Mengenal Sejarah Tafsir Islam (2)


  1. B. PERIODE MUTAAKHIRIN (ABAD 4 – ABAD 12 H)

Setelah Islam makin meluaskan sayapnya dan banyak kekuasaan yang berada di bawah tanggung jawabnya, seperti daerah Persia, Mesir dan Turki, terjadilah apa yang disebut ‘gesekan budaya’ yang berakibat kaum muslimin beusaha mempalajari ilmu-ilmu yang mereka miliki, seperti ilmu logika, ilmu filsafat dan ilmu Matematika. Gaya ini juga menimbulkan perubahan dalam kitab-kitab Tafsir. Ahli Tafsir tidak hanya menukil tafsir dari Sahabat, Tabi’in atau Tabi’ut Tabi’in saja, tetapi mereka juga berusaha untuk meneliti dan mengkorelasikan dengan pengetahuan yang telah mereka dapat dari lingkungannya, di samping itu ada juga yang menafsirkan al-Quran dengan melihat segi bahasa atau keindahan bahasanya saja.

Karena itu kitab-kitab Tafsir pada periode ini dapat dilihat dari berbagai segi:

  1. a. Golongan yang menafsirkan al-Quran dari segi keindahan gaya dan keindahan bahasa dan segi tata bahasa, contoh Tafsir Abu Hayan,tafsrinya Ibnu Nuhas, al-Zajjaj dalam tafsirnya Ma’ani al-Quran,al-Wahidi dalamtafsirnya al-Basith.
  2. b. Golongan yang menafsirkan al-Quran dengan menitik beratkan pada seeegi kisah-kisah dan cerita dari Yahudi dan Nasrani, contoh Alauddin bin Muhammad al-Baghdadi ath-Thalabi dan Tafsir al-Khazin dengan judul Lubab at-Takwil fi Ma’arif at-Tanzil
  3. Golongan yang menafsirkan al-Quran dengan menitik beratkan pada ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum (Tafsir Fuqaha’), Di antara kitab Tafsir Fuqaha: Tafsir Ahkam al Qur’an karangan al-Jashash bermadzhab Hanafi, Tafsir Ahkam al Qur’an karangan Likay al-Hirash bermadzhab Syafi’I, Tafsir Ahkam al Qur’an karangan Ibnu Arabi bermadzhab Maliki, Tafsir Ahkam al Qur’an karangan Abu Abdullah al Qurthuby bermadzhab Maliki, Kanzul I’rfan karangan karangan Miqdad as suyuri bermadzhab Imamiyah,  dan Tsamaratul Yani’ah al Wadhihah karangan Yusuf ats Tsila’I bermadzhab Zaidi.

  1. d. Golongan yang menafsirkan al-Quran yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah, contoh kitab yang disusun oleh Sahl bin Abdullah at-Tasturi dengan karyanya Tafsir at-Tasturi.
  2. e. Golongan yang menafsirkan al-Quran hanya pada kata-kata yang gharib (asing) saja. Contoh Gharib al-Quran karangan Ibnu Qutaibah

  1. C. PERIODE BARU

Tafsir Modern dimulai sekitar permulaan abad ke-4. Karena Tafsiran mereka masih mengikuti cara Tafsir sebelumnya, contoh Tafsir Alusi, Tafsir Khatib as-Sirbani, Tafsir Shadiq Hasan Khan dan Tafsir Fathul Qadir.

Pada masa modern muncul Tafsir yang berbeda-beda dan bermacam-macam, lantas apa sebabnya? Sebabnya adalah dimulai ketika orang-orang Barat mulai menjajah dan memasuki negara-negara Arab, khususnya Napoleon yang memasuki Mesir. Sehingga menimbulkan keinginan para Mahasiswa Islam untuk pergi ke Perancis untuk belajar ilmu adab atau ilmu modern.

Al-Azhar ketika itu melarang orang islam untuk pergi ke Eropa, lantas timbul usulan agar mereka pergi dengan sekelompok ulama al-Azhar yang mampu mengajari mereka dan mengeluarkan mereka dari penyelewengan jika hal itu terjadi. Maka berangkatlah beberapa Mahasiswa dan ulama al-Azhar.

Ketika mereka kembali, mereka merasa bangga dengan barat dan menganggap bahwa kebudayaan barat telah maju sedangkan orang islam terbelakang dan tidak berkembang, selanjutnya mereka mengatakan bahwa sebab terbelakangnya kaum muslimin adalah karena mereka mengikuti kitab dan Tafsir zaman dahulu. Muncul banyak perkataan yang menimbulkan keragu-raguan tentang al-Quran dan sunnah, sampai-sampai umat menjadi ragu dengan pokok agamnya dan didirikan sekolah-sekolah yang memperlajari bahasa asing, adab barat dan perhatian terhadap penelitian orientalis.

Ada sebagian ulama yang melihat gejala buruk ini dan mengatakan bahwa jalan mengembalikan umat pada agama mereka adalah dengan menafsirkan ayat secara akal, sehingga al-Quran diagungkan dan tidak dijauhi, di antara madrasah ini adalah madrasah Muhammad Abduh dan muridnya Rasid Ridha.

Para ulama tersebut memahami al-Quran dengan ilmu barat, semisal ayat tentang ilmu Falak, mereka sebutkan penemuan-penemuan modern yang menjadi dalil kebenaran al-Quran dan bahwa al-Quran  telah mendahului orang barat, demikian juga dalam masalah kedokteran atau masalah ghaib.            Mereka menafsirkan secara akal, berbeda dengan Tafsir sebelumnya dan Tafsir salaf seperti masalah astronomi, hujan, mata air, tumbuhan dengan Tafsiran yang mengikuti barat. Tafsir yang demikian banyak salahnya karena menjadikan al-Quran mengikuti penemuan barat, dan sebagaimana diketahui bahwa penemuan itu sifatnya labil, akan ditemukan lagi penemuan yang lebih baik, sehingga teori itu menjadi batil atau ada teori lain yang lebih benar.

Tafsir macam ini tidak dibenarkan karena ia menafsirkan al-Quran yang tetap dan tidak berubah dengan sesuatu yang berubah. Sehingga muncullah Tafsir al-Quran denga cara Aqlaniyah yang mengumpulkan penemuan barat, penemuan Modern dan Tafsir yang terdahulu, contoh Tafsir Thanthawi dan Tafsir Muhammad Abduh. Mereka menafsirkan al-Quran dengan cara yang batil dan mengingkari hal-hal yang dhahir. [1]

Syaikh Fahd ar-Rumi telah menulis satu buku yang membahas tentang rijal (penggiat) dan metode yang dipakai oleh mufasir pada zaman modern, ia menyebutnya dengan Manhaj tafsir al-Hadisath al-Aqliyah


[1] Syaikh Shalih alu Syaikh, Manhaj Mufasirin, (Maktabah Syamilah)

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: