Az-Zamakhsyari Dan Faham Muktazilah Dalam Kitab Al-Kasyf An Haqaiqit Tanzil


Az-Zamakhsyari Dan Faham MuktazilahBerikut ini adalah ulasan saya tentang riwayat hidup dan aqidah dari Imam Zamakhsyari dan kitabnya Al-Kasyf yang sangat dikenal oleh umat Islam. Sumber utama dari tulisan ini adalah kitab karya disertasi dari Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, yang berjudul al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, di terbitkan di Riyadh oleh Daar al-Andalus tahun 1422 H atau 2011 lalu. Semoga usaha kecil ini bisa menambah ilmu bagi kita semua tentang tafsir dan ilmunya, salah satu cabang ilmu yang sangat agung karena mempelajari kitabullah Al-Quran.

Riwayat Hidup Az-Zamakhsyari

A. Nama Dan Tempat Lahir

Namanya adalah Mahmud bin Amr bin Muhamamad bin Amr al-Khawarizmi, az-Zamakhsyari dan kuniyahnya adalah Abu al-Qasim, dipanggil juga dengan Jarullah (tetangga Alla) karena ia pernah tinggal di Makkah selama beberapa tahun.[1]

Masa kehidupannya dapat kita lihat dari tiga sisi

1. Dari sisi politik

Zamakhsyari hidup ketika masa senggang antara dua pemerintahan yaitu pada tahun 467-538 H, ketika masa ini negara islam banyak mengalami pergolakan politik, negara islam terpecah menjadi negara-negara kecil dan munculnya kerajaan-kerajaan yang terkenal dalam Islam, dan hal ini semua akan mempengaruhi diri az-Zamakhsyari dalam tsaqafah dan adabnya.

Di antara negara-negara yang muncul ketika maza az-Zamakhsyari adalah:

  1. Khilafah Abbasiyah
  2. Daulah Aznawiyah di India
  3. Daulah Fatimiyah di Mesir dan Syam
  4. Daulah Murabithun di Marakis
  5. Daulah al-Asraf al-Husainiyyin di Makkah.

Kemudian tentang kota tempat tinggal dari az-Zamakhhsyari, yaitu Khawarizmi, kota ini telah dikuasai oleh setidaknya tiga kekuasaan, yaitu:

  1. Daulah as-Samaniyah (261-389 H)
  2. Daulah Siljukiyah (429-552 H)
  3. Daulah Khawarizmiyah (491-628 H)

2. Sisi kemasyarakatan

Pada masa Zamakhsyari terjadi puncak ketegangan antara orang Turki dan orang Persia, hal ini disebabkan karena beralihnya pemerintahan dari Persia ke Turki serta dengan berpindahnya Ibu kota.

Selain itu, tedapat perselisihan yang amat sengit ketika masa Zamakhsyari, yaitu antara sunni dan syiah, kebanyakan orang Buwaih adalah syiah dan orang Salahiqah dan Khawarizmi adalah sunni.

Khawarizmi ketika itu menjadi kota yang subur dengan pemikiran, seperti pemikiran muktazilah dan filsafat, lalu di daerah timur faham muktazilah menjadi paham yang mendarah daging, kebanyakan mereka adalah syiah, dan fuqaha’ mereka adalah muktazili (berfahaman muktazilah) sehingga paham ini menjalar kepada orang awam dan menjadi hal biasa.

Di tengah pergolakan di daerah khawarizm tersebut, orang awam secara umunya dalam keadaan miskin dan hidup bermasyarakat dalam keadaan terpetak-petak ada yang khusus dan ada yang umum selain itu para penyeru jama’ah dan mazhab juga tak kalah santernya, dan sebagai akibat dari hal itu adalah berkembangnya perilaku tasawuf dan tawakul, menyeruak sihir dan pengagungan pada wali. [2]

Peraturan negara ketika itu sangat jelek, para sultan dan umara’ banyak melakukan korupsi, adapun kalangan ulama ketika itu, terbagi menjadu dua, yaitu ulama yang condong dengan khalifah, sehingga banyak ketika masa itu para ulama yang mengarang kitab karena perintah dari khalifah, dan kelompook ulama kedua, adalah ulama yang bertempat jauh dari keramaian atau tinggal di pedesaan, kebanyakan mereka dalam keadaan miskin.[3]

3. Sisi Ilmiyah

Zamakhsyari hidup dalam masa yang penuh dengan ilmu dan adab, ketika masanya banyak bertebaran ulama, ahli syair, penulis, terutama di daerah Khawarizmi, dan kebudayaan yang demikian banyak dimotofasi oleh pemerintah kala itu sehingga manusia saling berlomba-lomba dalam setipa cabang keilmuan, buku dan madrasah semakin banyak.

Akan tetapi daerah Khawarizmi adalah daerah yang menjadi basis pertumbuhan dan pergerakan muktazilah, sehingga tidak akan didapatkan seorang pun di Khawarizmi, kecuali bermazhab Muktazilah, mazhab ini telah menyebar luas, sampai orang awam pun meyakini bahwa al-Quran adalah makhluk.

B. Masa Belajar, Guru Dan Murud-Muridnya

Guru az-Zamakhsyari

  1. Mahmud bin Jarir ad-Dhabbi al-Asfahani, ia terkenal dalam ilmu bahasa, nahwu dan kedokteran. Ia wafat pada 507 H.
  2. Nashr bin Ahmad bin Abdullah bin al-Bathr al-Baghdadi al-Bazaz, ia wafat tahun 494 H.
  3. Al-Muhsin bin Muhammad bin Karamah al-Jasymi, ia terkenal dalam ilmu ushul dan filsafat, ia guru zamakhsyari dalam tafsir.
  4. Mauhub bin Ahmad bin Muhammad bin al-Jawaliqi, ia terkenal dalam masalah bahasa, wafat pada 540 H.
  5. Abdullah bin Thalhah bin Muhammad bin Abdullah al-Yabiri, wafat pada 520 H.
  6. Asy-Syaikh as-Sadid al-Khayathi
  7. Ruknu ad-Din Muhammad al-Ushuli

Murid az-Zamakhsyari

  1. Al-Muwafiq bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Said Ishaq, wafat pada 568 H.
  2. Muhammad bin Abi al-Qasim Bayajuk, wafat pada 562 H.
  3. Ali bi Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Marwan, wafat pada 560 H.
  4. Ya’qub bin Ali bin Muhamamad bin Ja’far.
  5. Ali bin Isa bin Hamzah bin Wahs Abi Thayib
  6. Abu Bakar Yahya bin Sa’dun bin Tamam al-Azdi
  7. Al-Qadhi abu al-Ma’ali Yahya bin Abdurrahman bin Ali as-Saibani
  8. Zainab binti Abdurrahman bin Hasan al-Jurjani
  9. Abu Thahir Ahmad bin Muhammad as-Salafi
  10. Muhamamad bin Muhammad bin Abdul jalil bin Abdul Malik al-Balkhi

C. Keilmuan, perkataan ulama tentang az-Zamakhsyari dan Hasil Karyanya

Perkataan para Ulama tentang az-Zamakhsyari

Zamahsyari adalah orang yang luas ilmunya, pemimpin dalam ilmu balaghah, ma’ani dan bayan, di antara perkataan ulama tentang dia adalah:

As-Sam’ani berkata: “Tidak ada yang menyamainya dalam ilmu adab dan nahwu, ia telah bertemu dengan para senior, memiliki banyak karangan dalam tafsir, penjelasan hadits dan dalam bahasa.”[4]

Az-Zahabi berkata: “Pembesarnya Muktazilah, ahli nahwu, pengarang al-Kasyaf, pemimpin dalam balaghah dan bahasa arab dan al-Bayan dan ia mempunyai nadham yang bagus.”[5]

Yaqut al-Himawi berkata: “Ia adalah imam dalam tafsir, nahwu, bahasa, adab, memiliki banyak keutamaan dan ilmu.”[6]

As-Suyuthi berkata: “Ia adalah orang yang luas ilmunya, memiliki banyak keutamaan, amat cerdas, mumpuni dalam setiap ilmu, bermazhab muktazilah tulen, dan menjadi penolongnya.”[7]

Adz-Dzahabi di dalam kitabnya “al-Miizaan” berkata, “Ia seorang yang layak (diambil) haditsnya, tetapi ia seorang penyeru kepada aliran muktazilah, semoga Allah melindungi kita. Karena itu, berhati-hatilah terhadap kitab Kasyaaf karyanya.”

Karangan-karangan Zamakhsyari [8]

  1. Al-Kasyaf an Haqaiq at-Tanzil
  2. Al-Faaiq
  3. Asas al-Balaghah
  4. Al-Mufashal
  5. Al-Mustaqshi di al-Amtsal
  6. Al-Qisthas
  7. Muqaddimah al-Adab
  8. Kitab al-Amkinah wa al-Jibal wa al-Baqqa’ al-Mashurah di As’ar al-Arab
  9. Kitab an-Nashaih al-Kibar
  10. Nawabigh al-Kalm
  11. Rabi’u al-Abrar
  12. Athwaq az-Zahab
  13. Kitab Khasais al-Asrah al-Kiram al-Bararah
  14. Masalah fi Kalimah as-Syahadah
  15. Nuzhah al-Mustaknis wa Nuzhah al-Muqtabis
  16. Al-Qashidah al-Ba’udhawiyah
  17. Qashidah fi Sual al-Ghazali an Julus Allah fi al-‘Arsy, wa Qushur al-Ma’rifah al-Basariyah
  18. Mukahtashar al-Muwafaqah baina Alu al-Bait wa as-Shahabah
  19. Al-Minhaj fi Ushul ad-Din
  20. Nakt al-I’rab fi Gharib al-I’rab
  21. Al-Kasf fi al-Qiraat
  22. Al-Mufrad wa al-Muallif fi an-Nahwi
  23. Risalah fi al-Majaz wa al-Isti’arah
  24. Al-Amali fi an-Nahwi
  25. Mu’jam al-Hudud
  26. Diwan at-Tamtsil
  27. Kitab al-Asma’ fi al-Lughah
  28. Ruh al-Masail
  29. Sarair al-Amtsal

D. Mazhab dan Aqidahnya

Beliau termasuk tokoh aliran Muktazilah yang membela madzhabnya dan termasuk sebagai imam dan panutan dalam aliran Muktazilah. Ia hidup di lingkungan yang berfahaman Muktazilah, gurunya Abu Madhar ad-Dhabbi memiliki andil besar dalam menancapkan paham muktazilah pada dirinya, begitu juga dengan gurunya, Abu Sa’id al-Jasmi yang menjadi gurunya dalam bidang tafsir.

Zamakhsyari tumbuh dengan mempropagandakan Muktazilah dan mengajarkannya, sehingga jika ada yang memintanya untuk masuk suatu tempat, ia katakan, katakanlah Abu al-Qasim al-Muktazili di depan pintu.[9]

Beliau demikian getol berdalil dengan ayat-ayat dalam rangka memperkuat madzhabnya yang batil. Sebaliknya, ia selalu menakwil ayat-ayat yang dianggapnya bertentangan dengan pendapatnya. Bahkan, ia merubah arah ayat-ayat yang semestinya diarahkan kepada orang-orang kafir kepada Ahlussunnah yang ia sebut sebagai ‘Hasyawiyyah’ ‘mujbirah’ dan ‘musyabbihah’ [10] dan mengangap telah keluar dari Islam, siapa saja yang menyelisihi aqidahnya[11] dan menyebut kelompok Muktazilah sebagai kelompok yang adil.

Riwayat Kitab Al-Kasyaf

A. Nama Kitab

Al-Kasysyaaf ‘An Haqaa’iq at-Tanziil Wa ‘Uyuun al-Aqaawiil Fii Wujuuh at-Ta’wiil, nama ini ditulis oleh Zamakhsyari dalam pendahuluan kitabnya. Dan pada cetakan yang lain tedapat tambahan “Ghawamidh”, sehingga judulnya menjadi “Al-Kasysyaaf ‘An Haqaa’iq Ghawamidh at-Tanziil Wa ‘Uyuun al-Aqaawiil Fii Wujuuh at-Ta’wiil, judul inilah yang telah disebutkan oleh Borklemen dan selanjutnya diikuti banyak orang.

Tentang tanggal penulisannya, Zamakhsyari menyebutkan bahwa kitab ini selesai di Dar Sulaimaniyah pada waktu Dhuha, hari senin tanggal 23 Rabi’ul akhir pada tahun 528 H. Dan ia juga menyebutkan bahwa kitab ini selesai dalam jangka waktu masa kekhilafahan Abu Bakar, ia mulai menulis al-Kasyaf pada tahun 526 H yaitu tahun ketika ia kembali ke Makkah dan tinggal di sana selama tiga tahun. [12]

B. Tema Kitab

Kitab tafsir karangannya memiliki keunggulan dari sisi keindahan al-Qur’an dan balaghahnya yang mampu menyihir hati manusia, mengingat kemumpunian beliau dalam bahasa Arab dan pengetahuannya yang mendalam mengenai sya’ir-sya’irnya. Tetapi ia membawakan hujjah-hujjah itu untuk mendukung madzhab muktazilahnya yang batil di mana ia memaparkannya dalam ayat-ayat al-Qur’an melalui pintu balaghah. [13]

Sisi keindahan dan balaghah dalam al-Quran adalah hal yang sangat ditekankan dalam tafsirnya, dan ia banyak berusaha dalam tafsirnya untuk mengarahkan maknanya pada ‘Majaz’, ‘Isti’arah’, ‘Tamtsil’ atau Isykal Balaghiyah. Ini semua untuk meunjukkan uslub dan syair al-Quran, oleh karena itu kitab ini termasuk kitab tafsir yang paling luas menyebutkan sisi bayan dan balaghah al-Quran.

C. Sebab Penulisan Kitab

D. Metode Yang Dipakai Az-Zamakhsyari Dalam Al-Kasyaf

E. Nilai Ilmiah Dalam Kitab Al-Kasyaf

Sikapnya Terhadap Hukum-Hukum Fiqih

Ia menyinggung juga tentang permasalahan fiqih namun tidak memperluasnya. Diakui bahwa ia dalam hal ini adalah seorang yang ‘moderat’, tidak fanatik dengan madzhab ‘Hanafi’-nya. [14] Ia bermazhabkan Hanafi dalam masalah furu’ dan bermazhab Muktazilah dalam masalah ushul tanpa berta’ashub terhadap mazhab Hanafi, dan penulis Thabaqat Hanafiah mengatakan: “Imam besar dalam masalah adab dan namanya sering disebut-sebut.”

Sikapnya Terhadap Bahasa, Nahwu dan Sya’ir

Beliau memberikan perhatian penuh pada penjelasan kekayaan balaghah dalam hal ‘Ma’aani’ dan ‘Bayaan’ yang terdapat di dalam al-Qur’an. Tetapi, bila ia melewatkan saja suatu lafazh yang tidak sesuai dengan madzhabnya, ia berupaya dengan segenap kemampuannya untuk membatalkan makna zhahir lafazh itu dengan menetapkan makna lain untuknya dari apa yang ada di dalam bahasa Arab atau mengarahkannya seakan ia adalah ‘Majaz’, ‘Isti’arah’ atau ‘Tamtsil’. [15] ia juga memiliki diwan syair yang banyak dipuji oleh para penulis, Borklemen, dalam bukunya al-Adab al-Islami, menyebutkan salah satu dari syairnya.

Faham Muktazilah Dalam Kitab Al-Kasyaf Dari Al-Fatihah Sampai Sampai Al-A’raf Ayat 43

1. Lafaz Basmalah

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Zamakhsyari berkata bahwa makna Rahmah, al-Athf dan al-Hanw, maka saya katakan: majaz yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

 

Sifat rahmah adalah slah satu sifat yag ditakwilkan oleh Muktazilah, syubhat yang mereka lontarkan adalah jika Allah memiliki sifat wujudiyah, maka ia butuh atau membutuhkan pada yang lain.

2. QS.al-Baqarah: 272

“Bukanlah kewajiban menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberikan taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya”

Dalam ayat ini Zamakhsyari berpendapat bahwa petunjuk bukanlah Allah yang menciptakannya, akan tetapi hamba yang menciptakan petunjuk untuk dirinya sendiri.

 

3. QS.Al-An’am: 158

“Pada hari datangnya beberapa ayat dari Tuhan tidaklah bermanfaat lagi imam seseorang seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”

Zamakhsyari berpendapat bahwa orang kafir dan orang yang melakukan maksiat sama saja mereka itu kekal di dalam neraka. Bersinggungan erat dengan janji dan ancaman. Maka Mu’tazilah menolak adanya ayat-ayat yang berbicara tentang Syafa’at (pengampunan pada hari kiamat). Argumen yang dibawanya adalah bahwa syafa’at merupkan hal yang berlawanan dengan prinsip al-Wa’ad wa al-Wa’id

 

4. QS. Al-An’am: 103

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.”

Menurut Zamakhsyari ayat ini sebagai penjelasan bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala kapanpun. Lafad nafi ( la ) yang terdapat pada ayat tersebut berlaku umum, tidak terkait waktu dan tempat tertentu, baik di dunia maupun di akhirat.

5. QS. Al-A’raf: 43

“Mereka berkata segala puji bagi Allah yang menunjuki kami kepada surga ini”

Dalam ayat ini Zamakhsyari mengartikan huda di sini dengan arti kata luthf (kelembutan) dan taufiq. Zamakhsyari membelokkan petunjuk (huda) Allah kepada makna luthf (kelembutan) dengan sebab bahwa hamba yang menciptakan petunjuk untuk dirinya sendiri. Disamping itu keadilan Tuhan juga dibicarakan dalam kaitan dengan perbuatan manusia yang bebas dan merdeka tanpa paksaan. Jika manusia dituntut melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jahat, maka manusia harus mempunyai kebebasan untuk menentukan perbuatannya sendiri, bukan perbuatan yang ditentukan oleh Allah sebelumnya.


[1] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal. 19

[2] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal. 20 dan Murtadha Ayatullah Zad az-Sairazi, az-Zamakhsyari Lughawiyan wa Mufasiran, (Kairo, Matba’ah ats-Tsaqafah, 1977), hal. 39

[3]Adam Mathew, Al-Hadharah al-Islamiyah, (Beirut, Dar kutub al-Arabi, 1387 H), juz II, hal. 157-180

[4] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 29

[5] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 30

[6] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 30

[7] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 31

[8] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 38 dan Yaqut al-Himawi, Mu’jam al-Adibba’, (Maktabah Syamilah), Juz V, hal. 494

[9] Wafayat al-A’yan, Juz V, hal. 170

[10] Abu Abdillah, Muhammad al-Mahmud an-Najdi , al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubiin Fii Manaahij al-Mufassiriin , hal.16-17

[11] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 39

[12] Prof. Shalih Gharamullah al-Ghamidi, al-Masail al-I’tizaliyah fi at-Tafsir al-Kasyaf li az-Zamakhsyari, (Riyadh, Daar al-Andalus, 1422 H), cet II, hal 44 dan Al-Kasysyaaf ‘An Haqaa’iq at-Tanziil Wa ‘Uyuun al-Aqaawiil Fii Wujuuh at-Ta’wiil, juz. IV, hal. 825

[13] Abu Abdillah, Muhammad al-Mahmud an-Najdi , al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubiin Fii Manaahij al-Mufassiriin , hal.16-17

[14] Abu Abdillah, Muhammad al-Mahmud an-Najdi , al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubiin Fii Manaahij al-Mufassiriin , hal.16-17

[15] Abu Abdillah, Muhammad al-Mahmud an-Najdi , al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubiin Fii Manaahij al-Mufassiriin , hal.16-17

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: