Ajaran Syiah Yang Bertentangan Dengan Ajaran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Islam) Tentang Sahabat, Al-Quran Dan Hadits


Pendahuluan

Tidak seperti kebiasaan firqah-firqah Islam yang lain, Syiah menyampaikan dan menyebarkan ajarannya dengan menggunakan senjata Taqiyah, yaitu menampakkan atau mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya atau dengan bahasa yang popular munafiq.

Taqiyah bagi syiah adalah 9/10 agama, wajib dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan sampai Imam Mahdi datang, dengan cara taqiyah inilah maka banyak dari orang Ahlu Sunnah yang terjebak mengikuti ajaran Syiah, bahkan ada yang mengatakan bahwa Syiah adalah sama dengan Ahlu Sunnah. Ini disebabkan oleh ketidak mengertiannya tentang hakikat Syiah.

Maka dalam tulisan singkat ini, kami akan menyampaikan data-data tentang aqidah, faham dan ajaran Syiah yang diangkat dari kitab-kitab Syiah yang mu’tabar yang menjadi pegangan utama kaum Syiah.

Pengertian Syiah dan Perkembangannya

Kata Syiah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syiah Ali adalah pendukung atau pembela Ali, Syiah Muawiyah adalah pendukung atau pembela Muawiyah. Pada zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman kata Syiah dalam arti nama kelompok orang Islam belum dikenal dan barulah kata Syiah muncul sebagai nama kelompok umat Islam ketika terjadi peperangan antara Ali dan Muawiyah. Tetapi bukan hanya pendukung Ali yang disebut Syiah Ali, ada Syiah Muawiyah. Adapun faham dan aqidahnya, kedua belah pihak sama, karena besumberkan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Selanjutnya Syiah mengalami perkembangan dan bahkan perpecahan, terutama ketika imam mereka meninggal dunia. Dan semakin jauh perpecahan mereka semakin banyak pula ajaran dan faham baru, dimana tidak jarang ajaran Syiah dalam suatu periode bertentangan dengan ajaran mereka pada periode sebelumnya. Karena setiap imam memberikan ajaran bahwa perkataan Imam adalah sama dengan perkataan Nabi bahkan ada yang beranggapan sama dengan perkataan Allah. Maka perpecahan Syiah dari masa ke masa semakin banyak sehingga menurut al-Muqrizi bahwa jumlah firqah Syiah mencapai 300 firqah. Tetapi yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah aqidah dan ajaran Syiah Imamiyah yang percaya dengan munculnya imam terakhir yaiti Muhammad bin al-Hasan Abdul Qasim al-Mahdi.

Ajaran Syiah yang bertentangan dengan ajaran Ahlu Sunnah wal Jama’ah (Islam)

  1. Syiah mengkafirkan para sahabat Nabi saw dan semua orang Islam yang mengikuti sahabat Nabi saw.
    1. Berkata al-Majlisi: “Bahwa mereka (Abu Bakar, Umar dan Utsman) adalah perampok-perampok yang curang dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikuti mereka dalam bertindak jahat terhadap keluarga Nabi, baik orang-orang dahulu maupun orang-orang belakangan”.[1]
    2. Abu Bashir berkata: ”Sesungguhnya penduduk Makkah telah kufur kepada Allah secara terang-terangan dan bahwa penduduk Madinah lebih jelas daripada penduduk Makkah, bahkan lebih jelek 70 kali daripada penduduk Makkah”.[2]
    3. Abu Jakfar berkata: “Semua manusia (kaum muslimin) menjadi ahlu jahiliyah (murtad) kecuali 4 orang saja: Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar. Aku Rawi berkata: “Ammar termasuk? Abu Jakfar berkata: “Kalau kamu bermaksud yang murni/bersih sama sekali, maka mereka bertiga itu saja”.[3]

Demikianlah, maka dari data tersebut di atas jelas bagi kita bahwa ulama-ulama besar Syiah, bahkan pemimpin Syiah kharismatik zaman modern ini masih menghukumi kafir kepada para sahabat Nabi yang mulia dan sekalian orang Islam di dunia yang tidak menganut ajaran Syiah Rafidhah.

Syiah dan Al-Quran

  1. Menurut Syiah, al-Quran yang ada sekarang ini suadh dirubah, ditambah dan dikurangi oleh para Sahabat Nabi saw, sedang al-Quran yang asli (yang lengkap) ada di tangan Ali yang kemudian diwariskan kepada putra-putranya, dan sekarang ada di tangan Imam Mahdi al-Muntdhar.[4]
  2. Abu Abdillah berkata: “Bahwa surah al-Ahzab membuka keburukan-keburukan wanita Quraisy. Surah itu lebih panjang daripada surah al-Baqarah, tetapi oleh para Sahabat dikurangi dan dirubah”.[5]
  3. Abu Abdillah berkata: “Al-Quran yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw, ada 17.000 ayat”.[6]

Sedang menurut Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa orang yang meragukan keaslian al-Quran satu kalimat saja, atau satu ayat saja maka dia sudah menjadi kafir. Karena hal itu berarti membohongkan Allah yang telah berfirman: “Kamilah yang menurunkan al-Quran itu, dan Kami pula yang akan memliharanya”. (Qs. Al-Hijr: 9)

Syiah dan Hadits

  1. Syiah hanya menerima hadits-hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan melalui jalur Ahlu Bait. Adapun hadits-hadits Nabi yang diriwayatkan oleh pada sahabat yang bukan ahlu bait ditolak oleh mereka. Ini berarti Syiah telah membuang ribuan hadits Nabi saw karena seperti kita ketahui dari fakta sejarah bahwa Ali tidak selamanya mendampingi Nabi saw. Beliau pernah ditugaskan untuk tetap di Madinah ketika Rasulullah melaksanakan suatu peperangan dengan para sahabat lain. Ali pun pernah ditugaskan ke Yaman berarti dia tidak dapat mendengarkan hadits Nabi kecuali melalui sahabat yang lain.
  2. Yang namanya hadits menurut Syiah bukan hanya yang datang dari Nabi Muhammad saw, tetapi justru lebih banyak dari imam-imam mereka. Karena perkataan imam yang juga ma’shum itu sama dengan perktaan Nabi, maka perkataan imam-imam iotu menurut Syiah sama dengan firman Allah. Perhatikan sebuah riwayat dalam kitab al-Kaafi berikut ini:

Abu Abdillah berkata: Haditsku berarti hadits ayahku, hadits ayahku berarti hadits kakekku, hadits kakekku berarti hadits Husen, hadits Husein berarti hadits Hasan, hadits Hasan berarti hadits Ali, hadits Ali berarti hadits Rasulullah saw dan hadits Rasulullah berarti firman Allah”.[7]

  1. Syiah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para Sahabat bukan Ahlu Bait, karena mereka telah menganggap para Sahabat itu murtad/kafir, seperti yang telah diterangkan di muka.

Syiah menganggap semua perkataan imam-imam itu adalah hadits, karena mereka berkeyakinan bahwa syariat sepeninggal Nabi saw adalah di tangan imam-imam 12 dan mereka berpendapat bahwa ucapan imam 12 adalah seperti sabda Nabi saw bahkan firman Allah. Selain itu Syiah menganggap catatan-catatan imam-imam mereka waktu menjawab pertanyaan adalah sebagai hadits juga.

Maka sumber hukum Syiah jauh berbeda dengan sumber aqidah dan hukum Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

  1. Karena Syiah berkewajiban bahwa imam itu ma’shum, perkataannya sama dengan perkataan Allah, maka tidak perlu menyendarkan/mengisnadkan ucapan imam kepada Nabi saw.

Perhatikan ucapan ulama Syiah di bawah ini:

Keyakinan bahwa imam itu ma’shum menjadikan semua hadits yang keluar dari mereka adalah shahih, maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah saw, sebagaimana halnya di kalangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah”.[8]

  1. Masalah rawi, bagi Syiah tidak diperlukan criteria-kriteria seperti di kalangan Ahlu Sunnah. Yang penting rawi itu berpihak kepada Syiah.

Dengan demikian maka agama Syiah selalu berkembang. Mereka sewaktu-waktu dapat merubah agama mereka untuk menghadapi kritik yang ditujukan kepadanya. Bukan hanya dalam hadits.

Sumber: Resume dari Makalah Drs. K.H. Moh. Dawam Anwar yang berjudul “Inilah Hakikat Syiah” yang disampaikan dalam Seminar Nasional Tentang Syiah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta tanggal 21 September 1997.


[1] Bihar Anwar, 4/385

[2] Ushul al-Kaafi, 2/410

[3] Tafsir al-Iyasyi, 1/199

[4] Ushul Mazahib Syiah, 1/202

[5] Bihar Anwar, 89/50

[6] Ushul al-Kaafi, 2/134

[7] Al-Kulaini/ al-Kaafi, 2/271-272

[8] Abdullah Faiyaidh, Tarikh Al-Imamiyah, 40

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: