Mengenal Sejarah Tafsir Islam


Pendahuluan
Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ilmu pengetahuan,kisah-kisah, peraturan yang mengatur kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu atau sebagai makhluk sosial, sehingga terjalin kehidupan yang harmoni di dunia dan di akhirat.
Al-Quran dalam menerangkan hal-hal di atas, ada yang dikemukakan secara terperinci, seperti yang berhubungan dengan hukum perkawinan, hukum warisan dan sebagainya dan ada pula yang dikemukakan secara global dan garis besarnya saja. Suatu hukum atau permasalahan yang diterangkan secara global itu ada yang diperinci lagi melalui hadits Nabi saw dan ada yang diserahkan kepada umat Islam untuk merincinya, seperti ungkapan musyawarah, keadilan dan sebagainya.

hal ini senada dengan firman Allah swt yang artinya:
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran: 7)
Di samping itu Islam juga membuka pintu Ijtihad bagi kaum muslimin dalam hal yang tidak diterangkan oleh al-Quran dan hadits Rasulullah saw. Pembukaan pintu Ijtihad inilah yang memungkinkan manusia untuk memberi komentar atau memberi keterangan tentang masalah yang belum disebutkan dengan jelas oleh al-Quran, Nabi saw sendiri beserta para sahabatnya telah melakukan hal ini. Imam Muslim dan yang lainnya telah mengeluarkan hadits melalui jalur Uqbah bin ‘Amr bahwa Nabi saw pernah bersabda di atas mimbar: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” ketahuilah bahwa kekuatan adalah melempar.” Langkah ini juga ditapaki oleh Tabi’in, Tabiut Tabiin dan generasi setelah masa mereka.
Pada masa hidup Rasulullah saw, Tafsir al-Quran belum terlalu dibutuhkan, sebab jika ada satu ayat yang musykil (sulit difahami), para sahabat akan langsung menanyakannya kepada Rasululah saw, sehingga mayoritas tafsir Nabi adalah menjelaskan ayat yang masih musykil atau mentakhsis yang ‘aam. Setelah Rasulullah saw wafat dan kekuasaan Islam semakin melebar dan meluas, gesekan antar budaya pun terjadi yang menimbulkan masalah-masalah baru yang mesti dituntaskan, dan untuk menuntaskan masalah-masalah yang muncul itu beberapa sahabat dan tabi’in memberanikan diri untuk menafsirkan ayat yang masih bersifat global dan masih garis besar itu, dengan merujuk pada kaidah-kaidah dalam berijtihad.
Pada perkembangan selanjutnya, Tafsir semakin kompleks, karena ia mulai ditafsirkan sesuai kebutuhan entah kebutuhan untuk menguatkan mazhabnya sendiri atau yang lainnya serta munculnya bermacam-macam aliran-aliran yang berbeda ketika menafsirkan ayat al-Quran. Dalam perkembangan Tafsir dapat kita bagi menjadi tiga periode:
a. Periode Mutaqaddimin (periode awal).
b. Periode Mutaakhirin (periode terakhir).
c. Periode Baru.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: