Self Regulated Leader


Allah telah memberikan manusia untuk berkembang dan maju, menjadi makhluk Allah yang paling baik dan menjadi Khalifah Allah di muka bumi untuk memakmurkan dunia.

Allah menundukkan bumi, langit dan semua yang di alam untuk kepentingan manusia. Sebagaiana firman Allah “..” Qs. Alhijr: 29. Akan tetapi, manusia sering lupa dari tugasnya dan lalai dengan kemampuan sehingga menjadi makhluk yang rendah (asfala saafiliin).

Dunia cepat sekali berubah. Dan mempersiapkan masa depan berarti secara aktif menciptakannya: masa depan bukanlah hal yang tak terelakkan atau sesuatu yang kita hadapi.

Ada hubungan timbal balik antara masa depan dan apa yang kita inginkan, dan kita harus secara sengaja memilih untuk membangun realitas yang ingin kita alami.

Kita melihat tren global dan pengaruhnya mampu menciptakan masa depan, namun sebenarnya terserah kita untuk memilihnya tanpa harus mengikuti tren dan orang lain.

Manusia menjadi khalifah /self regulated untuk dirinya sendiri. Dia mampu mengindentifikasi kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Jika dia tidak tahu sesuatu hal, dia paham harus berbuat apa, pergi kemana dan bertanya kepada siapa.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 18 yang menjelaskan tentang self regulated, sebagaimana berikut:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sesuai firman Allah dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18 tersebut menekankan adanya perencanaan yang baik dalam diri manusia atas segala tindakan selama di dunia, sehingga ia akan mendapatkan keselamatan di akhirat nanti. Guna membuat perencanaan yang baik hendaknya memenuhi hal hal berikut:

  1. Perencanaan melibatkan proses penetapan keadaan masa depan yang diinginkan.
  2. Keadaan masa depan yang diinginkan dibandingkan dengan kenyataan sekarang, sehingga dapat dilihat kesenjangannya.
  3. Menutup kesenjangan perlu dilakukan usaha-usaha.
  4. Usaha untuk menutup kesenjangan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai ikhtiar dan alternatif.
  5. Perlu pemilihan alternatif yang baik, dalam hal ini mencakup efektivitas dan efisiensi.
  6. Alternatif yang sudah dipilih hendaknya diperinci sehingga dapat menjadi petunjuk dan pedoman dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan.

Menutup tulisan ini saya mengutip perkataan Aldous Huxley berikut;

“There’s only one corner of universe you can be certain of improving, and that’s your own self. So you have to begin there, not outside, not on other people. That comes afterward, when you’ve worked on your own corner”

Shalat Berjamaah


Kalau kita selama ini tidak pernah mampu melalui cobaan-cobaan dunia baik berupa kefakiran hati maupun harta, mengapa kita meninggalkan jamaah shalat? Mengapa masa depan kita tidak kita usahakan dan pastikan dengan selalu berjamaah?

Melihat jaminan Allah yang begitu hebat bagi kehidupan dunia dan akhirat, para kyai sepuh bahkan dalam menganjurkan berjamaah sampai berkata, “Kalau perlu membayar orang untuk membantu shalat kita agar terhitung jamaah!”. Berapapun harta yang kita keluarkan tidak akan sebanding dengan jaminan Allah yang begitu besar dan bernilai.

Dengan berjamaah, kita tidak saja mendapatkan jaminan kehidupan dari Pencipta, kitapun mampu membangun hubungan ruh dengan pasangan, sehingga pernikahan kita tidak terbatas oleh jasad saja tetapi juga diwarnai oleh kecintaan ruhani. Mencintai pasangan karena Allah akan menumbuhkan ketenangan dan ketentraman hati.

Dengan shalat berjamaah kita melakukan pendekatan diri kepada Allah. Dengan berbekal kedekatan kita kepada Allah, segala kebutuhan kita Insya Allah akan dicukupinya.

Berumah tangga ibarat naik kapal layar berdua, lautan tidak selalu tenang, lebih sering ombak dan badai menyapa. Dalam berumah tangga permasalah selalu ada, dan harus dihadapi bukan ditinggalkan.

Sahabat Ali ra dan Fatimah ra pun pernah mengalami masalah dalam rumah tangga mereka, diceritakan oleh Sahl bin Saad, bahwasanya Rasulullah SAW pernah datang ke rumah Fathimah. Namun, beliau tidak mendapati Ali. Beliau pun bersabda, “Di mana putra pamanmu?” Fathimah menjawab, “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia. Ia marah, lalu keluar dan tidak qoilulah (tidur siang) di sisiku.”

Kemudian Nabi SAW berkata kepada seseorang, “Coba cari, di mana dia?” orang tersebut datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ia sedang tidur di masjid.” Nabi pun datang, dan saat itu Ali sedang berbaring. Sementara kainnya telah terjatuh dari sisinya dan debu telah mengenai dirinya. Nabi SAW membersihkan debu tersebut dan bersabda, “Bangunlah wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab,” (Muttafaq alaih).

Pelajaran menarik dari Hadits ini adalah ketika mendapati masalah segera datang ke tempat yang baik, bukan diskotik atau tempat kongkow tapi masjid yang disana tempat bersujud dan diberkahi.

Setiap orang punya masalah yang dihadapi. Suasana yang sedang runyam seperti ini, alangkah indah jika ditundukkan dengan Shalat.

Jika kita ingin Allah membantu di dalam situasi sulit. Solusi untuk melarikan diri dari kesulitan itu jelas: berpegang pada Shalat Wajib, khususnya peliharalah solat subuh dengan berjamaah. Dan tambah dengan ibadah solat di sepertiga malam, jika kita ingin berakhir di posisi yang dimuliakan.

Ketika kita lakukan ini, jangan berpikir Allah seketika melepaska dari masalah. Dia akan membawa kita keluar dari masalah dan memasukan kedalam hal yang hebat. [ ]

Twitter: @JumalAhmad

Usia Khadijah ketika Menikah dengan Muhammad SAW


Terdapat dua pendapat masyhur usia Khadijah ketika menikah yaitu 40 tahun menurut riwayat Al-Waqidi dan 28 tahun menurut riwayat Ibnu Ishaq. Makalah ini memaparkan riwayat dan pendapat tentang periwayatan hadits di atas dan menyimpulkan riwayat Al-Waqidi lebih bagus. Produktifitas wanita dalam melahirkan tidak menjadi alasan dengan kelebihan wanita Arab khususnya Quraisy dalam melahirkan.

PDF Lengkap di Researchgate

Analisa Kebijakan Pendidikan Agama Islam pada Masa Belanda, Jepang dan Orde Lama


Abstrak

Makalah ini dilatarbelakangi ketertarikan penulis terhadap kajian kebijakan pendidikan Islam pada zaman Belanda, Jepang dan Orde Lama. Kesimpulan makalah ini bahwa keberadaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum mengalami perjalanan panjang dan rumit seiring dengan kondisi sosial politik yang menyertai.

Di masa Belanda pendidikan agama tidak mendapatkan peluang diajarkan di sekolah pemerintah dengan alasan pemerintah bersikap netral dan diskriminatif dengan munculnya ordonansi guru dan ordonansi sekolah liar. Kebijakan Jepang lebih lunak dengan mengizinkan pendidikan agama diajarkan di sekolah. Setelah Indonesia merdeka, secara perlahan posisi PAI di sekolah umum menguat, dari sebelumnya sebagai mata pelajaran pelengkap, tidak wajib, dan tidak menentukan kenaikan kelas, menjadi mata pelajaran inti di setiap jenjang pendidikan.

 

Kata Kunci: pendidikan Islam, sejarah, politik

Full Text PDF di ResearchGate

Merubah Settingan Penulisan dari Kanan ke Kiri di WordPress


WordPress sudah melakukan update terbaru di sistemnya dengan menambahkan settingan penulisan dari Kanan ke Kiri seperti penulisan Arab dan Hebrew.

Tentunya ini mempermudah saudara kita daerah Timur Tengah untuk menulis dengan style mereka.

WordPress secara otomatis akan mendeteksi bahasa yang digunakan dan merubah tampilan bahasanya. Jika anda yang merubah sendiri juga bisa yaitu membuka opsi berikut: Me → App Settings → Interface Language.

Halaman di dashboard tidak akan berubah menjadi settingan Kanan ke Kiri, tapi ketika melihat hasil tampilan blog, nampak seperti di bawah ini.

Settingan Bahasa dari Kanan ke kiri: Bahasa Arab. Terlihat jelas beberapa settingan Twitter, category dan lainnya menjadi bahasa Arab.

Semoga informasi sederhana ini bermanfaat untuk teman WP dimanapun berada.

Karakteristik Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif


Quant+Qual+Cartoon+@MattPLavoie

Meme di atas bisa menggambarkan bagaimana perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Ketika memulai penelitian skripsi atau tesis terkadaang kita dipusingkan dengan design penelitian kita, kualitatif atau kuantitatif. Akan lebih mudah jika kita sudah bisa menentukan judul penelitian dalam tiga suku kata, misalnya, saya akan meneliti tentang: Cerai Gugat dalam Islam, Sejarah Ulama di Kuningan Abad IXX, Refleksi dalam Pendidikan Agama Islam. Kemudian dicarikan induk dari judul ini apakah filsafat, manajemen atau sejarah. Dari judul kita bisa mengetahui jenis penelitian yang digunakan apakah Kualitatif atau Kuantitatif.

Lebih jelas lagi bisa kita ketahui dari karakteristik penelitian kualitatif dan kuantitatif berikut ini:

Karakteristik penelitian Kualitatif

  1. Menjawab masalah khusus yang diangkat dari konteks penelitian.
  2. Masalah khusus dalam penelitian disebut fokus.
  3. Fokus yang diteliti lebih mengarah pada proses daripada hasil.
  4. Meneliti fokus yang sifatnya unik.
  5. Menggunakan latar penelitian yang alamiah.
  6. Manusia (peneliti) sebagai alat atau instrumen kunci dalam pengumpulan data.
  7. Rancangan penelitian bersifat sementara.
  8. Tidak mengajukan hipotesis sebelumnya.
  9. Tidak menggunakan konsep sampel.
  10. Pemberi informasi disebut informan.
  11. Pengamatan, wawancara, dan analisa dokumen sebagai teknik utama dalam pengumpulan data.
  12. Data bersifat kualitatif.
  13. Analisis data secara induktif.
  14. Kredibilitas, transferabilitas, auditabilitas, dan konfirmabilitas dalam melihat keabsahan data.
  15. Analisis data dan pelaporannya bersifat deskriptif
  16. Teori dari dasar (grounded theory).

scale

Karakteristik penelitian Kuantitatif

  1. Menggunakan pola pikir deduktif, yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara menggunakan konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan fenomena yang bersifat khusus.
  2. Logika yang dipakai adalaha logika positivistik dan menghindari hal-hal yang berdifat subjektif.
  3. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
  4. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyusun ilmu nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hukum-hukum dari generalisasinya.
  5. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang dipakai sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
  6. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat yang objektif dan baku.
  7. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian, dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek penelitian.
  8. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
  9. Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks waktu dan situasi.

QualitativeVQuantitative

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat, khususnya buat teman-teman yang akan menulis skripsi, tesis atau disertasi.

Abstrak Mazhab Ciputat


Abstrak adalah ringkasan singkat dari sebuah proyek penelitian. Abstrak berfungsi sebagai ringkasan dari penelitian sehingga makalah atau karya tulis Anda dapat dikategorikan dan dicari kata kuncinya. Abstrak merupakan bagian penting dari laporan Anda karena abstrak mungkin merupakan bagian yang dibaca oleh orang-orang yang ingin mengetahi karya tulis ilmiah anda.

Abstrak merupakan gambaran yang menyediakan pembaca sebuah poin utama dan hasil dari karya tulis ilmiah anda. Abstak juga bisa dikatakan sebagai ringkasan dari esensi laporan. (John W Cresswel dalam Research Design Qualitative, Quantitative and Mixed Method)

Prof. Dr. Suwito, ahli pendidikan di UIN Jakarta merupakan salah satu dosen di SPs UIN yang aktif mengemukakan kritikan terhadap dunia pendidikan termasuk dalam penelitian tesis dan disertasi. Menurutnya, dunia pendidikan di di Indonesia bahkan di dunia cederung mandek lantaran tidak sampai menghasilkan teori yang baru.

Pada waktu kepengurusan SPs oleh Prof Azyumardi Azra, Prof Suwito menjadi pembantu rektor bidang akademik yang mendukung segala persoalan teknis terkait pendidikan.

Disebutkan oleh Prof Atho Mudzhar dalam sambutan buku otobiografi Prof Suwito. Beliau dikenal orang yang tekun dan disiplin sehingga mampu menguasai banyak ilmu pengetahuan. Contohnya, beliau menjadi mahasiswa pendengar /mustami’ di semua mata kuliah pascasarjana (Prof Atho, Prof Malik Fajar termasuk juga Prof Azra) selepas beliau merampungkan tugas perkuliahan untuk program doktornya. Beliau dikenal piawai membuat peraturan peraturan dan membuat regulasi dalam Pendidikan tinggi. Salah satu regulasi yang sekarang ingin beliau terapkan adalah tentang penulisan abstrak proposal penelitian.

Beliau bersama Prof Fuad Jabali mendapatkan bahwa model presentasi di saat ujian proposal, ujian tesis atau disertasi sangat deskriptif, tidak to the point, dan terlalu bertele-tele. Akhirnya bersama Prof Fuad, beliau bersama mengubah model presentasi atau abstrak hendaknya memuat poin-poin berikut:

  1. Rencana kesimpulan.
  2. Persamaan dan perbedaan dengan kesimpulan para akademisi atau peneliti lainnya.
  3. Sumber bahan dan cara membaca/ metodologi.

Dengan model abstrak seperti ini, pembaca bisa memahami dimana tema keilmuan penulis tesis/disertasi, dan bagaimana membuktikan posisi akademik tersebut.

Prof Suwito membuat perubahan sistem abstraksi dengan menambahkan persamaan dan perbedaan dengan peneliti lainnya, agar nampak novelti dari peneliti. Karena dibuat oleh dosen SPs di Ciputat, maka saya menyebut ini dengan model Abstrak Mazhab Ciputat.

Tesis dan disertasi merupakan momok yang kadang mengerikan di kalangan mahasiswa, bahkan penyelesaian tesis atau disertasi harus diselesaikan dengan “berdarah-darah”.

Di antara hal yang sering beliau kritik adalah tentang pembuatan abstrak penelitian, dimana menurut beliau:

Kesimpulan bukanlah:

  1. Ringkasan, atau
  2. Laporan, atau
  3. Saran, atau
  4. Penilaian, atau
  5. Uraian

melainkan “pernyataan/statement yang berisi teori/kaidah/hukum/dalil”

Kesimpulan bukanlah laporan tentang obyek, tetapi proses apa yang terjadi, dan proses yang terjadi pada obyek penelitian tersebut yang menjadi kesimpulan berupa temuan dalam penelitian. Tulisan yang layak dibaca secara akademis, merupakan tulisan yang secara akademik diperdebatkan, maka jurnal internasional dalam bahasa Arab atau Inggris menjadi wajib sebagai rujukan, bukan hanya itu, cara penulisan, pembagian bab dan hal-hal detil lainnya wajib diikuti.

Beberapa contoh kesimpulan yang sering Prof Suwito sampaikan:

  1. Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya yang disebut gaya apung (gaya ke atas) sebesar be rat zat cair yang dipindahkannya (Hukum Archimides)
  2. Jika resultan/hasil pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap (Hukum Newton 1)
  3. Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya (Hukum Newton 2)
  4. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, jika suatu benda memberikan gaya pada benda yang lain maka benda yang terkena gaya akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan gaya yang diterima dari benda pertama, tetapi arahnya berlawanan (Hukum Newton 3)
  5. Stimulasi eksternal lebih berpengaruh dibanding pembawaan (Empirisme, John Locke 1704-1932).
  6. Stimulasi internal lebih berpengaruh dibanding stimulasi eksternal (Nativisme, Schopenhauer 1788-1860)
  7. Pembawaan anak adalah baik. Pembawaan baik dapat rusak oleh faktor lingkungan (JJ. Rousseau 1712-1778)
  8. Faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama memiliki peran dalam mempengaruhi perkembangan anak/manusia (William Stern 1871-1939)

Dalam suatu perkuliahan di SPs UIN tentang Metodologi Penelitian, Prof Suwito mengajak siswa membuka file-file tesis dan disertasi di SPs dan mengkritisinya:

  1. Silakan akses contoh abstrak di artikel Jurnal, tesis, disertasi, atau lainnya via internet.
  2. Cermati, apakah kesimpulan yang ada benar-benar kesimpulan ataukah kesimpulan yang berupa ringkasan, laporan, saran, penilaian, ataukah uraian.
  3. Apakah dalam abstrak tersebut terdapat perdebatan akademik yang berisi perbedaan dan persamaan kesimpulan dari para peneliti lain yang terbaru?
  4. Apakah dalam abstrak dijelaskan metodologi secara jelas dan benar?

Langkap Penyusunan Proposal

  1. Kumpulkan referensi dari jurnal internasional (Indo, Arab, Inggris) terbaru tentang tema sesuai keahlian. Jangan dipusingkan dengan judul penelitian.
  2. Buat ringkasan masing-masing referensi dan menyimpulkan satu teori atau kaidah.
  3. Buat rancangan abstrak berdasarkan hasil bacaan.
  4. Buat propsal lengkap dengan mengacu kepada abstrak.
  5. Jangan lupa, tokoh-tokoh yang disebut dalam abstrak merupakan acuan utama proposal.
  6. Mulailah menulis proposal dengan mengomentari hasil penelitian terbaru yang relevan dengan tema yang tercantum dalam asbtrak.

Tips Menulis Abstrak:

  1. Perlu melaui banyak revisi atau pembenaran untuk dapat menghasilkan suatu abstrak yang bagus
  2. Temukan isi pokok dalam penelitian anda, lalu jelaskan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami
  3. Selau gunakan kata kunci penting yang sesuai dengan bidang penelitian anda
  4. Jangan membuat abstrak yang terlalu rinci
  5. Jangan pernah sungkan untuk bertanya pada yang lebih menguasai.

Contoh Membuat Rumusan Masalah

  1. Buatlah rumusan masalah yang menghasilkan suatu teori. Contoh: “Benarkah masyarakat yang termarginalkan cenderung radikal?”
  2. Untuk membantu menjawab permasalahan tersebut dapat dibuat pertanyaan yang sifatnya teknis. Contoh:

– Bagaimana situasi dan kondisi ekonomi pada masyarakat …?

– Apa saja faktor yang menyebabkan masyarakat tersebut tidak respek terhadap Pemerintah?

– Dan seterusnya…

Pertanyaan-pertanyaan ini berguna untuk menyusun outline.

  1. Apa judul penelitian untuk permasalahan di atas? Jangan menggunakan istilah yang ada pada rumusan masalah. Alternatif judul: 1) Masyarakat Suku Badui tahun 2002. 2) Masyarakat Islam di …. Kamlimantan Utara, atau lainnya.

Cara Menulis Kesimpulan pada Bab Akhir (Penutup) Karya Ilmiah

  1. Tulislah kesimpulan pada alinea pertama (I)
  2. Tulislah mulai alinea kedua (II) dan seterusnya “bukti-bukti yang mendukung kesimpulan” yang diperoleh dari hasil penelitian.

Membuat kesimpulan seperti yang diarahkan Prof Suwito tidaklah gampang, butuh waktu dan latihan terus menerus. Sekian sharing ilmu dari saya dan terima kasih atas perhatiannya.

Sumber:

  • Mungkin Segalanga Mungkin, Otobiografi Prof Suwito
  • Mata Kuliah Pendekatan Studi Islam bersama Prof Suwito
%d bloggers like this: