Antara web 2.0 dan Mental Orang Indonesia


Kehadiran web 2.0 sekitar tahun 2004 telah melahirkan inovasi dalam dunia web yang menggabungkan bahasa-bahasa teknologi seperti HTML, CSS, JacaScript, XML dan AJAX. Web 2.0 telah merubah website statis menajdi website kolaboratif. Web 2.0 lebih mengarah kepada interaksi, sehingga orang tidak hanya menjadi pembaca yang pasif. Dengan kata lain, pengguna Internet dan penyelenggara Internet bisa berinteraksi dan menjadi bagian dari teknologi. Selain itu, web 2.0 lebih mengarah pada semangat, konsep, dan prinsip dibandingkan dengan definisi.

Zaman web 2.0 disebut sebagai zaman social media karena semua orang dapat menjadi subjek, tidak lagi objek, setiap orang menjadi sumber dan pelaku berita, tidak lagi konsumen berita.

Masalah web 2.0 sudah lama booming di forum-forum, kedatangannya mengundang partisipasi positif, tapi juga memberi implikasi negatif, seperti komentar-komentar sebarangan dan menjamurnya sitis-situs porno.

Saya ingin menampilkan salah satu tulisan dari pemerhati perkembangan teknologi di Indonesia, Bapak Reza Ervani. Saya kutip dari blog beliau rezaervani.

Selamat menyimak.

Salah satu hal yang membedakan generasi Web 2.0 dengan generasi sebelumnya adalah kemampuan interaksi web. Hampir semua perangkat lunak yang dikembangkan di era ini semacam Wiki, Blog dan beragam CMS lainnya memberikan ruang interaktif yang tinggi antara pengelola web dan pengguna. Inilah yang juga menyebabkan era web 2.0 dikenal juga dengan nama sosial web.

Ruang interaksi ini seharusnya mampu mendorong terjadinya “knowledge sharing” yang tinggi. Tapi sayangnya hal ini tampaknya belum terlalu berlaku bagi pengguna web Indonesia.

Coba lihat saja kasus yang terjadi di Yahoo ! Answer edisi berbahasa Indonesia. Adanya sistem point yang dibuat sesungguhnya untuk mendorong semangat berbagi, malah dijadikan alat bermain-main dan adu gengsi, sehingga jawaban dan pertanyaan yang diajukan pun bersifat asal-asalan. Tokh dengan bertanya dan asal menjawab, mereka tetap mendapatkan point.

Kasus lain adalah blog rezaervani.wordpress.com ini misalnya. Ada beberapa tulisan heboh yang hits-nya cukup tinggi. Ditandai dengan masuknya beragam komentar yang menyertai isu yang diangkat. Sayangnya komentar-komentar ini sebagian besar hanya ungkapan emosional yang tidak dapat dijadikan referensi atau rujukan tambahan atas isu yang sedang diangkat.

Mungkin hal ini tampak sepele. Tapi penulis mendapati, ketidak presisian pencarian “search engine” semacam Google mulai terjadi ketika blog menjamur. Bukan salah blog-nya, tetapi karena apa yang dimuat di blog-pun terkadang melenceng dari keyword yang dicantumkan oleh pengelola blog. Sayang sekali, karena hal ini akan membuat pencarian informasi penting di dunia maya menjadi semakin sulit lagi.

Tampaknya, semangat berbagi pengetahuan orang Indonesia masih harus terus menerus dipupuk, sehingga keberadaan web 2.0 mampu mendorong terjadinya aliran pertukaran ilmu pengetahuan (berbahasa Indonesia) yang semakin intens. Pergeseran kuantitas penggunaan menjadi kualitas penggunaan harus kita mulai, karena bukan tidak mungkin keberadaan blog, wiki dan berbagai CMS di dunia maya mampu mendorong perubahan sosial di negeri kita ke arah yang lebih baik.

Ayo kita mulai !!!

Selesai.

Terakhir semoga unsur kebaikan yang ada dalam web 2.0 seperti kebebasan berekspresi, pertukaran informasi, inovasi, dan sikap menghormati orang lain mampu mendorong Indonesia kepada arah yang lebih baik. Amiiin

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: