Ibarat Mengenggam Bara


Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no 4333 dalam kitab al-Fitan wal Malahim, Rasulullah SAW bersabda ketika menafsirkan ayat “alaikum anfusakum” (QS al-Maidah: 105): “Bahkan perintahkanlah oleh kamu sekalian untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga jika engkau telah melihat manusia mentaati sifat kikir, hawa nafsu telah liar diumbar, dunia diutamakan, dan setiap orang yang mempunyai pendapat (pemikiran)telah bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri dan meninggalkan orang-orang awwam, karena sungguh setelah itu akan ada hari-hari (yang sulit dan berat)(sehingga karena sulit dan beratnya) orang yang sabar (di dalam memegang kesepakatan atas kebenaran) bak menggenggam bara api. Orang yang beramal (pada zaman itu, mendapatkan pahala) seperti pahala lima puluh kalinya orang yang beramal diantara kamu sekalian.” Dalam riwayt lain ada tambahan, Para sahabat ketika itu bertanya kepada Rasulullah, “lima puluh kalinya kami atau mereka?” Rasulullah menegaskan, “Bahkan lima puluh kalinya kamu sekalian (yakni para sahabat).”

Dalam hadits ini Rasulullah SAW  mengisyaratkan bahwa ada keadaan dimana Amar ma’ruf nahi mungkar tidak lagi berarti. Keadaan dimana manusia tidak lagi mempan terhadap seruan peringatan, nasihat dan pelurusan, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-nya yang baru, dunia begitu diutamakan dan meyedot seluruh perhatian mereka, hasilnya pun mereka nikmati di dunia tanpa ada yang mereka simpan dan sisakan untuk akhirat sehingga membuat mati sistem musyawarah yang sangat  ditekankan oleh Allah SWT  padahal  musyawarah adalah perkara yang sangat  penting untuk memperkecil dan menghindari jalan-jalan syaithan yang  selalu menghalangi, maka hendaknya seorang pemimpin tidak memutuskan suatu perkara sendiri saja sepanjang masih bisa mengajak musyawarah para bawahannya.

Jika musyawarah sudah tidak bisa dijadikan tradisi lagi dan orang-orang lebih suka dengan pendapat dan pemikirannya sendiri, maka Nabi SAW menganggap hal itu sebagai aafat mujtama’ (bencana suatu masyarakat), sehingga menjaga diri sendiri itu lebih baik dari pada berada pada masyarakat yang berkarasteristik seperti itu.

Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk perkara yang agung dan hendaknya maslahat  yang didapat lebih baik dari pada madharatnya. Allah memuji orang-orang yang selalu berbuat kebaikan dan mencela orang-orang yang selalu berbuat rusak bukan pada tempatnya sehingga mafsadah dari Amar ma’ruf nahi mungkar lebih besar dari pada maslahatnya.

Dalam hal ini ada dua golongan manusia yang berlebih–lebihan:

Pertama, segolongan orang yang meniggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar karena salah menafsirkan ayat di atas. Abu Bakar berkata dalam khutbahnya; sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…” (QS al-Maidah: 105), tetapi kalian tidak meletakkannya pada tempatnya, sunggh aku telah mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran dan tidak merubahnya atau ragu akan kemungkaran tersebut, niscaya Allah akan mengumumkan balasan bagi mereka.”(HR Ibnu Majah)

Kedua, orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar  tanpa dasar ilmu, hilm dan kesabaran, seperti yang dilakukan oleh para Ahli Bid’ah dan Hawa Nafsu dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah dan Rafidhah sehingga kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahatnya.

Selanjutnya pada hadits di atas Rasulullah SAW memberikan motivasi untuk tetap beramal dan bersabar jika mendapatkan manusia yang berakhlak seperti dalam hadits di atas.

Maksud Ibarat Menggenggam Bara

At-Thibi mengatakan: “Maknanya sebagaimana seseorang yang memegang bara tidak bisa sabar karena tangannya akan terbakar, begitu juga Ahlu Dien pada hari itu tidak mampu untuk berpegang teguh terhadap agamanya karena merebaknya maksiat dan tersebarnya kefasikan dan lemahnya iman.” Berkata Al Qaari: “Maknanya adalah tidak mungkin seseorang mampu memegang bara kecuali dengan kesabaran prima dan ia akan merasa sangat sakit (ketika memegangnya) begitu juga orang-orang pada masa itu tidak tergambar keteguhan mereka pada ad-Dien dan sinar cahaya iman mereka kecuali dengan kesabaran yang besar.”

Maksud mendapat pahala 50 Sahabat

Para ulama menjelaskan mengapa orang-orang yang hidup dan beramal pada zaman itu mendapatkan pahala hingga 50 kali pahala para Sahabat, karena sulitnya untuk beramal dan bersabar terhadap ujian di dalam mengamalkan dien ketika itu, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Kamu sekalian (wahai para Sahabat-ku) mendapatkan penolong-penolong untuk berbuat kebaikan, (sedang mereka) tidak mendapatkan penolong dalam meaksnakan kebaikan.”

Para Sahabat beramal ketika Rasulullah SAW ada di tengah-tengah mereka, ayat turun memberi penilaian, sanjungan dan teguran kepada mereka, suasana untuk berbuat kebaikan marak di setiap sudut, sedang generasi belakangan yang mendapatkan 50 kali pahala mereka beramal di saat Nabi hanya didapatkan dalam sirah dan sunnah. Al Quran sudah tidak turun lagi, itu pun penafsiran manusia terhadapnya bermaca-macam, dan suasana tidak mendukung untuk berbuat kebaikan, bahkan kemaksiatan merata menggerogoti ketahanan iman dan akhlaq mereka.

Mengomentari pahala 50 sahabat ini dalam kitab Fathul Wadud dikatakan bahwa yang dimaksud seperti pahala 50 sahabat adalah untuk amal-amal yang berat untuk menunaikannya ketika itu dan tidak secara mutlaq karena dalam suatu hadits disebutkan “Sekiranya kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan sampai (pahalanya) seseorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” Karena para Sahabat mempunyai keutamaan dari yang lainnya secara mutlaq. Wallahu ‘Alam Bisshawab

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: