantum akan menyebabkan ruang dan waktu bergoncang liar.

      Pada perbesaran itu, struktur ruang dan waktu berubah menjadi partikel-partikel kecil yang ratusan miliar-miliar kali lebih kecil dari proton.

      Besarnya pengembangan struktur itu dikenal dengan nama Konstanta Planck, panjangnya 10-35 meter dan jauh di luar jangkauan percobaan manapun sehingga tidak seorang pun berani bermimpi bahwa butiran-butiran ruang dan waktu itu mungkin bisa lenyap.

      Hogan akhirnya menyadari prinsip holografis itu telah mengubah banyak hal. Jika ruang dan waktu diibaratkan hologram kasar, maka Anda bisa membayangkan semesta sebagai ruang yang lapisan luarnya direkatkan pada lapisan-lapisan Planck yang masing-masing menyimpan informasi.

      Prinsip holografis mengatakan, jumlah informasi yang direkatkan di luar seharusnya sesuai dengan jumlah informasi yang dikandung dalam volume semesta. Lalu, bagaimana caranya volume ruang semesta bisa jauh lebih besar dari lapisan luarnya?

      Hogan menyadari, isi volume semesta dan batasannya mempunyai jumlah informasi yang sama, maka ruang di luarnya harus dibangun dari butiran-butiran yang lebih besar dari skala Planck, “Atau, dengan cara lain, sebuah semesta holografis itu kabur,” ungkapnya.

      Ini kabar baik bagi mereka yang berupaya meneliti unit terkecil dari ruang dan waktu. “Bertentangan dengan dengan perkiraan sebelumnya, semesta holografis menempatkan struktur kuantum mikroskopiknya ada jangkauan eksperimen-eksperimen,” jelas Hogan.

      Jadi, sementara konstanta Planck terlalu kecil untuk diteliti, proyeksi holografis butiran-butiran itu bisa lebih besar, sekitar 10-16 meter. “Jika Anda hidup dalam hologram, Anda bisa menjelaskannya dengan mengukur kadar kekaburannya.” (sumber: kaskus)

  18. مَاأَشْهَدْتُهُمْخَلْقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِوَلَاخَلْقَأَنْفُسِهِمْوَمَاكُنْتُمُتَّخِذَالْمُضِلِّينَعَضُدًا

    Artinya: “aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”(Q.S. Al-Kahfi [18] :51 )

    dari mana sumber penafsiran “Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya)” setahu saya iblis membangkang setelah diciptakan adam dan pastinya setelah ada bumi. siapa yang dimaksud anak cucunya klu bumi saja belum tercipta. trimakasih..

    • Silahkan anda baca Al-Quran, akan anda dapatkan redaksi sebelumny adalah tentang pembangkangan iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam as. Lalu disebutkan pertanyaaan apakah pantas engkau menjadikan dia yang semisal dengan kamu itu sebagai pemimpin selain Allah padahal mereka adalah musuh manusia.

      Dan untuk menambah keyakinan kita, Allah menyampaikan bahwa Iblis dan keturunanya tidak bisa apa-apa, mereka adalah hamba Allah seperti manusia. Mereka tidak menyaksikan penciptaan langin dan bumi dan ketika itu mereka belum ada.

      Allah swt dalam ayat ini ingin menegaskan bahwa Dia adalah satu-satunya pencipta dan yang mengatur alam semesta, tidak ada sekutu, mentri atau yang lainnya.

      Hal ini dikuatkan dengan firman Allah swt berikut “Katakanlah (Hai Muhammad), “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam penciptaan langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya” (Qs Saba: 22)

      anak cucu Iblis dalam ayat itu adalah syetan, Allah Maha Tahu..bahwa kelak nanti bumi akan ditinggali oleh anak cucu Adam dan akan selalu digoda oleh Iblis dan cucu-cucunya.

  19. Agama Membawa Wahyu…!!
    Wahyu kebenarannya Sudah Pasti…!!
    Jadi Bukan AL Qu’ran/Agama yg Dicocokkan KebenaranNYA dengan SAINS…!!
    Tapi Harusnya SAINS yang Dicocokkan KebenaranNya dengan AlQur’an…!!
    Bukan Wahyu yg KebenaranNya harus Cocok Dengan Argumen…!!
    Tapi Argumen Harus kebenarannya Cocok dengan Wahyu…!!

    • Siap.
      Setuju 86 dengan anda

      Terima kasih sudah berjunjung di blog sederhana kami.

  20. terimakasih.. ini sangat membantu, semoga allah membalas kebaikan anda^^

  21. Yg nama nya fase itu ayat dibaca nya ga setengah setengah gan.. Ente baca ayat setengah setengah, sedangkan dalam Al-qur an , diturunkan nya per 1 ayat bukan per 1 huruf..

    Maaf….

    • Kata-kata anda bahwa membaca Ayat jangan setengah-setengah sangat benar sekali, banyak orang yang gagal faham karena membaca ayat setengah-setengah, akibatnya pemahamannya setengah-setengah juga.

      Namun jika anda mengatakan Ayat Al-Quran diturunkan per 1 ayat itu jelas salah, sebagaimana kita ketahui ayat Alquran turun munajjaman atau berangsur angsur, dan turun dalam sekelompok ayat bukan per ayat seperti ayat yang pertama kali turun yaitu Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dan bukan pula per 1 huruf, itu lebih salah.

  22. Bagus sekali mas…itu namanya parele. …ada lagi kawan saya nanya. ……? Ayat berapa. ? Surat apa. ..? “Kalau planet2. .atau bumi kho gak ada tiang nya bisa ngapung. ..?sama yg ada dikulit bumi gak pada jatuhan. ..Sok atuh kang. …?

    • Terima kasih.

      Banyak dari kita yang belum menyadari fakta anugerah dibalik sesuatu yang ada di sekeliling kita termasuk dalam langit biru yang setiap hari kita lihat.

      Berikut ini beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan fenomena langit tanpa tiang.

      1. “Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinva dan langit-langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun.” (Surat Qaaf (50): 6)

      2. “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya.” (Surat Luqman (31): 10)

      3. “Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayan di atas Arsy dan menundukkan matahari dan bulan.” (Surat Ar-Ra’du (13): 2)

      Ayat-ayat di atas ditujukan kepada manusia secara umum yang membantah bahwa langit-langit itu terdapat tiang yang menjaganya sehingga tidak dapat jatuh ke bumi.

      Adanya atmosfir di antara bumi dan langit telah memberikan keuntungan yang besar bagi kehidupan manusia. Massa gas yang ada ini selalu seimbang dengan kecepatan gravitasi bumi.

      Allah swt memberikan keseimbangan yang tepat untuk meninggikan langit tanpa tiang penyangga.

      Allah swt berfirman:
      Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”. (Q.S. Fathir [35]: 41)

  23. selalu memaksakan science dengan ayat Quran itu tidak baik, kalo bertolak belakang dengan Quran lebih baik di ungkap tidak perlu repot di tafsirkan. saya yakin kok bumi dan langit di ciptakan dalam 6 hari. (mau cocok dengan science atau bertolak belakang). terima kasih.

    • Tidak ada pemaksaan dengan science…semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi malah semakin menegaskan bahwa Al-Quran yang turun 14 abad yang lalu sesuai dengan masa kini, bahkan banyak hal-hal yang ada di Al-Quran baru dibutktikan kebenarannya pada zaman ini.

      Seorang Doktor dari Barat yang sebelumnya bukan Islam menjadi masuk islam setelah meneliti kebenaran dalam Al-Quran, beliau bernama Maurce Bucaeli. Menulis buku BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern.

      Silahkan anda baca buku ini untuk menambah keilmuan tentang korelasi antara Al-Quran dan Science.

      Terima kasih.

  24. Teori big bang itu gak ada itu hanya karangan elite global. Pusat tatasurya itu bumi

    • Bahasan tentang Big Bang dan Bumi sebagai Pusat Tata Surya jika dikaitkan tidak menyambung karena Big Bang membahas tentang Teori terbentuknya Tata Surya.

      Model Big Bang ini menjadi model terakhir tentang pembentukan tata surya yang bisa dicapai oleh Ilmu Pengetahuan. Di antara bukti-bukti yang menguatkan kebenaran aksioma ini adalah.

      1. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.

      2. Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE (Cosmic Background Explorer). COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta.

      3. Konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang.

      Selanjutnya, tentang masalah Bumi Sebagai Pusat Tata Surya, saya ingin meyampaikan jawaban dari Ust Ahmad Sarwat,Lc ketika menerima pertanyaan senada.

      Mulai penjelasan dr Ust Ahmad Sarwat:

      Benar bahwa salah satu di antara ulama yang berpendapat bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi adalah Syeikh Al-Utsaimin. Keluasan ilmu beliau dan kedalamannya dalam masalah agama, tentu tidak perlu diragukan lagi. Namun bukan berarti beliau harus selalu benar dalam semua pendapatnya.

      Apalagi yang beliau sampaikan bukan terkait dengan masalah umurdiniyyah, melainkan tsaqafah umum terkait dengan sebuah fenomena alam yang di dalam Al-Quran disampaikan lewat isyarat. Bukan lewat pernyataan yang bersifat eksplisit. Artinya, kesalahan dalam memahami hal-hal seperti ini tidak berpengaruh pada masalah aqidah dan syariah, namun lebih kepada informasi tentang fenomena alam dan ilmu pengetahuan.

      Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya di dalam Al-Quran tidak pernah ada ayat yang bunyinya secara tegas menyebutkan bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Penekanannya di sini pada kalimat: mengelilingi bumi. Kalau ayat yang menunjukkan bahwa matahari bergerak dan digerakkan oleh Allah SWT, memang banyak bertaburan di banyak tempat dalam Al-Quran. Akan tetapi tidak ada satupun yang menyebutkan dengan mengelilingi bumi.

      Yang ada hanya pernyataan bahwa matahari itu bergerak, beredar, terbit, terbenam, condong, pergi, datang dan sejenisnya. Semua pernyataan itu tentu tidak boleh kita tolak. Namun sekali lagi, Al-Quran tidak pernah menyebutkan bahwa matahari MENGELILINGI bumi. Tidak ada ayat yang bunyinya: asyamsu taduru haulal ardhi.

      Walhasil, secara zahir nash tidak ada pernyataan di dalam Al-Quran bahwa matahari mengelilingi bumi.

      Kalau pun matahari disebutkan telah bergerak dalam arti terbit, terbenam, condong dan sebagainya, tidak ada seorang muslim pun yang menolaknya. Karena zhahir nash memang mengatakan demikian. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

      Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar; dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.(QS. Ibrahim: 33)

      Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.(QS. Yasin: 40)

      Ilmu pengetahuan sekarang ini tidak menafikan bahwa matahari beredar dan tidak diam. Sampai di sini tidak ada perbedaan antara ayat dengan ilmu pengetahuan. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan apapun tentang matahari bergerak mengelilingi bumi. Ayat ini hanya menyebutkan bahwa matahari hanya bergerak saja pada garis edarnya tanpa menyebutkan bahwa garis edarnya mengelilingi bumi.

      Namun semua yang terkait dengan informasi matahari itu sangat dikaitkan dengan pandangan subjektif manusia. Di mana Allah SWT memang berfirman untuk umat manusia. Maka boleh saja disebutkan bahwa matahari itu terbit, tentunya dari sudut pandang manusia. Padahal sesungguhnya, matahari tidak pernah pergi menghilang dari wujudnya, dia hanya menghilang dari pandangan mata kita saja.

      Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan ayat berikut ini:

      Hingga apabila dia telah sampai ke tempat ter benam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” (QS Al-Kafhi: 86)

      Kalau kita lihat zhahir nash ayat ini, jelas sekali disebutkan bahwa ada tempat terbenamnya matahari, di mana matahari bukan hanya terbenam, tapi disebutkan tempatnya masuk ke dalam bumi, yaitu di laut yang berlumpur hitam. Tetapi apakah matahari turun ke bumi dan masuk ke dalam laut? Tentu tidak bukan. Ini hanya pandangan subjektif seseorang yang melihat seolah-olah matahari masuk ke dalam laut. Padahal hakikatnya matahari berjarak 8 menit perjalanan cahaya dari bumi.

      Di dalam dalil lainnya yang juga shahih, disebutkan hal yang lebih aneh lagi. Yaitu matahari pergi ke ‘Arsy.

      Nabi SAW berkata kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam. “Apakah engkau tahu ke mana dia pergi?” Abu Dzar menjawab, “Allah dan rasulnya lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Sesungguhnya dia pergi bersujud di bawah Arsy dan meminta izin lalu diizinkan. Dan dia meminta izin dan tidak diizinkan. Kemudian dikatakan, kembalilah ke tempat kamu muncul dan terbenamlah dari arah baratnya.”

      Kalau memang hakikatnya matahari pergi pulang ke arsy tiap hari, dalam logika kita manusia di muka bumi, tentu harus ada masa dalam 24 jam bumi tidak mendapat sinar matahari dan juga alam semesta. Namun separuh manusia yang melata di muka bumi ini selalu dalam keadaan melihat matahari. Matahari tidak pernah tenggelam dari pandangan seluruh manusia di bumi.

      Matahari hanya kelihatan terbit buat segelintir orang yang kebetulan berada pada posisi matahari terbit. Demikian juga matahari hanya terbenam dalam pandangan manusia yang kebetulan berada di belahan bumi yang sebentar lagi membelakangi matahari. Dan semua itu terjadi bergantian. Tapi sesungguhnya matahari tidak pernah absen dari kita. Yang terjadi sesungguhnya, manusia lah yang absen dari matahari dengan membelakanginya.

      Dan karena Al-Quran bukan kitab astronomi, bahkan punya unsur sastra yang tinggi, maka sah-sah saja semua ungkapan yang seolah-olah menggambarkan bahwa matahari melakukan semua gerakan itu. Tanpa harus terjebak untuk menjelaskannya secara astronomi.

      Seperti ungkapan indah Al-Quran tentang malam dan siang yang saling berkejaran, apakah kita mau artikan bahwa malam dan siang itu seperti dua anak kecil main kejar-kejaran atau main petak umpet? Tentu tidak, bukan? Ungkapan berkejaran itu adalah gaya bahasa yang indah, tapi jangan dipahami terlalu teknis dan sederhana.

      Bahkan di dalam Al-Quran bertabur ayat yang punya gaya ungkapan bahasa yang indah, kadang sampai terasa aneh. Misalnya, uban yang tumbuh di kepala nabi Zakaria, disebutkan dengan ungkapan khas yaitu uban berkobar di kepala. Berkobar itu kan sesungguhnya sifat dari api. Tetapi apakah benar kepala nabi Zakaria itu terbakar? Tentu tidak, bukan?

      Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah berkobar dengan uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS Maryam: 4)

      Selesai.

      Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

  25. teori tentang apakah bumi itu bulat atau datar gimana yaa..

    • Pada surat Al-Hijr ayat 19 Allah swt berfirman: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan disana segala sesuatu menurut ukuran”. Pada ayat ini tidak ada dikatakan bagian yang dihamparkan adalah bagian bumi tertentu, tetapi yang terhampar adalah bumi secara mutlak.

      Sehingga dengan demikian, jika kita berada di suatu tempat di bagian manapun dari pada bumi itu (selatan, barat, utara, dan timur), maka kita akan melihat bahwa bumi itu datar saja, SEOLAH-OLAH TERHAMPAR di hadapan kita. Kemudian jika kita berjalan dan terus berjalan dengan mengikuti satu arah yang tetap, maka bumi itu akan terus menerus kita dapati terhampar di hadapan kita sampai suatu saat kita kembali ke tempat semula saat awal berjalan.

      Hal ini telah jelas membuktikan bahwa justru bumi itu bulat adanya. Sebaliknya, jika saja bumi itu berbentuk kubus, misalnya, maka pasti hamparan itu suatu saat akan terpotong, dan kita akan menuruni suatu bagian yang menjurang, menurun, TIDAK LAGI TERHAMPAR…..!

      Selanjutnya, jika bumi itu adalah sebuah hamparan seperti karpet atau tikar, maka jika ada orang yang melakukan perjalanan lurus satu arah secara terus menerus, maka orang itu pada akhir perjalanannya akan sampai pada ujung bumi yang terpotong, dan tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula, di mana dia memulai perjalanannya yang pertama dulu.

      Penelitian dan pengalaman manusia telah membuktikan bahwa perjalanan yang dilakukan secara terus menerus ke satu arah tertentu tidak pernah menemukan ujung dunia yang terpotong, melainkan terus menerus yang ditemukan hanyalah hamparan demi hamparan di tanah yang dilalui, untuk kemudian perjalanan itu berakhir pada tempat semula saat perjalanan pertama dimulai. Hal ini tidak mungkin dapat terjadi jika saja bumi itu tidak bulat keberadaannya.

      Penjelasan yang lebih gamblang adalah pada surat Al-Baqarah ayat 22: “ Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi itu firasy (hamparan, kapet) BAGIMU ……” Perhatikan kata-kata “bagimu”. Al-Qur’an dalam hal ini, tidak sekedar mengatakan bahwa bumi itu hamparan umpama karpet saja, kemudian berhenti pada kalimat itu, tapi ada kata tambahan lain yaitu “bagimu”. Artinya, bagi kita manusia yang tinggal di atas permukaan bumi ini, bumi terasa datar. Walaupun, bumi itu pada kenyataannya adalah tidak datar. Hanya TERASA DATAR bagi kita manusia. Terasa datar bukan berarti benar-benar datar, bukan….?

      Penjelasan kata “karpet (firasy)” bagimu bukankah bisa diartikan sebagai sesuatu yang berfungsi untuk diduduki atau dipakai tidur, dengan aman dan nyaman…?. Kata firasy dalam bahasa Indonesia dapat diartikan karpet, atau ranjang adalah sesuatu yang nyaman dan aman dan dipakai untuk tidur. Nampaknya arti seperti ini dapat dipakai, sebab keberadaan struktur bumi ini memang berlapis-lapis. Bagian intinya sangat panas dengan suhu ribuan derajat celcius yang mematikan.

      Namun demikian, pada bagian LAPISAN YANG PALING ATAS, ada sebuah lapisan keras setebal 70 kilometer, disebut lapisan kerak bumi yang paling aman dan nyaman, dengan suhu yang aman pula bagi kehidupan. Seolah-olah lapisan bumi bagian atas itu adalah ‘karpet’ atau ‘ranjang’ yang terbentang luas dan melindungi manusia serta seluruh makhluk Allah yang berada di atasnya, aman dari bahaya lapisan bumi bagian dalam yang cair, yang sangat panas lagi mematikan itu.

      Kemudian dalam QS.Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”

      Sekian.

      • Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa bumi yang kita tempati ini berbentuk bulat menurut kesepakatan para ulama. Hal ini mereka nyatakan jauh-jauh hari sebelum para ilmuwan barat menyatakan hal ini. Berkata Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishal fil Milal wan Nihal (2/97) : Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satupun dari ulama kaum muslimin semoga Allah meridlai mereka- yang mengingkari bahwa bumi itu bulat, dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka, bahkan al-Quran dan as-Sunnah telah menguatkan tentang bulatnya bumi.

        Hal senada pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan menukil perkataan Imam Abul Husain Ahmad bin Jafar bin Munadi salah seorang ulama Hanabillah yang sangat masyhur di zamannya- berkata : Demikianlah juga para ulama sepakat bahwasanya bumi dengan segala gerakannya, baik di darat maupun di laut itu bulat [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/159] Dan Syaikhul Islam pun menukil adanya ijma para ulama mengenai hal ini dari Imam Ibnu Hazm dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. [Lihat Majmu Fatawa 6/586]

        Berkata Imam Ibnu Hazm : Kita katakan kepada orang yang tidak memahami masalah ini : Bukankah Allah mewajikan kepada kita untuk shalat Dzuhur apabila matahari telah bergeser ke arah barat (zawal)? Pasti dia akan menjawab : Ya. Lalu tanyakan kepadanya tentang makna bergesernya matahari ke arah barat, pasti jawabannya adalah bahwa matahari telah berpindah dari tempat pertengahan jarak antara waktu terbitnya dengan waktu tenggelamnya, dan ini terjadi di semua waktu dan semua tempat. Maka orang yang mengatakan bahwa bumi itu datar dan tidak bulat dia harus mengatakan bahwa orang yang tinggal di daerah bumi paling timur harus shalat Dhuhur saat matahari barusan terbit, juga orang yang tinggal di daerah paling barat tidak menjalankan shalat Dhuhur kecuali di pengunjung siang dan ini adalah sesuatu yang sudah keluar dari ketetapan syariat Islam [Lihat Al-Fishal 2/87 dengan diringkas)

  26. alhamdulilah thanks,sangat bermanfaat dan menambah wawasan….

    • Alhamdulillah, terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana kami.

  27. Justru sains sendirilah yg akan membuktikan kebenaran Al Qur’an… MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA…

    • Tidak ada pertentangan antara Al-Quran dan Science.

      Dr. Maurice Bucaille telah mengadakan studi perbandingan mengenai Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan Qur-an serta Sains modern. Akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa dalam Bibel terdapat kesalahan ilmiah dan
      sejarah, karena Bibel telah ditulis oleh manusia dan mengalami perubahan-perubahan yang dibuat oleh manusia. Mengenai Al Qur-an ia berpendapat bahwa sangat mengherankan bahwa suatu wahyu yang diturunkan 14 abad yang lalu, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui manusia pada abad XX atau abad XIX dan XVIII. Atas dasar itu, Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al Qur-an adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.

      Silahkan membaca buku BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern oleh Dr. Maurice Bucaille. Di buku itu kita akan menemukan bahwa tidak ada pertentangan antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan..

      Sekian..

  28. Sebenarnya saya masih bingung dengan Teori Big Bang.
    Saya bertanya ke sana-kemari, tak ada yang memberikan jawaban kecuali: sudahlah jangan difikirkan nanti kamu kafir. Klise, tapi nyebelin! Hal pertama yang ada di pikiran saya saat oranh bilang begitu adalah: mau bagaimana Islam kalau umatnya tak mau berpikir?

    Ok, ke pertanyaan.

    Pertama, jika benar alam berasal dari satu titik, dari apakah titik itu? Dan bagaimana hal yang telah terjadi bisa disebut awal?
    Maksud saya, awalnya semesta berasal dari sebuah titik. Nah, titik saja sudah ada, ‘awalnya’ itu di mana?
    Jika kita menyerahkan semua pada Tuhan, itu selesai. Tapi, bukankah ada ayat yang menyuruh kita berpikir?

    Kedua, Anda bilang dunia semakin menjauh. Alam semesta semakin mengembang, bukan bertambah. Jadi, itu berarti keadaan saat ini telah terjadi bemilyar-milyar tahun lalu? Bumi telah ada, namun menyatu, bukankah begitu?
    Lalu, apakah ada makhluk hidup pada saat itu? Karena jelad, sifat-sifat yang memungkinkan adanya kehidupan ada.

    Ketiga, maafkan saya jika pertanyaan saya terlalu bodoh untuk ditanyakan.
    Terimakasih.

    • Terciptanya alam semesta telah dijelaskan para ahli astrofisika dengan fenomena yang sangat dikenal luas dengan nama ‘Big Bang’. Hal ini didukung oleh data observasi dan eksperimen yang dikumpulkan oleh para astronom dan astrofisika selama beberapa dekade.

      Menurut teori ‘Big Bang’, seluruh alam semesta pada awalnya berebntuk satu massa yang besar (Nebula Primer). Kemudian terjadi ‘Big Bang’ (Ledakan Pemisah Sekunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi. Kemudian, terbentuk dan terbagi dengan bentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan lain-lain. Adapun teori yang menyebutkan asal-usul semesta terbentuk begitu unik dan kemungkinan itu terjadi secara kebetulan adalah nol besar.

      Berkenaan dengan fakta ini, Al-Quran telah berbbicara dalam ayatnya;

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara keduanya…” (QS. Al-Anbiya’: 30)

      Kesesuaian yang harmoni antara Al-Quran dan teori Big Bang adalah suatu hal yang tidak dapat dielakkan lagi. Sungguh menakjubkan!!! Bagaimana mungkin sebuah kitab yang muncul di padang pasir Arab 1.400 tahun silam mengandung kebenaran ilmiah yang mendalam.

      Demikian jawaban kami, jika ada yang belum jelas silahkan dipertanyakan lagi.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: