​Allah Melihat Perjuanganmu


Belajarlah dari jam dinding yang berdetak disetiap saat, ia tak pernah berhenti hingga batrainya habis. Ia juga tetap berdetak meskipun orang tak melihatnya, ia tetap berdetak meskipun semua orang terlelap tidur. Ia pula yang tak pernah bosan mengingatkan waktu demi waktu untuk manusia bersujud.

Keikhlasannya pun tak tertandingi, ketika ia diabaikan, ketika ia kadang-kadang dilihat, kadang-kadang juga tidak. Ia tetap menjaga keikhlasannya meskipun ia dilihat ketika ia dibutuhkan saja.

Allah melihat setiap perjuangan dari hamba-Nya. Baik terlihat di mata manusia, maupun dirahasiakan. Allah melihat ikhtiar kita, jadi tetaplah bergerak meskipun itu berat, teruslah berkarya meskipun tak pernah dihargai, tetaplah bergerak meskipun tak dilihat mata manusia.

Tak perlu meminta balasan dari seseorang, tak perlu menunjukkan bahwa engkau seorang yang hebat, biarkan Allah yang menilai, biarlah Allah yang akan membalas dengan balasan yg terbaik. 

Kalau kita melakukan sesuatu, orang ada atau orang tidak ada, sama saja, Allah pasti ada. Apakah orang lain melihat atau  tidak melihat, tidak apa- apa karena Allah pasti melihat. Begitu juga orang mau memuji atau tidak memuji, tidak ada urusan buat kita, yang penting ridha Allah. 

Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Perlukah kita dikagumi orang? Tidak perlu, karena yang penting kita lakukan saja yang terbaik sampai Allah kagum kepada kita. 

Jika kita  sibuk dengan Allah yang Maha Melihat, tidak perlu mencari cinta dan kekaguman orang.
Semoga Allah senantiasa menjaga niat baik kita semua dan semata-mata hanya mengharap ridha dari-Nya.

Wa’allahu’alam

Umroh Untuk Gotta


Sabtu kemarin, di hari pertama Lebarun Peduli Mentawai, ada acara Talkshow yang menghadirkan langsung orang orang Mentawai dari Buttui. Mereka sengaja dihadirkan agar sesuai dengan tema Peduli Mentawai dan agar masyarakat tahu program yang sedang dilaksanakan Aksi Peduli Bangsa benar benar terealisasi di Mentawai. 

5 orang Sikerei maju ke depan panggung bersama pak Nawir, GM Aksi Peduli Bangsa yang memberikan pengantar acara. 

Salah satu Sikerei menyebutkan bahwa mereka sangat bersyukur dengan kedatangan Aksi Peduli Bangsa ke tempat mereka sehingga kehidupan mereka bisa lebih baik dan anak anak mereka juga bisa berkembang. 

Di antara para Sikerei ini, ada anak kecil dari dusun #buttui yang akan disekolahkan di Bogor, hafalan anak ini sudah cukup lumayan dan suaranya bagus. 

Anak ini bernama Gotta, kami meminta dia untuk membacakan surat yang dia hafal dan mengumandangkan adzan. 

Alhamdulillah setelah selesai membaca Al-Quran dan adzan ada peserta yang terharu dan berjanji memberikan hadiah umroh untuk Gotta. 

Ini menjadi menguatkan bukti bahwa Allah Swt selalu memuliakan orang Penghafal Al-Quran, rizki mereka sudah diatur oleh Allah swt. 

Semoga umroh ini jadi penyemangat bagi Gotta untuk terus belajar agama dan kelak menjadi dai di tempat asalnya. 

***

Beberapa foto dan video ttg acara ini ada di IG saya, silahlan follow @JumalAhmad 

Anak kecil dg kaos Hitam di atas bernama Gotta

Pada Setiap Hati Yang Basah Terdapat Pahala


Di postingan sebelumnya saya sampaikan bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya. 

Dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”. 
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan hadits lain yang memotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain, hadits yang bercerita tentang kisah seorang lelaki yang berbuat baik kepada seekor Anjing yang karena kebaikannya dia masuk surga. 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Yang menjadi perhatian kita bukan pada teks ceritanya, tapi pada kata terakhir yang disampaikan Nabi Muhammad Saw:  في كل كبد رطبة أجر)..

“Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”. 

Jika berbuat baik kepada hewan bisa memasukkan ke surga, maka bagaimana dengan berbuat kepada sesama manusia yang membutuhkan, seperti saudara kita di pedalaman Indonesia atau saudara kita di luar sana seperti Somalia, Palestina dan lain sebagainya. 

Maka, pada setiap kesempatan yang ada gunakan untuk berbuat baik kepada sesama. 

Saudara kita di pedalaman Mentawai contohnya, mereka sangat kekurangan dalam masalah ekonomi, sarana listrik, sarana transportasi dan sarana ibadah. 

Lihatlah mereka sebagai saudara kita, Allah memberikan mereka kasih sayang dan kehidupan, kita pun harus memberikan kasih sayang sebagaimana Allah memberikan kepada mereka. 

Membantu Orang Hakikatnya Membantu Diri Sendiri


Mohon maaf kepada semua teman blog, beberapa hari ini saya tidak fokus menulis di blog ini karena ada beberapa event yang saya terlibat di dalamnya, salah satunya event Lebarun Peduli Mentawai yang alhamdulillah berjalan lancar pada hari ini. 

Di posting ke depan, insya allah akan saya ceritakan beberapa pengalaman ketika menjadi panitia lebarun dan khususnya ketika bertemu dengan orang orang Mentawai. 

Kali ini saya ingin menulis salah satu pengalaman hidup yang saya dapatkan dari menolong orang lain, dalam hal ini saya contohkan aktifitas saya yang membantu program dakwah di pedalaman Mentawai. 

Saya meyakini bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya.

Salah satu dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”  yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu.

Lewat hadits di atas, mari membantu orang lain semampu kita, apapun yang bisa kita lakukan maka lakukanlah. Selalu tanamkan keyakinan sebelum berbuat, bisa jadi disini Surga saya…bisa jadi di tempat ini/ pekerjaan ini surga saya.. 

Berorientasi kepada pahala dan surga akan menambah kekuatan pada diri kita untuk bertahan pada kondisi yang mungkin bagi orang lain bisa tergoyahkan. 

Mari beramal.. 

Menyentuh Jiwa Anak


Buku-Sentuhan-Jiwa-Untuk-Anak-Kita

Mendidik anak yang merupakan anugerah dari Allah membutuhkan banyak bekal dan salah satunya adalah pengalaman. Pengalaman itu bukan saja didapat dari dirinya namun juga dari pengalaman orang lain. Yang demikian disebabkan karakter anak yang berbeda-beda maka konsekwensinya penanganannyapun berbeda-beda. Selain teori pendidikan yang bersifat Ilmiah, studi kasus dari yang terjadi di lapangan adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Dari segi teori pendidikan maka tidak ada lagi rujukan yang paling lurus, baik dan benar selain Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Nya. Begitu pulalah selayaknya ketika kita berupaya sungguh-sungguh mendidik anak-anak yaitu menggabungkan unsur teori dan praktik atau pengalaman.

Unsur-unsur praktis, sisi pengalaman, kenyataan hidup, studi kasus, dan yang semisalnya itulah yang menonjol dalam buku setebal 896 halaman ini. Karena beragamnya faktor yang melatarbelakangi karakter manusia maka penulispun memperluas pengambilan rujukan dalam penyusunan buku ini. Dr. Muhammad Muhammad Badri menegaskan di Mukadimah buku ini, “Saya mengambil manfaat dari sejumlah kajian berbahasa Arab dan banyak kajian terjemahan dari bangsa Barat sehubungan dengan sisi pengamalan; semua kajian itu memuat banyak metode pendidikan praktis yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.” Yang dimaksud terjemahan oleh penulis adalah dari bahasa non Arab ke bahasa Arab.

Nama-nama asing, atau lebih tepatnya nama ajam (non Arab), seperti Sir Percy Nann, Dr. Sall Schiffer, Dr. Paul Coleman, Dr. Spock, Ray Levi, Dr. J. Jenout, Donald Nown mewarnai footnote buku ini. Selain nama-nama tersebut, tentu saja nama-nama yang sudah akrab di telinga kita tercantum dalam footnote seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Syaikh Al-Albani, Imam Ibnul Qayyim, dll. Karena ingin menonjolkan sisi praktis atau kongkret dalam penuisan buku ini, maka tidak heran penulis banyak membuka khazanah keilmuan dari penulis-penulis ajam yang nota bene non muslim.

Selama apa yang disampaikan penulis non muslim itu benar dan applicable maka selayaknya kita tidak antipati. Penulis buku ini yakin dengan sabda pendidik terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, yang beliau tidaklah berkata-kata kecuali dengan wahyu, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau pernah bersabda, “Al Hikmah adalah barang hilang milik orang mu’min; dimana saja ia menemukannya, ia adalah orang yang paling berhak memilikinya” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Semua bab dalam buku ini merupakan penjelasan dari kata-kata HUMAN TOUCH. Sepuluh huruf dari kata-kata tersebut menjadikan sepuluh bab buku parenting yang mencoba menjelaskan dengan detil sentuhan jiwa untuk anak. “Saya memberinya judul Human Touch (Sentuhan manusiawi) karena saya merasa kita sangat membutuhkan sentuhan manusiawi nan lembut dalam berinteraksi dengan putra-putri kita. Sentuhan tersebut menegaskan salah satu sisi terpenting keluhuran manusia dalam pendidikan Islam; tanpa ini, pendidikan berubah menjadi cambuk yang sekedar memecuti punggung tetapi tidak menyucikan hati.”

Sepuluh bab yang dimaksud adalah:
H: Hear him (dengarkanlah ia)
U: Understand his feelings (mengertilah perasaannya)
M: Motivate his desire (berilah hasratnya motivasi)
A: Appreciate his efforts (berilah apresiasi atas usahanya)
N: News him (berilah ia informasi)
T: Train him (latihlah ia)
O: Open his eyes (bukalah matanya)
U: Understand his uniqueness (pahamilah keunikannya)
C: Contact him (jalinlah hubungan dengannya)
H: Honour him (hargailah ia)

M Fauzil Adhim seorang pakar parenting terkenal dalam kata pengantar buku ini menukil nasehat Dr. Muhammad Muhammad Badri, “Cintailah anak-anak Anda dengan cinta yang nyata; tunjukkan kesalahan mereka dengan lembut dan santun; bersikaplah sesekali sekan-akan Anda mengabaikan kesalahan mereka; jadikanlah diri Anda sebagai teladan bagi mereka; gunakanlah cara dan metode yag tepat dalam melakukan itu. Gunakan bahasa cinta dan kasih sayang.”

Menurut hemat kami, buku ini bisa meminimalisir ‘trial and error’ dalam menghadapi kasus-kasus praktis yang terjadi di lapangan ketika berinteraksi dengan anak. Bagi para pendidik dan orang tua yang ingin ‘menyentuh’ jiwa anaknya, buku terbitan Daun Publishing ini Insya Allah banyak faidahnya.

Marilah kita memulai menyentuh jiwa anak.Dan kesempurnaa manusia itu dengan jiwanya bukan dengan raganya sebagaimanana perkataan penyair:

يَا خَادِمَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِخِدْمَتِهِ
أَتْعَبَتْكَ نَفْسُكَ فِيْمَا فِيْهِ خُسْرَانٌ
أَقْبِلْ عَلَى الرُّوْحِ وَ اسْتَكْمِلْ فَضَائِلَهَا
فَإِنَّكَ بِالرُّوْحِ لاَ بِالْجِسْمِ إِنْسَانٌ

Wahai pelayan jasmani
Berapa lama engkau bekerja untuk kepentingannya
Engkau telah menyusahkan diri
Untuk sebuah kerugian yang nyata
Hadapkan perhatian kepada ruhani
Dan sempurnakan keutamaannya
Dengan ruhani, bukan dengan jasmani
Engkau sempurna menjadi manusia

…dan anak kita juga manusia…

Ralat: Penulis buku ini adalah Muhammad Muhammad Badri bukan Dr. Muhammad Arifin Badri demikian info dari Ustadz Fariq Ghasim Anuz hafizhahullah
Sumber: FB Yayasan Pendidikan dan Sosial Al-Hanif

 

Lebarun Peduli Mentawai


Lebaran Di Prampelan


Alhamdulillah, kita bisa bertemu debgan idul fitri setelah satu bulan berpuasa. Kenangan selama Ramadan pasti sangat dirindukan setiap muslim, masjid yang ramai setiap shalat lima waktu, membaca Al-Quran bersama sama dan mendengarkan ceramah agama adalah salah satu kenangan ramadan. Semoga kenikmatan Ramadan ini bisa kita rasakan kembali di tahun tahun berikutnya. 

Kesan lebaran di desa Prampelan sangat berbeda dengan tempat lainnya, kami yang tinggal di desa punya kebiasaan tersendiri dan beberapa hal lebih simpel dari kebiasaan di daerah lain. 

Masyarakat Prampelan untuk memenuhi kebutuhan lebaran harus pergi ke pasar Kaliangkrik yang jaraknya 7 kilo dari desa kami, kadang ada yang jalan kaki sejauh itu atau ada juga yang naik mobil sayur sehabis subuh. 

Pasarannya hanya ada dua hari dalam satu minggu yaitu bertepatan dengan hari Pon dan Legi dalam penanggalan jawa. Hari pasaran sebelum lebaran disebut dengan prepegan yaitu hari terakhir pasaran sebelum lebaran, pada hari ini pasar penuh dan berjubel orang yang ingin membeli pakaian baru dan pakaian lebaran. 

Dua hari atau sehari sebelum lebaran atau dalam bahasa jawa Bodo, ibu rumah tangga membuat kue dan makanan sederhana khas desa, ibu saya lebaran ini membuat wajik hijau. 

Biasanya di hari H syawal, kami keliling ke kakek, nenek, pak de, bu de dan lainnya untuk meminta maaf atau dalam istilah kami ujong dengan bahasa jawa. 

Bahasanya seperti ini. 

Ngatoraken sedoyo lepat kulo nyuwon ngapunten artinya mohon maaf semua kesalahan kesalahan kami. Dan biasanya dijawa dengan nggeh sami sami, artinya sama sama, atau dengan jawaban yang lebih panjang lagi. 

Lebaran ini, saya gak sendiri lagi, saya keliling desa ditemani istri tercinta dan adik adik saya. Alhamdulillah semoga lebaran teman semuanya juga berkesan. 

%d bloggers like this: