Ibu Pulang


Sejak Idul Adha kemarin ibu saya di Jonggol untuk merayakan shalat ied bersama, bedua dengan bapak, tapi beliau lebih dahulu pulang karena kerjaan bertani yang selalu menunggu dan sedang berlangsung proyek renovasi mushala di tempat kami, kebetulan beliau sebagai ketuanya. 

Selama di Jonggol beliau menemani cucu pertamanya, namanya Raihan Al-Musthafa, beliau sangat sayang dengan cucunya, selama disana ibu dan Raiham ibarat perangko, ibarat  lem dan kertas yang terus nempel. Sekolah pun ibu yang menemani cucu kesayangannya. 

Ibu saya seorang wanita yang hebat, demikian juga ibu ibu yang lain di seluruh dunia, tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya, ibu selalu rela berkorban demi kebahagiaan mereka. 

Perjuangan beliau untuk mensekolahkan kami adalah perjuangan yang tidak akan pernah kami lupakan, bagaimana tidak? Agar kami bisa sekolah dan tenang di pesantren, beliau rela kerja di daerah Jogja untuk menambah uang saku kami, bapak yang hanya seorang petani desa tidak punya banyak uang waktu itu. 

Perjuangan orang tua menjadi pelecut semangat saya belajar, termasuk ketika menghafal Alquran. Saya ingin menjadi hafiidz dan faham tafsir Alquran agar kelak bisa memberikan mahkota kemuliaan yang Allah subhanahu wa taala janjikan kepada anak yang hafal Alquran. 

Lirik lagu Shoutul Haq tentang Ibu yang saya sukai. 

Bila kuingat masa kecilku

Kuslalu menyusahkanmu

Bila kuingat masa kanakku

Kuslalu mengecewakanmu
Banyak sekali pengorbananmu

Yang kau berikan padaku

Tanpa letih dan tanpa pamrih

Kau berikan semua itu
Engkaulah yang ku kasihi

Engkaulah rinduku

Ku harap slalu doamu

Dari dirimu ya ibu
Tanpa doamu takkan kuraih

Tanpa doamu takkan kucapai

Segala cita yang kuinginkan

Dari diriku ya Ibu
Terima kasih atas kedatangannya bu… Kami sayang ibu, kami cinta ibu. 

Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan berkah, kesehatan dan perjalanan yang nyaman sehingga selamat sampai rumah. 

Ya Allah, izinkan kami untuk terus berbakti kepada bapak dan ibu kami sampai di akhirat nanti.. 

Rabbighfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.. 

*di Pol Sinar Jaya Pasar Minggu, mengantar ibu pulang. 

[ Jumal Ahmad ] 

Ibu dan cucunya Raihan Musthofa di area Jonggol Farm

Jangan Lupa Tujuan Hidup


​Tujuan hidup adalah IBADAH kepada ALLAH

IBADAH artinya menghambakan diri (mengecilkan diri) dengan MEMBESARKAN ALLAH.

Tiada yang patut dibesarkan diagungkan disembah dan disucikan selain Allah.

Setiap hela nafas jangan lepas NAMA ALLAH… dzikir

Maka kita tak akan lupa tujuan hidup.

Nafsu Fujur selalu aktif menyerang agar membesarkan selain Allah

Ditunggangi syetan untuk memalingkan tujuan hidup.
Maka…..💔😭

Banyak yang “membesarkan” dirinya.

Banyak yang “membesarkan” hartanya.

Banyak yang “membesarkan” golongannya.

Banyak yang “membesarkan” anaknya.

Banyak yang “membesarkan” parpolnya.

Banyak yang “membesarkan”  predikat jabatannya.

Banyak yang “membesarkan” kharismanya.

Banyak yang “membesarkan” segalanya selain Allah.

Ingat itu hina hina hina hina hina hina hina hina di mata Allah !!!

Jadilah mulia dimata Allah 

Jadilah mutiara dimata Allah

Walaupun dipandang debu dimata manusia.

Jangan tertawa dan senyum karena mulia dimata manusia padahal hina dimata Allah karena Lupa TUJUAN hidup.

Terimakasih kawan kawan semua.

Terimakasih sahabat sahabatku yang sholeh.

Kawanku dunia akhirat.

I love you all ❤ because of Allah.

Uhubukum filllah

Jazakallah khoiron kasiron.

😭😭😭😭

Ingatkanlah diriku bila salah

Ingatkanlah diriku bila khilaf

Agar tidak lupa tujuan hidup.

Semoga Allah menyatukan kita dunia akhirat

Kita bertemu lagi di dalam syurga….

Maka JANGAN lupa tujuan hidup

Mulailah segala sesuatu dengan NAMA ALLAH.. 

Amiin ya rabbal aalamiin

Sumber: BC Ust Arifin Jayadiningrat di Ultah beliau hari ini. 

Menembus Hujan


Beberapa hari ini Jakarta sering diguyur hujan deras, disyukuri akan menjadi berkah dikufuri akan membawa wabah. 

Bencana banjir Garut menjadi catatan penting dan tadzkirah agar lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar, hutan lindung yang mestinya untuk serapan air jangan dieksploitasi untuk restoran, penginapan dan bisnis semata yang semakin membuat konglomerat kaya tapi rakyat sendiri melarat. 

#PrayforGarut semoga banjir seperti ini tidak terulang dan kita semua kembali mengintrospeksi diri. Sabar dan tabah bagi keluarga yang ditinggalkan dan bagi para korban semoga amalnya diterima di sisi Allah subhanahu wa taala. 

Kembali ke bahasan… 

Senin kemarin menjadi pengalaman pertama istri saya naik motor hujan hujanan, kami berdua habis pulang kajian Akhlak Senin Pagi di Masjid Pondok Indah bersama Ust Arifin Jayadiningrat. 

Habis Ashar kami pulang, sampai di Jalan Intan daerah Cilandak, hujan mengguyur kami dengan deras, karena jas hujan hanya satu dan saya bawa laptop, dengan baik hati memberi saya jas hujan dan rela menembus hujan tanpa mantel. 

Jalan yang kami lewati berubah jadi sungai kecil kalau bukan karena bantuan dari Allah subhanahu wa taala motor yang kami pakai bisa saja mati di tengah jalan. Jalan arah Ragunan dan Cilandak KKO banjir dan mati total, alhamdulillah masih bisa lewat jalan tikus yang lain. 

Sabtu kemarin, saya hujan hujanan lagi, kali ini bersama ojek online dengan rute dari  Halim Perdana Kusumah – Bintaro Jalan Cenderawasih setelah selesai antar anak Mentawai ke bandara. 

Jarak yang ditempuh lumayan jauh, lebih dari 25km, sementara aplikasi ojek membatasi limit jaraknya hanya 25, maka saya rencanakan untuk pesan 2 kali ojek, pertama dari Halim ke Fatmawati lalu Fatmawati – Bintaro. 

Ditengah perjalanan hujan deras mengguyur kami, sambil jalan saya nawari untuk mengantar langsung sampai Bintaro, gak papa tambahannya saya bayar reguler. Akhirnya kami deal harga 90 ribu sampai Bintaro, kalaupun terlalu mahal itu gak seberapa dengan jasa bang ojeknya. 

Di Bintaro saya turun di Mahad An-Naba, pesantren Muallaf pimpinan Ust Arifin Nababan, saya ambil motor yang saya titip disitu waktu ke Bandara. Lanjut lagi saya sendiri menembus hujan menuju daerah Jagakarsa tempat saya tinggal. 

Di perjalanan ini ada satu keteledoran saya yang saya sesali dan jadi pelajaran saya ke depan. 

Didalam tas ransel saya siapkan map berisi akte yayasan yang sedianya saya mintakan tanda tangan kalau sempat ke salah satu anggota yang tinggal di daerah Bintaro. 

Karena keteledoran dan hujan yang memang deras, map itu basah terkena air dan saya ketahui setelah sampai rumah. 

Yah, ini kesalahan saya yang semoga jadi pelajaran saya dan pembaca. Selanjutnya saya akan bertanggung jawab dengan meminta lagi tanda tangan seluruh anggota yayasan. 

Semoga saja Ust.Arifin Jayadiningrat bisa memaklumi… 😥😥😥

Alhamdulillah, akte yang kehujanan itu cukup saya ketik ulang dengan mengikuti tata tulis persis seperti aslinya karena surat akte ini masih mirip rpus di perusahaan. 😊😊😊

Sekian.. 

[ Jumal Ahmad] 

Emosi Berkendara… 


Masih ingat pengalaman tadi pagi waktu naik motor di Bintaro, di salah satu lampu merah, motor hanya menyentuh sedikit spion mobil, yang punya langsung buka kaca dan memarahi saya, padahal gak ada lecet ataupun tergores. 

Saya hanya diam tetap menatap ke depan, gak nanggapi sedikit pun omelan mbak mbak itu dan sedikit tersenyum agar emosi gak ikut kalut. 

Duh, ternyata lewat berkendara kita bisa belajar mengelola emosi, orang yang emosinya bagus akan lebih matang dan berfikir sebelum bertindak, tenang berkendara dan tidak melakukan agressive  driving. Namun jika emosi tidak terkontrol, emosi rendah akan meledakkan kemarahan akibat kondisi lalu lintas apapun. 
Hurlock mengungkapkanbahwa individu dikatakan matang emosinya jika tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, melainkan menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya. Individu yang memiliki kematangan emosi memiliki cara–cara yang lebih dapat diterima oleh orang lain dan dapat menilai situasi secara kritis terlebih daulu sebelum bereaksi secara emosional”. 

Satu prinsip yang diajarkan Ust Arifin Jayadiningrat dalam berkendara, agar kita selalu berusaha melapangkan jalan untuk orang lain, contoh kecilnya, jika ada tukang bakso lewat kita rem atau lebih bersabar ketika lewat U-turn. Boleh jadi, kemudahan kita sampai tujuan adalah karena kebaikan kecil yang kita lakukan. 

Berkendara motor atau mobil jangan gunakan lampu jauh kecuali dibutuhkan, karena mengganggu penglihatan pengendara yang lain. 

Waktu berkendara selalu mainkan lampu rating kiri dan kanan sebagai pertanda kita akan belok ke kiri dan kanan.  Selain sebagai sopan santun juga memudahkan yang lain. 

Alhamdulillah, catatan sampai disini dulu.. Otw ke Bandara Halim mengantar anak Mentawai… 

[ Jumal Ahmad] 

Mengantar Pulang Anak Suku Buttui Mentawai


Meski sudah 71 tahun merdeka, namun kondisi pendidikan sejumlah daerah di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Salah satunya di Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat. Anak – anak yang berada di pedalamannya harus belajar dengan segala keterbatasan fasilitas. 

Melihat hal itu, kita harus bertindak dengan membantu proses pendidikan di tempat tempat terpencil itu. 

Aksi Peduli Bangsa, memiliki perhatian besar terhadap perkembangan sosial dan pendidikan masyarakat pedalaman seperti di Mentawai. 

Sebuah sekolah tingkat TK dan SD sudah terbangun di Dusun Buttui, Desa Madobak,  Siberut Selatan, dengan mengandalkan guru bantuan yang sengaja didatangkan dari kota Padang. 

Adapun untuk anak tingkat SMP dan SMA disekolahkan di kota Padang atau di Jawa, ada beberapa anak yang sudah sekolah di Jawa salah satunya di pesantren Muallaf An-Naba pimpinan Ust Arifin Nababan. 

Salah satu santri kami yang ada disana, harus pulang hari ini karena ayahnya sedang sakit keras, belum masuk Islam dan insya Allah lewat tangan anaknya, dia akan diislamkan.

Maka kami harus segera berpacu dengan waktu ke Mentawai. Kondisi ayahnya sudah parah, terkena penyakit komplikasi di daerah perut dan berjalan sambil membungkuk. 

Belum pernah dibawa ke Rumah Sakit karena alasan mahalnya biaya dan jarak ke Rumah Sakit yang teramat jauh dari pedalaman Buttui, hanya dipanggilkan perawat yang memang bertugas di desa Ugay. 

Pengobatan rutinnya dari daun daunan oleh Sikerei atau tetua adat yang tahu pengobatan. 

Puskesmas kecil sudah ada, hanya saja masyarakat sana masih percaya dengan pengobatan adat ala Sikerei 

Jarak perjalanan Jakarta Mentawai cukup jauh, hampir semua moda kendaraan dari pesawat, kapal laut,  kapal feri, bus, becak motor sampai terakhir kapal boat kita pakai semua dan itu mengeluarkan dana yang tidak sedikit. 
Semoga perjalanan anak Mentawai hari ini menuju rumah di pedalaman suku Buttui Mentawai berjalan dengan lancar, aman dan semuanya dimudahkan Allah subhanahu wa ta’ala 

Semoga orang tuanya bisa masuk Islam demikian juga masyarakat dusun Buttui dan sekitarnya. 

Hidup Optimis


​​Menerima kesulitan dan bencana dengan sikap optimistis mampu membantu memulai kehidupan setelah keterpurukan dan menguasai kesulitan dimana sikap optimistis lebih utama dan berguna ketimbang rasa sesal dan pesimistis.

Berikut ini contoh orang terdahulu yang berhasil mengubah kerugian menjadi keuntungan.

Abdullah bin Abbas ketika kehilangan indra penglihatannya, ia sadar bahwa ia akan menghabiskan sisa umurnya dalam keadaan buta, terpenjara dalam kegelapan.

 Tak dapat melihat kehidupan dan orang-orang yang hidup.

Namun ia tak mengeluh, dia menerima nasib yang telah ditentukan. 

Kemudian dia bermadah dengan kalimat-kalimat yang dapat meringankan musibah itu dan menumbuhkan rasa ridha.

Kata Abdullah bin Abbas

Jika Allah mengambil cahaya kedua biji mataku

Maka di lisan dan pendengaranku masih ada cahaya

Kalbuku cerdas dan akalku tak rusak

Dan mulutku tajam ibarat pedang yang turun temurun

5 Ayat Motivasi Al-Quran yang menumbuhkan Sikap Optimis

1. Kita bisa berubah, jika kita mau mengubah diri kita

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11). 

2. Ada kebaikan di balik yang tidak kita sukai

“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui,“ (QS. Al-Baqarah: 216). 

3. Kita pasti sanggup

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS. Al-Baqarah: 286)

4. Ada kemudahan bersama kesulitan

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

5. Takwa dan tawakallah

“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya,” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Kenapa harus optimis?

  1. Keyakinan bahwa Allah Swt tidak akan pernah menguji hamba Nya melebihi batas kemampuan si hamba.
  2. Meyakini bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Sebuah keyakinan Bahwa diujung sana ada kebahagiaan yg menanti kita.
  3. Keyakinan bahwa Ridho Dan Rahmad Allah Swt menyertai org yg senantiasa mengharapkan Rahmat Nya.  Sebaliknya… murka Allah senantiasa meliputi mereka yg mudah berputus asa di jalan Nya.

Maka, Pantaskah kita sbg seorang Muslim masih Terus PESIMIS ..??

Barokallohu fiikum..[] 💐💐

Kekuatan Itu Bernama Cinta


​​Bagaimana perasaan orangtua jika putera yang dulu ditimang-timang, diasuh dan dirawat serta dididik, bertahun kemudian di usia mudanya memilih jalannya sendiri, menjadi teroris…???

Entah bagaimana menggambarkannya… berbaur antara shock, denial, marah, cemas, takut, bingung, sedih, kecewa… berkecamuk dan bergemuruh di dalam dada. Sejak di dalam kandungan, orangtua membangun harapan dan munajatkan do’a agar ananda yang dikasihinya tumbuh dan berkembang menjadi anak shalih, beriman kuat, berilmu tinggi dan pandai beramal. 

Namun jika di kemudian hari ia memilih jalan yang sangat tidak biasa dan bahkan radikal seperti menjadi teroris… umumnya orangtua tidak akan rela. Setiap orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, dan menjadi teroris tak pernah ada dalam kamus harapan dan do’a orangtua. 

Film dokumenter “Jihad Selfie” yang dibuat secara khusus oleh Noor Huda Ismail, kandidat Doktor yang saat ini bermukim di Melbourne, Australia, dan berprofesi sebagai Terorrist Rehabilitation Coach, menampilkan satu sosok anak muda asal Aceh, Teuku Akbar Maulana, 18 tahun, yang nyaris berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), jaringan teroris internasional yang sepak terjangnya memunculkan keresahan di mana-mana.

Film itu saya saksikan pada Selasa malam lalu, 26 September 2016 di lantai 28 Energy Building, SCBD, Jakarta, melalui acara nobar dengan keluarga besar Bina Antarbudaya (yang menjalankan program pertukaran pelajar AFS, dimana saya dan teman-teman pernah mengikuti program tersebut berpuluh tahun lalu dengan host countries yang berbeda-beda). 

Kami beruntung saat nobar tersebut Akbar, demikian panggilan pemuda asal Aceh tersebut, berkesempatan hadir bersama kedua orangtuanya, Pak Yusri dan Ibu Rina, serta dua saudara kandung Akbar, Cut Anita (kakak) dan Cut Amira (adik). Sebelumnya Akbar dan Noor Huda selama hampir sebulan kemarin telah melakukan roadshow film dokumenter “jihad Selfie” ke beberapa kota di Indonesia, dan berdiskusi perihal film tersebut. 

Politik dan terorisme bukanlah ranah yang saya akan jamah untuk membuat tulisan ini. Namun saat menyaksikan “Jihad Selfie” dan berdialog dengan Akbar dan keluarganya, saya sempat membuat beberapa catatan berdasarkan sharing dan pengamatan saya terhadap interaksi Akbar dengan keluarganya:

  1. Sejak SMP Akbar sudah merantau. Ia melanjutkan pendidikannya di kota Banda Aceh yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan melalui darat dari desa tempat tinggalnya di Susoh, Aceh Barat Daya. Di sinilah awal kemandiriannya terasah. Tinggal jauh dari orangtua pada usia yang masih teramat belia tentu memiliki tantangan tersendiri. Ibunya bercerita bahwa selepas SD, Akbar lah yang justru meminta untuk melanjutkan pendidikan di kota dan menetap di asrama. Ia sudah tahu yang menjadi keinginannya dan mulai membangun ambisinya. Kelak kemandirian berpikir dan bertindak inilah yang menjadi bekalnya menentukan pilihan hidup yang tidak mudah baginya. Salut pada orangtua Akbar, yang memberikan restu dan kepercayaan pada puteranya untuk merantau menimba ilmu meskipun usianya masih teramat belia. (Saya sendiri baru berangkat merantau ke Jepang mengikuti program AFS saat usia saya 19 tahun. Tahun 1986-1987).
  2. Selepas SMP, Akbar kembali merantau untuk melanjutkan SMA. Prestasinya di bidang akademik dan olahraga (ia berkali-kali menang dalam pertandingan Badminton), mendukungnya mendapatkan beasiswa penuh dari Turkey Diyanet Foundation. Akbar bersekolah di International Mustafa Gemirli Anatolia Imam Hatip High School di Kayseri, Turki, dimana salah satu alumnusnya yaitu Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Di sekolahnya, Akbar dikenal sebagai siswa yang berprestasi. Ia piawai dalam kemampuan public speaking. Di dalam film dokumenter tersebut, ada momen yang terekam saat ia berpidato di kelasnya, dan memukau teman-teman serta gurunya. Sebagaimana umumnya remaja, ia pun sempat melalui periode yang tidak mudah, dan di saat itu lah ia sempat menghadapi konflik dengan egonya. Sebagai remaja laki-laki yang memerlukan role model, ia memiliki ketertarikan untuk tampil gagah danmacho seperti beberapa teman sekolahnya yang telah bergabung menjadi pasukan ISIS di Suriah. Melalui foto2 selfieyang dishare teman-temannya di media sosial, Akbar jadi sering membayangkan dirinya memakai seragam layaknya pejuang yang berjihad dan memegang senjata. Fokusnya pada studi mulai berkurang, apalagi menurutnya materi yang dipelajarinya di sekolah kurang memberikan tantangan. Tujuannya yang semula datang ke Turki untuk belajar, mulai goyah. Ia mulai berpikir untuk ikut program rekrutmen ISIS sebagaimana teman-temannya yang lebih dulu. Ia berada pada persimpangan jalan. Mimpinya terbelah dua, meraih cita-citanya sebagai hafiz (penghapal qur’an) dan menjadi pejuang Islam disiapkan untuk mati syahid. Dalam pergumulan batinnya itu, Akbar tetap menjaga komunikasi dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya di Aceh. Ia bahkan sharing foto-foto teman-temannya yang telah bergabung dengan ISIS. Sehingga meskipun terpisah jarak dan waktu dengan ayah-ibunya, namun rutinnya chatting yang ia lakukan melalui alat komunikasi digital dengan keluarganya, membantunya membangun komunikasi terbuka dengan kedua orangtuanya. Di sisi lain ayah-ibunya pun tetap terinformasikan mengenai kabarnya. Hal ini yang tidak terjadi pada teman-teman Akbar yang lain, terutama yang sudah pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Bahkan di antaranya ada yang berangkat tanpa restu dari orantuanya. Allah swt punya cara indahNya untuk menjagamu, Akbar…
  3. Saat menghadapi pergumulan batin itu, Akbar sempat berdialog dengan seorang gurunya di sekolah Imam Hatip (momen ini direkam oleh Noor Huda, yang memperlihatkan Akbar yang menangis menceritakan konflik yang dihadapinya). Setelahnya ia seperti merasa beban emosinya jadi jauh berkurang. Jiwanya memperoleh pencerahan. Dituntun kesadaran dan ketenangannya, Akbar akhirnya mampu membuat keputusan. Ia memilih mengikuti suara hatinya, dan memutuskan tidak jadi berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Hatinya lebih cenderung memilih keluarganya. Rasa cinta dan hormat pada kedua orangtuanya serta perasaan sayang terhadap kakak dan adiknya memberatkan Akbar melangkah lebih jauh. Nyawanya terlalu berharga bagi seorang Ibu yang telah bersusah payah mengandung dan melahirkannya. Dan, ia tak mau pengorbanan Ibu yang dikasihi dan dihormatinya menjadi sia-sia hanya karena egonya sebagai remaja galau yang sedang berproses mencari jati dirinya (demikian Akbar mendeskripsikannya). Kedekatan emosional yang terbangun antara Akbar dengan kedua orangtua dan saudara kandungnya merupakan kekuatan tersendiri yang mendorong Akbar mengikuti suara hatinya. Ia berhasil melepaskan ilusinya akan jihad dan maskulinitas absurd yang dipropagandakan ISIS melalui media sosial. 

Saat berbincang dengan Pak Yusri, Ayahanda Akbar, beliau bercerita bahwa di keluarga mereka ada kebiasaan yang menjadi ritual keluarga, yaitu berkumpul selepas sholat Maghrib. 

Betapa Indahnya! Sayangnya, ritual keluarga semacam itu sekarang ini menjadi kebiasaan yang teramat langka untuk dilakukan oleh banyak keluarga di negeri ini. 

LOVE always wins… cinta yang sedemikian kuat yang ia rasakan terhadap kedua orangtua dan saudara kandungnya, itulah yang memenangkan hatinya. Keluarga teramat berarti bagi Akbar. Itulah bukti dahsyatnya kekuatan cinta antara orangtua dan anak. 

Masyaa Allah…

Segalanya hanya terjadi atas skenario dan kehendak Sang Maha Rahman dan Rahiim. 

Saya sendiri baru bertemu dengan Akbar dan keluarganya. Tapi saat saya berkesempatan berbicang dengan ayah dan ibu Akbar, saya dapat merasakan betapa mereka sebagai pasangan suami-isteri dan orangtua, membangun koneksi jiwa yang kuat. Kehangatan kasih keduanya tervibrasikan kepada ketiga putera/i-nya demikian indah.

Ayah Akbar adalah guru SD. Dan Ibunya guru SMA. Keduanya pendidik. Berbicara dengan mereka berdua, saya dapat merasakan keramahan dan kebersahajaannya. Bukan kebetulan mereka berdua berprofesi sebagai guru. Semua sudah dalam pengaturan Allah swt. 

Keluarga Akbar adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang utama sejatinya adalah di dalam keluarga. Pendidikan yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Pendidikan yang membangun koneksi jiwa yang kuat antar anggota keluarga. Pendidikan seperti ini kurikulumnya tidak didapatkan melalui sekolah formal maupun informal. Hanya ada pada keluarga yang memiliki kesadaran penuh akan peran dan tanggung jawabnya, baik sebagai pasangan suami-isteri maupun sebagai orangtua dari anak-anaknya. 

Di dalam film dokumenter yang dibuatnya, Noor Huda berhasil merekam momen indah saat Akbar pulang dari Turki, setelah ia memutuskan tidak jadi bergabung dengan ISIS dan kembali pada keluarganya di Aceh. Ia di sambut oleh ayah dan ibunya di depan rumah mereka. Akbar langsung memeluk Ibunda yang dikasihinya sambil menangis. Emosinya berbaur antara bahagia, menyesal, sedih dan perasaan lega. Seketika ruangan tempat kami nobar pun dilingkupi suasana haru… saya dan beberapa teman tak kuasa membendung airmata, kami terlarut dalam momen indah itu. 

Satu tantangan hidup telah berhasil dilewati Akbar. Namun perjuangannya belum usai. Ia masih harus kembali ke Turki menyelesaikan pendidikan SMA-nya yang menurut ayahnya tinggal tujuh bulan lagi. Sabtu pekan ini putera semata wayangnya itu akan kembali ke Turki. Bismillah ya, Akbar… insyaa Allah senantiasa dalam penjagaan terbaik dari Allah swt, dan selalu dalam bimbingan serta keridhoanNya. Allahumma amiin…

Di akhir acara, kami daulat Akbar melakukan book signing dadakan untuk novel yang ia tuliskan bersama Astrid Tito, “Boys Beyond the Light,” yang terinspirasi dari film dokumenter “jihad Selfie“.

Saat giliran saya meminta tanda tangannya, saya sampaikan bahwa novel itu adalah hadiah untuk puteri saya, Syifa. Ini pesan yang dituliskan Akbar:

To: Syifa

Selamat membaca

Semangat belajar ya

Buat ortumu tersenyum
Saya pun lantas terbayang wajah puteri tunggal saya, yang telah menjadi yatim sejak ia berusia 7 tahun. Kini usianya 15 tahun. Ia pernah menyampaikan cita-citanya menjadi film maker, dan berkeinginan melanjutkan pendidikan di satu negara yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam membuat film. 

Insyaa Allah. Amiin ya, Nak. 

Untuk puteriku, Syifa, Akbar dan anak-anak Indonesia lainnya yang sedang menapaki perjalanan sebagai khalifahNya di bumi ini. Teguhkan niat kalian menuntut ilmu untuk kebaikan dan manfaat, jaga dengan iman dan taqwa padaNya. Amalkan melalui perilaku dan sikap nyata kepada diri dan sesama. Tanamkan kuat cintaNya di dalam jiwa. Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir. 

Puisi ini untuk mengingatkan kalian, bahwa setinggi-tinggi terbang bangau, jatuhnya ke kubangan juga. Keluarga lah sejatinya tempat hati kalian berlabuh…
SURAT DARI IBU

karya Asrul Sani


Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke hidup bebas!

Selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau.


Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang 

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau.



Jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang ke sarang

angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

dan nakhoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku!


Kembali pulang, anakku sayang

kembali ke balik malam!

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”
Untuk informasi lebih lengkap mengenai film dokumenter “Jihad Selfie”, silakan buka link ini: http://www.jihadselfie.com
Foto-foto oleh: Anggy Soetirto-Gustiza, Imar Amran, Syifa Khalila

*********

Sumber :Tulisan Ibu Ita D Azly, Psikolog UI dan Team ICD. 

Link:http://itsdeesjourney.blogspot.co.id/2016/09/juara-sejati-itu-bernama-cinta.

%d bloggers like this: