Mengenal Sejarah Tafsir Islam (1)


A. PERIODE MUTAQADDIMIN

  1. a. Pada Masa Rasulullah Saw

Allah swt memberi tugas kepada Nabi Muhammad saw untuk menjelaskan al-Quran serta menafsirkannya kepada manusia, seperti yang tersebut pada ayat: “Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44).

Para ulama berselisih pendapat tentang kadar tafsir dari Nabi saw, perselisihan ini terbagi menjadi dua pendapat:

Pertama, Rasulullah saw telah menjelaskan pada sahabatnya semua makna al-Quran, sebagaimana ia menjelaskan lafadz al-Quran pada mereka, pendapat ini dipegang oleh Ibnu Taimiyah,…,… mereka mengambil dalil dari firman Allah swt: “Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44). Dan riwayat Ibnu Umar bahwa ia menghafalkan surat al-Baqarah selama beberapa tahun, Imam Malik mengatakan 8 tahun.

Kedua, Rasulullah saw tidak menjelaskan kepada sahabatnya  kecuali sedikit saja, mereka mendasarkan pendapat mereka pada riwayat Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi saw tidak menafsirkan kecuali sedikit saja serta doa Nabi kepada Ibnu Abbas agar ia diberi kemudahan oleh Allah untuk mempelajari Tafsir.

Dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah nyatakan oleh Ibnu Abbas ra bahwa dalam al-Quran, terdapat ayat yang bisa difahami dengan mengetahui bahasa arab, ada bisa dengan cepat difahami, sekalipun oleh orang yang bodoh, ada ayat yang hanya diketahui Allah saja dan ada juga ayat yang tidak ada faidah yang banyak jika mengetahuinya selain mengetahui maknanya.[1]

  1. b. Pada Masa Sahabat

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, karena itu pada umunya orang-orang Arab dapat dengan mudah memahami al-Quran, dan para sahabat adalah orang Arab asli dan fasih, mereka mengetahui makna dan konsekuensi bahasa Arab, meski demikian para sahabat mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dalam memahami al-Quran, hal ini disebabkan karena perbedaan mereka dalam masalah Ilmu Bahasa, di antara mereka ada yang mengetahui sastra Arab dan gaya Bahasa Arab dan di antara mereka ada yang tidak, perbedaan mereka dalam mendampingi Nabi saw, sehingga di antara mereka ada yang mengetahui sebab turunnya ayat, dan ada pula ayng jarang mendampingi beliau sehingga tidak mengetahui sebab turunnya ayat, serta perbedaan mereka dalam memahami ilmu syar’I dan perbedaan intelejensia.[2] Dan tidak jarang juga mereka berbeda pendapat erhadap tafsir suatu ayat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud fiman Allah yang mreka dengar atau mereka baca. Dari sini kemudian para ulama menggaris bawahi bahwa kepastian arti kosa kata atau ayat tidak mungkin atau hampir tidak mungkin dicapai kalau pandangan hanya tertuju kepada kosa kata atau ayat secara berdiri sendiri. [3]

Tafsir Pada Masa Sahabat Memiliki Beberapa Kelebihan

  1. Sedikit mengambil berita Israiliyat[4]
  2. Tafsiran mereka belum menyeluruh pada semua ayat al-Quran
  3. Mereka tidak terlalu membebani dalam menafsirkan ayat sehingga sampai terjerumus pada lubang dosa, mereka mencukupkan diri untuk mengetahui makna global dan tidak mencari makna rinci jika tidak ada manfaat dari rincian tersebut.
  4. Sedikit kodifikasi Tafsir, kebanyakan mereka menjaga tafsir melalui riwayat saja, kalaupun ada itu hanya segelintir saja, seperti Abdullah bin Amru bin Ash ra.

Sumber-Sumber Tafsir Pada Masa Sahabat

  1. 1. Tafsir al-Quran dengan al-Quran
  2. Tafsir al-Quran dengan perkataan, perbuatan, taqrir dan jawaban Nabi saw terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh para sahabat kepada Nabi saw untuk meminta penjelasan, seperti pertanyaan dari Ali kepada Rasulullah saw tentang yaumul hajjil akbar, lalu Nabi menjawab: “hari berkorban.” (HR. Tirmidzi)
  3. Ijtihad. Para sahabat berani melakukan ijtihad karena mereka memiliki formula untuk bisa berijtihad, seperti bahasa Arab dan seluk beluknya, mengetahui kebiasaan orang Arab, mengetahui keadaan Yahudi dan Nasrani di daerah Arab ketika al-Quran turun, mereka mengetahui sebab turunnya ayat serta kecerdasan yang diberikan Allah pada mereka.

Ahli Tafsir Pada Masa Sahabat

Pada zaman sahabat terkenal beberapa orang penafsir al-Quran seperti: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Masud, Abdullah bin Zubair, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-As’ari dan Aisyah.

Hukum Tafsir Sahabat

  1. Jika bukan berdasar pada pendapat seperti hal yang ghaib atau tentang sebab turunnya ayat, dihukumi marfu’ (sampai pada Nabi saw)
  2. Jika berasal dari pendapat mereka, hukumnya mauquf dan mauqufnya sahabat wajib diambil

Imam Syafii termasuk ulama yang menjadikan perkataan sahabat sebagai hujjah, dan jika para sahabat terjadi silang pendapat, maka ia merujuk pada tafsir Khulafa’ar-Rasyidin,berikut penjelasannya

  1. Jika perkataan mereka sesuai dengan al-Quran dan sunnah, maka perkataan mereka diterima.
  2. Jika perkataan mereka tidak berdasar pada al-Quran dan sunnah,maka diambil perkataan yang banyak.
  3. Jika perkataan mereka sama,maka dilihat mana yang paling baik takhrijnya.[5]

  1. c. Pada Masa Tabi’in

Tafsir pada masa ini tidak berbeda jauh dengan tafsir periode sebelumnya pada masa Sahabat, Tabi’in adalah murid dari para Sahabat dan mereka banyak merajihkan tafsiran dari para pendahulu mereka itu.

Sumber-Sumber Tafsir Pada Masa Tabi’in

  1. 1. Tafsir al-Quran dengan al-Quran.
  2. Tafsir al-Quran dengan perkataan, perbuatan, taqrir dan jawaban Nabi saw
  3. Tafsir al-Quran dengan perkataan Sahabat, karena para Tabi’in banyak merujuk tafsiran mereka pada Sahabat.
  4. Ijtihad.
  5. Perkataan Ahlu Kitab, dengan masuknya Ahlu Kitab ke Islam serta ada beberapa kisah dalam al-Quran yang tidak disebutkan dengan rinci dan kemungkinan diperinci pada kitab sebelumnya, membuat Tabi’in bertanya kepada mereka, berita dari Ahlu Kitab seperti ini dikenal dengan istilah Israiliyat.

Tafsir Pada Masa Tabi’in Memiliki Beberapa Kelebihan

  1. 1. Mulai masuk Israiliyat
  2. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam dan masuknya orang ‘Ajm (non-Arab) sehingga membutuhkan tafsir yang sesuai dengan kebutuhan manusia
  3. Tafsir masih terjaga melalui riwayat, sekalipun riwayatnya hanya tercakup pada suatu daerah, seperti orang Makkah, mengambil riwayat dari Ibnu Abbas, orang Madinah, mengambil riwayat dari Ubay dan orang Iraq, mengambil riwayat dari Ibnu Mas’ud
  4. Munculnya perselisihna tafsir yang lebih besar daripada masa Sahabat serta ijtihad yang masuk dalam Tafsir
  5. Muncul perselisihan mazhab
  6. Tafsir ketika masa itu terdapat sanad sampai kepada orang yang mengatakannya, sehingga bisa dikenal dan dinilai.

Ahli Tafsir Pada Masa Tabi’in

Para Tabi’in yang banyak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ialah Mujahid bin Jabir, Sa’id bin Jubair, Thawus bin Kaisan, Atha’ bin Rabah dan Ikrimah maula Ibnu Abbas[6], kesemuanya adalah murid dari Ibnu Abbas, ada beberapa penilaian dari ulama terhadap murid-murid Ibnu Abbas di atas, kami sebutkan sebagian.

Mujahid adalah orang menjadi banyak rujukan Ahli Hadits, seperti Bukhari, Syafi’I dan yang lainnya, kemudian Ikrimah adalah bekas budak Ibnu Abbas, ia juga banyak diambil haditsnya oleh lama, termasuk Bukhari.

Para Tabi’in yang banyak meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ialah Masruq bin Ajda’, Alqamah bin Qais an-Nakha’I, al-Aswad bin Yazid, Qatadah bin Da’amah, Hasan al-Bashri dan ‘Amir as-Sya’bi. Masruq dikenal dengan kezuhudannya, Qatadah dikenal dengan ilmunya dalam syair-syair Arab dan peperangan-peperangan Arab.

Para Tabi’in yang banyak meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ialah Abu ‘Aliyah ar-Riyahi, Zaid bin Aslam, Muhammad bin Ka’ab al-Qardhi dan anaknya, Thufail bin Ubay bin Ka’ab.

Hukum Tafsir Tabi’in

  1. Tidak wajib mengambilnya, dengan alasan mereka belum pernah bertemu dengan Nabi saw dan mereka tidak mengetahui kejadian ketika suatu ayat diturunkan. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Uqail dan Syu’bah.
  2. Pendapat mereka diambil, karena Tabi’in telah bertalaqi dan bermajlis kepada para Sahabat.
  3. Pendapat Ibnu Taimiyah, dan pendapat beliau yang rajih, jika mereka telah bersepakat pada tafsir suatu ayat, maka wajib diambil, namun jika mereka berselisih pendapat, maka tidak wajib diambil dan harus melihat pada al-Quran, Hadits dan Tafsir Sahabat.[7]

  1. d. Pada Masa Tabi’ut Tabi’in

Perkembangan Tafsir pada masa kodifikasi ini dapat dibagi ke dalam dua fase.

Masa kodifikasi Tafsir

Maksud dari kodifikasi di sini adalah kodifikasi Hadits Nabi saw dalam bentuk bab-bab dan masuknya Tafsir dalam bab-bab tersebut, fase ini bermula ketika masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, Tafsir masih tercampur dan masuk  pada bab-bab dalam kitab hadits dan belum menjadi kitab yang mandiri, di antara ulama yang mengumpulkan Tafsir dengan metode di atas adalah Yazid bin Harun (117 H), Syu’bah bin Hajaj (160 H), Waki’ bin Jarrah (197 H) dan Abdurrazaq bin Hammam (211 H).[8]

Masa Pembukuan Tafsir

Tafsir sudah terkumpul secara mandiri dalam satu kitab, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa orang yang pertama mengumpulkan Tafsir dalam satu kitab adalah Abdul Malik bin Juraij (140 H).[9] Dalam buku Madrasah Aqliyah, Syaikh Fahd ar-Ruumi menyebutkan bahwa tidak menjadi hal yang pasti bahwa Ibnu Juraij adalah yang pertama kali menulis Tafsir  karena telah banyak yang mendahuluinya, seperti Mujahid dan Sa’id bin Jubair.

Dan Menurut Ibnu Nadim,(995 H), tafsir yang sudah ditulis oleh pengarangnya sendiri dan termasuk yang  paling awal adalah karya Sa’id ibn Jubair, seorang Kibar at-Tabi’in. Karya ini ditulis atas permintaan ‘Abd al-Malik ibn Marwan. Tapi, karya ini belum sampai ke zaman kita sekarang. Karya tafsir termasuk yang paling tua yang sampai ke tangan generasi sekarang dan ditulis oleh pengarangnya sendiri adalah potongan dari al-Wujuh wa al-Naza’ir, karya Muqatil ibn Sulayman al-Balkhi (150 H), seorang Tabiut Tabi’in. Di dalam karya tafsirnya, Muqatil menyebutkan beberapa orang mufassir dari kalangan tabi’in seperti Sa’id ibnu Jubair, Mujahid ibn Jabr dan Dhahak ibn Muzahim ( 105 H). Selain karya tersebut, Muqatil juga menulis beberapa karya tafsir yang lain seperti tafsir Khamsumi’ah ayat min al-Qur’an, al-Tafsir fi Mutashabih al-Qur’an dan al-Tafsir al-Kabir. Pada zamannya, tafsir Muqatil termasuk karya yang dijadikan panduan bagi para ulama lain. Sufyan ibn ‘Uyaynah mempelajari karya Muqatil. Shafi’i  juga punya riwayat tafsir yang sampai kepada Muqatil. Ia menganggap Muqatil sebagai pemimpin di dalam kajian literatur tafsir. Beberapa salinan tafsir Muqatil terus beredar di abad ketiga dan dipelajari oleh para ulama seperti Imam Ahmad ibn Hanbal.

Selain itu, pada abad kedua Hijriyah, sudah terdapat banyak mufassir lain yang sezaman dengan Muqatil. Diantaranya adalah ‘Abd al-Rahma al-Suddi (127 H), Muhammad bin al-Sa’ib al-Kalbi (146 H), Shu’bah ibn al-Hajjaj (160 H), Sufyan al-Tsauri (161 H) dan Ibnu Ishaq, pengarang buku Sirah yang terkenal.

Selain karya Muqatil, berbagai karya tafsir awal  yang dinisbatkan kepada para pengarangnya juga sudah beredar. Diantaranya karya tafsir yang dinisbatkan kepada ‘Abdullah ibn Wahb (197 H); al-                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Farra ( 207 H) dengan karyanya Ma’ani al-Qur’an; ‘Abdurrazzaq al-San’ani dengan karya Tafsir al-Qur’an ( 211 H) dengan karyanya Ma’ani al-Qur’an.[10]

Pada masa selanjutnya banyak orang yang menggampangkan sanad, sehingga mereka meringkasnya dan tidak menyandarkan perkataan tersebut pada si empunya[11] sebagai akibat dari hal ini adalah munculnya bermacam-macam bentuk  dalam menafsirkan al-Quran, yang secara garis besarnya bisa dibagi menjadi tiga; Tafsir bil Ma’tsur, Tafsir birra’yi dan Tafsir Isyari atau disebut juga Tafsir Sufi.


[1] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Buhuts fi Ushul at-Tafsir, (Riyadh: Maktabah at-Taubah, 1413 H), cet ke-1, hal. 17

[2] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Madrasah al-‘Aqliyah al-Haditsah fi at-Tafsir, (Riyadh, Muasasah ar-Risalah, 1414 H), cet ke-4, juz 1, hal. 16

[3] Dr. M. Qurais Shihab, Membumikan al-Quran, (Bandung, Mizan, 1994), cet XX, hal. 75

[4] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Madrasah al-‘Aqliyah al-Haditsah fi at-Tafsir, (Riyadh, Muasasah ar-Risalah, 1414 H), cet ke-4, juz 1, hal. 18

[5] Dr Ahmad Musthafa al-Farran, Tafsir Imam as-Syafi’I, , (Riyadh,Dar Ibnu Hazm, 2006M), jilidI, hal. 81

[6] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Buhuts fi Ushul at-Tafsir, (Riyadh: Maktabah at-Taubah, 1413 H), cet ke-1, hal. 28

[7] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Buhuts fi Ushul at-Tafsir, (Riyadh: Maktabah at-Taubah, 1413 H), cet ke-1, hal. 34

[8] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Buhuts fi Ushul at-Tafsir, (Riyadh: Maktabah at-Taubah, 1413 H), cet ke-1, hal. 35

[9] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Buhuts fi Ushul at-Tafsir, (Riyadh: Maktabah at-Taubah, 1413 H), cet ke-1, hal. 36. Pada buku yang lain yaitu Madrasah Aqliyah, Syaikh Fahd ar-Ruumi menyebutkan bahwa tidak menjadi hal yang pasti bahwa Ibnu Juraij adalah yang pertama kali menulis Tafsir  karena telah banyak yang mendahuluinya, seperti Mujahid dan Sa’id bin Jubair.

[10] Jurnal Islamia, Hermeneutika versus tafsir al-Quran, Adnin Armas, Maret 2004 M

[11] As-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Quran, juz. II, hal. 190

One Response

  1. Dari pengalaman sering membaca kitab-kitb Tafsir, pada dasarnya mengacu kepada kesamaan kandungan dan tujuan. Namun begitu sering pula dibicarakan ihwal tafsir birra’yi, yg sering dikepinggirkan oleh ulama yg berfaham tafsir ma’tsur, memncing rasa penasaran saya. Konon tafsir yg paling under estimate menurut Ibnu Taimiyah adalah tafsir Az Zamakhsyari, karena – konon – tafsir tsb beraliran Ar Ra-yu. Kepada para pemerhati tafsir berikan, tolong informasikan kepada saya penafsiran birra’yi tsb beberapa ayat saja. Hadits yg diriwaytkan oleh Abu Dwud, Nasa’i atau Tirmidzi begitu tajam dan keras mengurung penafsiran dengan Ar Ra’yi ini. Sedangkan pada zaman Rasul tidaklah mungkin ada istilah tafsir bil ma’tsur ataupun birra’yi.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: