Tafsir Al-Azhar


Sebab penamaan

Nama tafsir Al-Azhar diambil dari nama masjidAl-Azhar dimana Buya Hamka sering memberikan pelajaran tafsir seusai shalat subuh, yang mana nama Al-Azhar itu langsung diberikan oleh syekh Mahmud Syaltut, Syeikh (rektor) universitas Al-Azhar di Kairo, seraya berharap semoga masjid Al-Azhar tersebut menjadi Al-Azhar di Indonesia sebagaimana adanya Al-Azhar di Kairo.

Metode tafsirnya

Tafsir al-Quran ini lengkap sampai 30 juz, tidak disusun terlalu tinggi, juga tidak terlalu rendah sesuai keragaman kemampuan pemahaman masyarakat islam yang amat majemuk. Tafsir Al-Azhar disusun tanpa membawakan pertikaian mazhab-mazhab fiqih. Penulis berusaha tidak ta’ashub kepada suatu faham mazhab tertentu, dan sedaya upaya menguraikan maksud ayat dan memberi kesempatan orang untuk berpikir.

Metode tafsir Buya Hamka adalah tafsir menggunakan akal, hal ini bisa kita maklumi dengan sedikitnya literature arab yang masuk ke Indonesia dan Hamka sangat tertariuik dengan ilmu Filasafat, hal ini bisa kita temukan dari buku-bukunya.

Kitab Tafsir yang telah disepakati oleh ulama berdasar pada tafsir bi al-ma’tsur dan yang terekenal adalah tafsir Ibnu Jarir at-Thabari dan tafsir Ibnu Katsir.

Awal penulisan

Tafsir Al-Azhar mulai ditulis Hamka sejak menjelang tahun 1960, Tafsir ini diselesaikannya lengkap 30 juz ketika berada dalam tahanan pemerintahan rezim Sukarno pada tanggal 12 Ramadhan 1383 atau 27 Januari 1964. Tahanan penjara terhadap pengarang dengan tuduhan melakukan kegiatan subversi (pro-malaysia) terhadap pemerintah tanpa pernah dibuktikan secara hukum, memberikan hikmah amat besar dengan terselesaikannya karya besar tesebut.

Sesuatu yang menjadi penghibur beliau ialah kunjungan dari sabat dan jamah-jamah beliau baik dari Aceh, Sumatra Timur, Palembang, Makasar, Banjarmasin, Jawa Timur, NTB, dll. Salah seorang utusan yaitu ulama Mesir yang merupakan dosen di sana menyampaikan bahwa ulama-ulama Al-Azhar Mesir mendoakan moga-moga beliau lekas terlepas dari bencana itu.Ulama-ulama Mesir itu bila berjumpa dengan pelajar-pelajar Indonesia selalu menanyakan nasib beliau, dan mendoakan agar iman beliau bertambah. Bahkan beratus-ratus teman beliau ketika mengerjakan haji mendoakan beliau di Multazammoga-moga keadilan Allah berlaku, kejujuran menang dan kecurangan tumbang.

Perkataan Buya Hamka tentang Tafsir al-Azhar

“Aku mengharap, jika aku mendapat aniaya oleh suatu kekuasaan orang zalim, hanya semata-mata karena mereka suatu waktu berkuasa, pasti datang zamannya, aku dan mereka sama-sama tidak ada lagi di dunia ini. Maka semoga dengan meninggalkan tafsir ini adayang diingat-ingat orang dari diriku sebagai suatu hasil khidmat untuk Tuhan dan ummat, yang dapat aku kerjakan di dalam saat-saat aku teraniaya.”

Tafsir al-Azhar online

Dengan semakin berkembangnya kemajuna zaman, terlebih maraknya internet dan e-book, tafsir al-Azhar juga mulai masuk ke ranah internet, di antaranya yang telah dilakukan oleh mazuki2873@yahoo.com dengan membuat AL AZHAR Online, melalului site ini masyarakat yang ingin dengan mudah belajar tafsir, bisa membukanya.

Kisah murid SMP dan gurunya

Sekedar tambahan wawasan, Hamka dalam bukunya Studi Islam yang terbit tahun 1985 pada halaman 245-246 menceritakan pada tahun 1963 seorang pelajar SMP di Semarang mengirim surat kepadanya. Si pelajar bercerita bahwa gurunya, seorang pemeluk setia agama Katolik, menerangkan dalam kelas tentang sebab diharamkannya daging babi. Kata guru itu, Nabi Muhammad sangat suka makan daging babi, sebab terlalu enak. Pada suatu hari pelayan beliau mencuri perse­diaan daging babi yang akan beliau makan.

Ketika datang waktu makan, beliau minta persediaan daging yang sangat enak itu. Si pelayan mengaku salah, telah mencuri dan memakan daging babi itu. Mendengar itu, Nabi Muham­mad sangatlah marah karena dagingnya dicuri. Saking marah­nya, mulai hari itu dijatuhkanlah hukuman: “Haram atas umatku makan daging babi” dari cetita Hamka di atas kita dapat mengetahui bagaimana bodohnya umat Indonesia terhadap pedoman hidupnya, al-Quran.

Tuduhan Pluralisme

Ada sebagian orang liberal yang menggunakan tafsir al-Azhar untuk menjustifikasi pendapat Pluralisme mereka, pada dasarnya mereka salah representasi atau salah memahami tafsir karena tafsir Buya Hamka tidaklah bermaksud kepada Pluralisme.

Manipulasi ini juga dilancarkan kepada Syaikh Rasyid Ridha, seperti yang dikatakan oleh , Jalaluddin Rahmat dalam bukunya: Islam dan Pluralisme: Akhlaq al-Quran menyikapi perbedaan, pada buku tersebut ia mengutip pendapat Rasyid Ridha yang dikatakan bahwa tidak ada masalah kalau tidak disyaratkan iman kepada Nabi Muhammad saw.

Pendapat mereka ini sangat manipulative, karena mereka belum mengecek penbdapat Hamka dan rasyid Ridha pada kitab atau jilid yang lainnya.

Buya Hamka, Tasawuf dan Filsafat

Tiada gading yang tak retak, dan tidka ada manusia yang aman  dari dosa kecuali Rasulullas saw. Berdasarkan pengamatan kami ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya Buya dalam filsafat.

v  Buya Hamka adalah seorang otodidak dalam berbaghai bidang ilmu Islam

v  Buya Hamka banyak menelaah buku-buku filsafat

v  Buya Hamka banyak mengutip perkataan filosof yunani dalam setiap bukunya

v  Ia mengarang buku “Falsafah Hidup”

Islam sangat mengecam dengan pemikiran filsafat, karena ia sejatinya timbul dari pencampuran antara Islam dengan filsafat Yunani, sedangkan aqidah tidak boleh tercampur-campur demikian, aqidah harus bersumber dari Nabi saw yang telah mengenal Allah  swt dengan baik dan benar.

Banyak ulama yang mengecam pemikiran filsafat dan banyak juga ulama yang diakhir hidupnya menyesal karena belajar ilmu filsafat, di antara perkataan ulama tentang filsafat adalah:

Di antara pra ulama yang diakhir hidupnya kembali kepada Manhaj salaf setelah bergelut dengan filsafat:

  1. Imam al-Asy’ari diakhir hidupnya kembali kepada aqidahnya Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dalam kitabnya “al-Ibanah”[1].
  2. Imam al-Baqilani, salah satu syaikh dari Muktazilah, di akhir hidupnya, rujuk kepada manhaj Ahmad bin Hanbal, bahkan ia sering sekali menuliskan namanya dengan Muhammad bin Thayib al-Hambali.
  3. Imam al-Haramain al-Juwaini[2], syaikhnya Muktazilah, dalam kitabnya “Ghiyats al-Umam” menyebutkan perselisihan ulama tentang masalah filsafat dan member nasihat pembaca untuk berpegang pada metode salaf dalam masalah aqidah.

Referensi:

  1. Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, diterbitkan oleh Pustaka Panjimas pada tahun 1984
  2. Buya Hamka, Falsafah Hidup, diterbitkan oleh Pustaka Panjimas pada tahun 1994
  3. Buya Hamka, Tasawuf,Perkembangan dan Pemurniannya, diterbitkan oleh Pustaka Pajimas tahun 1984, cet.XI
  4. Prof.Dr.Musthafa Hilmi, Qawaid al-Manhaj as-Salafi fi al-Fikr al-Islami, (Kairo, Dar Ibnu al-Jauzi, 2005), cet III.
  5. Muhammad Muhibudiien Abu Zaid, Khashaish Ahlu al-Hadits wa as-Sunnah”, (Mesir, Dar Ibnu al-Jauzi, 2005), cet. I
  6. http://www.eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=29


[1] Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitabnya “Tabyin Kazb al-Muftari” menyebutkan bahwa kitab al-Ibanah adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Hasan al-As’ari, yang menunjukkan rujuknya kepada manhaj salaf

[2] Dalam kitab: “Khashaish Ahlu al-Hadits wa as-Sunnah” oleh Muhammad Muhibudiien Abu Zaid hal: 91 menyebutkan bahwa Imam Juwaini termasuk salah satu Imam jatuh pada kesalalahan dalam mengistimbatkan hadits  disebabkan ia lemah dalam Ilmu Hadits,pendapat ini ia kuatkan dengan pernyataan Sam’ani dan Yaqut al-Himawi

2 Responses

  1. Mohon link tafsir al-Azhar online-nya. Terima kasih.

    • link tafsir al-Azhar online-nya bisa dilihat di link berikut: http://www.geocities.com/hamkaonline/

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: