Beberapa Pandangan Salah Tentang Sejarah Islam


Banyak ahli sejarah yang memutar balikkan sejarah hanya karena hawa nafsunya atau kebodohan tentang keadaan masyarakat dan tidak adanya perhatian terhadap waktu dan kondisi yang ada disekelilingnya. Dalam mempeljari sejarah diperlukan tiga landasan yaitu nash al-Quran, sunnh dan nusush. Dalam penulisan sejarah, ada dua pihak yang sangat berperan untuk mewarnai dan menggambar lembaran buku sejarah.


Pertama adalah sejarawannya itu sendiri atau disebut dengan muarrikh. Dan yang kedua adalah nara sumber yang memberi masukan kepada penulis sejarah atau yang sering disebut ihkbari. Keduanya ini menjadi unsur penting dalam penulisan sejarah, apabila salah satu atau keduanya ikut error karena mengalami distorsi, maka tampilan sejarah yang akan muncul bisa menjadi sedemikian buruknya.

Dari sisi muarrikh, kita mengenal ada beberapa tipe. Ada yang jujur dan proporsional dan ada yang sejak awal memang telah berpihak.

1.    Sejarawan yang Niatnya Tidak Benar

Misalnya Al-Ya`qubi, Al-Mas`udi dan lainnya. Mereka ini memang berusaha memberi warna tertentu untuk menjatuhkan citra seorang shahabat dan meninggikan yang lainnya. Berita yang diterimanya dari informan (ikhbari) diterimanya bulat dan langsung ditelan masuk perut.

2.    Sejarawan yang Jujur dan Selektif

Tetapi ada juga yang jujur dan menyeleksi kabar yang diterimanya, terutama bila dianggap bertentangan dengan Qur’an dan Sunah. Diantaranya adalah Abu Bakar Ibnul Arabi yang menulis kitab fenomenal Al-`Awashim minal Qawashim dan juga Ibnu Katsir yang menulis Al-Bidayah Wan- Nihayah.

3.    Sejarawan Tipe Kolektor

Selain itu ada juga yang memang menuliskan begitu saja apa yang mereka dapat tentang sejarah, sebagai bahan mentah untuk dikaji ulang. Bukan untuk konsumsi masyarakat luas, tapi untuk para ahli yang meneliti ulang dengan berpedoman pada metodologi ilmiyah yang akurat. Diantara mereka yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah At-Thabari dengan kitabnya yang sangat populer yaitu Tarikhur Rusul wal Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja).

Dari sisi para pemberi informasi (ikhbari), juga ada tipe-tipe yang membedakan satu sama lain diantara mereka. Ada yang tsiqah (terpercaya) dan ada juga yang sebaliknya (tidak tsiqah). Yang tidak tsiqah ini terkadang berani berbohong dan memalsu sejarah seenak kepentingan dirinya sendiri. Kira-kira kasusnya hampir mirip dengan pemalsuan hadits demi kepentingan kelompok.

Hanya saja, bila di dalam dunia hadits telah lahir gerakan kritik hadits yang dahsyat sehingga bisa dengan mudah memilah hadits yang benar dan yang palsu, memang dalam dunia tarikh (sejarah) Islam, hal itu belum lagi terbangun dengan mantap. Latar belakangnya ada banyak, diantaranya adalah memang pada masa awal dahulu kebutuhan atas periwayatan sejarah belum terlalu dominan. Umat Islam masih dihadapkan kepada hal-hal lain yang lebih utama, yaitu menyelesaikan masalah pemalsuan hadits. Sedangkan masalah pemalsuan sejarah, masih dirasa belum begitu urgen untuk dilakukan di masa itu.

Selain itu memang pada masa lalu, para orientalis belum segencar sekarang dalam menyerang ajaran Islam, sehingga pemikiran yang menyimpang dari sejarah Islam masih dibilang belum terlalu berat. Dan tambahan lagi, bahwa umat Islam di masa lalu masih kuat pemahamannya atas sejarah mereka sendiri, sehingga hampir-hampir tidak ada persoalan dengan masalah penyelewengan sejarah.

Awal pembukuan sejarah ini baru muncul pada masa khalifah Abasah, yang dipelopori oleh Muhammad ibnu Ishak dengan buku “Siratur Rasul” Imam Ahmad berkata mengenai buku tersebut, “Beliau adalah orang yang suka dengan hadits, lalu ia mengutip dari berbagai buku yang dikarang oleh kebanyakan orang dan meletakkannya dalam kitabnya.”

Pada kesempartan ini kami akan membahas beberapa kesalahan dalam sejarah yang mesti diperbaiki

Pertama, Sejarah Arab Jahiliyah

                Sejarawan Barat mengatakan, bahwa sejarah Arab belum muncul kecali setelah Muhammad, hal ini dikarenakan kebodohan mereka, dan keterbelakangan mereka pada segala aspek kehidupan mereka seperti perekonomian mereka dan lainnya. Akan tetapi hal ini terbantah karena sebelum datangnya Muhammad, Arab jahiliyah telah mengalami kemajuan yang telah dicatat sejarah, seperti dalam bidang pertanian,sebagaimana terdapat dalam  (Qs. Al Kahfi: 32), dalam hal perindustrian, mereka telah dapat membuat kertas, sebagaimana firman Allah  (Qs. Al An’am: 7) dan perabot rumah tangga, Allah berfirman: (Qs. Al Waqi’ah: 15-18) dan lainnya.

Allah SWT mensifati mereka dengan jahiliyah, bukan dalam hal keduniaannya akan tetapi karena jauhnya mereka dari keimanan dan dari sang pencipta, mereka tidak menerima kebenaran yang telah datang kepada mereka dan mereka lalai terhadap perkara akhirat mereka. Mereka menyembah kepada berhala dan menjadikannya sebagai perantara.

Dalam hal keduniaan mereka punya kelebihan seperti orang Badui yang terkenal fasihgayabahasanya, mereka terkenal dengan daya hafal yang kuat dan di antara mereka juga banyak Ahli Bijak seperti Aktsim bin Shoify. Dengan pemparan ini jelaslah keisstimewaan orang arab sehingga Allah memilih mereka untuk mengemban risalah.

Kedua, Kisah Gharaniq

Ketika Rasulullah melihat kaum muslimin disiksa, maka ia pergi ke Ka’bah dan semua orang pun berkumpul, lalu Rasulullah membaca suratan Najm, setelah sampai ayat ke 20, beliau menyambung: “Berhala-berhala tersebut adalah agung, dan syafaatnya sangat diharapkan.” Maka seketika itu orang bersujud, baik orang        musyrik Quraisy ataupun umat islam, sehingga kemudian mereka berkata kepada Rasulullah: “Kalau engkau menjadikan Tuhan kami seperti ini maka kami akan senantiasa besertamu.” Sehingga dengan hal ini hilanglah perbedaan diantara mereka, mendengar hal ini maka umat islam yang berada di Habasyah kembali ke Mekah.

Kisah ini adalah bathil, yang dibuat oleh orang-orang zindiq dan diriwayatkan oleh musuh-musuh islam, Ibnu Ishaq berkata: “Kisah ini adalah dibuat oleh orang-orang zindiq.” Sedangkan Thobary mengatakan bahwa riwayat ini adalah mursal dan maqthu’ bahkan ada yang palsu., hal ini disebabkan juga karena bertentangan dengan keumuman  nabi, dan sifat-sifatnya seperti fathonah, dan amanah dan juga bertentangan dengan firman Allah: (Qs. Ar Rum: 13) yang menegaskan bahwa berhala-berhala tersebut tidak akan bisa memberi syafa’at.

Ketiga, Poligami

                Diantara tuduhan yang dilontarkan oleh musuh-musuh islam, mereka mengatakan bahwa Rasullah adalah orang yang suka mengumbar syahwatnya, hal itu terbukti ia menikah sembilan wanita dan kesemuanya masih hidup. Akan tetap hal ini dibantah, karena berpoligaminya rasul mempunyai berbagai tujuan, diantaranya ialah memberikan kemulian kepada mereka dengan manjadikan mereka sebagai ummahatul mukminin dan untuk memperkuat hubungan dan melunakkan hati orang-orang arab.

Adapun pernikahan beliau dengan Aisyah, mereka isukan bahwa Rasulullah telah menganiyaya anak kecil, karena ia telah menikahinya ketia berumur sembilan tahun. Pernyataan seperti ini tidaklah benar, ditinjau dari berbagai segi, diantaranya: berdasarkan kitab-kitab sejarah yang ada, bahwa Aisyah sebelumnya sudah pernah dilamar oleh Jubair bin Mut’im bin ‘Ady, yang ketika itu ia masih dalam keadaan musyrik dan ketika ibunya Aisyah mengetahui bahwa Rasulullah mau menerima Aisyah sebagai istrinya, ia sangat bahagia dan berkata kepada Abu Bakar: “Anakmu Aisyah telah dijauhkan oleh Allah dari Jubair, dan menggantinya dengan Rasulullah yang akan membawa kebaikan dan berkah.” Sehingga seorang ibu telah meminta kepada anaknya untuk menikah maka hal itu menunjukkan bahwa ketika itu umur Aisyah sudah pantas untuk menikah, karena jika belum tidak mungkin seorang memintanya untuk menikah dengan Rasulullah dan berpoligaminya Rasul dengan para istri-istrinya karena beliau bisa bersikap adil kepada mereka, bahkan ketika para istrinya menuntut beliau untuk memberikan harta yang melimpah, maka turunlah ayat (Qs. Al Ahzab: 28-29), lalu ayat tersebut Rasulullah sampaikan mulai dari Aisyah, dan Aisyah pun lebih mengutamakan kehidupan akhirat begitu pula jawaban para istrinya yang lain menjawab sebagaimana jawaban Aisyah.

Keempat,Pandangan salah terhadap pemilihan Utsman

Orang syi’ah tidak mau menerima kekholifahan Utsman, dan mereka berlebihan terhadap Ali. Ketika itu Abdurrahman bin Auf beserta para sahabat yang telah dikabarkan masuk surga, seperti Ali Bin Abi Tholib, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi waqas, Zubair bin Awwam dan Tholhah bin Ubaidillah. Mereka ini telah ditunjuk oleh umar untuk memilih siapa yang berhak untuk menjadi kholifah diantara mereka, akhirnya Abdurrahman bin Auf, keluar untuk mencari kabar dari masyarakat muslim yang ada, cenderung kepada siapakah mereka, setelah ia mengumpulkan hal itu, terkumpullah dua pilihan antara Ali dan Utsman, lalu Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ali, kalaulah pilihan tidak jatuh kepada kamu, siapakah yang lebih engkau ridhoi, maka ia menjawab Utsman,begitu pula yang lainnya. Setelah itu ia menanyai Ali kembali, siapkah anda memikul amanah untu menjadi amirul mukminin.? Maka Ali menjawab: “saya akan mengerjakannya semampu saya.” Setelah itu Abdurrahman bin Auf menanyai Utsman sebagaimana yang dilontarkan kepada Ali, maka Utsman menjawab: Baik, tanpa ada tambahan lagi setelahnya. Maka kemudian mereka membai’at Utsman.

Kelima, Fitnah kubra

Pada masa pemerintahan sahabat Utsman bin Affan, mulai terjadi fitnah, terutama yang ditimbulkan oleh orang-orang khowarij dan syi’ah, sehingga kemudian Utsman pun dibunuh oleh salah seorang dari khowarij. Ditengah-tengah kejadian tersebut, maka Ali dipilih untuk menggantikan Utsman sebagai kholifah, setelah Ali menjadi kholifah pun, fitnah belum reda, Muawiyah menuntut Ali untuk menyelesaikan pembunuhan Utsman, akan tetapi Ali menolak karena pada waktu itu ia masih disibukkan oleh kekholifahan, sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya dan dakwah islam pun akhirnya terhenti untuk sementara waktu, dan umat islam berpecah belah. Sehingga muncullah beberapa golongan, diantaranya: kelompok yang setuju dengan Utsman, kelompok syi’ah dan kelompok yang ragu, berada dikedua belah pihak.

Diantara sebab terjadi fitnah tersebut ialah: perbedaan yang sangat jelas antara pemerintahan Umar dengan Utsman dalam menjalankan kepemerintahannya, perubahan yang terjadi dimasyarakat islam, dengan banyaknya orang yang baru masuk islam, sedangkan mereka membawa adat dan kebiasaan mereka masing-masing, sehingga kemudian umat islam yang lainnya pun terpengaruh dan munculnya berbagai tuduhan yang dimunculkan oleh Abdullah binSaba’.

Sekian dan semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menambahwa wawasan kita seputar sejarah.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: