Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi, Peranannya Dalam Pengembangan Studi Metode Tafsir


Pendahuluan

Salah satu jalan mendalami tafsir adalah mempelajari metode tafsir dari para penulis buku-buku Tafsir. Makalah ini akan membahas biografi dari Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi yang sangat berjasa dalam dunia Islam modern ini lewat bukunya Tafsir wal Mufasirun yang banyak menjadi rujukan mahasiswa Islam di seluruh dunia dalam bidang tafsir. Selamat menyimak🙂

Biografi Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi

 

Muhammad Husain Az-Zahabi lahir di desa Matubis pada tahun 1915 M. mendapat gelar doktoral dalam bidang Tafsir dan Hadits pada tahun 1944 M. lalu menjadi dosen bidang As-Syari’ah wal Qanun di universitas Al-Azhar. Tahun 1968 ditunjuk universitas Kuwait untuk mengampu dosen bidang Tafsir dan Hadits dan pada tahun 1971 kembali ke Mesir untuk mengajar kuliyah Ushuluddin.

Pada tanggal 15 April 1975 beliau terpilih menjadi Mentri Waqaf. Namun beliau hanya bertahan satu tahun saja sampai pada tahun 1976. Walau hanya sebentar saja menjabat sebagai mentri, tetapi beliau telah menunjukkan sikap-sikap terpuji yang layak ditiru pemimpin manapun. Seperti beliau menolak security khusus di depan rumahnya, dan setiap malam rumahnya selalu ramai dengan kajian-kajian Islam yang terbuka bagi siapa saja.

Husain Az-Zahabi termasuk salah satu ulama tahun tujuh puluhan yang memberikan seluruh ilmunya untuk meninggikan bendera Islam dan melawan kedhaliman dalam berbagai bentuk. Menurutnya dakwah Islam harus dilakukan dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan atau terorisme dan penegakan hokum Islam adalah jalan keluar untuk segala problematika umat baik dalam akhlaq, politik ekonomi. Beliau juga memandang bahwa pemikiran Islam harus dibersihkan dari segala macam bentuk khurafat dan kesesatan karena hari ini suara kesesatan lebih kuat daripada suara kebenaran.

Perjalanan dakwah tak pernah lekang aral rintangan yang bisa sampai pada pembunuhan, dan itu beliau alami. Pada tanggal 4 Juli 1977 sekelompok teroris yang tidak suka dengan cara dakwahnya membunuhya sehingga beliau wafat dan mendapatkan karunia syahid yang diidam-idamkan banyak orang.

Jasad beliau dishalatkan di masjid jami’ Al-Azhar dan yang menjadi imamnya Syaikh Shalih Al-ja’fari. Beribu-ribu orang ikut menshalatkannya dari teman, murid-murid dan orang-orang yang mengenalnya dan mengetahui budi pekertinya. Sebagai pernghormatan baginya, jasad beliau dimakamkan di komplek makam keluarga Imam Syafi’i.

Karya-karya Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi

 

Di antara karangan-karangan beliau adalah:

  1. Tafsir wal Mufassirun
  2. Al-Israiliyat Fit Tafsir wal Hadits
  3. Al-Ittihajat Al-Munhafirah Fit Tafsir
  4. Ibnu Arabi wa Tafsirul Quran
  5. Al-Wahyu
  6. Muqaddimah Fi Ulumil Quran
  7. Muqaddimah Fi Ulumil Hadits
  8. Atsaru Iqamatul Hudud Fi Istiqraril Mujtama’
  9. Maliyah Ad-Daulah Al-Islamiyyah
  10. Mauqiful Muslim Fid Diyanat As-Samawiyah
  11. Ahwal As-Saykhshiyyah Baina Ahlus Sunnah wal Ja’fariyyah

 

Sekilas Tentang Tafsir wal Mufassirun

 

Saya pernah menulis tentang kitab Tafsir wal Mufasirun sebelumnya, dan tidak perlu saya ulang lagi, anda bisa membacanya dengan meng-klik link ini.

Kelebihan-kelebihan dari kitab ini

  1. Kitab ini keluar ketika masa-masa kitab-kitab induk masih dalam bentuk manuskrip-manuskrip, sehingga penulis harus mendatangi setiap perpustakaan Islam untuk mencari referensi. Hari ini, kitab sangat mudah kita dapat, perpustakaan dekat, teman punya bahkan di internet juga sudah ada.
  2. Membahas metode-metode mufasir yang ketika itu belum dicetak.
  3. Menjadi referensi utama peneliti bidang tafsir di zamannya, seperti Dr. Abdul Wahab Fayad yang menulis metode tafsir Ibnu Athiyyah.
  4. Bukti nyata dari keseriusan Az-Zahabi terhadap ilmu pengetahuan

Kelebihan utama dari kitab ini adalah dalam pengumpulan dan kodifikasi, namun karena pembahasannya yang banyak, beliau tetap jatuh pada kesalahan terutama dalam pembahasan periodisasi tafsir dan pembukuannya.

Syaikh Musa’id Ath-Thayyar telah membahasnya dalam sebuah artikel bahasa Arab yang berjudul At-Tankiit ala Marahilit Tafsir wa Tadwinuhu fi Kitabit Tafsir wal Mufassirun li Muhammad Husain Az-Zahabi. Artikel ini bisa anda baca di situs resmi beliau http://www.attyyar.net/ Yang ringkasnya sebagai berikut;

  1. Di juz 1 hal 98 menyebutkan bahwa riwayat tafsir bercampur dengan riwayat-riwayat hadits. Syaikh Musa’id Ath-Thayyar menyanggahnya dengan mengatakan realita sejarah menyatakan sebaliknya. Buktinya ada kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in yang dikenal lewat tafsir mereka
  2. Juz 1 hal 131 menyebutkan tentang kodifikasi tafsir pada masa tabi’in. Para peneliti masih berselisih pendapat tentang pembatasan masa tabi’in dan tabi’ut tabi’in, sehingga pembagian masanya belum tentu tepat.
  3. Syaikh Ath-Thayyar juga pernah mengkritik Az-Zahabi tentang istilah Tafsir bil Ma’tsur, arikel itu juga sudah saya terjemahkan. Bisa anda baca disini.

 

Kisah Az-Zahabi dan Al-Bayumi

 

Di sebuah forum Islam berbahasa arab yang sangat bermanfaat sekali yaitu Multaqa Ahlut Tafsir atau Forum Ahlut Tafsir, saya mendapatkan kisah antara Dr. Muhammad Husain Az-Zahabi dan Dr. Muhammad Rajab Al-Bayumi, mahasiswanya dulu. Kisah ini saya tulis agar kita bisa mengetahui bagaimana akhlaq Dr. Husain Az-Zahabi.

Rajab Al-bayumi baru bertemu dengan Husain Az-Zahabi sebanyak tiga kali, pada pertemuan mereka yang kedua. Mereka bertemu setelah Al-Bayumi selesai menulis buku berjudul Khuthuwath At-tafsir Al-Bayani. Di buku itu Al-Bayumi mengkritik Az-Zahabi yang memasukkan dua ulama Al-Azhar yaitu Syaikh Hamid Muhaisin dan Syaikh Abdul Muta’al As-Sha’idi ke dalam tafsir ilhad.

Ketika mereka bertemu, Az-Zahabi menyambutnya dengan tangan terbuka sambil mengatakan Hai Rajab sungguh engkau telah mengajariku….!!! Lalu dengan besar hati Az-Zahabi mengakui kesalahannya, ketika itu dia menganggap makna ilhad dengan mail atau kecondongan, sehingga yang beliau maksud bahwa dua syaikh tadi melenceng dan tidak lurus. Lalu dibantah oleh Al-Bayumi, memang makna Ilhad secara bahasa itu mail tetapi secara istilah berarti kufur. Dan beliau mengakui ia salah dan Al-Bayumi yang benar.

Demikianlah akhlaq mulia dari Husain Az-Zahabi, dan saya yakin sekiranya Syaikh Musa’id Ath-Thayyar memberi kritikannya ketika beliau masih hidup, pasti akan beliau terima dengan lapang dada seperti sikapnya di atas ketika mendapat kritikan dari murdinya, Dr. Muhammad Rajab Al-Bayumi.

Penutup

 

Demikian sekilas profil dan manhaj Husain Az-Zahabi  dalam tafsir wal mufassirun, tentunya makalah ini tidak bisa mewakili kehebatan dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh beliau, oleh karena itu penulis berharap munculnya saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan tulisan ini. Wallahu a’lam bi shawaab.

Rererensi:

Tafsir wal Mufassirun, Muhammad Husain Az-Zahabi

http://www.tafsir.net/vb/tafsir5830/

http://digital.ahram.org.eg/articles.aspx?Serial=375878&eid=2754

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: