Kritik Untuk Buku “Export Revolusi Syiah Ke Indonesia”


Buku “Export Revolusi Syiah ke Indonesia” ditulis oleh Habib Ahmad Zein Alkaf, pimpinan pusat dari yayasan al-Bayyinat, salah satu yayasan di Indonesia yang konsen dalam melawan Syiah dan bertujuan untuk membentengi dan memberikan penerangan kepada masyarakat mengenai kesesatan aliran Syiah Imamiyyah Itsna’asariyyah sebagai pelaksanaan dari perintah Rasulullah saw untuk melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

Revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1978-1979 begitu menggentarkan dunia umunnya dan umat Islam pada khususnya. Revolusi Iran telah membangkitkan simpati umat Islam di bagian dunia yang lain yang kemudian menjadi indikator terhadap munculnya fenomena kebangkitan Islam di dunia, di samping itu juga membangkitkan problem kontra terus-menerus antara Sunni-Syiah.

Di Indonesia, banyak kalangan muslim, terutama pemudanya yang terbawa semangat revolusi Iran tersebut. Apalagi setelah kedutaan Iran di Jakarta dengan aktif mempropagandakan semangat revolusi Syiah lewat pembagian buku “Yaumul Quds” dan banyaknya pemuda yang berangkat ke Qum untuk menggali ajaran Syiah dari sumbernya.[1]

Namun umat Islam di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, telah dininabobokkan oleh slogan-slogan yang dilancarkan Syiah untuk mengelabui Ahlu al-Sunnah seperti “Ukhuwah Islamiyah” dan “Pendekatan Syiah dan Sunnah”[2]. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa slogan-slogan tersebut hanyalah penipuan semata. Dalam sejarah, Syiah telah banyak melakukan pengkhianatan-pengkhianatan yang berakibat pada kerugian umat Islam; seperti pengkhianatan Menteri Syiah Ali bin Yaqtin pada masa Harun al-Rasyid dan pengkhianatan Menteri Muayyidudin bin Ahmad al-Aqlami dengan masuknya orang-orang Tartar ke Baghdad.[3]

Dan hari ini Ahlu al-Sunnah di Iran selalu mendapatkan perlakuan keji dan biadab dari pemerintah Syiah di sana. Bentuk intimdasi mereka seperti; pembantaian para ulama dan da’i, pemnbatasan laju keturunan (KB) terhadap sunni dan pemusatan senjata hanya pada tangan Syiah, sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Mun’im bin Muhammad al-Balusy –seorang warga Iran yang bermanhaj Ahlu al-Sunnah.[4]

Tentang perkembangan Syi’ah di dunia, Syiah dewasa ini tersebar di Iran, dan berpusat di negara ini. Sebagian mereka banyak pula di Irak. Keberadaan mereka terbentang luas sampai ke Pakistan. Di samping itu, mereka juga mempunyai sekte di Libanon. Adapun di Syiria, jumlahnya sedikit, tetapi mempunyai hubungan yang kuat dengan Nushairiyah yang juga termasuk Syi’ah yang ekstrim.[5] Dan di Indonesia jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun, menurut  Dr. Jalaluddin Rahmat, ketua IJABI[6] sekarang penganut Syiah di Indonesia bejumlah

Dan hadirnya buku ini adalah sebagai usaha dari penulisnya untuk turut menyadarkan umat Islam dari kepungan Syiah melalui revolusinya yang semakin menggurita dengan gerakan yang teratur rapi. Meski demikian masih kami dapatkan beberapa kesalahan dalam buku ini yang mungkin bisa mengurangi niat baik dari penulis.

Kritik Metodologis

Buku ini memiliki beberapa kelebihan sebagaimana dituturkan oleh Prof. Dr. H. Soefjan Tsauri, MSc, staf Ahli kepala Lembaga Ilmu dan Penelitian Indonesia (LIPI) dalam kata pengantarnya untuk bukuini, yaitu bentuk Tanya jawab yang mempermudah pemahaman pembaca terhadap substansi isi dan pembahasan yang komprehensif dan integral.

Nampaknya buku ini sengaja di setting oleh penulisnya bukan sebagai buku ilmiah (text book), meskipun tanpa meninggalkan asas ilmiah penulisan, dan sekalipun di sajikan juga daftar pustaka acuan di bagian akhir (end matter) tetapi kurang sempurna, tidak disertakan nama percetakan dan tahun cetak sehingga membuat pembaca agak kesulitan untuk merujuk pada buku tersebut, alangkah baiknya kalau dilengkapi.

Dalam menyebutkan riwayat hadits dari ulama Ahlu al-Sunnah, tidak disertakan takhrijnya, padahal hal ini penting agar pembaca bisa mengcros cek pada sumber aslinya. Dan pada penulisan nama pengarang, kami dapatkan kesalahan ketika menulis  nama pengarang kitab Masalah al-Taqrib baina Ahlu al-Sunnah wa al-Syi’ah tertulis Dr. Nasir bin Abdullah Al-Ghifari, dan yang benar adalah al-Qifari.

Kami dapatkan juga kesalahan dalam penulisan kata “di” yang setelahnya tempat atau arah, sering dalam buku export tertulis ‘didalam’, ‘diatas’ atau ‘disamping’ dan yang benar menurut EYD (Ejaan Yang telah Disempurnakan) kata di dan kata arah atau tempat setelahnya dipisahkan dengan satu spasi contoh ‘di dalam, di atas dan di samping’.

Kritik Isi

  1. a. Pada halaman 26

Habib Ahmad Zein Alkaf menulis:

“Kemudian dari Timur Tengah, yaitu satu kelompok yang karena keminiman ilmunya, mereka berani mengkafirkan mayoritas Muslim Indonesia, dengan alasan karena Muslimin Indonesia tersebut suka membaca kitab Maulid yang berisi biografi atau sejarah baginda Rasulullah saw. Mereka itu sedikit sedikit Syirik, Bid’ah, Syirik, Bid’ah, sampai-sapai merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw dikatakan Bid’ah.

Tidakkah mereka tahu bahwa orang yang pertama kali merayakan kelahiran Nabi Muhammad adalah Nabi Muhammad sendiri, dimana ketika dinyatakan kepada beliau mengenai puasa hari Senin, maka beliau menjawab “pada hari itu aku dilahirkan”.

Meskipun mereka itu menggunakan embel-embel Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, tapi golongan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah tidak sefaham dengan apa yang mereka lakukan, sebab mereka sudah menyimpang jauh dari ajaran Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Karenanya mereka juga kita tolak, sebab ajarannya juga sesat menyesatkan.”

Kelompok yang dimaksud Habib Ahmad Zein kemungkinan adalah kelompok yang dikenal dengan nama “Wahabiyah” atau “Wahabi” suatu penamaan yang salah kaprah karena pendiri dari kelompok ini bernama Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga semestinya namanya adalah “Muhammadiyyah”  bukan Wahabiyyah.

Dan setahu kami tidak ada seorang pun dari ulama Timur Tengah yang menyatakan bahwa orang yang melakukan maulid dihukumi kafir, mereka hanya menyatakan bahwa perbuatan tersebut masuk ke dalam bid’ah, sehingga penyataan kafir di atas terlalu berlebihan, terkesan ngawur bahkan sudah masuk kepada wilayah yang hanya bisa dimasuki oleh para ulama.[7]

Jika kita merunut pada sejarah awal mula Maulid, akan kita dapatkan bahwa amalan ini belum ada pada masa Rasulullah saw, sahabat dan generasi setelahnya dan baru muncul pada tahun 317 H oleh sebuah kelompok yang dikenal dengan Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Thalib) yang di pelopori oleh Abu Muhammad Ubaidullah bin Maimun al-Qaddah[8], selain itu Maimun al-Qaddah adalah pendiri aliran yang banyak sekali menghancurkan Islam dari dalam yaitu aliran Bathiniyyah.

Daulah Fatimiyyah adalah daulah Syiah yag berkuasa di Mesir selama empat abad dan telah banyak merugikan umat Islam. Maka hal ini menjadi satu kritikan kepada Habib Ahmad Zein Alkaff karena ternyata usaha melawan Syiah yang ia galakkan tidak murni, buktinya ada satu amalan bid’ah yang dikerjakan bahkan dibela-bela terlebih lagi amalan itu bersumber dari ‘musuhnya’ yaitu Syiah terutama Syiah Itsna Asariyah.

Keteranga di atas juga membantah argumen Habib bahwa Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali merayakan kelahirannya dan alasan dengan hadits puasa senin adalah istidlal yang tidak benar karena tidak ada teks dari Nabi saw yang menyatakan bahwa beliau merayakan hari kelahirannya. Berikut ini kami paparkan teks haditsnya:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِهِ قَالَ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِبَيْعَتِنَا بَيْعَةً قَالَ فَسُئِلَ عَنْ صِيَامِ الدَّهْرِ فَقَالَ لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ أَوْ مَا صَامَ وَمَا أَفْطَرَ قَالَ فَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمَيْنِ وَإِفْطَارِ يَوْمٍ قَالَ وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ وَإِفْطَارِ يَوْمَيْنِ قَالَ لَيْتَ أَنَّ اللَّهَ قَوَّانَا لِذَلِكَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ وَإِفْطَارِ يَوْمٍ قَالَ ذَاكَ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ قَالَ فَقَالَ صَوْمُ ثَلَاثَةٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانَ إِلَى رَمَضَانَ صَوْمُ الدَّهْرِ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ.

Artinya:

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasanya, maka serta merta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah, lalu umar pun mengucapkan, “Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah, dari murka Allah dan Rasul-Nya dan Bai’at kami sebagai suatu Bai’at.” kemudian beliau ditanya tentang puasa sepanjang masa, maka beliau menjawab: “Sebenarnya, ia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka.” Kemudian beliau ditanya lagi mengenai puasa sehari dan berbuka dua hari, beliau menjawab: “Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk melakukannya.” Lalu beliau ditanya mengenai puasa pada hari senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari, ketika aku dilahirkan dan aku diutus (sebagai Rasul) atau pada hari itulah wahyu diturunkan atasku.” Kemudian beliau bersabda: “Puasa tiga hari pada setiap bulan dan ramadan hingga ramadan berikutnya adalah puasa dahr.” Kemudian beliau ditanya tentang puasa pada Arafah, maka beliau menjawab: “Puasa itu akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” Kemudian beliau ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura`, beliau menjawab: “Ia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” (HR. Muslim, bab Anjuran puasa tiga hari dalam setiap bulan no: 1977).

  1. b. Pada halaman 38

Habib Ahmad Zein Alkaf menulis:

“Di dalam ajaran Ahlu al-Sunnah, IRHAB atau TEROR tidak ada dan tidak dibenarkan, namun di dalam ajaran Syiah Irhab atau Teror ada dan dibenarkan dan selalu dikerjakan di berbagai Negara”.

Perkataan Habib Ahmad Zein Alkaf bahwa dalam Islam tidak ada Irhab itu kurang tepat karena kata Irhab terdapat dalam al-Quran yaitu Qs. Al-Anfal: 60.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Artinya:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

  1. c. Pada halaman 46

Habib Ahmad Zein Alkaf menulis:

“Jadi yang benar, aqidahnya golongan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah aqidahnya Ahlul Bait atau Mazhabnya Ahlul Bait yang sampai sekarang diikuti oleh keturunan Ahlul Bait atau para Habaib Al-Alawiyyin (Zurriyyaturrasul)”.

Habib Ahmad Zein ketika berbicara tentang nasab Alawiyyin yang sampai kepada Nabi saw sehingga disebut sebagai zurriyyaturrasul, menyebutkan dua riwayat hadits, hadits dari riwayat Imam al-Thabrani, dan satu riwayat dari Imam al-Baihaqi dan al-Hakim.

Adapun hadits riwayat Thabrani yang menyebutkan hadits: “Semua bani untha (manusia) mempunyai ikatan keturunan keayahnya, kecuali anak-anak Fatimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan kulh ayah-ayah mereka”. Al-Haitsami mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Bisyr bin Mihran yang ia adalah orang yang haditsnya matruk. Riwayat dari Bisyr telah ditinggalkan oleh Abi Hatim dan anaknya mengatakan: “ayahku memerintahkan kepadaku agar tidak membacakan hadits dari Bisyr”.[9] Maksud dari hadits yang matruk adalah sebuah hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang dituduh berdusta, yang salah satu sebabnya karena bertentangan dengan prinsip-prinsip umum.[10]

Dan pada hadits kedua yang menyebutkan: “Semua bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fatimah, maka akulah ayah mereka dan akulah ashobah mereka”. Al-Haitsami mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Syaibah bin Na’amah dan menyatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan dalil (hujjah).

Sebagimana kita ketahui bahwa keturunan seseorang itu hanya dikenal dari jalur bapak dan bukan dari jalur ibu, dan Rasulullah r selama hidupnya tidak pernah memiliki anak lelaki yang tumbuh sampai dewasa, dan inilah salah satu rahasia Allah I mengapa Nabi Muhammad r tidak memiliki anak yang tumbuh sampai dewasa, agar tidak ada orang setelahnya yang bersikap berlebih-lebihan seperti Syiah. Masalah nasab ini juga pernah didiskusikan dalam sebuah ‘Dialog Agama di Peshawar’ tahun 1927 M antara Aqai Sultanul Wa’ezim Shirazi, seorang dai terkenal dari Iran dengan Hafiz Mohd. Rasyid dan Syaikh Abdul Salam, sebagai perwakilan dari Ahlu al-Sunnah, dialog ini berjalan selama 10 hari berturut-turut.

Penutup

Salah dan khilaf dalam tulisan ringkas ini pasti ada, karena Allah I hanya menginginkan kesempurnaan hanya pada kitab-Nya, dan hati ini lapang, tangan terbuka untuk menerima segala kritik dan nasihat-nasihat dari pembaca. Dan segala puji bagi Allah I dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad saw.

Note:

Buku karangan Habib Zein di atas mendapat sambutan sangat baik dari para ulama Jawa Timur seperti Ketua Umum DP MUI Provinsi Jatim KH Abdusshomad Buchori, Ketua PWNU Jatim KH Moh Hasan Mutawakil Alallah. Menurutnya Habib Zein, “Saat ini, banyak tokoh NU dan Muhammadiyah yang mulai membela Syiah. Buku ini dapat membentengi pengaruh Syiah,”. Buku ini  menjadi salah satu usaha dari Yayasan Albayyinat untuk mengingatkan negara Indonesia akan bahasa Syiah. Berita selengkapnya bisa anda baca disini

Referensi:

  1. Dr. Mahmud Thahan, llmu Hadits Praktis, (Bogor: Pustaka Thariul Izzah, 2005) cet. Ke-1
  2. Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Dhawabith Takfir al-Mu’ayyan, (Riyadh: Perpustakaan Raja Fahd, 1425 H), cet.ke-1
  3. Dr. Imad Ali Abdus Sami’, Khianat al-Syi’ah wa atsaruha fi hazaim al-ummah al-islamiyyah,(Pnegkhianatan-pengkhianatan Syiah dan pengaruhnya terhadap kekalahan umat Islam), terj: Hafiz Muhammad Amin, MA, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006), cet. ke-2
    1. LIPI, kedholiman Syiah terhadap Ahlu al-Sunnah di Iran, (Jakarta: Citra Offset, 1999), cet. ke-1.
    2. Al Maushu’ah Al Muyassarah fi Adyan Wa Al Madzahib Al Mu’ashirah : 1/
    3. Shahih Ibnu Hibban

[1] Kami telah berhasil mengumpulkan data nama-nama Alumni dan Mahasiswa Indonesia yang belajar di Qom. Di antara Alumninya seperti; DR. Abdurrahman Bima, DR. Khalid Al-Walid, Muhsin Labib, Ali Ridho Al-Habsy, Jalaludin Rahmat. Dan yang masih belajar (mahasiswa di Qom) seperti; Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Euis Daryati, Usman Al-Hadi, Abdurrahman Arfan, M. Turkan, Muchtar Luthfi, Emi Nur Hayati Ma’sum Said dan yang lainnya.

[2] Dr. Nashir al-Qifari telah membahas masalah Pendekatan Syiah dan Sunnah dalam bukunya “Masalat al-Taqrib” yang menyimpulkan bahwa pendekatan antara Sunni dan Syiah adalah tidak mungkin.

[3] Dr. Imad Ali Abdus Sami’, Khianat al-Syi’ah wa atsaruha fi hazaim al-ummah al-islamiyyah,(Pnegkhianatan-pengkhianatan Syiah dan pengaruhnya terhadap kekalahan umat Islam), terj: Hafiz Muhammad Amin, MA, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2006), cet. ke-2.

[4] LIPI, kedholiman Syiah terhadap Ahlu al-Sunnah di Iran, (Jakarta: Citra Offset, 1999), cet. ke-1.

[5] . Al Maushu’ah Al Muyassarah fi Adyan Wa Al Madzahib Al Mu’ashirah : 1/

[6] IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), Berdiri pada tanggal 1 Juli 2000 di Bandung.Pendiri: DR. Jalaluddin Rachmat, DR. Dimitri Mahayana dari ITB, DR. Hadi Suwastio, Ketua Dewan Syura: DR. Jalaluddin Rachmat, Ketua Dewan Tanfidziyah: DR. Dimitri Mahayana, dan Sekretaris umum: Emilia Az

[7] Lihat Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Dhawabith Takfir al-Mu’ayyan, (Riyadh: Perpustakaan Raja Fahd, 1425 H), cet.ke-1, hal. 31

[8] Ibnu Kholkhon berkata tentang nasab Ubeidillah bin Maimun al-Qoddah: “Semua Ulama sepakat untuk mengingkari silsilah nasab keturunannya dan mereka semua mengatakan bahwa, semua yang menisbatkan dirinya kepada Fatimiyyun adalah pendusta. Sesungguhnya mereka itu berasal dari Yahudi dari Silmiyah negeri Syam dari keturunan al-Qoddah. Ubeidillah binasa pada tahun 322 H, tapi keturunannya yang bernama al-Mu’iz bisa berkuasa di Mesir dan kekuasan Ubeidiyyun atau Fatimiyyun ini bisa bertahan hingga 2 abad lamanya hingga mereka dibinasakan oleh Sholahuddin al-Ayubi pada tahun 546 H.”lihat. Firoq Mu’ashiroh oleh DR Gholib Al-‘Awajih hal.2/493-494

[9] Shahih Ibnu Hibban, 16/77

[10] Dr. Mahmud Thahan, llmu Hadits Praktis, (Bogor: Pustaka Thariul Izzah, 2005) cet. Ke-1, hal. 115

11 Responses

  1. Sebelumnya saya mengajak saudaraku untuk menghilangkan rasa dengki dan iri hati karena hal inilah yang justru dipertanyakan Allah swt. dalam firman-Nya:

    اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

    “..Ataukah (apakah) mereka (orang-orang yang dengki) merasa irihati (hasut) terhadap orang-orang yang telah diberi karunia oleh Allah “ (An-Nisa’ : 54)

    Orang-orang yang dihasuti dan yang diberi karunia dalam ayat tersebut adalah Keturunan/Ahlul Bait Rasulallah saw. silahkan rujuk:
    Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, hal.143 hadits ke 195, 196,197,198; Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili Asy-Safi’I, hal.467 hadits ke 314 ; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal.142, 328 dan 357 cet, Al-Haidariyah hal.121, 274 dan 298, cet.Istanbul ; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal.150 cet.Al- Muhammadiyah, hal. 91 cet. Al-Maimaniyah, Mesir ; Nurul Abshar oleh Asy-Syablanji hal.101, cet.Al-‘Utsmaniyah, hal.102 cet.As- Sa’idiyah ; Al-Ittihaf Bihubbil Asyraf, oleh Asy-Syibrawi Asy-Syafi’i, hal. 76 ; Rasyafah Ash-Shadi, oleh Abu Bakar Al-Hadrami, hal. 37 ; Al-Ghadir, oleh Al-Amini jilid 3, hal. 61 dan masih banyak lagi lainnya.

    Tentang Ahlil Bait yang anda tanggapi diatas menurut saya tanggapan anda terlalu sederhana walaupun dibaca oleh orang yang bodoh seperti saya ini, karena masih seabrek hadist lain yang membenarkan. Misalnya:
     Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Telah wafat seorang putri Safiah binti Abdul Muttalib ra., kemudian beliau berceritera yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulallah saw. berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: ‘Mengapa masih ada beberapa kaum yang menuduh bahwa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahwa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung didunia mau pun akhirat’ ”. (Hadits ini dishohihkan oleh Al-hafidh As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya dari tiga jalur).
     Hadits dari Ibnu Mas’ud sabda Rasulallah saw.; ‘Akan tampil seorang lelaki dari Ahli Baitku yang namanya sama dengan namaku dan perawakannya menyerupai perawakanku lalu ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebenaran sebagaimana sebelumnya bumi ini telah diliputi kedzaliman dan kesesatan’. (HR.At-Thabrani, Kanzal Ummal 7 : 188)

     Hadits dari Hudzaifah sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: “Seandai- nya usia dunia tinggal satu hari lagi, niscaya Allah akan memperpanjang hari itu sampai Dia membangkitkan seorang lelaki dari (keturunan) anakku yang namanya seperti namaku’, Salman berkata: ‘Dari anakmu yang mana ya Rasulallah’? beliau bersabda: ‘Dari keturunan anakku ini’ sambil beliau saw. menepukkan tangan- nya kepada Al-Husain ra.’ ”. (Dakhair Al-‘Uqba)
    Seabrek saya baca dari buku tulisan A. Shihabuddin, “Kamus Syirik” Edisi Revisi: Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi/Wahabi, cetakan ketiga. Bab tentang Kemuliaan Keturunan (Ahlul Bait) Rasulallah SAW, halaman 415-503. Dan masih banyak dibahas di bab-bab lainnya.

    Wassallam,
    Purwandi

  2. Mas Purwandi, Anda ditipu oleh orang Syiah tapi tidak sadar sedang ditipu. Islam tidak mengajarkan kultus kepada garis keturunan. Ajaran Syiah terbukti tidak jujur, ketika mengajak orang untuk mengkultuskan keturunan Nabi yang secara khusus adalah Husain ra, tapi di sisi lain menghujat keluarga Nabi yang tidak menghasilkan keturunan, misalnya Aisyah ra. Politik mereka seperti belah bambu, ada keluarga Nabi yang diangkat hingga batas kultus, bahkan hanya karena garis keturunan bukan karena imannya, di sisi lain menghujat istri sah nabi yang diakui sejarah. Padahal baik buruknya manusia bukan dinilai dari keturunannya, tapi dari iman dan taqwanya.
    kaum Syiah menganggap, keturunan Nabi harus dicintai apapun iman dan taqwanya. Sejak kapan Islam dibelokkan dari garis keimanan menjadi garis keturunan.
    Memang benar bahwa salah satu ciri imam Mahdi yang juga diakui Ahlus Sunnah adalah ia dari keturunan Rasulullah saw, tapi mustahilkah ada keturunan Rasulullah saw yang juga durhaka? Apalagi dengan jarak yang demikian jauh seperti jaman kita.

  3. e,para manusia yg tak bernyawa bisanya mencela syiah ,,,,, dasar org2 sunni sdh bejat rakyatnya…..! diajak debat kalah oooo bodoh

  4. Sebelumnya saya mengajak saudaraku untuk menghilangkan rasa dengki dan iri hati karena hal inilah yang justru dipertanyakan Allah swt. dalam firman-Nya:

    اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

    “..Ataukah (apakah) mereka (orang-orang yang dengki) merasa irihati (hasut) terhadap orang-orang yang telah diberi karunia oleh Allah “ (An-Nisa’ : 54)

    Yth. Mas Elhakimi.
    Saya setuju dengan anda kalau Syiah memang sedang menipu, dan sesuai ajarannya yang memang diperbolehkan. Tapi kalau saya telah kena tipu saya kira tidak, dan saya bukan pengikut Syiah.
    Yang saya paparkan diatas adalah fakta adanya hadist yang berbunyi seperti itu yang saya percayai kebenarannya diucapkan oleh orang yang saya cintai Rasulullah SAW.
    Seharusnya memang kita harus menghormati semua keluarga nabi SAW dan para sahabatnya dan keturunannya, seperti diungkap juga oleh orang yang saya cintai dan saya hormati habib Ahmad Bin Zain Alkaf yang saya setuju dengan pendapatnya tentang adanya export revolusi syiah ke Indonesia.
    Tentang orang yang durhaka itu saya tidak mengerti dan saya gak mau ngurusi orang lain, karena itu sudah masuk urusannya Allah SWT yang penting saya ngurusi diri sendiri aja.
    Rukun Islam itu ada lima, tapi hanya satu yang harus disaksikan oleh orang lain yaitu mengucapkan ‘Dua Kalimat Sahadat’, yang laen urusannya dia dengan Allah SWT. Termasuk apakah dia telah durhaka atau tidak, kita tidak tahu dan tidak punya hak berpendapat. Karena itu janganlah kita menghujat seseorang seseorang, tapi kalau kita mengambil suri tauladan orang-orang yang baik itu akan lebih bermanfaat.
    Yang perlu kita tahu dan musti cari tahu adalah suatu ajaran itu benar atau tidak, yang benar kita pilih dan yang salah kita tinggalkan, kalau kita pilih jalan yang salah akibatnya fatal nasib kita di akhirat, bisa menderita sepanjang masa.
    Sesuai surat (An-Nisa’ : 54), ayo kita buang segala iri dan dengki, perbanyak baca selawat, semoga kita kelak berada dibarisannya Rasullah SAW dan mendapat Syafaatnya. Amin.
    Bacaanku juga di http://www.selawat.com

    Wassalam,
    Purwandi

    • sebelumnya saya mengucapkan rasa terima kasih sebesarnya kepada mas elhakimi dan purwandi yang bersedia meramaikan blog sederhana ini.

      Ahluss sunnah menyebut orang syiah telah sesat dari jalan yang benar karena mereka telah melakukan dua ke-ghuluwan.
      Pertama; Ghuluw terhadap ahlul bait, yang sampai pada taraf meminta doa pada mereka di kala senang atau susah, bahkan mengangap mereka tuhan.
      Kedua; Ghuluw terhadap para sahabat, khususnya syaikhain Abu Bakar dan Umar dan Ummahatul Mukminin terutama Aisyah dan Hafshah dengan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan oleh seoarang manusia, apalagi mengaku muslim.

      maka Syiah menjadi kelompok yang sangat melenceng dari kebenaran. Namun di antara manusia, terdapat orang-orang yang dengan ikhlas mencintai Ahlul bait seperti Ali dan Husain dengan kecintaan yang tulus dan tidak mengikuti orang-orang yang durhaka, disebut sebagai muhibbin dan sampai sekarang masih ada. semoga kita termasuk dari golongan ini.

      saya melihat keikhlasan dari Habib Ahmad Zain bin Alkaff untuk menyadarkan mulsim indonesia secara umunya dan alawiyyin khususnya dari ajaran Syiah yang selalu mengkafirkan ahlussunnah, di antara yang beliau lakukan lewat situs yang beliau pimpin http://www.albayyinat.net dan buku di atas. adapun kritik yang saya lakukan adalah kritik membangun dan bukan berniat untuk menjatuhkan

  5. main bilang tertipu aja, maklumlah, ahmad zen alkaff sendiri saja gak berano dialog langsung dengan para ulama SYiah, cuma berani sama para orang2 yang tidak paham. anda semua udah pernah dialog langsung belom. Almarhum Abuya saja hubungannya baik dengan Ulama Syiah, masa anak buahnya malah melenceng.

  6. jangan nyebut Abuya, sebab semua murid Abuya anti Syiah, terkecuali tiga orang yang Murtad masuk syiah (Jakfar celeng, Muhamad Kabsyi dan Ali yang tidak diridhoi ayahnya).

    • Tolong gunakan bahasa yang lebih santun, jangan tonjolkan emosi dan sikap tidak suka dengan orang lain. Terima kasih.

  7. kata2 mahl dari ainun najib: cukup Allah yang tahu akidahmu, masyarakat hanya butuh ahlakmu

  8. Dima beli bukux ada yg tau??

    • saya ada buku “export revolusi syiah ke Indonesia”.. kalo berminat bisa WA 08998133684. rmksh

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: