Langkah Para Ulama Mengelola Ilmu Pengetahuan


Dunia ini terus berubah, tidak ada yang berubah kecuali perubahan tersebut, setiap saat, ilmu pengetahuan terus bertambah dan penemuan terus ditemukan. Dan hanya manusia pembelajar yang mampu bertahan dan berkembang di zaman mutakhir ini. Manusia pembelajar adalah manusia yang mampu belajar dengan cara yang seefektif dan efisien mungkin.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits tersebut: “Menempuh jalan menuntut ilmu memiliki dua makna: (1) Secara hakikat, yaitu melangkahkan kaki untuk menghadiri majelis ilmu. (2) Lebih luas, yaitu menempuh berbagai cara yang mengantarkan menuju ilmu seperti menulis, menghafal, mempelajari, mengulangi, memahami, dan sebagainya.” (Risalah Waratsah Anbiya’ Syarh Hadits Abi Darda’, hlm. 12)

Dan di antara cara menimba ilmu yang sangat bermanfaat adalah menghimpun fawaid (faedah) yang kita dengar, lihat, baca, dan sebagainya.

Definisi Al-Fawaid

Al-Fawaid adalah bentuk jamak (plural) dari al-faidah yang secara bahasa artinya adalah setiap yang engkau dapatkan berupa ilmu, harta, dan sebagainya. (Ash-Shihah al-Jauhari, 2/521)

Adapun maksud al-Fawaid dalam pengertian para penulis kitab adalah sebuah kitab yang menghimpun beberapa masalah yang beraneka macam mutiara ilmu dan hal-hal penting yang diperoleh oleh seseorang selama perjalanan panjangnya bersama ilmu, ulama, kitab, fakta, dan sebagainya, yang tidak hanya terbatas pada satu bidang tertentu saja, tetapi mencakup banyak bidang ilmu seperti: tafsir, hadits, akhlak, bahasa, syair, tarikh, kisah, fatwa, dan sebagainya.

Apabila anda membaca sejarah para ulama dan bagaimana semangat mereka dalam memanfaatkan waktu dan mencatat faedah, niscaya anda akan terheran-heran!! Berikut sekelumit potret Salaf dalam mencari dan mengumpulkan Fawaid:

  1. Imam Bukhari rahimahullah yang digelari sebagai “Jabal Hifzh”  (hafalannya seperti gunung), beliau bangun berkali-kali dalam satu malam untuk mencatat faedah. Berkata al-Firabri: “Pada suatu malam, saya pernah bersama Muhammad bin Ismail (Bukhari) di rumahnya, saya menghitung dia bangun dan menyalakan lampu untuk mengingat ilmu dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali dalam satu malam”.[1]
  2. Imam Syafi’i (204 H). yang namanya tak asing lagi bagi kita  Kawannya al-Humaidi menceritakan bahwa dirinya tatkala di Mesir pernah keluar pada suatu malam, ternyata lampu rumah Syafi’I masih nyala. Tatkala dia naik ternyata dia mendapati kertas dan alat tulis. Dia berkata: Apa semua ini wahai Abu Abdillah (Syafi’i)?! Beliau menjawab: Saya teringat tentang makna suatu hadits dan saya khawatir akan hilang dariku, maka sayapun segara menyalakan lampu dan menulisnya”.[2]
  3. Abul Qashim bin Ward at-Tamimi (540 H).  Diceritakan oleh Ibnu Abbar al-Hafizh bahwa beliau tidak mendapatkan sebuah kitabpun kecuali dia menelaah bagian atas dan bawahnya, kalau beliau menjumpai sebuah faedah padanya maka beliau salin di kertas miliknya sehingga terkumpul banyak sekali.[3]
  4. Az-Zarkasyi (794 H). Diceritakan oleh Ibnu Hajar bahwa beliau sering sekali pergi ke pasar buku, kalau dia datang ke sana dia menelaah di toko buku sepanjang siang, dia menulis masalah-masalah yang menarik di sebuah kertas, kemudian apabila dia pulang ke rumah dia salin ke kitab-kitab karyanya.[4]

Para ulama banyak membukukan fawaid mereka dalam kitab tersendiri. Sebut misalnya:

    * Kitab Al-Funun oleh Ibnu Aqil yang merupakan kitab terbesar dalam masalah ini,

    * Shaidhul Khathir oleh Ibnul Jauzi,

    * Qaidul Awabid oleh ad-Daghuli sebanyak empat ratus jilid,

    * Bada’i Fawaid dan Al-Fawaid oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah,

    * At-Tadzkirah oleh al-Kindi dalam lima puluh jilid,

    * Majma’ Fawaid wa Manba’ Faraid oleh al-Miqrizi sebanyak seratus jilid,

    * Tadzkirah Suyuthi sebanyak lima puluh jilid

    * Ada juga ulama komtemporer yang menulis fawaid seperti Syaikh Muhammad bin Shalid Al-Utsaimin yang menulis faidah-faidah selama beliau menuntut ilmu yang berjudul Al-Muntaqa min Faraidul Fawaid dan Syaikh Aidh Al-Qarni yang tulisannya sempat menjadi bets seller di Timur Tengah dan Indonesia, Laa Tahzan.

Ada banyak manfaat yang kita peroleh dari kegiatan kreatif ini seperti; Menjaga agar ilmu itu  lebih meresap dalam hafalan, memudahkan kita untuk membaca ulang terutama apabila dibutuhkan, bisa dibawa ke sana kemari, dan sebagainya. Imam Syafi’i rahimahullah pernah bertutur: “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.” (Diwan Syafi’i, hlm. 3).

Selain dapat menambah khazanah Ilmu Pengetahuan, dengan mengumpulkan faidah-faidah dalam dalam dokumen yang tersusun rapi akan menjadi barang simpanan yang berharga. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata: “Di antara faedah menghimpun fawaid yang paling berharga ialah ketika di saat lanjut usia dan badan telah lemah, dia akan memiliki bahan yang dapat dia nukil tanpa bersusah payah harus mencari-cari lagi.” (Hilyah Thalib, hlm. 261 -Syarh Ibnu Utsaimin).

Menarik juga ucapan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad tentang dirinya: “Kenanganku yang paling menarik adalah buku-buku kurikulum dan buku tulisku ketika bersekolah dulu semenjak ibtidai’yyah, mutawassithah, tsanawiyyah, dan jami’ah, semuanya masih ada dalam lemariku sampai sekarang.” (Akhir kitab ar-Radd ’ala Man Kadzdzba Ahadits Shahihah ’anil Mahdi).

Di masa modern ini fawaid telah diimplementasikan dalam konsep dan jargon besar yang disebut dengan Knowledge Management yaitu cara untuk mengelola ilmu pengetahuan baik individu atau organisasi. Oom Romi menyebutkan bahwa sejarah knowledge management bermula dari kisah Ikujiro Nonaka dan kisah suksesnya Matsuhita Electric pada tahun 1985 ketika mengembangkan mesin pembuat roti.

Cerita bermula ketika Matsuhita Electric menemui kesulitan besar dalam memproduksi mesin pembuat roti. Mereka selalu gagal, kulit luar roti sudah gosong padahal dalamnya masih mentah, pengaturan volume dan suhu yang tidak terformulasi adalah pandangan setiap hari.

Akhirnya seorang pengembang software di Matsuhita Electric yang bernama Ikujiro Nonaka membuat ide cemerlang untuk pergi magang langsung di perusahaan pembuat roti terkenal di daerah Osaka. Disana dia dibimbing untuk membuat roti dengan baik. Akhirnya pengalaman tersebut dia praktekkan di depan para enginer Matsuhita Electric, lalu mereka menmbahkan part khusus dan melakukan perbaikan pada mesin. Usaha tak kenal henti tersebut akhirnya membuahkan hasil dan memecahkan rekor dalam pemasaran.

Dari pengalama itu Ikujiro Nonaka membuat formulasi yang dikenal dengan SECI atau Knowledge Spiral dalam bukunya The Knowledge- Creating Company. Konsep sederhana dari SECI adalah sebagai berikut: dalam siklus perjalanan kehidupan kita, pengetahuan itu mengalami proses yang kalau digambarkan berbentuk spiral. Proses itu disebut dengan Socialization, Externalization, Combination, Internalization.

Cara paling mudah dan terbaik (versi saya) untuk menerapkan fawaid dan knowledge management sekaligus di zaman ini adalah dengan menjlentrehkannya lewat semua aktifitas blogsphere seperti blogging, blogwalking, kategorisasi posting, trackback, pingback, feedback, social networking dan diskusi di milis atau forum komentar adalah salah satu proses SECI dan menulis fawaid sekaligus. Bagi saya blog ahmadbinhanbal.wordpress adalah ilmu, referensi dan aktualisasi diri.

Sungguh hari ini ada banyak manfaat Internet yang biasa digunakan baik secara personal maupun organisasi, seperti:

  1. Berkirim surat elektronik (e-mail)
  2. Menulis dan meramaikanya, baik dalam bentuk blog maupun situs
  3. Memberi komentar, tautan atau artikel islami di acount social media seperti facebook,twitter dan google  plus.
  4. Media belajar dan mencari referensi (E-learning)
  5. Melakukan bisnis melalui sarana elektronik (E-Business)
  6. Menjadikannya sebagai media dakwah baru yang menyenangkan

 

Dalam masalah fawaid dan knowledge management ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

Pertama, Jangan Meremehkan Faedah dan Ilmu Pengetahuan

Imam Nawawi rahimahullah menasehatkan kepada para penuntut ilmu agar mencatat hal-hal berharga yang dia peroleh ketika menelaah kitab ataupun mendengar dari seorang guru: “Janganlah dia meremehkan suatu faedah yang dia dapatkan atau dengar dalam bidang apa pun, tetapi hendakna dia segera mencatat dan sering berulang-ulang membaca kembali catatannya.”

Beliau juga menasehatkan: “Janganlah dia menunda untuk mencatat sebuah faedah sekalipun dia menganggapnya mudah, sebab betapa banyak kecacatan dikarenakan menunda, apalagi di waktu lain dia akan mendapatkan ilmu baru lagi.” (Al-Majmu’, 1/38-39)

Bahkan, orang seperti al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah yang dikenal sebagai ulama kondang saja, beliau pernah kecewa karena tidak mencatat sebagian faedah dalam bidang tafsir (lihat al-Jawahir wa ad-Durar, as-Sakawi, 2/611).

Kedua, Jangan Sembunyikan Faedah

Allah membenci orang-orang yang suka menyembunyikan ilmu sebagaimana firman -Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka Itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!” (QS. Al-Baqarah: 174-175)

Ketiga, Sandarkan Kepada Ahlinya

Seorang ulama mengatakan: “Termasuk keberkahan ilmu ialah engkau menyandarkannya kepada ahlinya.” (Bustanul Arifin, hlm. 29, an-Nawawi).

Keempat, Jangan Lupa Muraja’ah

Diceritakan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam al-Hatstsu ’ala Hifzhi Kitab hal. 21 bahwa ada seorang alim yang mengulang-ulang pelajaran di rumahnya berkali-kali. Seorang nenek tua akhirnya berkomentar: “Demi Allah, aku telah menghafalnya.” Sang alim pun menyuruh nenek tadi supaya mengulanginya dan dia pun dapat mengulanginya. Setelah beberapa hari kemudian, sang alim berkata kepada nenek tadi: “Nek, coba ulangi pelajaran waktu itu.” Si nenek menjawab: “Kalau sekarang ya saya sudah lupa.” Sang alim berkata: “Saya selalu mengulang hafalanku berkali-kali agar tidak menimpaku apa yang telah menimpamu.”

Kelima, Tulislah yang bermanfaat saja

Hari ini setiap orang hampir dipastikan memiliki acount facebook atau twiter, hati-hati ketika menulis komentar karena setiap orang melihat apa yang kita tulis, mereka cukup melihat karakter dan kepribadian anda dengan hanya melihat komentar-komentar anda.

Sebagai sarana dakwah dan keilmuan, bergabunglah dengan komunitas yang terjaga, saling menyebarkan ilmu dan amal kebaikan. Jangan sampai memperturutkan keinginan disini, seperti sekedar hanya untuk melihat gambar lain jenis, nampang di facebook, menuruti syahwat, mendekati lain-jenis, berbantah-bantahan, riya’ dan niat buruk lainnya.

Jika anda memiliki blog, maka tulislah artikel atau makalah yang bermanfaat dan memang dibutuhkan saat ini seperti menjelaskan tentang berbagai macam fitnah syubhat dan syahwat yang sedang menyerang islam seperti liberalisme, syiah, yahudi-zionis, pemikiran syaaz (menyeleweng) dari orang-orang yang mengaku cendekiawan. Atau dengan menulis perkembangan informasi dan teknologi yang dikembangkan oleh umat Islam, atau tips, trik kreatif, solutif menghadapi pancaroba kehidupan.

Semua orang memiliki masalah, dan blog adalah fasilitas yang ada untuk melegakan pikiran kita dan membuat kita berpikir sebelum menulis. Ya, blog adalah knowledge management dari otak kita. Dimana otak begitu pandainya bergerak maju dan mengikuti alur dari pengalaman hidup kita.

Saudaraku…Alhamdulillah ketika saya belajar dulu, saya pernah mengumpulkan faidah-faidah yang saya kumpulkan dari kitab-kitab yang saya telaah di perpustakaan dan beberapa materi kuliah. Faidah yang saya kumpulkan masih sedikit, tetapi insya Allah akan terus saya tambah seiring waktu.

Sungguh perjalanan menimba ilmu itu begitu panjang, teruslah bersemangat dan  gapailah cita-cita  yang tinggi dalam ilmu dan amal. Nabi saw bersabda: “Dua orang yang bersemangat tidak pernah kenyang: penuntut ilmu dan pemburu dunia.” (Shahih al-Jami’ 5/374).

Sebagian ulama juga mengatakan: “Penuntut ilmu hadits bersama tinta hingga ke liang kuburan.” Pernah dikatakan kepada Imam Ibnu Mubarak rahimahullah: “Seandainya saja engkau dihidupkan kembali setelah mati, apa yang ingin kamu lakukan?” Beliau menjawab: “Aku akan menuntut ilmu hingga malaikat maut mencabut nyawa untuk kedua kalinya.”

Oleh karena itu, bersemangatlah wahai saudaraku, semoga Allah swt menjagamu,  menambah bekal ilmumu dan menjadikannya bermanfaat di dunia dan akhirat.

Inilah faidah-faidah yang sempat saya kumpulkan: klik di sini

Referensi:

Al-Musyawwiq Ila Qira’ah wa Thalabi Ilmi oleh Ali bin Muhammad al-Imran hal. 121-122

Romi Satrio Wahono, Dapat apa sih dari Universitas? (kumpulan artikel dari blog RomiSatrioWahono.net), editor, Suherman, Msi, (Bandung: ZIP Books, 2009)

Majalah Al-Furqan, Edisi 1 tahun 6, Sya’ban 1427 H (September 2006)


[1] Siyar A’lam Nubala’ 12/404

[2] Adab Syafi’i wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 44-45

[3] Mu’jam Ashhabi ash-Shadafhi hal. 25

[4] Ad-Durar Al-Kaminah 3/397-398

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: