Awal Mula Doktrin Khalqul Quran


Yang pertama kali menggulirkan pemikiran Al-Quran adalah makhluk bersumber dari Labib bin Al-A’Sham Al-Yahudi, ia adalah orang yang telah menyihir Rasulullah saw[1], perkataan bid’ah ini di adopsi dari anak saudaranya yaitu Thalud dari Bayaan bin Sam’an dari Ja’ad bin Dirham[2] pada masa dinasti bani Umayyah, lalu ia diusir dan lari ke Kufah dan menetap di sana, disana Ja’ad bin Dirham bertemu dengan Jahm bin Sofwan. Lalu di adopsilah pendapat Ja’ad bin Dirham oleh Jahm bin Shofwan akan tetapi di Kufah tidak banyak yang mengikutinya.[3] Ia ditangkap oleh gubernur Iraq, Khalid al-Qusyairi, ketika hari raya Idul Adha tiba, seusai shalat dan akhir khutbahnya, Khalid berkata, “Pulanglah kalian dan berkorbanlah, semoga Allah swt menerima kurban kalian, sesungguhnya pada hari ini aku akan berkurban dengan Ja’ad bin Dirham.” Lalu Khalid turun dari mimbarnya dan membawa Ja’ad keluar dari penjara kemudian menyembelihnya.[4] Lalu pendapat Jahm bin Shafwan tersebut diambil oleh Bisyr al-Muraisi dan Ibnu Abu Duad mengambil dari Bisyr al-Muraisi.

Tokoh lain yang turut mempelopori keyakinan bahwa Al-Quran itu makhluk adalah Bisyr bin Ghiyats bin Abi Karimah Abu Abdurrahman al-Muraisi, ahli kalam dan ahli fiqih bermazhab Hanafi, ia menimba ilmu fiqih kepada murid senior sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah, Al-Qadhi Abu Yusuf Al-Hanafi dan meriwayatkan hadits dari Hamad bin Salamah dan Sufan bin Uyainah. Namun di samping itu, ia juga menekuni ilmu kalam sehingga menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. Ketika pemerintahan Harun al-Rasyid, ia belum berani menyatakan pendapat Khalqul Quran, Harun al-Rasyid adalah seorang yang tegas dalam masalah Khalqul Quran, sebagaimana yang dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh: “Aku pernah mendegar Harun al-Rasyid berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Bisyr Al-Muraisi mengatakan bahwa al-Quran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah I mengusahakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku jatuhkan hukum bunuh kepadanya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun”.[5]

Dan baru setelah khalifah Al-Makmun naik tahta, ia berani menggulirkan pemikiran sesat ini, bahkan dirinya termasuk yang ikut andil dalam mempola dan mempengaruhi aqidah khalifah Al-Makmun.

Selain Bisyr Al-Muraisi ada tokoh lain yang menyebarkan faham Khalqul Quran, menjadi salah satu penasihat Al-Makmun dan musuh dari Imam Ahmad, yaitu Ahmad bin Abu Duad bin Ali Abu Sulaiman, ia adalah seorang ulama pembesar dari sekte Mu’tazilah, selain itu ia juga seorang penyair tetapi sedikit syairnya, dan Da’bal dalam salah satu kitabnya telah memasukkan Ahmad bin Abu Duad ke dalam deretan para penyair dan ia juga meriwayatkan syair darinya.[6]

Ahmad bin Abi Duad adalah orang yang cerdas, lembut dan berakhlak baik, di hadapan khalifah, perkataannya dianggap sebagai sebuah undang-undang dan dialah yang membuka pertemuan khalifah, tidak ada yang boleh berbicara kecuali setelah ia mulai, dan dari perkataannya bisa menolong orang yang dhalim, bisa meringankan orang yang akan dihukum dan untuk menegakkan kebenaran. Akan tetapi amat disayangkan bahwa kemampuan yang ia milliki ini digunakan sepenuhnya untuk menolong dan menyebarkan mazhab Mu’tazilah dan menyiksa para imam Ahlu Sunnah. Khatib al-Baghdadi mengatakan: “Seandaiya saja ia tidak terlibat dalam al-mihnah maka perkataannya akan selalu didengar”.

 


[1] Lihat keterangan disihirnya Nabi saw dalam kitab shahih Bukhari no: 5321

[2] Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ja’ad bin Dirham masuk dalam kalangan tabi’in, pelaku bid’ah yang sesat, di antara kesesatannya; menganggap bahwa Allah swt tidak menjadikan nabi Ibrahim sebagai al-Khalil (kekasih) dan tidak berbicara dengan nabi Musa, dibunuh di Iraq ketika hari kurban, Ja’ad juga banyak membawakan berita-berita dusta”. Lihat Lisan al-Mizan, juz II, hal. 105 dan Mizan al-I’tidal, juz I, hal. 399.

[3] Abu Ashim, Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul, (Kairo: Dar Al-Shafwah, 1427 H), cet. Ke-11, hal. 56, lihat juga Dr. Musthafa Muhammad Hilmi, Manhaj Ulama al-Hadits wa al-Sunnah fi Ushul al-Din, (Kairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 2005), cet.ke-1, hal. 81 dan Muhammad Shalih bin Utsaimin, Sarh Aqidah al-Safaraini, (Mesir: Dar al-Manar, 1323 H), juz. I, hal. 21, dan as-Sahrastani, al-Milal wa al-Nihal, (Beirut: Dar Ibnu Jazm, 2005), cet.ke-1, hal. 79-81.

[4] Ibnu Atsir, Al-Kamil fi Al-Tarikh, (Beirut: Dar Al-Afaqi Al-Jadidah, 1987), Cet. Ke-1, hal. 263. Lihat juga dalam al-Hiidah wa al-I’tidzar fi al-Radd ala man qa la bikhalqil quran karangan al-Imam Abdul Aziz bin Yahya bin Abdul Aziz bin Muslim bin Maimun al-Kinani, hal.7 dalam Maktabah Syamilah.

[5] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Manaqib Imam Ahmad bin HanbAl, (Kairo: Maktabah Al-Khamaji, 1979 M), cet. Ke-1, hal. 285

[6] Ali ath-Thanthawi, Rijal Min at-Tarikh, (Jeddah: Dar al-Manarah, 1990), cet. Ke-8, hal 80

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: