Sayyidina Ali ra, Peletak Dasar Ilmu Nahwu


islam-1663703_960_720

source: pixabay

Sebelumnya kami pernah menulis beberapa biografi Ahli Nahwu terkenal yaitu Sibawaih dan Quthrub. Kali ini kami akan mengetengahkan profil Imam Ali sebagai peletak dasar prinsip-prinsip ilmu nahwu.

Bagaimana proses Sayyidina Ali dalam merumuskan prinsip-prinsip ilmu ini? Sebagaimana diketahui dalam sejarah kita, Imam Ali adalah sepupu dan hidup lekat dengan keseharian Rasulullah. Karena itu, dasar-dasar kenahwuan yang beliau punya diperoleh langsung dari madrasah al-Qur’an dan Sunnah nabawiyah sebab beliau adalah pihak yang mengetahui dengan apa, dimana, dan bagaimana wahyu ini diturunkan kepada Rasulullah secara persis. Ali juga mengetahui betul bagaimana Rasulullah melafalkan kitab suci ini.

Al-Qafti dalam Inbah al-Ruwwat (Vol. I, h. 39) mengutip kesaksian al-Duali ketika bertamu ke Imam Ali. Ketika masuk ke kediaman Sayyidina Ali, al-Duali melihat beliau sedang merenung. Lalu al-Duali memberanikan diri untuk bertanya: “wahai pemimpin orang yang beriman, apa yang anda pikirkan?” Imam Ali menjawab: “Saya dengar bahwa di daerahmu ada pembacaan al-Qur’an yang seperti demikian, karenanya saya bermaksud menuliskan kitab yang berisi dasar-dasar ilmu bahasa Arab.”

Lalu Al-Duali menjawab: ”Jika engkau Amirul Mukminin melakukan hal ini maka itu akan sungguh-sungguh menghidupkan kita dan juga mengekalkan bahasa itu –bahasa al-Qur’an—dengan kita.” Dialog itu terhenti sampai beberapa hari kemudian al-Duali berkunjung kembali ke kediaman Ali dan sudah menemukan lembaran karangan tersebut.

Lembaran itu secara bebas bisa diterjemahkan sebagai berikut: “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kalam (untung gampangya saja, saya terjemahkan diskursus, meskipun bahasa Arab modern sering menggunakan al–khitab atau al-qadhaya) itu terdiri dari ismun (nama-nama benda), fi’lun (jenis aktivitas), dan harfun (huruf, di luar ismun dan fi’lun). Adapun ismun –sebut isim– itu adalah yang muncul dari sesuatu benda yang dinamai (al-musamma), fi’lun –sebut fi’il— itu adalah sesuatu yang yang muncul dari pergerakan benda-benda yang dinamai tersebut, dan sementara harfun –sebut huruf–adalah sesuatu yang muncul dari makna yang tidak bisa masuk ke dalam kategori isim dan fi’il.

Lalu Imam Ali berkata kepadaku –al-Duali—ikutlah aturan itu, tambahkan di dalamnya sesuatu yang terjadi padamu dan ingatlah Abu al-Aswad bahwa al-asma’ (nama-nama) itu terdiri dari tiga hal: yang lahir, yang tersamar, dan sesuatu yang berada di antara kategori lahir dan tersamar.”

Masih banyak versi riwayat tentang interaksi antara Imam Ali dan al-Duali yang bisa kita temukan di kitab-kitab besar lainnya seperti dalam al-Aghani karya al-Isbahani, al-Maraatib al-Lughawiyyin karya Abu Tayyib al-Lughawi, dan al-Fahrasat karya Abu Nadiim.

Dan inilah semuanya yang menjadi ungkapan pertama tentang ilmu Nahwu yang sekarang kerumitan teorinya kita bisa temukan di dalam karangan-karangan yang panjang.

Sumber:

Ngaji Nahwu Oleh Kyai Syafiq Hasyim

Yatedo, Mesin Pencari Manusia


presse-QuestCeQueYatedo-entete

Beberapa minggu yang lalu saya coba meng-update info profil saya di blog, saya edit pendahulan dan penutup yang terlihat bertele-tele. Di poin akhir profil blog, saya menuliskan link Yatedo saya, apa itu Yatedo?

Yatedo itu mirip dengan KTP digital yang mengumpulkan informasi kita dari google, linkedin dan sosial media yang lain, tak hanya profilnya tetapi juga tulisan dan publikasi yang pernah kita tulis juga bisa ditampilkan.

Pada 22 Mei 2012, rescue.com menulis sosok penemu Yatedo.

Situs ini memulai dengan sebuah pertanyaan: jika “orang yang beruntung adalah orang yang dibutuhkan orang lain”, maka apa yang dibutuhkan orang untuk mencari tahu segala hal tentang orang yang dibutuhkannya? Barangkali pertanyaan itu dapat dijawab Saad Zniber.

Masyarakat dunia mulai gila pada jejaring sosial sejak 2007. Orang-orang dengan berani menggunakan nama asli di jejaring sosial.

Mereka saling berbagi. Kebiasaan-kebiasaan muncul: update status, tag foto, berbagi konten digital dengan teman-teman, tidak peduli jarak.

Akibatnya, saling berbagi ini meninggalkan jejak digital mereka di web begitu saja alias berserak.

Berpijak pada fenomena itu, Saad Zniber dan temannya Amyne Berrada menganggap pentingnya untuk mengumpulkan jejak pengguna jejaring sosial.

Pertualangan pun dimulai di kamar mahasiswa Ilmu Komputer Paul Sabatier University  Toulouse, Perancis, itu. Malam mereka penuh dengan kode dan kafein.

Selagi menciptakan perangkat lunak Yatedo, keduanya menyempatkan diri bekerja sekaligus belajar di Chongqing University, Cina, selama setahun.

Kemudian kembali ke Paris dan mengambil master Ilmu Komputer di Eropa Institute Of Technology.

Zniber merancang perangkat mesin pencari sementara Berrada fokus mempersiapkan peluncuran (bisnis). Perangkat (fisik) mesin pencari dirancang menyerupai robot.

Setelah 2 tahun kerja keras, mereka menuntaskan alat pencarian semantik tersebut, dengan konsep menampilkan hasil pencarian dalam bentuk kartu identitas digital.

Yatedo akhirnya diluncurkan pada tahun 2009. Produk mirip KTP digital ini memiliki tagline: The most powerful and comprehensive people search on the web atau kira-kira “pencarian orang tercepat dan tersesuai di web”.Hm, luar biasa, memang.

Kenapa diberi nama Yatedo?

Pemberian nama produk tidaklah sembarangan. Saad dan Amyne memilih demokratis. Mereka meminta robot mesin pencari itu sendiri untuk mencari nama melalui teknologi semantik dan fonetik.

Robot diperintahkan mencari tiga suku kata yang mudah diucapkan dalam bahasa apapun. “Yatedo”, saran pertama yang diberikan robot. Mereka langsung setuju.

Yatedo pun menjadi mesin pencarian siapapun di web. “Misi kami adalah membantu orang-orang terhubung satu sama lain, mengelola reputasi mereka dan meningkatkan visibilitas online.”

Data pribadi seseorang disaring dari jejaring sosial Facebook dan Linkedln.

Informasi penunjang pribadi tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber dunia maya seperti pemberitaan media online dan youtube.

Data dan informasi itu kemudian membentuk semacam biografi kita di dunia maya. Reputasi seseorang bisa dibangun disini.

Namun, ada pihak yang tidak suka dengan Yatedo karena dianggap membuka privasi orang lain, apalagi jika kita membebaskan privasi akun Facebook dan Linkedln bisa dilihat siapa saja.

Ini screenshot dari saya ketika mencoba mengetik nama Jumal Ahmad di Yatedo. Detail sekali bagian yang akan kita cari, terlihat di dashboard sebelah kiri yang penuh ada current position, location, industry, skills, company, school, degree dan education stats. 


Sekarang, saya mencoba bertahan dengan akun di Yatedo, saya masih berpikir bisa membantu orang lain yang ingin mencari informasi tentang saya, terutama tulisan saya.

Jika suatu saat nanti ada yang tidak beres, saya akan menghapus akun Yatedo ini. Cara meremove akun Yatedo bisa anda baca di link ini. Sampai hari itu datang, saya masih pakai Yatedo ini, apalagi yang bikin orang Islam, saya selalu mencoba mengapresiasi setiap perkembangan dari teknologi Islam atau yang dibuat oleh orang Islam.

Sekian.

Pasung Memasung


Menggambarkan kondisi umat islam saat ini. Mereka yang sekian lama dijerat/dicekik oleh orang komunis dan liberal

Namun ketika ditengah mereka ada mujahidin yang rela memasang badanya untuk tameng umat, rela mengucurkan keringat dan darahnya demi terlindunginya darah umat, rela sedikit tidur dan istirahat supaya umat tetap nyaman, rela mengorbankan nyawanya menjadi ‘tumbal’ demi menjaga nyawa umat

Namun apa yang hari ini terlontar dari lisan para umat yang dicekoki oleh media kuffar, bahwa mujahidin adalah garis keras, penuh kekerasan, intoleran bahkan dituduh sebagai teroris

Alumni 212 yang menjabat tempat strategis di pemerintahan, sengaja atau tidak dilengserkan tanpa ada sebab yang jelas.

Mari Jaga Selalu Spirit 212. Jangan sampai semangat jihad dan perjuangan luntur dari dalam diri. Terus semangat para pejuang.

Seberat dzarrah yang kita lakukan akan dinilai Allah Swt sebagai amalan, tidak akan dibiarkan sia sia. Mari eratkan persatuan, kokohkan langkah dan maju bersama

#spirit212✊
#alumni212itukami
#blogjumal

View on Path

Penjara Suci


Nurul Hadid dilihat Dari Atas

Matahari terbenam dibalik gunung Ciremai yang berdiri menjulang di belakang pesantren Nurul Hadid.

Aku mulai mengingat pengalaman kita dulu. Aroma persahabatan yang kental layaknya keluarga sendiri. Di tempat ini kita pernah 4 tahun bersama untuk menuntut ilmu, tentu saja kenangan itu tak akan pernah sirna.

Penjara suci, bukan sebuah penjara tempat para nabi sungguhan. Itu hanyalah istilah para santri untuk menyebut nama lain pondok pesantren.

Disebut penjara karena kami tidak melakukan kegiatan di luar lingkungan pondok pesantren.

Disebut suci karena kami tinggal disana untuk belajar makna kehidupan yang didasari pendidikan agama.

Masa yang indah karena bisa bertemu dengan teman baru lintas daerah, tapi juga menyedihkan karena harus berpisah dengan orang tua, adik dan kakak.

Masih ingatkah kamu ketika kita sama sama terbangun untuk shalat subuh berjamaah? Ketika adzan subuh berkumandang, kita berebut ambil air wudhu dan segera ke masjid agar tidak terlambat shalat jamaah.

Masih ingatkah kamu ketika kita merelakan waktu dan tenaga untuk masak pagi, siang dan malam, karena pihak pesantren belum mengadakan bapak/ibu dapur? Enak gak enak kita rasakan bersama, buka bersama dan saur bersama menjadi momen yang sangat dirindukan.

Kenangan yang paling indah dan tidak akan terlupa sampai nanti ketika kami bisa membantu asatidz membangun pesantren, meratakan tanah untuk kelas dan bangunan baru, mengangkat batu berat untuk pondasi, angkat bata, aduk semen, semua dilakukan bersama sama oleh para ustadz dan santri.

Alhamdulillah, setelah beberapa tahun meninggalkan pesantren tercinta #nurulhadid sekarang pesantren sudah lebih maju dari sisi bangunan dan program.

Banyak program kreatif dibuat pesantren #nurulhadid untuk santrinya seperti Halaqah, Ta’limul Qura, Tripala dan Ospen.

Pesantren #nurulhadid dikenal bagus dalam dalam bidang teknologi, meskipun tempatnya di hutan dan pegunungan.

Ingin lebih tahu tentang #nurulhadid? Silahkan cek webnya di http://www.nurulhadid.com

#nurulhadid
#pesantrenstory
#blogjumal

View on Path

Letakkan Sejenak Handphone Itu


Nomophobia = Phobia karena tidak memegang HP

Allah Swt berfirman: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Qs. Al-An’am: 44)

Berbicara tentang teknologi, ayat di atas layak menjadi renungan. Dibukakan oleh Allah untuk kita semua lewat Handphone, yang dekat menjadi jauh dan internet memberikan informasi yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya. 
Allah Swt yang sudah menciptakan semua kemudahan ini dan Dia sudah memperingatkan bahwa kemudahan ini justru menyibukkanmu. 

Berapa kali kita buka WA dan berapa kali kita membuka Al-Quran? Lebih sebang dengan pesan manusia daripada pesan Allah, enggan dengan Al-Qur’an, sibuk di grup A, ada pesan apa, siapa kirim foto, ada berita hits apa hari ini? Inilah fenomena yang disebut dengan syndrome Nomophobia, yaitu ketakutan seseorang ketika tidak memegang handphone/smartphone. 

Fenomena ini akan sedikit kita bahas di blog ini dan di akhir kami ketengahkan juga pengalaman kami hidup tanpa HP ketika di pesantren. 

Kemajuan teknologi telah membuat perubahan dan loncatan besar pada peradaban manusia, khususnya generasi masa kini. Smartphone adalah salah satu wujud dari daya ungkit peradaban manusia tersebut.

Peradaban manusia masa kini telah mengalami perubahan karakter yang sangat drastis yang diakibatkan oleh kehadiran benda kecil hasil dari kemajuan dan loncatan teknologi tersebut.

Banyak kemudahan dan kemajuan yang bisa dicapai berkat kehadiran smartphone. Namun bak pedang bermata dua, kehadirannya juga disertai berbagai pengaruh negatif.

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili pernah memberikan nasehat kepada orang yang kecanduan dengan smartphone sampai melupakan kewajiban kepada anak dan istri. Beliau memberikan satu kaedah bahwa sesuatu yang bisa melengahkan dari kewajiban hukumnya haram dan sesuatu yang bisa melengahkan dari keutamaan hukumnya makruh.

Jika seseoarang terlalu sibuk dengan smartphone dan sosial media dan lalai menunaikan kewajiban syar’i kepada anak dan istri atau seorang pegawai yang lebih asyi dengan smartphone ketimbang melakukan kewajiban pekerjaan maka seperti ini tidak boleh dan bisa menjurus kepada keharaman.

Atau seseorang yang mementingkan smartphone dari mengejar keutamaan, seperti kuat berlama lama di smartphone tapi jarang membaca Al-Quran, padahal kalau sekiranya waktu yang terbuang dimanfaatkan untuk membaca Al-Quran, sudah beberapa lembar dan beberapa juz dia dapat.

lalu beliau memberikan nasehat bahwa smartphone dan sosial media jika digunakan dengan baik bisa mendatangkan manfaat yang baik pula, hendaknya kita berhati-hati saat menggunakannya agar tidak melalaikan dari kewajiban karena Allah Swt melihat semua gerak gerik kita.

 

Seperti inilah gambaran kehidupan rumah tangga yang istri, suami bahkan anak anak selalu bermesraan dengan handphone.

Sampai kapan kita terus bermesraan dengan handphone? Kebiasaan ini akan berdampak buruk suatu saat nanti ketika kita sudah berumah tangga. Mana yang lebih penting, anak, suami, istri atau ponsel kita?

Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “Lima Bahasa Cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi. Lebih tepatnya jika anak membutuhkan, maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.

Anak memiliki kebutuhan yang hanya bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Anak butuh mendapatkan rasa aman, butuh penerimaan dan cinta, butuh untuk dikontrol. Namun bagaimana kebutuhan ini terpenuhi jika orang tuanya, terutama ibunya selalu sibuk untuk BBM, Chat, Line atau melakukan hal-hal apapun dengan handphone sepanjang waktu.

Menurut Kerry Patterson, penulis terlaris New York Times, empat dari lima orang percaya bahwa komunikasi yang buruk memainkan peranan penting dalam terputusnya hubungan.

Therapist Nancy B. Irwin mengatakan bahwa konflik sering muncul akibat dari komunikasi yang tidak tersalurkan, harapan yang tidak terpenuhi atau niat yang terhalangi.

Maka penggunaan handphone yang tidak mengenal waktu juga akan mengganggu proses komunikasi antara suami istri. Bisa-bisa kita lebih sering bermesraan dengan handphone daripada suami atau istri.

Nomophobia

Nomofobia (bahasa Inggris: Nomophobia, no-mobile-phone phobia) adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak mempunyai telepon genggam (atau akses ke telepon genggam).Istilah ini pertama kali muncul dalam suatu penelitian tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov yang meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam.

Studi tersebut menemukan bahwa 58% pria dan 47% wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman ketika mereka “kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan”, dan 9% selebihnya merasa stres ketika telepon genggam mereka mati. Separuh di antara mereka mengatakan bahwa mereka gelisah karena tidak dapat berhubungan dengan teman atau keluarga mereka jika mereka tidak menggunakan telepon genggam mereka. (wikipedia)

Secara sederhana pengguna smartphone merasa mendapatkan sesuatu hal yang baru dan sesuai dengan apa yang diharapkanya. Tanpa sadar pengguna smartphone memiliki rasa puas ketika kebutuhan tersebut dikabulkan smartphone dan sulit melepaskan diri dari smartphone.

Di Inggris, perusahaan survey merilis bahwa warganya 66 persen mengalami nomophobia. Biasanya para pengguna mengecek ponselnya dalam sehari sebanyak 34 kali, dan 41 persen memiliki lebih dari satu ponsel. Sementara di Australia 9 dari 10 pengguna ponsel mengaku merasa gelisah bila jauh dari ponselnya. Bagaimana dengan Indonesia? Sebuah survei membuktikan 69% penduduk Indonesia mengidap Nomophobia.

Nomophobia Syndrome bisa dilihat dari gejala yang dialami seperti dibawah ini :

  • Anda selalu ingin dekat dengan gadget yang anda miliki yaitu smartphone anda.
  • Setiap kegiatan yang anda lakukan tidak akan terasa menyenangkan jika anda jauh dari smartphone yang anda miliki.
  • Anda akan merasa panik jika keadaan dari baterai smartphone anda lowbat dan ingin segera mengisi daya pada baterai anda tersebut.
  • Kurangnya sosialisasi berhadapan secara langsung karena cenderung anda lebih senang dengan smartphone anda dan hanya ingin bersosialisasi via jejaring social media saja.
  • Game addicted (kecanduan game)
  • Sindrom FoMO (Fear of Missing Out) atau lebih dikenal sebagai ketergantungan.

Berikut ini adalah beberapa efek negatif dari nomophobia yang berhasil saya rangkum:

  • Stres. Penderita nomophobia memiliki kecenderungan terhadap tingkat stres yang tinggi.
  • Kurang Fokus. Penderita nomophobia akan memiliki keterikatan dengan gadget yang sangat kuat. Hal ini lah yang menyebabkan pikiran orang tersebut akan selalu fokus dengan gadgetnya, meskipun dia sedang melakukan aktifitas lain.
  • Anti sosial. Penderita nomophobia menghabiskan lebih banyak waktu dengan membuka jejaring sosial atau bermain di ponsel pintarnya. Mereka akan terjebak dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan di dunia maya.
  • Insomnia. Salah satu efek stres akibat nomophobia bisa diekspresikan dalam bentuk gejala insomnia. Rasa tidak mau berpisah dengan ponsel pintar memberi instruksi kepada otak untuk terus menerus memikirkannya sehingga mengusir rasa kantuk.
  • Lebih banyak menghabiskan waktu menatap layar handphone dibandingkan dengan menatap lawan bicara dan tidak konsentrasi pada pekerjaan.

Apakah anda seorang Nomophobia? Silahkan coba tes dibawah ini, hitung hasilnya dan lihat berapakah skor anda, apakah nomophobia atau bahkan sampai addict?

score nomophobia

Kisah Seorang Nenek

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili menceritakan kekagumannya terhadap seorang nenek yang memiliki beberapa anak. Ketika anak-anaknya mengunjungi mereka dan melihat mereka bermain HP atau membaca SMS maka di depan pintu rumahnya dia siapkan satu keranjang dan ia katakan pada anak-anaknya, “Siapa yang ingin masuk rumahku, letakkan handphone disini, masuk bersamaku dan bercakap bersamaku, jika sudah selesai baru boleh mengambil handphone”.

Kisah di atas memberikan satu pelajaran penting bagaimana membatasi diri dengan handphone, yaitu dengan membuat kesepakatan dan perjanjian ketika berkumpul keluarga jangan ada yang bermain HP atau ketika dalam pertemuan atau ketika nongkrong buat kesepakatan tidak boleh memegang handphone kecuali penting seperti ada telpon dari rumah atau orang tua.

source: khaerulleon.com

Peraturan Khas Pesantren, Larangan Membawah Handphone

Saya pernah jadi santri, dan menurut saya peraturan tidak boleh bawa HP adalah suatu hal yang wajar. Malah rata-rata disemua pondok pesantren pasti tidak membolehkan santrinya membawa HP. Pokoknya yang pernah nyantri pasti peraturan ini.

Di Pesantren program berasrama membiasakan para santri untuk tidak banyak bergaul dengan HP, mereka tidak boleh membawa HP ke pesantren dan jika ada orang tua yang ingin berbicara dengan anaknya, silahkan menelpon ke No HP pesantren yang sudah disiapkan untuk komunikasi antara santri dan wali santri. Keadaan demikian sangat baik untuk menunjang konsentrasi dan fokus anak belajar.

Sanksi tegas diberikan untuk santri yang dengan sengaja membawa Handphone ke pesantren, biasanya disita oleh ustadz dan baru dikembalikan ketika santri akan pulang liburan, kalau masih ngeyel dan supaya jadi pelajaran bagi yang lain kadang handphone dibanting di depan teman-temannya.

Saya baru kenal HP setelah lulus Aliyah di Nurul Hadid, Cirebon, peraturan disana persis seperti yang saya ceritakan di atas. Lulus dari Aliyah saya bertugas mengajar di Semarang di pesantren Darur Robbani, Nggentan, nah baru di tempat ini saya kenal HP, saya dapat amanah memegang ponsel pesantren yang waktu itu masih Nokia jadul yang super tebal itu, kalau ada santri yang ingin telpon ke orang tua, urusannya ke saya.

Di beberapa pesantren, sekalipun sudah diumumkan larangan membawa Hp masih ada saja yang melanggar, dan santri pintar sekali menyimpan Hp mereka di lemari atau di tempat yang tidak ada yang tahu kecuali dia dan Allah Swt 🙂

Ada satu pesantren yang jauh dari sinyal HP dan ini malah jadi kelebihan pesantren ini yaitu Pesantren Luqman Al-Hakim di desa Prampelan, Adipuro, Magelang, desa tempat saya lahir. Di tempat ini susah sekali mendapatkan sinyal karena posisinya yang paling tinggi, di atasnya sudah tidak ada desa lagi. Karena susah sinyal maka para santri disana bisa fokus belajar dan menghadal Al-Quran, dan beberapa wali santri ingin memasukkan santrinya kesini salah satu alasannya karena jauh dari jangkauan sinyal, sehingga hasil didikannya dan hafalannya lebih mantap.

Sekian. Semoga kita bisa belajar lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

 

Lapor SPT Pribadi Lewat Pos


bangga-pajak1

Demi kepentingan membentuk yayasan ICD Peduli Bangsa, yayasan yang menaungi Islamic Character Development-ICD saya membuat NPWP atau nomor pokok wajib pajak, yaitu nomor yang diberikan kepada wajib pajak (WP) sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Otomatis karenya punya NPWP, saya harus urus SPT tahunan, dan tahun ini kali pertama saya mengurus SPT. Saya membuat NPWP di KPP Magelang dan karena aktifitas saya di Jakarta, saya akan mengurus SPT di KPP di Jakarta, ternyata ada aturan baru mulai tahun 2017 kalau SPT daerah harus dikirim ke daerah.

Formulir SPT saya No 1770 itu untuk penghasilan dibawah 60 juta setahun, seperti gaji saya yang masih dibawah UMR dibawah 20 juta pertahun. Yang penting bagi saya lapor pajak saja, pasti semua nihil,nihil. Juga sebagai bentuk kepatuhan warga negara terhadap pajak.

Alhamdulillah, waktu saya membukan website pajak.go.id, saya mendapatkan keterangan kalau kita bisa melaporkan SPT Pribadi via kantor pos atau melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengiriman SPT via pos antara lain :

  • Penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan Surat Tercatat (Bukti Pengiriman atau Tanda Terima), yakni satu 1 Surat Tercatat hanya berlaku untuk satu Surat Pemberitahuan.
  • Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat untuk penyampaian Surat Pemberitahuan dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan sepanjang Surat Pemberitahuan tersebut telah lengkap.
  • Tanggal yang tertera dalam Surat Tercatat adalah tanggal pelaporan SPT Anda. (misalnya dalam Surat Tercatat ditulis tanggal 31 Maret 20016, maka tanggal pelaporan Anda adalah tanggal 31 Maret 2016)
  • Jangan pernah menghilangkan Bukti Pengiriman (Surat Tercatat) Anda. Karena Bukti Pengiriman tersebut merupakan Bukti Pelaporan Anda.
  • SPT yang disampaikan melalui pos tercatat  atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dilakukan dalam amplop tertutup yang telah dilekati lembar informasi amplop.

SPT Tahunan yang isinya sesuai dengan  Pasal 2 ayat (5) PER-29/PJ/2014 sebagai berikut :

Penyampaian SPT Tahunan melalui pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c dilakukan dalam amplop tertutup yang telah diberikan label lembar informasi amplop SPT Tahunan yang berisi data sebagai berikut:

  1. Nama Wajib Pajak;
  2. Nomor Pokok Wajib Pajak;
  3. Tahun Pajak;
  4. Status SPT Tahunan (Nihil/Kurang Bayar/Lebih Bayar);
  5. Jenis SPT Tahunan (SPT Tahunan/SPT Tahunan Pembetulan Ke-…);
  6. Nomor Telepon;
  7. Pernyataan; dan
  8. Tanda Tangan Wajib Pajak.

Lembar informasi amplop SPT bisa diunduh disini.

Semoga informasi ini bermanfaat. Oh ya, 31 Maret 2017 — adalah batas akhir pelaporan SPT Tahunan 2016. Tapi itu untuk SPT Tahunan PPh Orang Pribadi yah. Sedangkan untuk PPh Badan, batas waktunya adalah empat bulan sejak berakhirnya tahun atau tepatnya pada tanggal 30 April 2017.

Siang ini saya coba mengirimkan SPT dari kantor pos Setu Babakan, Jagakarsa. Sampai dikantor pos saya tanya ke pak pos, lembar informasi amplop ditempel di luar amplop atau dimasukkan di dalam amplop?  Oleh pak pos saya diarahkan untuk memasukkan lembar informasi amplop di dalam amplop dan menulis alamat tujuan di amplopnya. 

Cara ini sedikit berbeda dengan keterangan yang saya cantumkan di atas ya, tapi gak papa yang penting kirim saja. 

Jadinya seperti ini. 


Setelah selesai simpan bukti pengiriman sebagai bukti pelaporan kita. 


Sekian.

 

Tentang Adab Dalam Berbeda Pendapat


seri keduanya disini

Selesai menyimak ceramah KH Hasyim Muzadi, mari menyimak juga kisah Imam Syafi’i dan muridnya.

Suatu hari salah satu murid Imam Syafie yaitu Yunus bin Abd Ala berbeda pendapat dengan Imam Syafie (Muhammad Idris As-Syafi’i)  saat belajar di Masjid. Lalu ia marah dan meninggalkan pelajaran kembali ke rumahnya.

Tibalah malam hari lalu Yunus mendengar ketokan pintu di rumahnya. Bertanyalah Yunus “Siapakah gerangan yang mengetok pintu?”

Pengetuk pintu menjawab “Saya Muhammad bin Idris, Yunus bercerita “Aku berpikir bahwa tidak ada yang bernama Muhammad bin Idris selain Imam Syafi’i. Dan aku terkejut..saat aku buka pintu maka kulihat ternyata benar Imam Syafi’i.

Beliau berkata

“Wahai Yunus kita sering sepaham bersatu dalam banyak masalah lalu kenapa menjadi pecah hanya karena satu masalah.

Wahai Yunus! Jangan kamu perjuangkan agar kamu menang dalam segala perbedaan pendapat, kadang kemenangan HATI lebih mulia dan penting daripada kemenangan sikap berpendapat.

Wahai Yunus! Jangan engkau hancurkan bangunan jembatan yang telah engkau bangun dan lewati. Kadang kamu membutuhkan saat kamu kembali. Kalaupun ada kesalahan bencilah kepada kesalahan Jangan benci kepada yang berbuat kesalahan. Ingkari hati terhadap kemaksiatan tapi maafkan dan sayanglah kepada orang yang berbuat kemaksiatan

Wahai Yunus kritiklah esensi perkataan (pendapat) tapi hormatilah yang bicara. Tugas kita adalah mengobati penyakit, memerangi penyakit bukan memerangi orang sakit.”

Sekian.
Terima kasih

%d bloggers like this: