Kuantifikasi Pahala


Sering terdengar dari atas mimbar bahwa siapapun yang timbangan pahalanya lebih berat dari pada dosanya maka ia akan masuk surga. Sebaliknya, jika dosanya lebih berat dari pahalanya maka ia akan masuk neraka.

Pernyataan ini bersifat aksiomatis atau dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian dan memiliki konsekuensi yang sangat berat, namun hampir tidak terlihat efek langsung dalam kehidupan muslim. Maka diperlukan suatu metode agar aksioma ini memiliki efek motivasi dalam kehidupan sosial. Salah satu metodenya adalah “Kuantifikasi Pahala”.

Gagasan ini perlu diperkenalkan karena umat Islam sering meremehkan kuantifikasi pahala dalam berbagai teks Alquran dan Hadis. Sementara, surga yang menjadi tujuan akhir umat Islam mensyaratkan tingginya jumlah pahala dibandingkan dengan jumlah dosa (QS. al-Qari’ah/101:6-9).

Pernahkah kita menyadari seberapa mungkin pahala shalat kita mampu mengantar kita kepada surga? padahal Hadis Rasulullah Saw selalu mengingatkan kita untuk menghitung-hitung prestasi pahala yang kita perbuat (hasibu anfusakum qabla an tuhaasabu).

Misalnya, kita menghitung rumus kuantifikasi pahala shalat seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw. “Shalat berjama’ah lebih baik 27 derajat dibandingkaa dengan shalat sendirian”. Begitu juga rumus kuantifikasi pahala membaca al-Qur’an dalam shalat, seperti hadis yang diriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib, “Siapapun yang membaca Alquran dalam shalat maka untuk setiap hurufnya ia mendapatkan 100 pahala kebaikan, di luar shalat dengan wudhu mendapatkan 25 pahala kebaikan, di luar shalat tanpa wudhu mendapatkan 10 kebaikan”.

Jika diasumsikan, bahwa seorang yang mendirikan shalat wajib 5 x sehari yang terdiri dari 17 rakaat dan dalam shalatnya membaca al-Fatihah (139 huruf), surah al-Kafirun (95 huruf) pada rakaat pertama dan surah al-Ikhlas (47 hururf) pada rakaat kedua kemudian setiap hurufnya dikalikan 100, berdasarkan hadis di atas, maka dapat dihitung dengan matematika sederhana seperti berikut: (r x fh)+(r x kh)+(r x ih) x 100 = x, di mana r = rakaat h=huruf f=al-Fatihah, k=al-Kafirun , i=al-Ikhlas dan. Jadi (17 x 139)+(5 x 95)+(5 x 47) x 100 = (2363+475+235) x 100 = 3073 x 100 = 307.300. Hasil ini, jika dikalikan dengan 1 tahun (365 hari) maka didaptkan angka 112.164.500. Jika setiap orang rata-rata berumur 60 tahun maka 112.164.500 x 60 = 6.728.870.000. Belum lagi jika shalat yang didirikan secara berjamaah (27 kali lipat) maka 6.728.870.000 x 27 = 181.706.490.000.

Kemudian, jika shalat tersebut dilakukan dalam Bulan Ramadhan maka 181.706.490.000 x 2 = 363.412.980.000 Bahkan, jika shalat tersebut dilakukan di depan Ka’bah meskipun hanya 1 kali maka pahalanya lebih baik dari seisi Bumi. Hitunglah berapa besar diameter Bumi, lalu berapa kebaikan material yang disiapkan oleh Allah di permukaan dan dalam perut Bumi. Hingga di situ, mesin penghitung yang saya gunakan tidak mampu lagi menampung angka-angkanya. Subhanallah, hitungan di atas baru sebatas bacaan al-Qur’an dalam shalat dengan surah yang sangat pendek. Bagaimana dengan amalan-amalan sosial di luar shalat yang tentu jauh lebih banyak jumlah pahalanya?

Contoh Kuantifikasi Pahala Shalat Berjamaah juga dijelaskan Ust Arifin Jayadiningrat dalam video pendek berikut untuk memotivasi umat Islam agar selalu menjaga shalat berjamaah dan amat rugi orang yang meninggalkan keberkahan shalat berjamaah.

Semakin sering seseorang menghitung-hitung pahala kebaikannya atau kesalahannya dalam setiap hari, akan membentuk mental muhasabah (evaluasi diri) yang semakin baik, sehingga akan selalu muncul motivasi menambah pahala dan mengurangi dosa.

Namun, perlu kami ingatkan hal-hal berikut ini.

Pertama, pahala bukan masalah kuantitas belaka melainkan juga masalah kualitas. Ketika hanya berkutat pada angka-angka dan mengabaikan nilai di balik angka, maka ia akan dihitung sebagai perbuatan yang formalistik.

Kedua, terdapat sejumlah amal yang pahalanya dirahasiakan oleh Allah dan tidak mungkin dikuantifikasi, seperti ibadah Puasa yang sedang kita tunaikan. Allah SWT. dalam salah satu Hadis Qudsi berfirman: “seluruh amal anak cucu Adam (pahalanya) tergantung kepadannya, kecuali Puasa karena tergantung kepada-Ku dan hanya aku yang menentukan pahalanya” Terlepas dari segala hikmahnya, kita sangat sulit membawa persoalan puasa ke dalam dunia kuantitatif. Karena itu, jika ingin menggunakan pendekatan kuantifikasi pahala maka akan ada pengecualian pada amal-amal tertentu.

Sebagai upaya konkritisasi peran pahala bagi kehidupan, kuantifikasi pahala termasuk metode yang patut diapresiasi. Boleh jadi, dengan terus mengevaluasi nilai kebaikan yang dilakukan setiap saat melalui angka-angka, kita dapat memprediksi kehidupan akhirat, apakah akan masuk surga atau neraka.

Meskipun demikian, kita tidak boleh mengabaikan bahwa Allah SWT. tidak memberikan rahmat-Nya semata berdasarkan pertimbangan kuantitas tetapi juga berdasarkan kualitas karena sungguh kemahaluasan rahmat dan rahim Allah SWT. adalah perkara yang tak terhingga. Allah a’lam bi al-shawab.

Awal Ramadan dan 9 Tahun Blog


Awal Ramadan tahun ini bertepatan dengan 9 tahun saya ngeblog di blog sederhana ini sejak tahun 2010 silam.

Alhamdulillah bisa terus menulis sejauh ini. Awalnya hanya catatan belajar dan makalah presentasi kuliah yang selanjutnya saya update terus dengan tulisan lain seperti pengalaman, diary dan catatan mengikuti kajian dan seminar.

Pada bulan Ramadan yang mulia ini senang sekali mendapatkan notifikasi dari WP kalau hari ini sudah menginjak ke 9 umur dari blog ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang pernah membaca, mengomentari atau hanya sekilas lewat di blog sederhana ini.

View this post on Instagram

🙏

A post shared by Jumal Ahmad (@jumalahmad) on

Mencari Biografi Perawi Hadis dengan Bantuan The Hadith Trasnmitter Encyclopedia


Dahulu ketika belajar di Pesantren Nurul Hadid, Cirebon, di kelas tiga SMA atau kelas Niha’i ada pelajaran tentang Ilmu Musthalah Hadits yaitu cabang dalam ilmu hadis yang mempelajari pokok dan kaidah yang dipakai untuk mengetahui kondisi sanad dan matan hadis dari sisi diterima atau ditolak. Manfaat ilmu ini bisa membedakan hadis yang kuat dan hadis yang lemah. Rujukannya adalah buku Ilmu Hadis Praktis dalam bahasa Arab karya Dr. Mahmud Thahhan.

Di akhir kelas tahun, saya dan teman-teman mendapatkan tugas untuk meneliti sanad atau rantai periwayat hadis. Saya ingat waktu itu meneliti hadis tentang Qaabidh álal Jamri yaitu hadis Nabi tentang keadaan akhir zaman yang memegang teguh agama laiknya memegang bara api.

Terkait dengan sanad, kami mencermati hadis yang diteliti pada keutuhan sanad, jumlahnya dan para perawinya. Kitab babon yang jadi rujukan adalah kitab “Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfazhi Al-Hadits An-Nabawi” adalah kitab indeks hadis Nabi yang disusun untuk mengefisienkan pencarian lafaz-lafaz hadis Nabi berdasarkan topik. Ada 9 (sembilan) kitab hadis yang menjadi sumber indeks ini yaitu: Kutub Sittah (Bukhari, Muslim, An-Nasai, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah), Muwattho’ Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad Ad-Darimi. Indeks itu terdiri dari 8 jilid dan disusun dalam rentang waktu antara 1916-1988 atau sekitar 72 tahun. Publikasi dilakukan oleh orientalis bernama Arent Jan Wensinck Profesor bahasa Arab dan sejarawan di Universitas Leiden yang dibantu oleh Fuad Abdul Baaqi yang selanjutnya membuat
kitab “Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfazhi Al-Quran” .

Dari kitab “Al-Mu’jam Al-Mufahros Li Alfazhi Al-Hadits An-Nabawi” ini kemudian kami merujuk ke kitab-kitab asli yang ada di perpustakaan. Kemudian menuliskan tiap perawi dalam jalur atau pohon sanad. Selanjutnya menuliskan beberapa keterangan dari para ulama tentang hadis tersebut. Sejauh yang saya ingat, pembelajaran kami hanya sampai disitu. Namun, ilmu yang didapatkan sangat berharga, bagaimana saya dan teman-teman bisa merasakan susah payahnya meneliti satu hadis, lalu bagaimana para peneliti hadis yang meneliti ratusan bahkan ribuan hadis.

Terkait dengan mengetahui biografi perawi hadis, sekarang ada aplikasi web yang bisa digunakan untuk mempermudah proses ini. Aplikasi ini bernama The Hadith Trasnmitter Encyclopedia atau موسوعة رواة الحديث yang dibuat oleh seorang peneliti bernama Ikram Hawramani.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Link web bisa di klik disini:
http://hadithtransmitters.hawramani.com/

Saya mencobanya dengan menuliskan nama أبو موسى الأشعري

Tertulis banyak nama yang sesuai dengan Abu Musa Al-Asyári. Kemudian di bawahnya tertulis biografi dari kitab-kitab.

Sekian info dari saya…hanya sedikit share dan review yang semoga memberikan manfaat.

Ramadhan Kareem. Semoga Ramadan ini menjadi madrasah yang menempa diri menjadi lebih baik setelah Ramadan.

How does Spirituality Influence Human Behavior?


Can someone guide me towards some theories that explain the influence of spirituality on individual human behavior?

And give your views on the influence of spirituality on the reflective attitude and the influence of spirituality on moral values?

Thank you.

Read answers by scientiest at my ResearchGate here

How important is the reflective practice in teaching Islamic Religious Education?


Heien Retter

I am not a Muslim, but I think that a reflected practice is important for every religion. Because religion can only really live in a reflected relationship.

Hamid Gadouri

I fully agree with Hein Retter, if the teachings and impact of religion such as Islam, Christianity, or any religion do not appear to people’ life, this distorts and gives a bad image of this person’s religion. Therefore, the morality of any person is related to the extent of his respect for the teachings of his religion regardless of the validity of this religion. At least to respect and apply the dictates of the religious book that belongs to  …

Link

What are the indicators of Islamic religious behavior instruments?


I am developing an instrument of Islamic religious behavior based on the hadith of Gabriel which divides Islam into 3 dimensions: Islam, Iman and Ihsan.In your opinion, what are the indicators in Islam, Iman and Ihsan that I can include. Thank you

Answer

Jasmen Omersic

As far as behaviour is concerned, you may take into account the five pillars of Islam (shurut al-Islam) for Islam, for Iman that would be the pillars of belief (shurut al-Iman), and for ihsan you may take the overall of both pillars and look into the objectives of Shariah based on the analysis of darruriyyat, hajiyyat and tahsiniyyat. That would determine the Ihsan.You may even develop the framework based on objectives of Shariah for what you have books available in plenti such as Shatibi’s, Ghazali’s books on maqasid.

Links

Journal about Islamic Religiosity

  • Religiosity among Muslims: A Scale Developtment and Validation Study (link)
  • The Five Dimensions of Muslim Religiosity. Result of an Empirical Study by Yasemin El-Menouar (link)
  • The Attitudes Toward Islam Scale by Abdullah Sahin and Leslie J Francis (link)
  • Understanding the relogioys behavior of Muslims in the Netgerlands and the UK by Dr Ayse Guveli and Dr Lucinda Platt (link)
  • Muslim Daily Religiosity Assessment Scale (MUDRAS): A New Instrument for Muslim Religiosity Research and Practice (link)
  • The Development and Validation of a Qur’an-Based Instrument to Assess Islamic Religiosity: The Religiosity of Islam Scale by Jana-Masri and Paul E. Priester (link)
  • Sikap dan Perilaku Keagamaan Mahasiswa Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Mami Hajaroh (link)

Silakan ditambahkan di kolom komentar jika Anda mendapatkan jurnal terkait. Semoga bisa membantu teman lain yang sedang mencari tema jurnal yang sama.

Mensyukuri yang Terdekat


Terkadang suatu nikmat baru kita sadari ketika melihat dari jauh seperti nikmat pemandangan di depan rumah di desa Adipuro. Posisi rumah saya berada di pojok desa dan langsung berhadapan dengan matahari. Terlihat deretan gunung Merapi, Merbabu, Andong dan lainnya. Di tengah antara Merapi dan Merbabu muncul matahari persis seperti lukisan anak sekolah dasar.

Desa Adipuro terletak di bagian paling atas dan tidak ada lagi desa selanjutnya. Ketika musim hujan seperti, jarak pemandangan hanya satu meter saja, semuanya putih penuh dengan awan dan ketika bernafas, keluar asap dari mulut kita yang bisa terlihat. Orang bilang desa saya sebagai Negeri Atas Awan.

Terkait pentingnya menyadari nikmat Allah yang sudah diberikan, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin ‘Iyadh mengisahkan: “Pada suatu hari Nabi Dawud ‘alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan berfirman: “Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir).

Menyadari bahwa suatu nikmat datang dari Allah Swt merupakan sebuah kesyukuran. Semakin banyak kita menyadari beragam nikmat dari Allah Swt sekalipun sedikit, akan membantu kita mudah mensyukuri nikmat Allah Swt.

Kesederhanaan yang diajarkan orang tua saya syukuri dan saya mencoba terus praktikkan. Beberapa hari kepulangan kemarin untuk coblosan, saya kembali diajarkan kesederhanaan ketika membantu bapak ke ladang. Bapak tidak pernah mengeluh sama sekali dengan pekerjaan bertaninya bahkan beliau dan orang desa Adipuro umumnya menikmati pekerjaan bertani.

Semoga Allah Swt memberikan keberkahan dan kemudahan bagi bapak dan petani di desa Adipuro dan Indonesia umumnya.

%d bloggers like this: