Ketika Manusia Menjadi Komoditi


trafficking humanManusia memiliki kedudukan yang tinggi dalam struktur kehidupan makhluk di alam semesta. Jin yang telah dicipta oleh Allah swt terlebih dahulu pun diperintahkan sujud kepada manusia kala itu, Nabi Adam as. Namun pada kenyataannya, muncullah sejarah perbudakan di muka bumi yang sering kali menimbulkan kerusakan. Islam sendiri pernah mengalami masa-masa itu bahkan pada masa Rasulullah saw sekalipun. Perbudakan?! Membuat manusia tak ubahnya barang komoditi yang bisa diperjualbelikan kepada orang-orang yang berdosa.

Lalu bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Konon, banyak orang menganggap bahwa zaman ini adalah zaman modern yang sangat menjunjung tinggi kebebasan dan menentang keras perbudakan. UUD 45 pun secara tegas menolak penjajahan dan perbudakan di seluruh dunia karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Lebih jauh, piagam kemanusiaan PBB katanya juga menjamin kebebasan umat manusia dari penindasan dan kejahatan. Bila benar konsisten, maka kedhaliman di muka bumi khususnya bumi nusantara tentu tak ada lagi.

Namun, mari kita lihat kondisi nyata di negeri ini. Dari hari ke hari justru semakin banyak orang yang terdhalimi karena menjadi korban perdagangan manusia atau trafficking human dewasa ini. Yang memprihatinkan banyak di antara korbannya adalah kalangan wanita. Para wanita yang menjadi korban trafficking human tersebut biasanya dipaksa menjadi wanita penghibur oleh sekelompok orang tertentu. Jelas tidak adil, karena sejatinya wanita seharusnya mendapat perlindungan yang utuh, bukan dipaksa menanggalkan kehormatan demi uang. Mereka juga memiliki kehormatan seperti manusia lain karena sejatinya kedudukan manusia itu sama dihadapan Allah swt. Pembedanya hanyalah taqwa, bukan yang lain. Dalam Haji Wada’, Rasulullah saw berkhutbah yang artinya:

“Wahai para manusia! Ketahuilah, bahwasanya Tuhan kalian adalah satu, dan ayah kalian adalah satu. Ketahuilah! Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam, dan juga tidak bagi orang ‘Ajam atas orang Arab, juga tidak bagi orang yang berkulit merah atau orang yang berkulit hitam, dan juga tidak bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan ketaqwaan.” (HR Ahmad)

 

Islam dan Jual Beli Wanita

Dalam Islam, begitu mulai kehormatan wanita dan anak sehingga mereka ditempatkan pada posisi yang pantas. Sayang, saat ini justru terjadi banyak perbudakan berselimut eksploitasi yang sering kali terbungkus rapi. Sebagai contoh adalah para remaja yang terjerumus dalam lembah prostitusi. Mereka dijual dan menjual diri atas nama kesenangan atau materi belaka. Bagi mereka yang dijual fisik tubuhnya, biasanya merupakan korban dari perdagangan manusia. Banyak kasus mengenai hal ini. Kebanyakan dari mereka adalah para remaja lugu yang diiming-imingi pekerjaan enak atau bayaran mahal lalu dijerat dalam jeruji prostitusi.

Siapapun kita wajib waspada terhadap bahaya ini karena sangat mungkin saudara atau teman kita yang menjadi korban. Adapun mereka yang menjual diri, apapun alasannya tentulah salah. Andaikan mejual diri mengatasnamakan hak asasi atau kebebasan maka ia tetap tergolong salah. Kehormatan diri tak bisa diukur hanya dengan uang ratusan atau jutaan rupiah saja, melainkan ia tak bisa dinilai harganya. Belum lagi bila kita melihat ancaman bagi orang yang kerap berzina.

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)

 

Perlu menjadi perhatian kita bersama, bahwa ternyata mereka yang terlibat dalam bisnis jual beli wanita sering kali melibatkan remaja wanita sebagai komoditinya. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan dari tahun 1993-2002, rata-rata mereka yang menjadi korban perdagangan manusia berusia antara 15-28 tahun. Modus yang digunakan adalah mengiming-imingi si korban dengan pekerjaan enak dan gaji besar lalu mereka disekap dari dunia luar. Pada saat disekap ini, banyak yang kemudian akhirnya di jual di rumah-rumah pelacuran atau dipaksa menjadi wanita penghibur di kafe-kafe. Dalam 20 tahun terakhir, tercatat banyak remaja putri yang diculik lalu dijadikan sebagai wanita penghibur di Malaysia atau Taiwan. Adapula yang dijual untuk menjadi pembantu atau budak tanpa gaji yang layak.

Media dan Transaksi Perdagangan Manusia

Perdagangan manusia tidak selalu identik dengan penculikan dan pemaksaan seseorang untuk menjadi wanita penghibur. Justru yang bahaya sekarang adalah perdagangan dan eksploitasi terselubung yang banyak orang tak menyadarinya. Apa itu? Ya, eksploitasi wanita melalui berbagai media dalam wujud hiburan. Contohnya para penyanyi yang rela buka-bukaan aurat demi mendapatkan banyak penonton, pemain film yang menjual diri demi tuntutan skenario atau acara perhelatan ‘umbar aurat’ terbesar dunia yang diadakan di Indonesia bulan ini yaitu Miss World 2013.

Saudara-saudara kita yang masih awam sering kali menjadi korban penjualan manusia terselubung satu ini. Demi titel artis atau selebritis, banyak orang menjadi gelap mata dan rela melakukan segala hal demi tujuan tersebut. Entah sebagai pelaris dagangan, iklan produk yang dijual atau menjadi produk yang diperjualbelikan itu sendiri. Pebisnis yang tidak bertakwa berpandangan bahwa ‘uang’ adalah segala-galanya. Semua jalan yang mengantarkan pada uang maka itu dianggap sebagai barang halal, mereka tidak peduli lagi dengan apa yang mereka masukkan ke dalam perutnya. Padahal Nabi saw pernah bersabda yang artinya: “Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih berhak padanya….” (Musnad Imam Ahmad)

 

Untuk itu, sudah sepatutnya bila kita sebagai muslim mengambil peran dakwah di lingkungan kita. Hanya dengan dakwah, banyak saudara kita akan kembali kepada jalan kebenaran dan terbebas dari bahaya manusia-manusia jahat. Semoga di kemudian hari tak ada lagi korban bergelimpangan atas nama “perdagangan manusia”.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: