Pengobatan Medis vs Alternatif


medis vs alternatifPerkembangan ilmu kedokteran modern (conventional medicine) saat ini memang sudah sampai  ke tahap yang cukup mencengangkan. Di antaranya adalah perkembangan alat-alat modern untuk mendeteksi penyakit hingga dilakukannya analisis penyakit sampai ke tahap molekuler (DNA). Namun, kita juga tidak memungkiri bahwa masih banyak hal-hal yang belum disingkap oleh ilmu kedokteran modern. Misalnya, sampai saat ini belum ditermukan obat ampuh untuk membunuh infeksi kronik virus Hepatitis B. Apabila seseorang terinfeksi virus Hepatitis B secara kronik, maka sampai saat ini belum ada obat yang dapat membunuh semua virus tersebut dalam tubuh. Terapi saat ini tidak bersifat menyembuhkan, tetapi tujuan pengobatan “hanya” sebatas pada penekanan perkembangbiakan virus dan pencegahan komplikasi yang lebih lanjut. Akibatnya, apabila virus Hepatitis B sudah masuk dalam tubuh maka masih terdapat kemungkinan untuk berkembang menjadi penyakit hati kronik sampai menimbulkan komplikasi kanker hati. Buktinya, di Amerika Serikat saja –yang kedokterannya sangat maju- infeksi Hepatitis B kronik bertanggung jawab pada 5000 kematian tiap tahun karena perlbagai komplikasinya.[1]

 

Demikian pula penyakit-penyakit lainnya, dari yang terlihat “sepele” seperti hipertensi hingga yang menakutkan seperti kanker ganas yang sudah menyebar sampai ke pelbagai organ tubuh lainnya.

 

Oleh karena itu, sampai saat ini para pakar kedokteran tidak henti-hentinya meneliti proses penyakit dan pengobatannya yang tepat dan efektif. Di indonesia saja, banyak terdapat pusat-pusat penelitian dengan pembiayaan yang sangat mahal. Oleh sebab itu ilmu kedokteran merupakan ilmu yang tidak akan ada habisnya, mengingat penemuan-penemuan baru yang sangat cepat.

 

Sehingga, dari kenyataan yang ada kita sering menjumpai  sebagian orang yang kemudian beralih ke pengobatan alternatif untuk mencari kesembuhan. Alasannya pun beragam. Ada yang beralasan karena biayanya lebih murah dan terjangkau –pengobatan medis memang masih diidentikkan dengan high cost medicine (biaya tinggi sehingga hanya terjangkau oleh sebagian kecil masyarakat. Sampai-sampai muncul suatu istilah yang cukup terkenal, yaitu “Orang Miskin Dilarang Sakit”-. Ada pula yang didorong karena keinginan mencari alternatif lain setelah pengobatan medis tidak membuahkan hasil dan memuaskan.

 

Pengguna pengobatan alternatif biasanya sudah mencoba pengobatan medis terlebih dahulu, akan tetapi belum memuaskan. Dalam hal ini, mau ilmiah atau tidak ilmiah, bukan suatu hal yang penting bagi pasien. Karena yang mereka butuhkan hanya satu, yaitu kesembuhan. Menurut mereka, untuk apa berobat dengan metode ilmiah, kalau hasilnya tidak sembuh juga? Sehingga tidak heran jika banyak pasien yang memanfaatkan pengobatan alternatif berasal dari kelompok-kelompok berpendidikan tinggi.

 

Di satu sisi, pengobatan alternatif memang memiliki “daya pikat” tersendiri. Siapa yang tidak tertarik dengan pengobatan cara aneh yang di antaranya karena mendengar atau menyaksikan sendiri “kesaktian” seorang tabib? Siapakah yang tidak kesengsem dengan orang yang mampu memindahkan sakit jantung seseorang ke jantung kucing? Atau cukup disentuh sedikit, kaki yang tadinya lumpuh langsung bisa berjalan? Atau siapa yang tidak tertarik dengan pengobatan jarak jauh dengan cukup mengirim data diri dan tanggal lahir? Apalagi jika tabib tersebut berpenampilan layaknya “wali Allah”, dengan bersorban, memakai jubah putih, berjenggot panjang, dan di tangannya selalu membawa tasbih.[2]

 

Oleh karena itu, di sinilah letak peran sentral ilmu dalam diri seseorang. Seseorang yang mengerti tauhid, tentu akan dapat membedakan antara pengobatan yang dibenarkan syari’at dengan yang tidak. Dia akan memahami bahwa usahanya mencari kesembuhan merupakan bagian dari mengambil sebab yang telah diatur dalam syari’at. Sehingga dia akan selektif untuk mengambil sebab-sebab yang tidak bertentangan dengan syari’at.

 

Pengobatan alternatif (alternative medicine) mengacu kepada suatu praktik pelayanan kesehatan baik yang bersifat mencegah (preventive) maupun mengobati (therapeutic) seperti homeopati, naturopati dan pengobatan herbal (herbal medicine) –yang tidak mengikuti metode medis yang telah diterima secara luas serta tidak memiliki penjelasan ilmiah tentang keefektifannya-. Sehingga, manfaat atau khasiat serta mekanisme dari pengobatan alternatif biasanya masih dalam taraf perdebatan.

 

Istilah “alternatif” sebenarnya lebih banyak digunakan di negara-negara berkembang, seperti di negara kita. Sedangkan di negara-negara Eropa dan Amerika, peran dari pengobatan “alternatif” ini terutama sebagai “pelengkap” atau “tambahan” (complementary) bagi pengobatan medis (pengobatan konvensional atau conventional medicine). Maksudnya, pasien memanfaatkan pengobatan tersebut untuk “melengkapi” terapi yang diberikan oleh petugas kesehatan  medis. Sehingga, istilah yang lebih banyak digunakan di Eopa dan Amerika adalah complementary medicine, dan bukan alternative medicine.

 

Pada tahun 1998, Badan Kongres Amerika Serikat mendirikan The National Centre for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) di National Institutes of Health (NIH) untuk mengembangkan penelitian mengenai pengobatan alternatif (Complementary and Alternative Medicine/CAM). Misi utama lembaga tersebut adalah meneliti CAM dalam konteks ilmu pengetahuan ilmiah, melatih para peneliti di bidang CAM, dan memberikan informasi yang dapar dipercaya kepada masyarakat dan para praktisi kesehatan mengenai keamanan dan khasiat dari CAM. Hasil-hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang berjudul The Journal of Complementary and Alternative Medicine. Jurnal ini memuat ratusan bahkan ribuan penelitian ilmiah tentang pengobatan alternatif sehingga memberikan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan tentang keamanan dan khasiat pengobatan alternatif.

 

Sepanjang pengobatan alternatif ini dimanfaatkan sejalan dengan pengobatan konvensional, mayoritas praktisi medis (baca: dokter) menerima pelbagai bentuk pengobatan alternatif. CDC (Centre for Disease Control and Prevention) melaporkan bahwa kebanyakan masyarakat di Amerika Serikat (54,9%) memanfaatkan pengobatan alternatif di samping pengobatan konvensional. Data lain menunjukkan bahwa lebih dari 68% orang dewasa di Amerika Serikat paling tidak memanfaatkan salah satu bentuk pengobatan alternatif, dan jumlah ini terus meningkat. Sebuah hasil survei yang dikeluarkan NCCAM, yang merupakan bagian dari National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat, menemukan bahwa pada tahun 2002 saja 36% penduduk Amerika Serikat memanfaatkan beberapa bentuk pengobatan alternatif dalam 12 bulan terakhir, dan 50% pernah memanfaatkan pengobatan alternatif dalam periode kehidupannya.[3]

 

Saat ini, jumlah institusi kedokteran yang mulai menawarkan kursus-kursus pengobatan alternatif semakin bertambah. Misalnya, University of Arizona College of Medicine di Amerika menawarkan program Integrative Medicine (Pengobatan Terintegrasi) yang melatih praktisi medis pelbagai bentuk pengobatan alternatif. Dalam tiga penelitian terpisah yang menyurvei 729 universitas di Amerika (125 universitas dengan program Pendidikan Dokter, 25 universitas dengan program Dokter Ahli Penyakit Tulang, dan 585 universitas dengan program Ilmu Keperawatan), ditemukan bahwa 60% universitas dengan program Pendidikan Dokter, 95% universitas dengan program Dokter Ahli Penyakit Tulang, dan 95% universitas dengan program Ilmu Keperawatan mengajarkan beberapa bentuk pengobatan alternatif.[4]

 

Salah satu universitas ternama di Amerika, yaitu Stanford University School of Medicine, juga memiliki program pendidikan pengobatan alternatif. Program tersebut diberi nama The Complementary and Alternative Medicine Program at Stanford (CAMPS). Program ini bertujuan untuk meningkatkan informasi tentangefektivitas dari CAM dan integrasinya dengan pengobatan medis. Pada saat ini, CAMPS sedang meneliti kemajuran (efikasi) beberapa suplemen nutrisi yang terkenal dan khususnya efek klinis dari beberapa anti-oksidan.[5]

 

Demikianlah, pada awal kemunculannya pengobatan alternatif hanya “dilirik” orng apabila sudah menyerah kepada pengobatan konvensional. Selanjutnya, karena dinilai dapat mendukung sistem kedokteran konvensional, program alternatif pun kemudian dikategorikan dalam pengobatan komplementer (complementary medicine). Dan belakangan ini, pengobatan alternatif ternyata dapat bekerja saling mengisi dengan kedoteran konvensional. Bahkan di beberapa negara Amerika Utara dan Eropa Barat keduanya saling bekerja sama dalam satu rumah sakit.[6]

 

Sumber: Kemana Seharusnya Anda Berobat?, dr. Muhammad Saifudin Hakim


[1] Lin, K.W. dan Kirchner,J.T., (2004), Hepatitis B. American Academy of Family Physician, 69 (1); 75-82

[2] Dukun Hitam Dukun Putih: Menguak Rahasia Kehebatan Sekutu Setan, Abu Umar Abdillah, cet III, Wafa Press, 2006, hal.136

[3] Elgawad,M.E.M, 2008, Evaluation of Cupping therapy as An Adjuvant Therapy in Management of Bronchial Asthma, Faculty of Medicine, Ain Shams university

[4] Elgawad,M.E.M, 2008, Evaluation of Cupping therapy as An Adjuvant Therapy in Management of Bronchial Asthma, Faculty of Medicine, Ain Shams university

[6] Terapi Alternatif & Gaya Hidup Sehat, A. Setiono Mangoenprasodjo dan Siti Nur Hidayati, cet I, Pridits Publishing Yoyakarta, hal.15

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: