Keterangan Ulama Ahlus Sunnah Tentang Fenomena Sinetron Umar bin Khattab


Serial Umar bin Khatab yang ditayangkan di televisi Arab ramadhan yang lalu dan oleh stasiun tv nasional MNC tv telah membuat perdebatan sengit di daerah Timur Tengah terutama dalam hal visualisasi para Nabi, Sahabat dan Ummahatul Mukminin. Berikut ini saya telah mengumpulkan beberapa keterangan para ulama tentang larangan memvisualisasikan sahabat, semoga bermanfaat dan bisa menambah ilmu anda dan saya minta maaf jika ada kekurangan dalam tulisan saya nanti.

Keterangan Syaikh Utsman Al-Khomis

Permasalahan sinetron Umar bin Khattab tentu saja yang dimaksud itu bukan Umar, akan tetapi tentang pemikirannya. Sebelum membahas tentang hukum permasalahan ini, saya ingin mengingatkan bahwasnya setiap permasalahan itu ada manfaat dan ada madharatnya. Ketika dipilihnya seorang figur dengan tema-tema tertentu, pastinya ada manfaat yang bisa dipetik darinya.

Akan tetapi ketika kita memandang permasalahan ini, harus dipandang secara umum. Ditimbang kadar kerusakannya dan dilihat juga sebesar apa manfaatnya. Apabila manfaatnya lebih besar, maka kita dahulukan manfaat atau kemaslahatan ini. Sebaliknya, apabila kerusakan atau mafsadatnya yang ditimbulkan lebih besar, maka kita dahulukan menghindari kerusakan. Demikian juga apabila manfaat dan mafsadatnya seimbang, maka menurut para ulama, kita harus mengedepankan menghindari kerusakan (dengan tidak melakukan perbuatan tersebut).

Kerusakan pertama:

Permasalahan memvisualisasikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Umar dan yang lainnya, apabila seseorang merenungkan, maka mafsadatnya atau kerusakannya jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Dan kerusakan terparahnya adalah terkait dengan informasi yang disebarkan oleh sinetron ini. Secara umum, informasi yang disebarkan oleh sinetron ini adalah informasi yang tidah shahih. Ini kerusakan yang pertama.

Kerusakan yang kedua:

Sinetron ini bisa jadi sebuah pengantar untuk mengadakan sinetron-sinetron serupa. Padahal metode pembelajaran melalui sinetron ini adalah metode Barat. Bisa jadi kedepannya orang-orang akan memfilmkan para nabi, seperti yang dilakukan orang-orang Barat. Mereka memvisualisasikan Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad. Oleh karena itu, ketika kita membuka pintu untuk yang demikian, maka pintu sinetron kenabian pun akan terbuka pula. Bisa jadi seseorang memvisualisasikan nabi-nabi yang lain, kemudian baru divisualisasikanlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kerusakan ketiga:

Adegan-adegan dalam sinetron tersebut. Apabila seseorang menceritakan tentang Umar, tentunya akan bercerita kehidupannya di masa jahiliyah dan masa Islam. Bisa kita dapati adanya adegan Umar atau orang-orang yang bersujud kepada patung, wal ‘iyadzubillah, dan adanya script yang menuntut seseorang mengucapkan kalimat kufur, bahkan ada yang mencaci dan mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy.

Apabila pemeran dalam film ini adalah seorang muslim, maka dia kafir dengan mengucapkan kalimat tersebut walaupun itu hanya sebuah sandiwara. Apabila pemerannya bukan seorang muslim, maka bagaimana kita ridha seseorang mengatakan yang jelek terhadap Nabi atau terhadap agama Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Kerusakan keempat:

Tentu saja terdapat maksiat-maksiat, seperti tampilnya wanita-wanita yang membuka aurat, adanya suara musik, muncul pemikiran-pemikiran yang keliru, mencukur janggut, berdusta, hianat, atau sifat-sifat yang tampak yang diperankan oleh pemeran sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang demikian ini pernah terjadi. Saya pernah mendengar seseorang yang berargumentasi tentang masalah janggut dengan melihat tipisnya janggut pemeran Amr bin Ash dalam film, maka ia menganggap demikianlah sunahnya janggut. Ini baru dengan melihat laki-laki yang memerankan Amr bin Ash. Ia tidak mengatakan, “Aku telah melihat Amr bin Ash (yang sesungguhnya)”  ini baru pemeran. Bagaimana apabila dengan melihat aktor dan artis tersebut orang terpikir, kira-kira demikianlah ini Umar, ini Amr bin Ash, ini Aisyah, atau Fathimah, atau selain mereka dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian bagaimana kalau dalam film lain aktor dan artis ini memerankan orang-orang yang meminum khamr, bermain perempuan dan lain-lain?!

Oleh karena itu, tidak dibenarkan dan tidak boleh sinetron yang demikian. Para ulama berpendapat visualisasi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perendahan terhadap kedudukan mereka.

Keterangan Syaikh Muhammad ‘Uraifi

Tidak boleh memvisualisasikan para sahabat, sahabat, sepuluh sahabat yang dijanjikan surga dan empat khulafa’ rasyidin. Dalam menaggapi film ini manusia terbagi menjadi dua; ada yang menganggap baik karena di dalamnya terdapat maslahat menurut mereka dan yang lain tetap menganggapnya tidak boleh.

Syaikh Uraifi termasuk yang gigih menolak serial Umar bin Khatab ini, salah satunya beliau lakukan lewat media social twitter yang mendapat banyak tanggapan dari follower beliau tentang hukum visualisasi para sahabat.

Keterangan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh

Setelah memberi pendahuluan beliau mengatakan bahwa ada sebagian dari umat Islam yang mempelajari sirah nabawiyah dengan tujuan merendahkan  seperti stasiun-stasiun televisi yang membuat film Rasulullah  dan Umar bin Khatab agar mereka bisa mengkritiknya.

Semestinya umat Islam mempelajari peri hidup mereka dari buku-buku sirah atau dengan menulis sirah mereka atau mentejemahkannya, sebagaimana dicontohkan oleh para ulama adapun mempelajari sirah mereka dari serial tidak baik.

Keterangan Syaikh Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammat Utsaimin dan Syaikh Shalih Fauzan

Saya menemukan video menarik ini yang menjelaskan keterangan tiga ulama terkenal umat ini tentang hukum visualisasi sahabat, anda bisa mendengarkan sambil membaca keterangan dari ulama tersebut di video ini.

Silahkan dipelajari dan disebarkan agar umat Islam terkhusus di Indonesia lebih memahami tentang hukum film Sahabat.

One Response

  1. Sinetron ini bisa jadi sebuah pengantar untuk mengadakan sinetron-sinetron serupa. Padahal metode pembelajaran melalui sinetron ini adalah metode Barat. Bisa jadi kedepannya orang-orang akan memfilmkan para nabi, seperti yang dilakukan orang-orang Barat. Mereka memvisualisasikan Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad. Oleh karena itu, ketika kita membuka pintu untuk yang demikian, maka pintu sinetron kenabian pun akan terbuka pula. Bisa jadi seseorang memvisualisasikan nabi-nabi yang lain, kemudian baru divisualisasikanlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: