Analisis Fatwa MUI No. 53 Tahun 2014 tentang Hukuman Mati bagi Produsen, Bandar dan Pengedar Narkoba


Penyalahgunaan narkotika dan peredaran gelap narkotika merupakan permasalahan yang masih dihadapi oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Penyalahgunaan narkotika di luar kepentingan pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah perbuatan melawan hukum dan membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Bahaya penyalahgunaan narkotika tidak terbatas pada diri pecandu, melainkan dapat menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat yang bisa berdampak pada runtuhnya suatu bangsa dan tatanan masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut guna meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika, MUI mengeluarkan Fatwa MUI No. 53 Tahun 2014 tentang Hukuman Mati bagi Produsen, Bandar dan Pengedar Narkoba. Dikarenakan tidak ada teks yang jelas dalam Alqur’an maupun Hadits, maka dalam menetapkan keharaman narkotika, sebagian ulama mengqiyaskan narkotika dengan khamr, karena keduanya mempunyai persamaan illat yaitu sama-sama dapat menghilangkan akal dan dapat merusak badan. Dan pada kenyataannya efek  narkotika lebih dahsyat dibanding denggan khamr.

PDF

Link Terkait:

https://mui.or.id/wp-content/uploads/2017/02/Hukuman-Bagi-Produsen-Bandar-Pengedar-dan-Penyalahguna-Narkoba.pdf

https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/05/07/nnyxv5-mui-fatwa-hukuman-mati-jadi-referensi-hukum-di-indonesia

https://www.nahimunkar.org/mui-negara-boleh-jatuhkan-hukuman-mati-bagi-bandar-narkoba/

Kampung Al-Quran di Desa Atas Awan


Pelajaran besar saya dapatkan setiap pulang kampung ke desa atas awan, Prampelan, Adipuro yang masuk kecamatan Kaliangkrik dan terletak di desa paling atas gunung Sumbing.

Pelajaran pertama adalah tentang kebahagiaan. Jika menurut orang kota, bahagia itu kalau punya harta yang banyak, rumah yang bagus dan kendaraan yang nyaman. Namun itu semua ditepis di desa paling dingin ini, menerima dengan apa yang sudah Allah berikan adalah kunci kebahagiaan mereka.

Pelajaran kedua adalah tidak menjadikan dunia di hati, artinya tidak mencari dunia atau harta sampai melupakan ibadah. Beberapa orang akan berhenti dari pekerjaan di ladang sebelum adzan dhuhur berkumandang agar bisa mendapatkan jamaah di masjid, sebagian lainnya pulang setelah dhuhur dan shalat di rumah sebelum adzan Ashar berkumandang bahkan sebagian lain mendirikan mushala kecil di ladangnya agar bisa shalat tepat waktu.

Masyarakat desa ini hidup dengan bertani di ladang dan menanam sayur-sayuran dan bawang, sayur yang dipanen diserahkan ke tengkulak yang harganya sering tidak sesuai dengan harga pasaran dalam artian mereka sering dipermainkan, meski demikian karena bertani sudah menjadi aktivitas mereka bukan hanya pekerjaan mencari harta, semua itu dilakukan dengan senang hati.

Buah dari keikhlasan mereka menamam adalah keberkahan desa ini, salah satunya dengan tumbuhnya anak anak cerdas dari desa atas awan ini. Banyak sekali anak dari desa ini yang sudah menjadi hafidz dan hafidzah dan ada Pesantren di desa ini yang menjadikan semarak Islam semakin ramai yaitu Pesantren Luqman Alhakim yang mengambil pendidkan SMP dan tahfidz Alquran dan Pesantren Istiqamah yang mengambil pendidkan sorogan dan kajian kitab kuning.

Perpaduan dua Pesantren dan kultur masyarakat yang kuat Islamnya menjadikan desa ini sebagai kampung Alquran di Atas Awan.

Anak Indonesia pada umumnya adalah cerdas bahkan manusia tercerdas di dunia adalah Indonesia. Selain itu, Indonesia adalah negara Terkaya di dunia dan sebagai Bangsa Superpower sejak 11.000 tahun silam, namun paradigma yang ditanamkan adalah bangsa yang bodoh, bangsa yang miskin dan bangsa yang terjajah selama 350 tahun.

Contoh sederhana kecerdasan anak Indonesia, mereka sejak kecil diberikan makanan yang segar dan langsung dari kebun dan bukan makanan yang sudah didiamkan berbulan-bulan seperti di Eropa ketika musim panas sebagai persiapan di musim dingin. Nutrisi untuk menjadi cerdas sudah diberikan sejak kecil.

Namun karena paradigma yang dibangun adalah negatif sebagai Bangsa bodoh dan terjajah, maka Indonesia menjadi bangsa inferior. Semoga manusia cerdas lahir dari kampung kecil ini.🙏

Sekian.

Simak juga tulisan sebelumnya tentang Adipuro sebagai Wisata Islami

Intervensi Agama dan Spiritual dalam Perawatan Kesehatan Mental: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis dari Uji Klinis Terkontrol Acak


Agama, Spiritual dan Kesehatan Mental

Meskipun interkoneksi antara agama, spiritualitas dan praktek medis telah terjadi sepanjang sejarah, hanya dalam dekade terakhir literatur ilmiah telah menunjukkan peran penting dari religiusitas/spiritualitas (R/S) dalam kesehatan fisik dan mental pasien (Koenig et al. 2012) .

Namun, mendefinisikan konsep yang kompleks dan saling berhubungan seperti spiritualitas dan religiusitas tidaklah mudah karena tidak ada definisi universal yang diterima oleh peneliti (Cook, 2004). Sullivan (1993) mendefinisikan spiritualitas sebagai fitur individu dan unik yang menghubungkan diri dengan alam semesta dan orang lain, dan mungkin atau mungkin tidak termasuk keyakinan pada dewa.

Puchalski (2012) menggambarkan spiritualitas sebagai cara untuk menemukan makna dan tujuan hidup dengan menghubungkan diri manusia dengan yang suci. Selain itu, Koenig dkk. (2012) mendefinisikan spiritualitas sebagai ‘sesuatu yang dibedakan dari humanisme, nilai-nilai, moral, dan kesehatan mental, dengan hubungannya yang sakral, transenden’ dan agama itu ‘melibatkan keyakinan, praktik, dan ritual yang terkait dengan transenden, di mana transenden adalah Tuhan’.

Kurangnya konsensus ini menyebabkan kesulitan dalam membandingkan hasil antara studi (Lucchetti et al. 2013). Namun demikian, beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi positif antara R/S dan pencegahan berbagai penyakit dengan bukti peningkatan kualitas hidup dan peningkatan kelangsungan hidup (Sawatzky et al. 2005; Chida et al. 2009).

Makalah yang berbeda telah melaporkan korelasi antara kehadiran agama yang lebih besar dan peningkatan kekebalan tubuh atau imunitas (Bormann & Carrico, 2009), tekanan darah rendah dan komplikasi jantung pada pasien pasca operasi (Lucchetti et al. 2011; Masters & Hooker, 2013) dan korelasi dengan remisi kanker (Ando et al. 2010; Ka’opua dkk. 2011).

Artikel lengkap: PDF

Sumber: Gonçalves, J. P. B., Lucchetti, G., Menezes, P. R., & Vallada, H. (2018). Religious and spiritual interventions in mental health care : a systematic review and meta-analysis of randomized controlled clinical trials, Psychological Medicine (2015), 45 : 2937–2949.

#2019TesisKelar


#2019TesisKelar adalah hastag untuk mengingatkan dan memberi semangat kepada saya sendiri dan teman-teman blog yang sedang menyelesaikan tesis atau disertasi.

Kita harus ingat bahwa untuk kuliah S2 atau S3 kita sudah meninggalkan waktu bersama keluarga untuk memperjuangkan kondisi yang lebih baik, dengan dana yang tidak sedikit dan pikiran yang banyak tercurah ke jenjang pendidikan tersebut.

Jadi apalagi yang ditunggu? Ayo kita selesaikan kuliah kita dengan sempurna dengan menyelesaikan tugas akhir kita, menulis tesis/disertasi kita. Semangat, Semangat, Semangat!

🤲🤲🤲

Muhasabah Sebagai Upaya Mencapai Kesehatan Mental


Kesehatan mental merupakan kondisi ideal dimana seseorang tidak hanya sehat secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, tetapi juga memiliki potensi yang dapat membuat orang hidup secara produktif. Namun, pada kenyataannya berbagai masalah kesehatan mental timbul di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk membahas peran Muhasabah dalam upaya mencapai kesehatan mental berdasarkan berdasarkan pemikiran Imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan ulama lainnya. Berbagai manfaat dari terapan konsep muhasbah juga diuraikan dalam penelitian ini.

PDF

Filsafat Dan Refleksi


Filsafat sebagai ilmu berbeda dengan ilmu ilmu empiris, sehingga untuk lebih menjelaskan maknanya digunakan term di luar ilmu empiris yaitu Refleksi. Refleksi punya dua pengertian yaitu pantulan dan perenungan.

Filsafat berarti Refleksi rasional, kritis dan radikal atas hal hal mendasar/pokok dalam hidup.

Filsafat bersifat kritis, artinya tidak ada yang tabu untuk dipertanyakan, segala hal bisa dipertanyakan dalam filsafat.

Filsafat berbeda dengan ilmu lain seperti science yang bersifat eksperimentasi, meskipun ada sedikit refleksi tapi porsinya tidak banyak. Adapun filsafat hanya berisi refleksi.

Refleksi dalam filsafat bersifat bebas (free thinking) yang tidak berpegang pada wahyu atau kitab suci tapi pada commonsense. Maka disebut refleksi rasional karena yang penting cocok atau tidak dengan rasional.

Meskipun filsafat merupakan seni bertanya yang tidak mengenal tabu dalam bertanya sesuai kekhasan filsafat. Filsafat sebagai ilmu bertujuan memberikan kemanfaatan hasil dari kekhasan filsafat bagi manusia, boleh mempertanyakan apa saja yang mendasar dari hidup, tapi tidak sepantasnya filsafat dalam kekhasannya mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Sama seperti ilmu-ilmu lain baik yang empiris maupun non empiris, filsafat tetap terbatas dalam ruang nalar manusia yang tentunya memiliki keterbetasan sehingga wajar jika filsafat dalam kekhasannya mempertanyakan(sebagai seni bertanya) apa saja yang terbatas pada ruang nalar manusia, sedangkan Tuhan sebagai sosok Maha Kuasa yang memiliki kuasa atas nalar manusia berada jauh derajatnya dari filsafat maupun manusia sebagai pelaku filsafat

Sumber:

Filsafat Ilmu, Bambang Sugiharto

%d bloggers like this: