Kritikan Ahlu Al-Sunnah Terhadap Konsep Khalq Al-Quran Mu’tazilah


Ulama Ahlu al-Sunnah telah banyak membantah konsep khalq al-Quran-nya Mu’tazilah, seperti Imam Ahmad, menulis kitab al-Radd ala al-Zanadiqah wa al-Jahmiyah[1], Imam Bukhari menulis kitab khalq af’al ibad[2], al-Darimi menulis al-Radd ala al-Jahmiyah[3], Ibnu Qutaibah menulis al-Ikhtilaf fi al-Alfadz wa al-Radd ala al-Jahmiyah wa al-Musyabbahah dan al-Najad menulis kitab al-Radd ala man yaqul al-Quran makhluq.

Berikut ini kami paparkan kritikan dan bantahan para ulama tentang dalil dan pendapat yang sering digunakan Mu’tazilah untuk mendukung konsep khalq al-Qurannya.

  1. Kritikan Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad menganalisa makna kata “ja’ala” dalam QS. Al-Zukhruf: 3 yang berbunyi:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (3)

Artinya:

“Sesungguhnya kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)”.

Ayat ini dipakai oleh kelompok Mu’tazilah untuk mendukung pendapat bahwa al-Quran adalah makhluk. Menurut Imam Ahmad yang dimaksud dengan kata “جعلنا” dalam ayat di atas masuk dalam pengertian perbuatan Allah I (fi’il min af’alihi) dan bukan berarti penciptaan seperti dugaan kalangan Mu’tazilah. Sehingga ketika Allah I menjadikan al-Quran dalam bahasa Arab dan memudahkan pemahamannya melalui lisan Nabi-Nya, hal itu termasuk kehendak dan perbuatan Allah U.[4]

Akan tetapi jika yang dimaksud al-Quran itu adalah bacaan (tilawah), maka ulama Ahlu al-Sunnah bersepakat dengan Mu’tazilah tentang makhluqnya al-Quran.

Awwad bin Abdullah al-Mu’tiq sependapat dengan Imam Ahmad, ia mengatakan bahwa istidlal Mu’tazilah tersebut batil dilihat dari dua segi.

Pertama: kata “ja’ala” berarti makhluq jika obyeknya tunggal, seperti firman Allah I Qs. Al-An’am: 1:

وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

Artinya:

“Dan mengadakan gelap dan terang”.

Dan jika obyeknya ganda bukan berarti makhluq, sebagaimana firman Allah I Qs. Al-Baqarah: 224:

وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ

Artinya:

“Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan”.

Dan ayat-ayat yang digunakan beristidlal oleh Mu’tazilah terkadang berobyek ganda.

Kedua: arti “ja’ala” disini adalah “sharafa” atau memalingkan sehingga makna ayat tersebut adalah Kami palingkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain yaitu Bahasa Arab, hal itu karena kalamullah itu satu dan Allah I menguasai semua bahasa, jika berkehendak I၉a berbicara dengan bahasa Arab dan jika berhekendak dengan bahasa yang lain[5]

  1. Kritikan Imam Abu Hasan al-Ash’ari[6]

Imam al-Ash’ari menyatakan: “Jikalau al-Quran itu makhluk (diciptakan), pasti tidak lepas dari tiga hal. Pertama, Allah I menciptakan   al-Quran dalam diri-Nya. Kedua, Allah I menciptakannya secara berdiri-sendiri. Ketiga, Allah I menciptakannya di luar diri-Nya.

Yang petama tidak bisa diterima oleh akal. Allah I tidak mungkin menciptakan al-Quran dalam diri-Nya, sebab diri-Nya bukanlah tempat untuk al-hawadits (hal-hal yang bersifat temporal). Yang kedua juga mustahil. Al-Quran tidak mungkin diciptakan secara berdiri-sendiri (independen), sebab al-Quran adalah kalamullah, dan kalam adalah sifat yang keberadaannya tidak mungkin berdiri-sendiri.

Yang ketiga juga tidak mungkin. Bahwa al-Quran diciptakan di luar diri-Nya. Jika begitu, berarti Allah I menciptakan al-Quran dalam sebuah organ atau benda lain di luar diri-Nya. Jika al-Quran itu berbentuk perintah, berarti berarti organ tersebut bersifat memerintah, dan bila berbentuk ancaman maka dia juga bersifat mengancam. Demikian seterusnya. Maka sangat mustahil bila Allah I hanya dapat berfirman, memerintah atau memberikan janji dan ancaman melalui perantara sebuah benda yang diciptakan di luar diri-Nya, yang dengan benda itu Allah I baru bisa berfirman atau memerintah.[7]

  1. Kritikan Ibnu Qudamah al-Maqdisi

Ibnu Qudamah menyorot argumentasi Mu’tazilah tentang kemakhlukan al-Quran dengan pernyataan mereka bahwa salah satu bukti kemakhlukan al-Quran adalah berbilangnya surat dalam al-Quran dan tidak ada yang berbilang kecuali itu makhluk. Maka dijawab oleh Ibnu Qudamah bahwa pernyataan tersebut adalah sebuah kebohongan terhadap sifat-sifat Allah U karena sifat-sifat Allah itu berbilang seperti as-Sam’u (maha mendengar) dan al-Bashir (maha melihat). Sebagaimana firman Allah U:[8]

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (109)

Artinya:

“Katakanlah; “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis0 kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.[9]

 

  1. Kritikan Imam Abdul Aziz al-Kinani

Mu’tazilah menjadikan dalil terhadap ke-makhlukan al-Quran dengan firman Allah I Qs. Al-Zumar: 62.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ (62)

Artinya:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu”.

Mu’tazilah mengatakan bahwa al-Quran adalah “sesuatu” sehingga masuk pada keumuman ayat di atas[10].

Imam Abdul Aziz al-Kinani berkata: apa maksud kalian dengan “sesuatu”itu? Jika yang kalian maksud adalah sebagai penetapan sesuatu yang ada dan peniadaan sesuatu yang tidak ada, maka benar   al-Quran sesuai dengan makna ini.  Tapi jika maksud “sesuatu” itu adalah sebuah nama maka tidak benar, karena Allah I tidak menjadikan “sesuatu” termasuk ke dalam nama-nama-Nya bahkan sesuatu itu Ia gunakan untuk menetapkan wujud-Nya, sebagaimana firman Allah I dalam Qs. Al-An’am: 19.

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ

Artinya:

Katakanlah: “Siapakah yang lebih Kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”.

Kemudian tentang keumuman kata “kull” itu sesuai dengan tempatnya, jika makna ayat tersebut bahwa segala sesuatu adalah makhluq, tidak masuk pada keumuman ayat ini Allah I dan sifat-Nya yang di antaranya adalah kalamullah dan al-Quran.[11]

Setelah menyebutkan kritikan dari para Imam dan ulama Ahlu al-Sunnah tentang konsep khalq al-Quran-nya Mu’tazilah, perlu juga kita mengetahui bagaimana keyakinan Ahlu al-Sunnah dalam masalah Kalam. Syaikh Abu Ashim, Hisyam bin Abdul Qadir bin Muhammad Ali Uqdah telah meringkasnya dalam Mukhtashar Ma’arij al-Qabul, yang ringkasnya sebagai berikut:

Mereka meyakini bahwa Allah I senantiasa berbicara dengan suara yang Ia kehendaki sebagai kelaziman atas keagungan zat-Nya. Terkadang kalam-Nya didengar dengan tanpa perantara sebagaimana bicaranya Jibril dengan Allah I, ketika hari kiamat atau dengan penduduk surga. Dan terkadang lewat seorang penyampai sebagaimana para nabi mendegar wahyu melalui Jibril atau para sahabat yang mendengar al-Quran melalui Nabi `.

Lalu jika dikatakan: Apakah yang didengar itu makhluk atau tidak? Maka dijawab: jika yang engkau maksud ‘didengar’ itu dari Allah I maka itu adalah kalamullah bukan makhluk, tapi jika yang engkau maksud dari seorang penyampai maka perlu diperinci: jika yang engkau tanyakan adalah suaranya, maka ia adalah makhluk dan jika yang engkau tanyakan adalah kalam dari suara tersebut, ia bukan makhluk. Kesimpulannya bahwa yang dilafadzkan adalah fi’il hamba yang itu adalah makhluk sedangkan yang dilafadzkan adalah kalamullah bukan makhluk, walllahu a’lam.[12]

  1. Kritikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah membantah pernyataan ulama Syiah yang bernama Ibnu Muthahhir yang menyitir salah satu pendapat Asy’ariyah bahwa perintah dan larangan Allah I itu bersifat azali  dan tidak ada makhluq di sisi-Nya, Seperti firman Allah I:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah”.[13]

Maka jika ada seseorang duduk di tempat yang sepi dan tidak ada seseorang di dekatnya, lalu ia berteriak; Hai Salim bangunlah!, hai Ghanim makanlah!, hai Najah masuklah! Lalu ditanya: siapakah yang engkau panggil? Ia menjawab: seorang hamba sahaya yang ingin aku beli setelah 20 tahun mendatang. Orang berakal dinisbahkan dengan kebodohan, lalu bagaimana mereka menisbahkan kepada Allah yang bersifat azali?

Argumen di atas di bantah oleh Ibnu Taimiyyah dengan tiga poin :

Poin Pertama; ini adalah pendapat al-Kullabiyyah, salah satu kelompok yang mengatakan bahwa kalamullah bukan makhluq, mereka juga kelompok yang menyatakan keimamahan tiga khalifah. Maka entah benar ataukah batil pernyataan tersebut tidak lantas membenarkan mazhab Rafidhah karena mayoritas kalangan yang menyatakan keimamahan tiga khalifah tidak mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluq.

Poin kedua; Mayoritas Imam Syiah mengatakan: “al-Quran bukan makhuq” demikian pula imam Ahlu Bait..

Poin ketiga: pernyataan Kullabiyyah dan As’ariyah di atas muncul karena mereka sependapat dengan Mu’tazilah, mereka juga sependapat dalam hal hudutsnya jism.[14]

Dalil-Dalil Yang Menunjukkan Bahwa Al-Quran Bukan Makhluq

Di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk, berikut ini dalil-dalil dari al-Quran, hadits, atsar sahabat, ijma’ ulama dan dalil secara akal yang menjelaskan bahwa al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk:

  1. Dalil dari al-Quran al-Karim

Allah I telah mencela suatu kaum di dalam Al-Qur’an, karena mereka meyakini bahwa Al-Qur’an itu adalah ucapan manusia alias makhluk:

فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27)

Artinya:

“Lalu dia berkata: “(Al Quran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu?”.[15]

Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan: “Allah I berfirman dalam memberikan ancaman kepada orang keji ini[16], yang telah Allah I berikan nikmat kepadanya, yaitu nikamt-nikmat duniawi. Lalu ia mengingkari nikmat-nikmat Allah I, dan menggantinya dengan kekafiran; membalasnya dengan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah I, dan mengada-ada atasnya; ia menganggapnya termasuk ucapan manusia”.[17]

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3)

Artinya:

“Tuhan yang Maha Pemurah. Yang telah mengjarkn al-Quran. Dia menciptakn manusia.”

Imam Ahmad menjadikn ayat ini sebagai bantahan terhadap Mu’tazilah, dimana Allah I menerangkan bahwa al-Quran adalah ilmu Allh I dan ilmu Allah I bukanlah makhluq

  1. Dalil dari Sunnah al-Nabawiyah

Abdullah bin Umar ra berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah ` bersabda:

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهٌ تَعَالَى الْقَلَمُ, فَأَخَذَهُ بِيَمِيْنِهِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ, قَالَ: فَكَتَبَ الدُّنْيَا وَمَا يَكُوْنُ فِيْهَا مِنْ عَمَلٍ مَعْمُوْلٍ: بِرٍ أَوْ فُجُوْرِ, رَطْبٍ أَوْ يَابِسٍ

Artinya:

“Makhluk yang paling pertama Allah -Ta’ala- ciptakan adalah al-qolam (pena). Kemudian Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Sedang kedua tangan-Nya adalah kanan. Lalu Allah menetapkan adanya dunia, dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya berupa amalan baik yang dikerjakan, maupun amalan jelek; yang basah, maupun kering”.[18]

Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qolam adalah makhluk pertama yang Allah I ciptakan, sedang kalamullah telah ada sebelum Al-Qolam. Bahkan Al-Qolam tercipta dengan kalamullah. Maka ini menunjukkan bahwa kalamullah adalah sifat Allah I, bukan makhluk ciptaan-Nya.

Sa’d bin Abi Waqqash berkata; aku mendengar Khaulah binti Hakim As Sulamiyyah berkata; aku mendengar Rasulullah ` bersabda:

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

Artinya:

“Barang siapa yang singgah ada suatu tempat kemudian dia berdo’a: ‘a’auudzu bi kalimaatillahit taammah min syarri maa khalaq, niscaya tidak akan ada yang membahayakannya hingga di pergi dari tempat itu.”[19]

Imam Bukhari menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa kalamullah buknlah makhluq dan selainnya adalah makhluq.[20]

  1. Dalil dari Ijma’ Salaf al-Shalih

Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi r yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, karena masalah seperti ini telah jelas dan gamblang dan dijelaskan oleh Al-Quran dan sunnah, kemudian fitnah Khalq Al-Quran juga baru muncul setelah masa sahabat[21].

Setelah melakukan penelitian mendalam akan kita dapatkan pernyataan para sahabat yang mengatakan bahwa     al-Quran adalah kalamullah, Ali bin Abi Thalib, khalifah ar-Rasyidin keempat, ketika orang Khawarij menuduhnya telah berhukum dengan makhluk, mereka mengatakan: “engkau berhukum dengan dua laki-laki? Maka Ali menjawab: “Aku tidak berhukum dengan makhluk, aku berhukum dengan Al-Quran.” Jawaban Ali bahwa ia berhukum dengan Al-Quran adalah penafian bahwa Al-Quran itu adalah makhluk.[22]

Ulama’ tabi’in, Amr bin Dinar telah menyebutkan ijma’ dari salaf as-shalih bahwa Al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk:

سَمِعْتُ مَشِيْخَنَا مُنْذُ سَبْعِيْنَ يَقُوْلُوْنَ :الْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ, لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ

Artinya:

“Aku telah mendengarkan para guru-guru kami berkata sejak 70 tahun, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk”.[23]

Imam al-Ajuri menyebutkan beberapa nama ulama Ahlus Sunnah yang sepakat bahwa al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk, mereka seperti Ishaq bin Rahiwayaih, Abdul A’la bin al-Hammad, al-Rabi’ bin Sulaiman, sahabat Imam as-Syafi’i Wahab bin Baqiyyah dan nama-nama lain yang tidak terhitung jumlahnya.[24]

Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk, bukan hanya diyakini oleh para sahabat dan tabi’in, bahkan para imam ahli fiqih pun yang datang setelahnya juga meyakininya, silahkan simak pernyataan dari Imam Ahlu Sunnah, Ahmad bin Hanbal berikut:

وَالْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ, وَلَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ, وَلاَ تَضْعُفْ أَنْ تَقُوْلَ: لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ, فَإِنَّ كَلاَمَ اللهِ مِنْهُ, وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ مَخْلُوْقٌ

Artinya:

“Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukan makhluk. Jangan kau canggung untuk berkata, “Dia bukan makhluk”, karena firman Allah dari Allah. Dan tak ada dari diri-Nya sesuatu berupa makhluk”.[25]

Demikian juga kalangan Ahlu Bait berkeyakinan demikian, seperti jawaban Imam Ja’far al-Shadiq ketika ditanya orang-orang Syiah tentang kemakhlukan al-Quran, maka ia jawab “Bukan khaliq dan bukan pula makhluq, tetapi al-Quran adalah kalamullah”.[26]

  1. Dalil secara akal

Sifat kalam merupakan sebagian dari sifat kesempurnaan dan meniadakan sifat kalam menunjukkan kekurangan, dan Allah I telah mengingkari Bani Israil yang menyembah lembu dengan menjelaskan kekurangannya, yaitu tidak bisa berbicara, yang menjadi bukti bahwa lembu itu tidak layak untuk disembah. Allah Iberfirman:

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ

Artinya:

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka”.[27]

 

 

 


[1] Imam Ahmad, al-Radd ala al-Zanadiqah wa al-Jahmiyah, tahqiq: Muhammad Hasan Rasad (Kairo: al-Salafiyah, 1393 H)

[2] Imam Bukhari, khalq af’al ibad, tahqiq: Dr. Abdurrahman Umairah, (Riyadh: Dar al-Ma’arif, 1978 M).

[3] Imam al-Darimi, al-Radd ala al-Jahmiyah, (Kuwait: Dar Ibnu al-Atsir, 1995 M) cet. ke-2.

[4] Imam Ahmad bin Hanbal, al-Radd ala al-Zanadiqah wa al-Jahmiyah, tahqiq: Muhammad Hasan Rasid (Kairo: Percetakan al-Salafiyah, 1393 H), hal, 22-25 lihat juga Imam Abdul Aziz al-Kinani, al-Hiidah, hal. 91

[5] Awwad bin Abdullah al-Mu’tiq, Al-Mu’tazilah wa Ushuluhum al-Khamsah wa Mauqif Ahlu al-Sunnah minha, hal. 120

[6] Pada awalnya Abu Hasan al-Asy’ari beraqidah Mu’tazilah selama kurang lebih selama 40 tahun. Sebelum kembali ke aqidah yang benar beliau mengurung dirinya di rumah selama 15 hari dan sama sekali tidak pernah keluar menemui manusia. Maka di hari ke-15, tepatnya hari jumat, ia berbicara di hadapan manusia bahwa ia telah berlepas diri dari keyakinan sebelumnya yang di antaranya keyakinan bahwa al-Quran adalah makhluq.

Dengan kembalinya Abu Hasan al-Asy’ari, ulama Ahlus Sunnah menyambutnya dengan kegembiraan dan selanjutnya pemikirannya mulai diarahkan untuk menolak ajaran-ajaran Mu’tazilah yang menyimpang. Dengan demikian ulama menyimpulkan bahwa Abu Hasan al-Asy’ari melewati 3 tahap dalam keyakinannya: 1). Masa I’tizal, 2). Penetapan sifat ‘Aqli yang tujuh; yaitu al-Hayah, al-Ilmu, al-Qudrah, al-Iradah, al-Sam’u, al-Basharu dan yang lainnya, 3). Menetapkan sifat-sifat di atas tanpa takyif dan tasybih sesuai pandangan salaf sebagaimana tercantum dalam buku putihnya ‘Al-Ibanah’. Lihat: Dr. Ghalib bin Ali al-Iwaji, Furuqun Mu’asiroh, juz. 2, hal.855-856

[7] Imam Abu Hasan al-Ash’ari, al-Luma’ fi al-Radd ala Ahlu al-Zaigh wa al-Bida’, (Kairo: Perpustakaan al-Khanji, tanpa tahun terbit), hal. 64-65

[8] Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Hikayah al-Munadharah fi al-Quran ma’a ba’dhi Ahlul Bid’ah, tahqiq: Abdullah Yusuf al-Jadi’, (Riyadh: Perpustakaan al-Rusyd, 1409 H), cet.1, hal. 18-19

[9] Surat al-Kahfi (18: 109)

[10] Al-Qadhi Abd al-Jabbar, al-Mughni fi Abwab al-Adl wa al-Tauhid, juz 7, hal. 94

[11] Imam Abdul Aziz al-Kinani, al-Hiidah, hal. 31-34 dan 50

[12] Abu Ashim, Mukhtashar Ma’arij al-Qabul, (Kairo: Dar al-Shofwah, 2006), cet. Ke-11, hal. 62-63

[13] Surat al-Baqarah (2: 278)

[14] Ibnu Taimiyyah, Minhaju Sunnah al-Nabawiyah, tahqiq; Dr. Muhammad Rasyad Salim, (Riyadh: Uniersitas Ibnu Sa’ud, 1986 M) cet. I, Juz. III,hal 252-254

[15] Surat Al-Muddatstsir (74: 24-27)

[16] Yang dimaksud adalah al-Walid bin al-Mughirah

[17] Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran al-‘Adhim, tahqiq. Sami bin Muhammad Salamah, (Riyadh: Dar al-Thayyibah, 1420 H), cet. Ke-2, juz VIII, hal. 267

[18] HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (106), dan Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ah (hal. 180). Hadits ini di-hasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (1/42)

[19] HR Muslim (4882) dalam bab berlindung dari buruknya takdir buruk dan kesialan

[20] Imam Bukhari, Khalq af’al Ibad, tahqiq: Dr Abdurrahman Umairah, (Riyadh: Dar al-Ma’arif, 1978), hal. 143

[21] Lihat al-Lalikai, Sarh I’tiqad Ahlu al-Sunnah, tahqiq: Dr. Ahmad al-Hamdan, hal. 1/227

[22] Dr. Musthafa Muihammad Hilmi, Manhaj Ulama Hadits wa as-Sunnah fi Ushul ad-Dien, (Kairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 2005 M), cet. Ke-1, hal. 21

[23] HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (no: 169), tahqiq: Muhammad Sa’id Basuni, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H), cet. Ke-1, juz I, hal. 190, pendapat para ulama dari sahabat dan generasi selanjutnya juga bisa dilihat pada kitab ini dalam bab: fi al-iman bi Al-Quran al-munazzal ala nabiyyina, hal. 185-194

[24] Abu Bakar al-Ajuri, al-Syari’ah, tahqiq: Farid al-Jundi, (Kairo: Dar al-Hadits, 2005 M), hal. 72

[25] Al-Hafiz Abi al-Qasim al-Lalikai, Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah, tahqiq. Prof. Sayid Imran, (Kairo: Dar al-Hadits, 2004 M), cet. Ke-1, jilid I, hal. 311

[26] Ibnu Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, (Riyadh: Perpustakaan al-Riyadh al-Haditsah) Juz. II, hal.251

[27] Surat Al-Araf (7: 148)

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: