Imam Ja’far as-Shodiq


PENGANTAR

Kali ini kita akan membahas tentang Ja’far as-Shadiq, salah seorang yang terpandang di kalangan Ahlu Bait dan kaum muslimin bahkan matahari yang terang benderang di dunia Islam, meski demikian kita tidak boleh bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mencintainya, tetapi kita cinta kepadanya atas dasar Islam. Dan Allah y telah mencela sikap ghuluw yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap Nabi Isa as, sebagaimana fiman Allah y:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17)

Artinya:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs. Al-Maidah: 17)

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah y telah berlepas diri dari sikap ghuluwnya orang-orang Nasrani, demikian juga kita berlepas diri dari sikap ghuluw yang dilakukan oleh kelompok Syiah Itsna Asy’ariyah.

Umat Islam secara umum bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah y lewat orang-orang yang shalih, lalu bagaimaa jika ada seseorang yang dalam dirinya terkumpul kepemimpinan dalam agama ditambah dengan kekerabatan dengan Nabi s, sebagaimana wasiat Nabi s kepada umatnya tentang Ahlu Bait, seperti sabda Nabi s dibawah ini.

أُذكِّرُكُمُ الله في أهلِ بَيْتي

Artinya:

“Aku ingatkan kalian dengan Ahlu Bait ku”.[1]

Di zaman ini, jika ada seseorang yang menasabkan dirinya kepada keluarga Nabi Muhammad s, ia akan sangat dihormati, disanjung dan dicintai karena kedekatannya dengan Nabi Muhammad s, yang boleh jadi antara dia dan Nabi s telah berselang puluhan bapak. Lalu bagaimana dengan Ja’fas as-Shidiq yang ia adalah ibnu Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau binti Fatimah, jarak antara ia dengan Nabi s hanyalah empat orang saja.

Pernah suatu ketika Khalifah Harun al-Rasyid yang ingin menunjukkan rasa kebanggaannya dengan kekerabatan Nabi s di depan manusia, ketika mendekati kuburan Nabi s, ketika itu manusia mengatakan: “as-salamu alaika ya Rasulallah” lalu datang Harun al-Rasyid dan menyanpaikan salam kepada Nabi s dengan mengatakan: “assalamualaika ya ibnu ammi” dan ketika itu Ali Ridha ada di tempat tersebut lalu ia mendatangi Harun dan mendekati kuburan Nabi s denga mengucapkan salam: “assalamulaika ya abati” lalu Ali Ridha mengatakan kepada Harun; Wahai Harun! Jika engkau merasa bangga di hadapan manusia karena Rasulullah s adalah anak pamanmu, maka aku juga merasa bangga kepadamu karena Nabi s adalah kakekku”, lalu Harun menoleh kepada Ali Ridha sambil mengatakan: “Demi Allah, sungguh engkau mendapatkan keutamaan yang besar”.

NASABNYA

Namanya adalah Ja’far as-Shadiq, ayahnya bernama Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin yang dijuliki as-Sajjad bin Husan as-Syahid bin Ali bin Abi Thalib.

Ibunya bernama Ummu Farwah bin al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shidiq, ini dari jalur bapak, sedangkan dari jalur ibu adalah Ummu Farwah binti Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar as-Shidiq.

Ia dilahirkan pada tahun 80 H di rumah yang penuh dengan ilmu, ibadah dan karamah, ia sempat bertemu dengan kakeknya Zainal Abidin as-Sajjad dan banyak belajar ilmu dari ayahnya al-Baqir, kemudian ia tumbuh berkembang sebagaimana karib-kerabatnya yang mempunyai perhatian dengan hafalan al-Quran dan hadits-hadits Nabi s, sampai akhirnya ia dikenal sebagai “Alimul Madinah” (orang jeniusnya Madinah).

JULUKAN

Ja’far as-Shadiq ketia kecilnya dijuliki sebagai “as-Shadiq”, gelar ini selalu tersemat padanya karena memanng beliau terkenal dengan sifat jujur dalam maslah hadits, perkataan dan tindakan.

Ketika menginjak usia dewasa, ia dijuliki sebagai “al-Imam” dan “al-Faqih”. Meski demikian, ia bukan manusia yang ma’shum seperti yang diyakini kelompok Itsna Asariyah. Hal ini dibuktikan dengan pernyataannya, bahwa al ‘Ishmah (ma’shum) hanyalah milik Nabi s, sebagaimana riwayat dari Abdul Jabbar bin Abdul Abbas al-Hamdani bahwa Imam Ja’far berkata: “Barangsiapa yang menganggap diriku imam ma’shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa menduga aku berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’.”

ANAK-ANAKNYA

Jumlah anak dari Ja’far as-Shadiq ada tujuh orang dan dipanggil dengan sebutan ‘Abu Abdillah’ meskipun anak pertamanya bernama Ismail, dan barangkali nama panggilan ini telah ada sebelum beliau dikaruniai keturunan. Anak-anaknya adalah Ismail, Abdullah, Musa yang bergelar al-Kadzim[2], Ishaq, Muhammad, Ali dan Fatimah.

KEPRIBADIANNYA

Dia dikenal memiliki sifat kedermawanan dan kemurahan hati yang begitu besar. Seakan merupakan cerminan dari tradisi keluarganya, sebagai kebiasaan yang berasal dari keturunan orang-orang dermawan. Sebagaimana Rasulullah s adalah orang yang paling murah hati.

Dalam hal kedermawanan ini, ia seakan meneruskan kebiasaan kakeknya, Zainal ‘Abidin, yaitu bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging dan membawa uang dirham di atas pundaknya, dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari kalangan orang-orang fakir di Madinah, tanpa diketahui jati dirinya. Ketika beliau telah wafat, mereka merasa kehilangan orang yang selama ini telah memberikan kepada mereka bantuan.

Dengan sifat kedermawanannya pula, ia melarang terjadinya permusuhan. Dia rela menanggung kerugian yang harus dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, untuk mewujudkan perdamaian antara kaum Muslimin.

GURU-GURUNYA

Dalam perjalanan ilmiyahnya, Imam Ja’far as-Shadiq banyak bertemu dengan ulama-ulama besar. Gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri yaitu Muhammad al-Baqir kemudian ia sempat juga bertemu dengan awakhir shahabah yaitu sahabat-sahabat Nabi s yang berumur panjang seperti Sahl bin Sa’ad, Anas bin Malik dan ulama kenamaan yang ada ketika itu seperti Atha’ bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al Munkadir, ‘Abdullah bin Abi Rafi’,  Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia pun meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shidiq.

MURID-MURIDNYA

Muridnya banyak sekali, di antara mereka yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, al-Qaththan, Abdul Malik bin Juraij, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Abu Hanifah dan masih banyak lagi. Para Imam hadits kecuali Imam al Bukhari meriwayatkan hadits-hadits Ja’far pada kitab-kitab mereka. Sementara Imam al Bukhari meriwayatkan haditsnya di selain kitab ash Shahih.

Mayoritas ulama yang diambil ilmunya oleh Imam Ja’far berasal dari Madinah. Mereka adalah ulama-ulama terkenal, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran. Maka fiqih Ima Ja’far adalah fiqih Madinah yang banyak diambil pendapatnya oleh ulama Madinah sendiri seperti Imam Malik, ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Ibnu Juraij dan ulama lainnya yang ada di Madinah, sehingga fiqih Ja’far as-Shadiq adalah fiqih yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah.

Hal ini berbeda dengan riwayat-riwayat yang ada pada buku-buku Syiah Itsna Asariyah bahwa mayoritas bahkan semua riwayat yang berasal dari Ja’far berasal dari para perawi Kufah. Hal ini tidak benar, karena Ja’far tidak pernah pergi atau tinggal di Kufah, karena Ja’far as-Shadiq dilahirkan di Madinah, tumbuh dan berkembang di Madinah dan dikuburkan di Madimah di pekuburan Baqi’. Dalam buku-buku itu disebutkan riwayat dari Muhammad bin Sinan, Abdullah bin Sinan, Muhammad bin Muslim, Abu Bashir dan lainnya yang semuanya berasal dari Kufah.

SANJUNGAN ULAMA TERHADAP IMAM JA’FAR AS-SHADIQ

Abu Hanifah berkata,”Tidak ada orang yang lebih faqih dari Ja’far bin Muhammad.”

Abu Hatim ar Razi di dalam al Jarh wa at Ta’dil (2/487) berkata,”(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan orang sekaliber dia.”

Ibnu Hibban berkomentar: “Dia termasuk tokoh dari kalangan Ahli Bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ Tabi’in dan ulama Madinah”.

Dan N AS-SHADIQ

A TERHADAP IMAM JA’an indakan.

sifat ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan: “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahli Sunnah”.[3]

KLAIM-KLAIM BOHONG SYIAH ATAS IMAM JA’FAR AS-SHADIQ

Berikut ini contoh-contoh kedustaan yang dilekatkan oleh kelompok Syiah Itsna Asariyah atas nama Imam Ja’far as-Shadiq.

v  Ucapan Imam Ja’far tentang Taqiyyah; “taqiyah adalah agamaku dan agama nenek-moyangku, dan tidak beriman orang yang tidak bertaqiyyah”.[4]

At Taqiyyah ialah seseorang menampakkan sikap yang tidak sesuai dengan isi batinnya. Di antara dalil yang mereka gunakan untuk menjustifikasi keyakinan tersebut adalah sebuah hadits Mereka dalam hal ini berdalilkan dengan beberapa hadits, di antaranya hadits yang mereka sebut-sebut dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu yang beliau berkata: “At Taqiyyah termasuk amalan seorang mukmin yang paling utama, dengannya ia menjaga diri dan saudaranya dari tindakan orang-orang jahat.”[5]

v  Ucapan Imam Ja’far tentang al-Quran; “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s kepada Nabi Muhammad s adalah 17.000 ayat”.

Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya. Dan Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah.[6]

v  Ucapan Imam Ja’far; “al-Quran adalah makhluq”

Pada masa Imam Ja’far, bid’ah al Ja’d bin Dirham dan pengaruh al Jahm bin Shafwan telah menyebar dan sebagian kaum Muslimin sudah terpengaruh dengan aqidah al Qur`an sebagai makhluk. Akan tetapi, Ja’far bin Muhammad ketika ditanya orang-orang Syiah tentang kemakhlukan al-Quran menyatakan: “Bukan Khaliq (Pencipta), juga bukan makhluk, tetapi Kalamullah”.[7] Ibnu Taimiyyah mengungkapkan, bahwa pernyataan itu termasuk riwayat yang sering diriwayatkan dari Ja’far ash Shadiq.[8]

Pendapat bahwa al-Quran bukanlah makhluk juga telah dinyatakan oleh kakeknya Imam Ja’far yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika orang Khawarij menuduhnya telah berhukum dengan makhluk, mereka mengatakan: “engkau berhukum dengan dua laki-laki? Maka Ali menjawab: “Aku tidak berhukum dengan makhluk, aku berhukum dengan al-Quran”. Jawaban Ali bahwa ia berhukum dengan al-Quran adalah penafsiran bahwa al-Quran itu bukanlah makhluq.[9]

v  Keyakinan Syiah bahwa Imam Ja’far as-Shadiq akan kekal abadi dan tidak meninggal.

Keyakinan ini menunjukkan bahwa kedudukan imam dimata masyarakat Syiah amat tinggi. Ada di antara mereka yang menyamakan Imam dengan Nabi, bahkan ada yang beranggapan bahwa imam lebih tinggi dari pada Nabi. Sehingga bagi Syiag, imam adalah segala-galanya.

v  Imam Ja’far as-Shadiq mencela Abu Bakar dan Umar

Imam Ja’far tidak mungkin membenci bahkan mencela dua sahabat yang menjadi teman dekat kakeknya yakni Rasulullah s dan penggantinya.

Imam Ja’far tidak mungkin mencela mereka berdua, karena kalau kita lihat silsilah Imam Ja’far (lihat gambar di atas) akan kita temukan bahwa ibunya, Ummu Farwa adalah putri al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr ash Shiddiq. Sementara neneknya dari arah ibunya adalah, Asma` bintu Abdir Rahman bin Abi Bakr.

Sehingga dari keterangan ini sulit digambarkan bahwa Imam Ja’far mencela Abu Bakar dan Umar.

Ad Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata: “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad, saat ditanya tentang Abu Bakr dan ‘Umar, ia berkata,’Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah dari surga’.”

Syaikh Muhibuddin al-Khatib dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ‘Mungkinkah Syiah dan Sunnah bersatu’ menyebutkan bahwa anak dari Imam Ja’far yang bernama Abdullah menamakan salah satu putranya dengan nama Yazid karena ia mengetahui bahwa Yazid berperilaku baik dan terpuji.[10]

v  Klaim kitab dan tulisan-tulisan yang telah ditulis oleh Imam Ja’far as-Shadiq.

Di antara kitab yang dinisbatkan kepadanya dengan kedustaan, yaitu kitab Rasailu Ikhawni ash Shafa, al Jafr, ‘Ilmu al Bithaqah, Ikhtilaju al A’dha`, Qira`atu al Qur`an Fi al Manam, dan sebagainya.

Golongan Syi’ah memperkuat kedustaan mereka tentang keotentikan kitab-kitab tersebut, dengan mengambil keterangan dari Abu Musa Jabir bin Hayyan ash Shufi ath Tharthusi, seorang pakar kimia yang terkenal, meninggal tahun 200 H. Mereka berdalih, bahwa Abu Musa Jabir bin Hayyan telah menyertai Ja’far ash Shadiq dan menulis berbagai risalah yang berjumlah 500 buah dalam seribu lembar kertas.

Pernyatan di atas telah jelas dusta dan telah dibantah oleh ulama dengan argument-argument sebagai berikut.

1). Pernyataan ini masih sangat diragukan. Sebab, Jabir ini termasuk muttaham (tertuduh, dipertanyakan) dalam agama dan amanahnya.

2). Tidak ada kemungkinan Imam Ja’far bertemu dengan Jabir bin Hayyan yang meninggal tahun 200 H.

3). Menurut keterangan yang masyhur, Jabir bukan menyertai Ja’far ash Shadiq, tetapi ia menyertai Ja’far bin Yahya al Barmaki.

4). Imam Ja’far ash Shadiq berada di Madinah, sementara itu Jabir bermukim di Baghdad.

5). Perbedaan antara Kedustaan tersebut semakin jelas jika melihat kesibukan Jabir dengan ilmu-ilmu alam, yang tentu sangat berbeda dengan yang ditekuni Imam Ja’far ash Shadiq.

Oleh karena itu, tulisan-tulisan di atas, tidak bisa dibenarkan penisbatannya kepada Ja’far as-Shadiq.

Syiah Itsna Asariyah adalah kelompok yang sangat berlebihan kepada Imam Ja’far as-Shadiq, bahkan terhadap Ahlul Bait, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Syi’ah Imamiyah, mereka berselisih dengan Ahli Bait dalam kebanyakan pemahaman aqidah mereka. Dari kalangan Imam Ahli Bait, seperti ‘Ali bin al Husain Zainal ‘Abidin, Abu Ja’far al Baqir, dan putranya, Ja’far bin Muhammad ash Shadiq, tidak ada yang mengingkari ru`yah (melihat Allah y di akhirat), dan tidak ada yang mengatakan al Qur`an adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan ‘Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi s), tidak ada yang mengakui para imam dua belas ma’shum, atau mencela Abu Bakr dan ‘Umar.”[11]

Dari pemaparan dalam makalah ini kita dapat menarik satu kesimpulan penting bahwa Imam Ja’far as-Shadiq adalah imamnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan sama sekali bukan milik Syiah Rafidhah, Wallahu A’lam Bissahawab.

Referensi:

  1. Diadaptasi dari Kajian dan Ceramah (Muhadharah) Syaikh Utsman al-Khumais yang bertema:

Sirah al-Imam Ja’far as-Shadiq (Biografi Imam Ja’far as-Shadiq)

Ja’faruna wa Ja’faruhum (Imam Ja’far menurut kita (Ahlus Sunnah) dan menurut mereka (Syiah Rafidhah)

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah (Riyadh, Maktabah al-Riyadh al-Haditsah) tanpa tahun cetak
  2. Ihsan Ilahi Dhahir, As-Syi’ah wa Ahlul Bait (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah, 1995), cet ke-10
  3. Tahqiq kitab al Munazharah yang berjudul Munazharah Ja’far bin Muhammad ash Shadiq Ma’a ar Rafidhi fi at Tafdhili Baina Abi Bakr wa ‘Ali, karya Imam al Hujjah Ja’far bin Muhammad ash Shadiq, tahqiq oleh  ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz al ‘Ali Alu Syibl, Dar al Wathan Riyadh, Cet. I, Th. 1417 H.
  4. Syaikh Muhibuddin al-Khatib, Mungkinkah Syiah dan Sunnah bersatu,Alih bahasa oleh Muhammad Arifin Badri, MA
    1. Dr. Musthafa Muhammad Hilmi, Manhaj Ulama Hadots wa as-Sunnah fi Ushul al-Dien (Kairo: Dar Ibnul Jauzi, 2005 M), cet. Ke-1, hal. 21
    2. Majalah as-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M
    3. http://www.almanhaj.or.id/content/2611/slash/0


[1] HR Muslim no. 2408. Hadits ini termasuk dalam deratan hadits shahih tetapi difahami dengan pemahaman yang khusus oleh Syiah yaitu bahwa Rasulullah s memrintahkan untuk berpegang teguh dengan Ahlu Bait. Lihat. Ahadits Yuhtajju biha as-Syia’ah karangan Abdurrahman Muhamad Sa’id Damsyiqiyyah hal. 1:1. Maktabah Syamilah

[2] Oleh Syi’ah Imamiyah, ia diangkat sebagai imam berikutnya. Dalam masalah ini, Syi’ah Imamiyah berseteru pendapat dengan Isma’iliyah tentang imam setelah Ja’far ash Shadiq, antara Musa yang bergelar al Kazhim dengan Isma’il yang sudah meninggal terlebih dahulu.

[3] Lihat Minhaju as Sunnah, 2/245

[4] Lihat Al Ushul Minal Kafi, bab: At Taqiyyah jilid: 2 hal: 219

[5] Baca: Tafsir Al Askari, hal: 162 Pustaka Ja’fary, India

[6] lihat kitab Syi’ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241

[7] Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah (Riyadh, Maktabah al-Riyadh al-Haditsah), Juz 2, hal. 251

[8] Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah (Riyadh, Maktabah al-Riyadh al-Haditsah), Juz 2, hal.2/245

[9] Dr. Musthafa Muhammad Hilmi, Manhaj Ulama Hadots wa as-Sunnah fi Ushul al-Dien (Kairo: Dar Ibnul Jauzi, 2005 M), cet. Ke-1, hal. 21

[10] Syaikh Muhibuddin al-Khatib Mungkinkah Syiah dan Sunnah bersatu, hal. 30

[11] Minhaj as-Sunnah karangan Ibnu Taimiyah, hal. 2:..

One Response

  1. […] “Aku ingatkan kalian dengan Ahlu Bait ku”.[1] […]

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: