Koran by Heart: Film Dokumenter tentang Lomba Tahfidhul Quran di Mesir


Film ini luar biasa dan sangat inspiratif buat para penghafal Al-Quran, dan judulnya pun sangat bagus ‘Koran by Heart’ atau menghafal dengan hati  artinya anak-anak itu menghafal Al-Quran tak sekedar mengandalkan otak melainkan juga menggunakan hati. film ini sering saya putar untuk santri-santri saya di pesantren Bina Qalbu karena sangat bagus sekali untuk memotovasi mereka menghafal Al-Quran. Jarang saya mendapati film yang bisa saya nikmati seperti film Koran By Heart ini dan saya ingin membagi pengalaman menakjubkan ini dengan Anda.

Koran by Heart adalah sebuah film dokumenter yang dibuat oleh HBO. Film ini mengambil plot sebuah even besar di dunia Islam, yaitu lomba hafalan (tahfidz) Alquran yang diselenggarakan setiap tahun di Mesir. Lomba tersebut diikuti oleh 100 penghafal Alquran dari seluruh dunia setiap tahun.

Mengikuti tiga Muslim cilik, Nabiollah dari Tajikistan, Ridha dari Maldives dan Djamil dari Senegal, film dokumenter ini menuturkan bagaimana mereka mengikuti kompetisi musabaqah tilawatil Al Qur’an tingkat internasional di Kairo Mesir.Nabilollah berasal dari Tajikistan, Rifdha berasal dari Maladewa (Maldives) dan Djamil dari Senegal, pesisir barat Afrika. Mereka bertiga memiliki kesamaan: sama-sama berusia 10 tahun dan sama-sama telah hafal Alquran 30 juz.

Kompetisi ini menarik ribuan peserta dari seluruh Dunia, banyak dari mereka bahkan tidak bisa berbahasa Arab namun mampu melantunkan ayat-ayat Al Qur’an, dan tentu saja dengan indah.

Nabioallah Saidov
Berasal dari Tajikistan di sebelah utara Asia, berasal dari ras Kaukasus (kebayang kan? bule banget). ia belajar di sebiah pesantren yang sangat jauh dari keramaian ibu kota, dibimbing seorang qari bernama Umar cara dia menghafal pun sangat mengagumkan setiap ayat dibacakan oleh gurunya lalu ditirukan Nabiollah begitu seterusnya sampai dia selesai menghafal 30 juz Al-Quran.

Dalam perlombaan dia sempat nervous karena tidak tahu bagaimana cara mengoperasikan komputer sampai ada seseorang yang membantunya, lalu setelah agak tenang dia membaca hafalannya dengan memejamkan mata dan membayangkan tiap kalimat yang dia baca. Sungguh suara anak ini sangat menawan, ibarat burung yang berkicau, para pendengar menitihkan air mata karena terkesima dengan bacaannya yang bagus sampai-sampai Juri Sya’asha juga menangis dan mencium pipi Nabioallah selepas tes dan memuji suaranya yang sanagt bagus.

Perlu diketahui bahwa ketika Nabiollah sedang mengikuti kompetisi internasional ini, pesantrennya dituding sebagai alat penyebar ekstremisme Islam dan akhirnya ditutup.

Rifdha
Berasal dari Maladewa yang terletak di Samudra Hindia. Anaknya lucu dan jenius, dengan jilbab besarnya ia selalu bergerak aktif. Ia berprestasi di semua mata pelajaran sekolah, menyukai Matematika dan Sains, dan bercita-cita menjadi peneliti.

Rifdha adalah salah satu mutiara muslim di zaman modern ini, ayahnya punya pemahaman islam yang baik, ia ingin anaknya bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya tanpa meninggalkan kodratnya sebagai muslimah yaitu menjadi istri yang baik bagi suaminya, sehingga dia bisa mengerjakan dua pekerjaan dalam satu waktu; menjadi seorang istri yang baik dan menjadi peneliti laut sekaligus.

Djamil
Djamil dari Senegal, pesisir barat Afrika.dan seperti keluarga Senegal pada umumnya, Djamil hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu baik. Ketika perlombaan Djamil gugup sekali sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi dan ketika salah membaca berkali-kali diingatkan masih juga tidak faham, mungkin karena dia tidak faham dengan bahasa Arab, sampai-sampai dia membaca sambil menangis.

Sebagai bentuk penghormatan atas usaha Djamil dalam menghafal Al-Quran, dia dipersilahkan menjadi imam shalat Maghrib di salah satu masjid terbesar di Mesir. Ayahnya adalah seorang imam dan khatib masjid di Senegal, ia berharap kelak Djamil akan menjadi penerusnya, seorang imam lokal yang dihormati dalam lingkungannya.

Ketiganya harus meninggalkan keluarga dan negara mereka untuk mengikuti lomba di Kairo, Mesir. Bahkan Djamil berangkat tanpa disertai oleh satupun sanak famili. Tantangan tersebut makin berat dengan waktu pelaksanaan lomba di dalam bulan Ramadhan. Artinya, para peserta harus berpuasa di siang hari dan berlomba di malam hari. Penggunaan komputer dalam perlombaan juga membuat beberapa peserta bertambah gugup. Komputer bertugas untuk ‘memberitahu’ peserta dari ayat mana ia harus memperdengarkan Quran.

Penilaian dilaksanakan oleh beberapa juri yang telah dikenal memiliki kompetensi dalam hafalan Quran. Jika peserta salah dalam melanjutkan ayat, dia akan dipotong setengah poin jika ia mampu menyadari kesalahannya. Namun, jika juri yang turun tangan membetulkan kesalahan, maka peserta kehilangan satu poin penilaian.

Selain ketiga tokoh utama film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dalam menghafal Alquran. Menghafal Alquran tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh anak-anak dari Timur Tengah saja, namun seluruh dunia. Para hafidz lain yang muncul dalam dokumenter ini adalah Muhammad (10 tahun) dari Australia, Susana (17 tahun) dari Italia,  Naaman (10 thn) dari Afrika Selatan (tapi kalau dilihat dari tulisan Arabnya, ejaan yang lebih tepat mungkin Nu’man), Yasser (7 tahun) dari Mesir, Abdel (10 thn) dari Pakistan, Omar (19 thn) dari Nigeria, Susana (17 tahun) dari Italia,Abdullah (17 tahun) dari Mesir, dan masih banyak lagi.

Majalah pengulas dan kritikus film, Filmmaker, berkesempatan untuk duduk bersama sang pembesut film, Greg Barker yang berlatar jurnalis, mendiskusikan proses konstruksi film, perbedaan antara membuat film dokumenter untuk televisi vs layar bioskop dan (selip) presepsi Barat terhadap Dunia Muslim. Berikut petikan yang dilansir.

Filmmaker: Bagaimana jurnalisme membantu anda mengalami pembuatan film ini.

Barker: Saya cukup beruntung pernah bepergian ke banyak negara Islam dan terutama sebagian besar karena misi jurnalisme dan pekerjaan saya di garis depan. Saya selalu tertarik dan penasaran dalam diskusi bertahun-tahun mengenai Islam terkait bagaimana penyutradaraan seharusnya dilakukan, lebih luas lagi menyoal tentang pandangan lebih konservatif dan fundamentalis dan pandangan yang lebih menerima modernitas. Saya benar-benar ingin menuju ke dasar, bukan sekedar permukaan kompetisi para hafidz, melainkan juga kisah anak-anak tersebut. Awalnya saya tidak tahu bagaimana kisah tersebut akan bergulir. Namun saya memiliki intuisi kisah itu bakal menyangkut pendidikan mereka. Jadi saya pikir latar belakang jurnalisme saya membantu membentuk kerangka terhadap isu lebih besar yang ingin saya sentuh dalam film

Filmmaker: Apakah sulit bagi anda sebagai orang Amerika untuk mendapat kepercayaan dari subjek karakter dalam film anda?

Barker: Ketika saya pergi ke negara-negara yang bukan negara saya, saya masuk dengan mata terbuka dan mendengar. Saya pikir itu adalah kunci yang membuat saya bisa menghasilkan film ini. Seluruh tim saya dan saya sangat bersikap sangat menghormati. Kami tidak berpura-pura tahu segalanya mengenai subjek ini. Kami memasuki dunia sakral dan yang kami lakukan hanyalah terus membuka pikiran dan mendengar mengapa ini penting bagi orang-orang.

Filmmaker: Salah satu sukses film ini adalah ia berhasil mengantarkan pesan bahwa memang di dalamnya adal visi bahwa Islam tidaklah sinonim dengan pertahana militan keyakinan Islamik. Pesan ini tak menuju ke sana, namun film ini juga mengeksplorasi di mana Alquran dapat dikooptasi untuk menjadi dasar ekstrimis.

Barker: Ini bukanlah film dokumenter investigatif. Bagi saya, saya dapat menjangkau pemirsa lebih luas dan memunculkan lebih banyak isu bila saya membuat film yang berkisah sebagai film dan isu-isu itu telah berada di sana. Saya pikir semuanya, termasuk opini saya juga tertuang di sana. Sekolah Nabiollah di tutup karena pemerintah Tajikistan cemas sekolah-sekolah macam itu bisa menyebarkan ekstremisme dalam Islam. Bila anda melihat bahwa Islam dapat dibuat selip dan dibelokkan dan anak-anak itu dicuci otak, maka itu mungkin dan bisa ditemukan dalam film. Itu jelas bisa terjadi. Fakta itu sangat terang, bocah lelaki sepuluh tahun yang tidak belajar apa pun selain Alquran selama delapan jam sehari atau lebih–apakah itu benar?

Filmmaker: Bagaimana anda memaparkan konflik internal di dalam Islam?

Barker: Dalam opini saya, secara garis besar ini berkaitan dengan sikap Muslim yang harus terbuka menerima moderintas dan dunia di luar, dunia non-Muslim. Banyak pemeluk Islam moderat meyakini bahwa ini adalah saatnya. Ini adalah keyakinan yang tengah mencapai puncak dalam arti kekuatan politik, tepatnya 1.000 tahun lalu. Saat itu Islam adalah sesuatu yang kaya dan berkuasa. Namun kini situasi berubah. Saya pikir mereka mencari cara untuk mengembalikan kebesaran itu. Beberapa mengatakan mereka harus kembali ke keaslian, sementara sebagian yang lain mengatakan anda sebenarnya harus memodernkan diri. Saya pikir ini sesuatu yang harus mereka atasi sendiri dan itulah yang kita alami saat ini–ini adalah era fundamentalisme dan ekstremisme Jihad–semua keluar dari pertentangan di dalam keyakinan Islam sendiri.

Filmmaker: Lalu apa yang akan anda katakan terhadap non-Muslim yang meyakini retorika terkutub pada Perang terhadap Teror?

Barker: jika anda non-Muslim, semua yang bisa anda lakukan adalah mencoba memahami itu. Sebab bila anda mengatakan Islam adalah agama kekerasan maka tak akan membawa anda pada pengetahuan apa pun. Itu bisa berlaku untuk semua agama. Anda ingin melarang Islam di seluruh dunia? Ada 1,6 miliar Muslim di dunia. Dan pelarangan itu tak mungkin terjadi. Jadi pendekatan lebih baik adalah mencoba memahami itu dan dengan memahami, saya pikir orang akan menyadari bahwa justru perbedaan dan gangguan yang sering digambarkan. Itulah yang ingin saya usung dalam film. Bagi saya, semua anak-anak ini, terutama Nabiollah dan Rifdha, berada pada lintasan kurva. Mereka akan terjebak dalam situasi politik yang melingkari agama mereka. Ini akan terjadi ketika mereka beranjak dewasa. Arah mana yang akan mereka ambil. Dan itu benar-benar perjuangan nyata yang dihadapi keluarga Muslim seluruh dunia. Jalan mana yang akan dipilih, itu pilihan untuk diambil.

Filmmaker: Menurut anda apa implikasi dari karakter film yang mengingat seluruh 600 halaman Alquran tanpa berbicara Arab.

Barker: Saya pikir ini bergantung pada konteks si anak. Ini bisa dilihat sebagai cuci otak atau dipandang sebagai ketaatan terhadap agama. Apa pun itu semua bergantung pada situasi. Yang ingin saya katakan adalah Arab dalam Alquran adalah Arab kuno–Bahasa Arab sangat tua yang analog dengan Inggris kuno. Jadi ketika orang mengingat itu, terutama di usia muda, maka ini adalah bahasa sangat rumit. Ini bukan tipe bahasa yang bisa dipahami oleh anak sepuluh tahun.

Saya pikir ini sulit bagi orang luar untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena tidak seperti Injil, yang bisa diterjemahkan ke bahasa manapun, Muslim meyakini Arab adalah bahasa Alquran yang diturunkan oleh Tuhan. Sehingga meskipun anda menerjemahkan, terjemahan itu bukanlah Alquran kitab suci sesungguhnya. Sehingga ketika Muslim di penjuru dunia pergi ke masjid mereka mendengar dan melantunkan Alquran dalam bahasa Arab terlepas mereka bisa berbicara bahasa itu atau tidak. Mereka lalu mengintepretasikan itu lewat imam atau ulama yang menerangkan dalam bahasa mereka apa arti ayat tersebut.

Filmmaker: Bagaimana rasanya bagi anda merilis film ini di Tribeca Film Festival, sepuluh tahun setelah mereka didirikan untuk merevitalisasi area Lower Manhattan usai serangan 9/11.

Barker: Jujur, saya tidak tahu bagaimana film ini akan ditanggapi. Ini adalah subjek asing bagi pemirsa Barat. Sehingga tantangannya adalah membawa seseorang ke dunia itu dan memastikan mereka tidak tersesat. Yang mengagumkan adalah pemirsa akhirnya memahami siapa yang melantunkan Alquran dengan indah dan mana yang bukan. Mereka terpaku pada anak-anak tersebut. Satu setengah jam kemudian mereka belum tahu, sehingga pemirsa sangat responsif.

Filmmaker: Dalam sesi tanya jawab, satu penonton menanyai ayah Rifdha yang melarang anaknya mengejar pendidikan. Bukan tak bermasuk menghormati keluarga, tapi anda menengahi dan menghentikan pertanyaan itu. Lalu pertanyaan jenis apa yang anda harapkan untuk muncul terhadap film tersebut.

Barker: Saya pikir dalam situasi macam itu, perhatian utama saya adalah untuk keluarga yang telah bepergian sejauh 14 ribu kilometer lebih demi kemari. Saya ingin memastikan mereka merasa nyaman. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang saya harap keluar dari pemirsa. Saya yakini itu ada dalam benak setiap orang, terutama karena Rifdha adalah gadis cilik cemerlang yang mengagumkan dan memang sangat mengejutkan mendengar apa yang diucapkan ayahnya.

Filmmaker: Jadi bagaimana menurut anda mengenai status wanita dalam Islam

Barker: Saya pikir ini adalah bagian dari diskusi internal di dalam keyakinan itu sendiri. Dalam film, kepala kompetisi mengatakan ‘Kami meyakini bahwa wanita dan pria sederajat.” Jadi Kairo sebenarnya adalah salah satu kompetisi hafidz internasional utama yang membolehkan gadis berkompetisi melawan anak laki-laki. Itu salah satu alasan saya memilih ini. Saya pikir di sana banyak wanita Muslim yang memiliki reaksi keras akan berkata. “Tak ada satu pun dalam Alquran yang melarang seorang wanita bekerja dan berpendidikan. Ia tak harus menjadi ibu rumah tangga.”

Saya pikir juga banyak gadis Muslim yang tidak setuju dengan ayah mereka dan berkata ‘Lihat ada perbedaan antara Alquran dengan teks-teks suci lain yang disebut Hadist, yakni sabda dan kisah hidup Muhammad menjalani kehidupannya. Banyak intepretasi yang kita dengar bagaimana Muslim harus menjalani hidupnya kerap datang dari Hadist. Dan ada ribuan Hadist, itu salah satu alasan munculnya kontroversi, karena orang mengintepretasikan kerap dalam kontradiksi

One Response

  1. Selain ketiga tokoh utama film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dalam menghafal Alquran. Menghafal Alquran tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh anak-anak dari Timur Tengah saja, namun seluruh dunia. Para hafidz lain yang muncul dalam dokumenter ini adalah Muhammad (10 tahun) dari Australia, Susana (17 tahun) dari Italia, Naaman (10 thn) dari Afrika Selatan (tapi kalau dilihat dari tulisan Arabnya, ejaan yang lebih tepat mungkin Nu’man), Yasser (7 tahun) dari Mesir, Abdel (10 thn) dari Pakistan, Omar (19 thn) dari Nigeria, Susana (17 tahun) dari Italia,Abdullah (17 tahun) dari Mesir, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, film ini mampu mematahkan anggapan saya bahwa hanya anak-anak berbahasa Arab saja yang mampu menghafal 30 juz di usia dini.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: