Lidah Adalah Raja


Sebagai orang yang beriman kita harus sadar bahwa dari lahir hingga mati adalah ujian. Mendapat sengsara adalah ujian, pun mendapat nikmat juga ujian. 


Ujian yang paling berat adalah ujian terhadap diri kita sendiri. Jika kita bisa lulus menaklukan Ujian terhadap diri kita sendiri, maka kita akan lulus dalam ujian terhadap orang lain.

Lidah yang pendek tapi berbisa, juga bagian dari ujian manusia. Betapa banyak pertikaian yang terjadi antar saudara, suami istri, dan lain sebagainya disebabkan lidah yang tak bertulang. 

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh akan memperingatkan lidah dengan berkata kepadanya, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah untuk kami karena kami semua tergantung padamu, jika kamu konsisten (istiqamah) maka kami pun akan istiqamah, tapi jika kamu menyeleweng, maka kami pun akan menyeleweng. “ (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, Hadits Hasan) 

Benar, lidah adalah raja

Raja dalam khutbah jumat

Raja dalam usaha mendamaikan orang lain

Raja dalam dunia marketinf

Raja dalam dunia advokasi 

Sungguh tepat apa yang dikatakan Abu Bakar Ash-Shidiq “Tidak ada satu pun yang perlu dipenjara lebih lama daripada lidah” 

Ibnul Jauzi berkata, “Yang cukup mengherankan, di antara manusia ada yang kuat menahan diri untuk tidak memakan makanan haram, menahan diri untuk tidak berzina, dan menahan diri untuk tidak mencuri. Akan tetapi dia tidak kuat menahan pergerakan lidahnya, sehingga kata katanya menyinggung harga diri orang lain. Dia tidak sanggup menahan diri untuk tidak mengucapkannya”. 

Agar lisan selalu terjaga, mintalah kepada Allah agar menjaga lisan dari berkata yang tidak baik, dusta dan menipu. 

Berikut doa yang bisa diamalkan. 

اللهم اني استودعتك لساني، فلا تجعله يغتاب أحداً ولا ينطق كذباً، ولا قولاً أندم عليه يوم ألقاك، 

 وأستودعك عيني وكل جوارحي، فلا تجعلني ممن ينظر الي الحرام أو يستمع اليه

ALLAHUMMA INNI ASTAUDI’ATUKA LISAANII. FALAA TAJ’ALHU YAGHTAABU AHADAN WA LAA YANTHIQU KADZBAN, WALAA QAULAN ANDAMU ALAIHI YAUMA ALQAAKA

WA ASTAUDI’ATUKA ‘AINII WA KULLU JAWAARIHII FALAA TAJ’ ALNII MIMMAN YANDHURU ILAL HARAAMI AU YASTAMI’U ILAIH


“Ya Allah, ku titipkan lisanku kepada-Mu, janganlah Engkau jadikab lisanku berbuat ghibah atau berkata bohong dan tidak pula mengatakan sesuatu yang akan aku sesali ketika berjumpa dengan-Mu. Dan aku titipkan mata dan anggota tubuhku, janganlah Engkau jadikan aku melihat hal hal yang haram atau mendengarnya”

 Atau doa berikut:

اللهم اهدني لأحسن الأخلاق، لا يهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عنِّي سيِّئها، لا يصرف عنِّي سيِّئها إلا أنت

ALLAHUMMAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQ, LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA

WASHRIF ANNII SAYYIAHAA, LAA YASHRIFU ANNI SAYYIAHAA ILLA ANTA

Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik, tidak ada yang mampu menunjukkan kepadaku kebaikannya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang mampu menjauhkanku dari kejelekannya kecuali Engkau” [] 

Cabe Golkar Dari Prampelan


Masyarakat Jawa Barat, khususnya di Bandung menyebut cabe ini Cabe Gendot dengan ejaan “e” yang dibunyikan seperti kata “cabe”. Bukan seperti melafalkan huruf “e” seperti pada kata “melihat” atau “merawat”.


Di daerah Jawa khususnya pegunungan Dieng, cabe ini disebut Cabe Gendol, karena bentuknya yang gemuk dan gendol gendol ketika di pohon cabe. 

Selain di Dieng, di daerah saya dusun Prampelan desa Adipuro, cabe ini bisa tumbuh dengan bagus yang tingginya 1000 lebih di atas permukaan laut. 

Di prampelan, namanya bukan Cabe Gendot atau Cabe Gendol, tapi namanya Cabe Golkar. Nah, ada cerita sendiri kenapa di prampelan dinamakan persis dengan nama salah satu partai yang pernah berkuasa. 

Kata Bapak saya,  cabe ini muncul di tempat kami ketika sedang jaya jayanya partai Golkar, sebelum tahun 98 partai beringin kuning  menang dimana mana dan pak Harto selalu terpilih kembali menjadi presiden. 

Dalam Wikipedia Indonesia, cabe gendot atau golkar dikenal juga dengan nama cabe gendol (Capsicum chinense). Di dunia internasional dikenal pula dengan sebutan Habanero yang merupakan  salah satu spesies cabai dari Capsicum
Cabai ini diperkirakan berasal dari semenanjung Yucatan dan menyebar ke seluruh dunia melalui perdagangan dan perpindahan manusia.

Bagi sebagian orang, cabai ini sangat pedas bahkan melebihi pedas cabai rawit. Tingkat kepedasan cabai gendot mencapai 100.000-350.000 Skala Scoville.

Penghasil cabai gendot terbesar di dunia adalah Meksiko, yang tumbuh di Yucatan, Campeche, dan Quintana Roo, meskipun ada perkebunan komersial di Belize,Kosta Rika,Texas, dan California.

Bentuk cabe gendot mirip paprika, namun besarnya hanya seukuran jempol kaki orang dewasa saja. Warna saat panen yang tepat ketika cabe berwarna hijau. Setelah tua akan berwarna hijau kekuningan hingga merah menyala.

Soal rasa, cabe yang bertekstur mirip dengan paprika ini memiiliki rasa yang sangat pedas, berbanding terbalik dengan paprika yang manis dan dapat dikonsumsi langsung tanpa dimasak sekalipun.

Kata bapak saya yang menanam sendiri cabe Golkar di kebun, cabe Golkar ini pas dipanen sewaktu berwarna hijau atau setengah matang menuju warna kuning. Jika sudah terlalu matang akan berwarna merah terang dan kurang laku dipasaran.

Kalau sudah merah biasanya harga akan lebih murah ketimbang yang masih berwarna hijau. Harga di pasar tradisional rata-rata Rp.5.000 per kilogramnya,” ujarnya.

Bapak juga mengatakan cabe Golkar sangat cocok untuk masakan tumis-tumisan seperti tumis cumi, daging, ayam dan campuran sayuran. Karena rasa dan teksturnya sangat mirip dengan paprika, sehingga penggunaannya juga lebih banyak untuk tumisan.

Berbeda dengan paprika yang tidak pedas dan cenderung manis, cabe gendot memiliki rasa pedas dan hangat yang lama di mulut. Jangan coba-coba memegang cabe gendot dengan tangan telanjang jika anda tidak tahan rasa pedas karena rasa hangatnya bisa bertahan hingga 12 jam.

Cabe golkar umumnya berbiji  kehitaman dengan ukuran  sama dengan biji cabai pada umumnya.
Cabe ini dapat bertahan 10 hari di suhu ruang dan dapat lebih dari sebulan jika berada di lemari pendingin. 

Alhamdulillah, lewat obrolan dengan bapak kemarin di Jonggol, saya jadi tahu kenapa cabe ini disebut golkar di prampelan. Kalau sempat ke prampelan silahkan lihat lihat budidaya cabe golkar disana… 

Cabe Golkar di Prampelan

Lebih Jahat Dari Riba


Semua sepakat bahwa mencuri, zina dan sejenisnya adalah perbuatan hina dan tercela. Hampir tidak ada dari masyarakat yang berani melakukannya dengan terang terangan. 

Kenapa? Karena masyarakat kita masih menganggap perbuatan zina dan mencuri sebagai perbuatan hina dan tercela serta pelakunya pantas disingkirkan dari masyarakat. 

Lalu, bagaimana masyarakat kita menundukkan perbuatan menggunjing, ghibah, hoax dan membicarakan aib sesama muslim atau sejenisnya; lebih hina dari zina dan mencuri, setingkat dengannya ataukah lebih ringan? 

Fakta menunjukkan, saat ini orang tidak malu lagi membicarakan aib orang lain di tempat umum, menyebar hoax di media masa, menggibah dan menggunjing orang lain atas dasar kebenaran versinya sendiri. Apalagi tontonan dan siaran televisi terangan terangan mengajak masyarakat membiasakan diri dengan gosip murahan. 

Mari kita perhatikan hadits Nabi saw berikut:

الربا اثنان و سبعون بابا أدناها مثل إتيان الرجل أمه و إن أربى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه

“Riba itu terdiri dari 72 pintu, yang paling rendah adalah seperti seseorang menzinahi ibunya, dan sejahat jahatnya riba adalah perbincangan seseorang untuk mencela saudaranya.”

[HR. Ath-Thabrani no. 1871]
Betapa besar haramnya zina! Dan yang lebih besar dari itu adalah seseorang menggauli ibunya. Gambaran itu untuk menjelaskan riba, kejahatannya, tingkatannya dan pintu pintunya. 

Jika pintu riba yang paling rendah adalah seperti seseorang menggauli ibunya sendiri, lalu bagaimana gambaran yang lebih besar dari itu? Dan jawabannya sungguh menakutkan, “Sejahat jahatnya riba adalah perbincangan seseorang untuk mencela saudaranya” 

Masih adakah yang mengumbar lisan, menyebarkan kebohongan dan berita hoax dengan konsekuensi seperti di atas? 

Semoga kita bisa memahami target dan tujuan dari hadits ini. Semoga hati kita tergugah dan mengetahui makna sabda Nabi saw yang karenanya kita tidak butuh bicara banyak dan kita pun selamat dari musibah kompleks dan dosa dosa berat. [] 

ICD – Islamic Character Development 

Defoaming


Secara kependudukan, umat Islam di Indonesia terhitung banyak. Sahut sahutan adzan mudah kita dengar dimana mana, pengajian dan kajian juga ada dimana mana. 

Jumlah yang sedemikian banyak belum sesuai dengan kotribusi yang menonjol yang muncul dari keislaman umatnya. 

Kita masih merasakan wc di mall dan hotel lebih terjaga kebersihannya dari tempat wudhu masjid dan musholla. 

Islam mengajarkan kebersihan dan terus mendorong kita untuk berfikir. Aksi 411, 212 dan aksi sebelumnya menyadarkan umat Islam banyak hal. 

Satu dua muslim buang sampah atau injak taman sembarangan dapat terekspose untuk menodai umat Islam secara keseluruhan. 

Tiba-tiba banyak orang mendapat “hidayah” tentang banyaknya berita bohong yang beredar. Tiba-tiba saja banyak orang menjadi terbiasa bertabayun, cek dulu kebenaran berita sebelum forward begitu saja.

Maka dalam buih buih yang terkonsentrasi itu, mulai terjadi defoaming, gelembung-gelembung kecil yang terpecah menyatu dalam aliran yang semakin terarah. 

Yang hadir di Monas, dalam hitungan kerumunan adalah kumpulan yang rapi, masif, dan beradab. Mereka mencintai negeri, terlihat dalam Indonesia Raya yang kolosal. Mereka mencintai agama, dalam takbir yang tak putus-putus. Mereka bukan kumpulan gelembung yang menjadi buih; manalah mungkin sekantung berlian dikatakan buih? Merekalah tulang sumsum kemuliaan.

Hadits Nabi tidak salah. Buih itu justru kita yang terserak disana sini. Tanpa ikatan, kopong tanpa isi, terbang terikut angin, mudah pecah. 

​Agar Tak Berburuk Sangka Lagi


Saat melihat sesuatu biasanya spontan kita ingin berkomentar, baik di ucapkan dengan lisan atau hanya lintasan dalam hati.

Perlu kita berhati-hati dalam berprasangka, jika kita berbaik sangka maka hati kita tenang dan bahagia, namun jika sebaliknya kita berburuk sangka maka hati kita gelap dan sengsara.

Kadang dalam hati ngedumel kepada orang lain tentang apa yang mereka kerjakan. 
Seperti berburuk sangka kalau teman kita sering shalat di masjid, “ini orang pasti banyak hutangnya“, bertemu dalam pengajian dan terlintas dalam pikiran, ‘hmm… pakaiannya gak mecing… ” atau” ini orang dekat dekat saya pasti ada maunya… “ Padahal sangkaan itu belum tentu benar dan terjadi. 

 

Buruk Sangka menurut Ibnu Hajar Al-Haitsami sebagai dosa besar batin. Ibnu Najjar berkata,”Siapa yang berburuk sangka kepada temannya, maka ia telah berburuk sangka kepada tuhannya.” Sebagaimana firman Allah swt. 

 يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ {الحجرات: 12}.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. 



Lantas bagaimana agar tidak berburuk sangka lagi kepada orang lain?

  • Menyadari bahwa setiap orang punya kesalahan, termasuk diri kita sendiri. Lebih pantas memikirkan kesalahan kesalahan sendiri daripada kesalahan orang lain. 
  • Selalu meminta maaf kepada suami atau istri dan mencium tangannya sebelum tidur. 
  • Memaafkan teman-taman yang membicarakan diluar sana dengan menyapa salam kepada mereka. 
  • Menjauhi teman-teman lama yang tidak baik tetapi tetap rajin memberi salam melalui sosmed. 
  • Perbanyak doa untuk membersihkan hati. 

 « اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أنتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أنتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا»

Ya Allah kuatkanlah jiwa taqwa didlm diriku, Bersihkan hatiku kuatkan jiwaku. Engkau lah sebaik2 pembersih jiwa. Engkau pengatur dan Pelindung jiwa. 

Imam Al-Ghazali memberikan saran berikut untuk membersihkan hati dari kerak purba sangka. 

  1. Jika berjumpa dengan anak-anak, anggaplah anak anak itu lebih mulia daripada kita karena anak anak belum banyak melakukan dosa.
  2. Apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah dia mulia daripada kita kerana dia sudah lama beribadat kepada ALLAH SWT berbanding dengan diri kita sendiri.
  3. Jika bertemu dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita kerana dia lebih banyak ilmu yang dipelajari dan lebih banyak mengetahui berbanding kita.
  4. Apabila bertemu dengan orang jahil,anggaplah mereka lebih mulia kerana mereka melakukan dosa dalam kejahilan.Sedangkan kita melakukan dosa dalam keadaan mengetahui.
  5. Jika melihat orang jahat jangan anggap kita lebih mulia daripada mereka kerana mungkin di suatu hari nanti mereka akan insaf dan bertaubat atas kesalahan yang dilakukan.
  6. Apabila bertemu dengan orang kafir,katakanlah didalam hati,bahawa mungkin suatu hari nanti mereka akan diberi hidayah oleh ALLAH SWT dan akan memeluk islam,maka  segaladosa mereka akan diampunkan oleh ALLAH SWT.

ICD – Islamic Character Development 

Alhamdulillah… Keponakan Baru


Sore hari, 14 Januari 2017. Beberapa menit menjelang seruan adzan maghrib. Saya dan istri mencoba telpon ke nomor adik saya di Jonggol. Dia sedang hamil dan HPL nya katanya hari itu. 

Berkali kali kami telpon tapi gak terangkat, hati kami jadi sedikit gelisah. Pasalnya jarak dari rumah adik ke bidan cukup jauh dan lewat turunan dengan jalanan jelek yang menghubungkan antara perumahan cintra indah dan kampung adik saya. Dan rencananya akan dibawa pakai motor, wah.. rawan dan mengkhawatirkan. 

Setelah beberapa menit, adik saya Farhad telpon ke saya kalau anaknya yang ketiga sudah lahir dengan selamat, cukup gede, katanya 3 kiloan. 

Tak lupa kami mendoakan kepada mereka. 

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak.”

Saya dan istri langsung meluncur ke Jonggol malam itu juga. Rumah adik kosong, istri diminta jaga rumah dan nemenin anak pertama, Raihan. 

Jam 10-an sudah sampai di Jonggol Farm, saya istirahat sebentar dan langsung pergi ke Jakarta lagi untuk menjemput bapak dan ibu yang malam tadi perjalanan Magelang – Jakarta. 

Sekarang bapak dan ibu sedang istirahat, beliau berdua kecapean, perjalanan malam yang melelahkan, tidak kurang dari 12 jam bapak dan ibu di dalam bus. 

Bapak ibu membawakan sayur dan buah untuk kami. Ini sudah jadi kebiasaan beliau setiap ke Jakarta. Sayur kubis, jipang, kentang yang semuanya fresh dari kebun sendiri. Ada juga cabe ‘golkar’ demikian orang desa kami menyebutnya. Katanya jenis cabe ini hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng dan daerah saya. Bentuknya sedikit mirip dengan tomat. 

Alhamdulillah, semoga kelak menjadi anak shalih dan pejuang islam,  kebanggaan orang tua di dunia dan akhirat. 

Jerat Lisan


Comberan itu genangan air kotor yang mengendap hasil buangan limbah rumah tangga. Kata ini jadi viral untuk menyebut kiasan orang yang suka berkata kotor (mulut comberan). 

Sengaja atau tidak, kadang terlontar dari lisan kita kata-kata buruk, jelek dan  tidak semestinya diucapkan, bahkan hewan di zoo keluar semua.

Bakar Abu Zaid menyebutkan dalam buku “Mu’jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah” ketika membahas lafadh Yaa Kalb… , Said bin Musayib mengatakan: “Jangan engkau mengatakan hei keledai, hei anjing, hei babi pada saudaramu karena di akhirat nanti akan ditanya oleh Allah swt ‘Apakah kamu kira Aku menciptakan keledai, anjing atau babi?’ (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Imam Nawawi mengatakan bahwa perkataan seperti ini (kotor/buruk) jelek karena dua hal 1) dusta 2) menyakiti.

Mari menyimak nasehat berharga Nabi Muhammad SAW kepada Muadz bin Jabal tentang pentingnya menjaga lisan. 

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ  عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ   يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Adakah yang menyebabkan seseorang terjerumus wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka.  (Riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Ibnu Mubarak mengatakan “Saya belajar budi pekerti selama 30 tahun dan belajar ilmu selama 20 tahun”.

Imam Syafi’i
mengatakan “Ilmu itu bukan yang dihafal tapi apa yang bisa bermanfaat”.

Sebagian salaf mengatakan kepada anaknya “Wahai anakku, sekiranya engkau belajar satu bab budi pekerti lebih aku sukai daripada engkau belajar 70 bab ilmu”.

Makhlad bin Husain berkata kepada Ibnu Mubarak “Kita lebih banyak butuh pada adab daripada banyaknya hadits”.

 Ini isyarat pentingnya moral dan budi pekerti. 

Mari berfikir sebelum berbicara. Perbanyak mendengar. Karena Allah memberikan dua telinga agar lebih banyak mendengar daripada bicara.

Menarik apa yang belum diucapkan lebih mudah dari pada menarik yang telah diucapkan. Perkataan yang telah diucapkan selalu mengikuti, sedangkan perkataan yang belum diucapkan masih mampu dikendalikan. 

Pepatah Melayu mengatakan ‘Telajar perahu masih boleh diundur lagi, telajar kata hilang percaya’

ICD – Islamic Character Development 

%d bloggers like this: