Blogging my Research


Beberapa minggu ini saya off dari menulis blog karena alasan ingin fokus ke penelitian Tesis sampai saya meng-uninstall beberapa aplikasi sosial media dari handphone Android, dengan alasana agar bisa fokus dan tidak terdistraksi.

Sampai saat ini saya masih setia dengan program uninstall sosial media karena saya merasakan sendiri gangguan dan tidak fokus. Dan ingin mengambil satu fokus keprogram blog sebagai perilaku yang memberikan manfaat.

Blogging penelitian bisa menghasilkan pembaca yang berpotensi besar dengan biaya yang sangat, sangat rendah, dan relatif banyak usaha. Dengan platform seperti WordPress (yang saya gunakan di sini), Anda dapat membuat blog dan membuat artikel pertama Anda online dalam waktu tidak lebih dari 10 menit.

Penelitian terbaru dari Bank Dunia telah menunjukkan bahwa blogging tentang artikel penelitian dapat menyebabkan ratusan pembaca baru ketika sebelumnya hanya ada segelintir. Blogging penelitian adalah cara yang bagus untuk membangun pengetahuan tentang pekerjaan Anda, menumbuhkan pembaca artikel yang bermanfaat dan laporan penelitian, membangun sitasi, dan untuk mendorong debat lintas akademisi, pemerintah, masyarakat sipil dan masyarakat pada umumnya.

Blogging penelitian ibarat Jurnal sebagai alat untuk refleksi. Jurnal penelitian menawarkan tempat untuk pemikiran kritis dan evaluatif, karena acara dan percakapan ditinjau kembali – dan dimuat ulang. Jurnal adalah tempat interpretasi terjadi. Mereka sering merupakan tempat di mana analisis dimulai dan dikembangkan. Menulis dan membuat sketsa dalam jurnal adalah cara untuk memproses pengalaman, membawa acara dan percakapan ke dalam dialog dengan ide-ide yang diambil dari membaca, dengan ide-ide yang dibentuk melalui penelitian sebelumnya.

Menulis jurnal serta catatan lapangan adalah proses yang menghabiskan waktu. Itulah mengapa etnografi membutuhkan pelibatan seluruh jiwa dan raga. Anda mencatat dan membuat gambar di siang hari, dan kemudian di malam hari, Anda menyelesaikan log kejadian, dan menulis pemikiran langsung di jurnal Anda.M

Menyimpan catatan harian dan jurnal berarti Anda dapat menangkap poin-poin di mana informasi hilang, dan Anda dapat memutuskan bahwa besok Anda akan mengejar masalah tertentu yang muncul dari penjurnalan.

Berikut ini empat alasan utama kenapa Anda harus menulis blog tentang penelitian Anda:

  1. Meningkatkan tulisan Anda. Menulis lebih sulit daripada yang terlihat. Anda tahu ini jika Anda pernah mencoba membuat blog atau menulis di luar area penelitian Anda.
  2. Anda akan belajar berbicara dengan audiens yang lebih luas dan lebih umum. Blog akademik cenderung berfokus pada topik dan penelitian profesional. Mampu berbicara tentang penelitian Anda dalam bahasa yang sederhana dan jelas akan membantu Anda tidak hanya dengan menulis, tetapi juga dengan interaksi publik dan pribadi Anda dengan orang lain.
  3. Ini bagus untuk CV atau resume Anda. Ingin pekerjaan baru? Mencoba mendaratkan hibah penelitian itu? Mencari kolaborator baru? Semakin baik blog Anda dan semakin banyak interaksi yang Anda miliki dengan para peneliti dan ilmuwan lain, semakin besar kemungkinan Anda telah membuka pintu untuk kolaborasi.
  4. Membantu menghasilkan ide-ide baru. Blogging mengharuskan Anda melenturkan otot-otot menulis, menulis di luar apa yang Anda ketahui, dan menulis dengan kredibel. Bagaimana ide-ide baru terjadi? Menurutmu. Bagaimana menurut Anda? Anda menulis. Dan menulis dan menulis dan menulis. Menulis memaksa otak Anda untuk mencerna informasi baru, mensintesis informasi baru meningkatkan pemikiran dan voila Anda! Anda punya ide baru. Sepanjang waktu.

Maka, kini saya kembali menulisndi blog dan berusaha menuliskan perkembangan penelitian Tesis sederhana Saya di blog ini. Terima kasih.

Sumber:

https://www.masterstudies.com/article/why-you-should-blog-about-your-research/

Aplikasi Mutabaah Tahfidz Alquran untuk Memonitor Hafalan


Dalam melaksanakan program tahfiz alquran, mengevaluasi hafalan alquran peserta didik yang dicatat dalam buku mutabaah merupakan hal yang penting karena suatu program tidak akan berjalan dengan baik ketika tidak adanya suatu pemantauan/monitoring. Dengan buku mutabaah ini guru tahfidz dapat mengevaluasi hafalan murid dengan penilaian tertentu sesuai kemampuan hafalan siswa.

Beberapa hari yang lalu saya telah membuat buku mutabaah atau monitoring hafalan untuk santri tahfidz notaris muslim Indonesia yang berada di daerah Pasir Datar, Sukabumi. Dan saya kemudian berpikir untuk merubah buku ini ke dalam bentuk aplikasi atau sofware yang mudah dijalankan dan tidak membuang terlalu banyak kertas.

Dari hasil pencarian di internet, saya menemukan satu jurnal penelitian dari Eka Haryanto dan Rinda Cahyana dari STT Garut tentang pengembangan aplikasi Mutabaah Tahfidz Alquran untuk Mengevaluasi Hafalan.

Mutaba’ah berasal dari bahasa arab yang berarti evaluasi. Evaluasi merupakan proses perbandingan, penilaian/ assessment antara standarisasi dengan fakta dilapangan dengan hasil analisnya. Mutabaah juga bisa berarti usaha untuk menganalisis dan memonitor hasil sebuah pekerjaan dan menilainya.

Monitoring merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi atau memantau proses dan perkembangan pelaksanaan program yang terkait implementasi kurikulum madrasah.

Dari penjelasan di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa buku mutaba’ah adalah sebuah hasil dari pikiran tentang evaluasi suatu program yang hasilnya itu terwujud dalam sebuah karya berupa lembaran-lembaran yang disusun menjadi satu kesatuan.

Ini adalah gambaran aplikasi mutabaah dari E. Haryanto. Terlihat masih sederhana dan mencakup pada sabak atau hafalan baru.

contoh data evaluasi hafalan

Adapun buku mutabaah yang saya buat untuk santri NMI dengan mengikuti metode hafalan baru, murajaah baru dan murjaah lama (sabak, sabki, dan manzil).

Akan lebih bagus jika aplikasi di atas dimodofikasi sesuai kebutuhan pesantren tahfidz murni yang fokus pada menghafal Alquran setiap harinya.

Sumber:

E. Haryanto and R. Cahyana, “PENGEMBANGAN APLIKASI MUTABAAH TAHFIDZ ALQURAN UNTUK MENGEVALUASI HAFALAN”, algoritma, vol. 12, no. 1, Aug. 2015. link

Efektivitas Sabak, Sabki, Manzil dalam Pembelajaran Tahfidhul Quran


Pengajaran Al-Quran merupakan salah satu bentuk syiar agama. Sesungguhnya mempelajari Al-Quran dapat melahirkan keberkahan dan mendatangkan pahala. Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al-Quran, karena Al-Quran adalah firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering diulang-ulang oleh manusia.

Berpijak dari paparan di atas, penulis terdorong untuk mengambil judul penelitian “Penerapan Metode Pakistani Dalam Rangka Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor”. Dimana penulis mengambil penelitian di Pondok Pesantren Bina Qolbu, Cisarua-Bogor.

Rumusan masalah yang penulis ambil adalah Bagaimana penerapan metode Pakistani dalam pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu. Bagaimana efektivitas pembelajaran Tahfidhul Quran di Pondok Pesantren Bina Qolbu. Jenis penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, test dan dokumentasi. Teknik analisis datanya adalah dengan tiga langkah yaitu reduksi data, display data dan menarik kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Tahfidhul Quran dengan metode Pakistani dan jadwal yang selalu teratur adalah efektif. Hal tersebut terbukti lebih banyaknya anak yang menghafal Al-Quran dengan bacaan yang baik dan benar. Kemudian berkenaan dengan tingkat kelancaran menghafal di Pondok Pesantren Bina Qolbu juga efektif. Terbukti saat menyetorkan hafalan tambahan dan hafalan muroja’ahnya sangat lancar dan berdasarkan hasil test hafalan yang penulis lakukan juga demikian. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pesantren untuk memperkuat hafalan santri, dalam internal pesantren meliputi: halaqah Quran, partner, ujian tahfidh persemester dan akhir tahun, motivasi dan stimulus, tahsin, praktek imam shalat dan pelajaran bahasa Arab. Eksternal pesantren meliputi: MHQ (Musabaqah Hifdhul Quran) dan tasmi’.

Isi lengkap bab I-V penelitian ini sudah saya upload di Researchgate saya di project Sabak, Sabki dan Manzil. dan slide presentasi bisa diunduh di tautan ini. Banyak mahasiswa yang menanyakan via WA dan email terkait metode ini maka saya upload di RG agar siapa saja yang ingin tahu bisa membacanya.

Saya telah mengunjungi beberapa pesantren yang menggunakan metode ini (Sabak, Sabki dan Manzil) dan terbukti efektif untuk menunjang monitoring hafalan santri, pada program tahfidz 2 tahun, metode ini sangat efektif.

Penelitian ini belum sama sekali saya tuliskan dalam jurnal penelitian karena saya belum tahu manakah jurnal penelitian yang mau menerima penelitian ini, jika ada pengelola jurnal atau peneliti yang bisa memberikan saran jurnal, sila disampaikan agar saya bisa mengirimkan penelitian ini.

– Jumal Ahmad

Cari Hadis Online: Situs untuk mencari Hadis dan Terjemahnya dengan mudah


Pada postingan sebelumnya, saya sering menulis review beberapa aplikasi tentang Alquran yang bisa digunakan untuk belajar membaca, menghafal, mencari ayat dan menyisipkan ayat Alquran dalam artikel seperti aplikasi Alfanous, Quran Gateway, Al-Fatihah Center, Android Alquran, Aplikasi Ayah, Bahits Al-Quran, Huda.id, Lafdzi, Quthrubi,

Dari beberapa aplikasi yang telah saya review masih sedikit aplikasi yang menyediakan bantuan terjemah online tentang hadis. Situs penyedia terjemahan ternyata tidak gratis alias berbayar contohnya Aplikasi Hadis 9 Imam dan sekarang versi online-nya sudah tidak ada lagi.

Kali ini saya akan mereview situs penyedia hadis dan terjemahan yang bagus dan dibuat oleh orang Indonesia. Situs ini bisa dikunjungi di alamat berikut: http://carihadis.com/

Saya mencoba langsung praktik menggunakan situs ini dan memberikan hasil gambar dari pencarian saya. Sebelum melakukan pencarian, berikut ini ada beberapa petunjuk pencarian sebagaimana disampaikan admin carihadis.

Petunjuk Pencariannya sebagai berikut

  • Mesin pencari akan mencari teks yang dimasukkan tanpa memedulikan karakter sebelum maupun sesudahnya.
  • Pilihlah kata yang unik supaya hasil pencarian lebih akurat.
  • Semakin sedikit kata yang dimasukkan, semakin banyak hasil pencarian.
  • Untuk pencarian teks Arab, hindari sebisa mungkin tasykil/syakal seperti harokat fathah, kasrah, dhammah, sukun, tasydid dan sebagainya.
  • Mesin pencari akan membedakan hamzah washal dengan hamzah qatha’ sehingga ا berbeda dengan أ atau إ.

Pencarian Hadis Berdasarkan Teks

Berikut ini saya coba mencari teks hadis berdasarkan teks dengan menuliskan kata “Niat” kemudian klik Cari!

Hasilnya terdapat beberapa kitab hadis yang terdapat kata ini

Pencarian Hadis Berdasarkan Nomor

Pencarian hadis juga bisa dilakukan berdasarkan nomor. Fitur ini memungkinkan kita bisa langsung membuka kitab tertentu dan halaman tertentu secara langsung tanpa mengetahui isi teks di dalamnya. Fitur ini juga memudahkan pengecekan teks atau hadis tertentu pada sebuah kitab yang sudah diketahui nomornya.

Misalnya, saya ingin mengecek kitab Riyadhus Shalihin nomor 14, maka saya cukup memilih kitab dan memasukkan angka tersebut di kolom yang tersedia, lalu saya tekan tombol “Cari!”.

Saya klik nama kitabnya kemudian terdapat halaman ini, pada pilihan nomor dalam kitab saya tuliskan no 14

Kemudian hasilnya seperti ini

Pencarian Hadis Berdasarkan Nama Kitab dan Teks

Pencarian teks hadis bisa dilakukan untuk satu kitab tertentu. Misalnya, saya ingin mencari kata “Niat”dalam kitab Riyadhus Shalihin saja, maka anda tinggal memilih kitab Shahih Bukhari pada pilihan nama kitab dan memasukkan kata “Niat”pada kotak teks, lalu klik “Cari!”.

Hasilnya seperti ini.

Hasil pencarian ditunjukkan dengan blok kuning warna merah.

Di halaman utama web carihadis juga diberikan tautan ke situs baheth.info yang sangat berguna untuk menjadi kamus online bahasa Arab dengan rujukan kitab-kitab sumber yaitu Lisanul Arab, Maqayiisul Lughah, Ash-Shihhah fil Lughah, al-Qamus al-Muhith dan al-Lubab al-Zaakhir.

Saya coba mencari teks النية di halaman ini

Dan hasilnya bisa dicek di tautan ini: http://baheth.info/all.jsp?term=%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%8A%D8%A9

Selain baheth.info, di halaman utama carihadis juga ada link atau tautan ke sunnah.one. Hasil pencariannya sangat bagus dan mendalam, cocok bagi Anda yang punya pemahaman bahasa Arab yang bagus.

Berikut tampilan sunnah.one

Perjaka Terakhir Lastislaam


Istilah perjaka dalam kamus besar bahasa Indonesia merupakan istilah yang menggambarkan status seorang pria yang belum pernah menikah. Istilah ini juga dikenal dengan sebutan ‘bujang’. Maka apabila seorang lelaki telah menikah, maka ia dikatakan sudah tidak perjaka/bujang. 

Sementara Lastislaam adalah nama angkatan saya di SMA Nurul Hadid Cirebon. Lastislaam di ambil dari bahasa Arab laa Istislaam yang artinya tidak pernah menyerah.

Dari 30 santri di angkatan saya, hanya satu orang yang belum menikah padahal teman yang lainnya sudah banyak yang punya anak 2 sampai 3. Namanya Hadi Andrian, biasa kita panggil Aan atau Bles karena badannya yang gelap.

Alhamdulillah, hari ini berkesempatan menghadiri pernikahannya di Kalideres bersama istri.

Semogaa Aan mendapatkan pasangan yang barokah, sakinah mawaddah wa rahmah dan segera dikaruniai keturunan. Amiin.

Polemik Disertasi Seks di Luar Nikah


Hari ini kita sedang dihebohkan dengan disertasi doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang melegalkan praktik seks di luar nikah dengan judul ‘Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital’. Promovendus bernama Abdul Aziz, seorang dosen di Solo. Ia mengetengahkan pemikiran dari Muhammad Syahrur, pemikir liberal dari Syiria.

Kali ini saya ingin membahas mode pembaruan yang dibawa Muhammad Syahrur, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pelomik dalam konsep Milkul Yamin yang dibawa Syahrur dan polemik lain tentang batasan Aurat yang pernah kami tulis dulu.

Model Pembaruan Muhammad Syahrur

Model pembaruan yang dia lakukan adalah dengan melakukan pembacaan Al-Qur’an dengan menggunakan metode linguistik-historis-ilmiah (al-manhaj al-lughawī al-tārikhī al-‘ilmī) dengan menggunakan linguistika modern dengan tetap bersandar pada syair-syair jahiliyyah.

Dengan metode linguistik-historis-ilmiahnya tersebut, Syahrūr melakukan beberapa langkah yang berakhir dengan dekonstruksi hukum Islam.

  1. Menafikan al-Sunnah sebagai wahyu kedua. Ia menganggap sunnah rasul SAW. sebagai pemahaman awal terhadap Al-Qur’ān.[2] Oleh karenanya, keputusan hukum akan senantiasa berubah sesuai dengan perubahan ruang dan waktu.
  2. Keyakinannya kepada anti sinonimitas istilah dalam al-Qur’an. Misalnya ia membedakan al-hanafiyyah yang diartikannya gerak berubah dan al-istiqāmah (lurus tetap). Menurutnya, al-hanafiyyah berlaku untuk ayat-ayat hukum. Dengan kata lain hukum akan selalu berubah. Padahal kata hanīf di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah: 135 ataupun di dalam kamus (Tājul Urūs, Lisān ’Arab, al-Muhīth, Maqāyis al-Lughah) menunjukan arti tetap, lurus, dan istiqamah.
  3. Memaparkan tiga teori filsafat dalam menginterpretasi ayat-ayat ahkām, yakni kondisi berada (kaynūnah), kondisi berproses (sayrūrah), dan kondisi menjadi (shayrūrah). Dengan relasi ketiga kondisi ini, dalam hubungannya dengan ayat-ayat hukum, akan melahirkan hukum yang akan terus berubah-ubah mengikuti perkembangan masa ke masa.

Polemik Milkul Yamin Kontemporer

Jumhur ulama menyatakan bahwa pemberlakuan ayat tentang kepemilikan budah (milkul yamin) sudah berhenti karena ketiadaan locusnya. Namun Syahrur menemukan locusnya dengan asumsi bahwa konteks milkul yamin saat ini sama dengan konsep nikah kontrak yang kemudian diganti dengan istilah aqdul ihsan (komitmen hubungan badan) sebagai bentuk upaya melegitimasi hubungan intim tanpa melalui pernikahan yang masih hidup dalam tradisi sosial masyarakat Barat.

Term milkul yamin telah mengalami perubahan konsep karena adanya perubahan konteks. Syahrur berasusmsi bahwa ayat-ayat milkul yamin harus direkonstruksi agar tidak mati. Oleh sebab itu, menurut Syahrur ketetapan dalam term milkul yamin yang ada harus dipahami secara lebih esensial.

Dengan mengacu pada adanya relasi seksual antara tuan dan budah, yang terekam pada beberapa ayat; Al-Ahzab: 50, Al-Mukminun: 5-6 dan An-Nur: 31, Syahrur berasumsi bahwa relasi seksual itulah yang menjadi inti konsep milkul yamin kontemporer.Syahrur memandah bahwa relasi seksual tersebut tidak ada unsur atau tujuan untuk membangun rumah tangga melainkan hanya sekedar melampiaskan nafsu seksual.

Kesalahan fatal promovendus adalah mengkiyaskan budak dalam konsep Milk Al Yamin kepada kawin kontrak atau mut’ah dan hidup seatap tanpa pernikahan (kumpul kebo) yang menjadi sama-sama halal. Penulis menyamakan budak dengan kondisi sekarang dan memperbolehkan hubungan di luar nikah atas dasar suka sama suka.

Abdul Aziz mengatakan, menurut Muhammad Syahrur, hubungan intim disebut Zina apabila dipertontonkan ke publik. Bila hubungan itu dilakukan di ruang privat, berlandaskan suka sama suka, keduanya sudah dewasa, tidak ada penipuan, dan niatnya tulus maka tidak bisa disebut Zina. Maka hubungan tersebut halal.

Berikut ini pernyataan MUI tentang disertasi konsep Milk alYamin Muhammad Syahrur yang ditanda tangani oleh Prof. Yunahar Ilyas dan Dr. Anwar Abbas tanggal 3 September 2019

Selanjutnya ditanggal yang sama, penulis disertasi ini memberikan pernyataan untuk merevisi tesis berdasarkan kritik dan masukan dari para promotor dan penguji dan mengubah judul menjadi ‘Problematika Konsep Milk Alyamin dalam Pemikiran Muhammad Syahrur’.

Polemik Menutup Aurat

Muhammad Syahrur mengartikan aurat berangkat dari rasa malu, dan rasa malu itu bersifat relatif serta tidak mutlak dan mengikuti kebiasaan.

Pertama;

QS an-Nuur: 31 “Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…“.

Muhammad Syahrur menyimpulkan bahwa aurat di situ berarti: “apa yang membuat seseorang malu jika terlihat”. Dan aurat itu tidak ada kaitannya dengan halal-haram, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh. Maka secara kebahasaan, aurat itu relatif.

Kemudian Syahrur memberi contoh: “Apabila seorang yang botak (ashla’) tidak suka botaknya terlihat orang lain, dia akan memakai rambut palsu. Sebab dia menganggap bahwa botak di kepalanya adalah aurat”. Relatifnya makna aurat ini, dia kuatkan dengan mengutip Hadits Nabi: “Barang siapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya”. Menurutnya, bahwa menutupi aurat mukmin dalam hadith itu, bukan berarti meletakkan baju hingga tidak kelihatan.

Maka Syahrur pun menegaskan bahwa: “Aurat itu datang dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang dalam menampakkan sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Dan rasa malu ini relatif, bisa berubah sesuai dengan adat istiadat. Maka dada (al-juyub) adalah permanen, sedangkan aurat berubah-ubah menurut zaman dan tempat”.

Kedua; 

QS al-Ahzab: 59 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu“.

Dalam kitabnya Nahwa Ushul Jadidah lil Fiqhil Islami, 2000: 372-373, Muhammad Syahrur menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: “Ayat ini didahului dengan lafadz ‘Hai Nabi’ (ya ayyuhan nabi), yang berarti bahwa di satu sisi, ayat ini adalah ayat pengajaran (ta’lim) dan bukan untuk pemberlakuan syariat (tasyri’).

Di sisi lain, ayat yang turun di Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal (fahman marhaliyyan), karena terkait dengan tujuan keamanan dari gangguan orang-orang iseng, yakni ketika para wanita sedang keluar rumah. Namun alasan keamanan dari gangguan orang-orang iseng, sekarang ini sudah tidak ada lagi”.

Selanjutnya Muhammad Syahrur menganjurkan kepada wanita muslim untuk menutup bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya dapat gangguan. Dan gangguan itu ada dua jenis: gangguan alam dan gangguan sosial. Gangguan alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita mukminah hendaknya berpakaian menurut standar cuaca, sehingga ia terhindar dari gangguan alam.

Sedangkan gangguan sosial terkait dengan adat istiadat suatu masyarakat. Maka pakaian mukminah untuk keluar rumah harus menyesuaikan kondisi lingkungan masyarakat, sehingga tidak mengundang cemoohan dan gangguan mereka.

Dan akhir dari kesimpulan ide-ide Muhammad Syahrur dapat kita simpulkan dalam point-point berikut.

  1. Batasan pakaian wanita dibagi dua: batasan maksimal (al-hadd al-a’la) yang ditetapkan Rasulullah yang meliputi seluruh anggota tubuh selain wajah dan dua telapak tangan. Batasan minimal (al-hadd al-adna) yaitu batasan yang ditetapkan oleh Allah s.w.t., yang hanya menutup juyub.
  2. Juyub tidak hanya dada saja, tapi meliputi belahan dada, bagian tubuh di bawah ketiak, kemaluan dan pantat. Sedangkan semua anggota tubuh selain juyub, boleh diperlihatkan sesuai dengan kultur masyarakat setempat, termasuk pusar (surrah). Penutup kepala untuk laki-laki dan perempuan hanyalah kultur, tidak ada hubungannya dengan iman dan Islam.
  3. Muhammad Syahrur memandang adanya kesalahan fatal yang jamak terjadi di kalangan ulama Fiqih, karena mendudukkan Hadith Rasulullah s.a.w bahwa semua anggota tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, sebagai batasan aurat wanita.

Lebih lengkapnya sila kunjungi tautan tulisan kami dulu.

https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2010/11/07/nazhariyyah-al-hudud-pembaruan-kontroversial-ala-muhammad-syahrur/

%d bloggers like this: