Qurán Gateway, Alat Riset Al-Quran Paling Canggih di Dunia


Beberapa tahun yang lalu saya menulis review tentang alat digital Al-Quran bernama Alfanous Quranic Search Engine yang berfungsi laiknya Google untuk Al-Quran. Semua tulisan saya tentang Alfanous bisa dilihat di link ini. (Alfanous).

Jika anda seorang pemelajar Al-Quran atau Islamic Studies dan ingin mendalami ayat-ayat Al-Quran dengan bantuan aplikasi atau tool yang canggih, saya persilakan anda menggunakan tool Qurán Gateway yang dikembangkan oleh para peneliti di Oxford University.

Alat ini menyediakan basis data yang diperlukan untuk studi teks Al-Qur’an termasuk database yang ditandai secara morfologis, grafik, grafik, dan foto-foto manuskrip.

Pada tahun 2014, sekelompok kecil spesialis dalam Islam dan teks Al-Qur’an memperhatikan perlunya membuat edisi digital untuk studi Al-Qur’an. Dua tahun berikutnya, mereka mulai membayangkan bagaimana mereka dapat mengubah pekerjaan mereka menjadi alat digital yang bermanfaat bagi komunitas ilmiah dan awam secara lebih luas, untuk membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi peneliti berikutnya.

Mereka memperhatikan bahwa walaupun sudah ada banyak perangkat lunak berkualitas tinggi yang tersedia untuk studi teks-teks Bibel, beberapa alat digital seperti itu belum ada untuk studi teks Qur’an. Keadaan ini mengilhami mereka untuk memulai pengembangan alat semacam itu, dan hasilnya adalah mereka membuat Quran Gateway.

Dr. Andrew G. Bannister menjelaskan ketika awal membuat tool ini bahwa dia mengunjungi Haifa dan Leeds University untuk membuat morphologi dari setiap kata-kata dalam Al-Quran dengan label dan identifikasi setiap ayat. Kemudian membuat analisa komputernya. Menurutnya dengan cara ini telah memangkas bertahun-tahun waktu yang dibutuhkan dan mempercepat program doktoralnya selesai tepat waktu.

Qurán Gateway ini baru dirilis jadi kalau Anda ingin mengunakannya harus mendaftar ketertarikan kita (register your interest) dan menunggu email untuk diberikan kode, kode ini nanti untuk mendaftarkan lagi.

Ketika Anda sudah bisa mendapatkan kode kemudian bisa mendaftar dan login di aplikasi, Anda akan mendapatkan tatap muka Qurán Gateway seperti berikut ini.

Tatap Muka Qurán Gateway

Di kolom kosong paling tengah, Anda bisa menuliskan ayat atau surat yang ingin Anda cari, kemudian tekan Enter atau klik Search. Misalnya anda mengetikkan ayat: 2: 1-5, muncul hasil tampilan seperti ini.

Tampilan Surat Al-Baqarah ayat 1-5

Aplikasi ini juga bisa mencari sebuah kata dalam Madaniyah atau Makkiyahnya. Seperti yang digambarkan Prof. Gabriel S Reynolds berikut.

Beliau mencari kata Jihad dalam Al-Quran dan mendapatkan hasil seperti ini dengan keterangan warna untuk Makiyyah dan Madaniyahnya.

Dan selengkapnya bisa dikunjungi di akun Twitter beliau @GabrielSaidR.

Rujukan:

https://info.qurangateway.org/

https://info.qurangateway.org/about-quran-gateway/

Game Islami: Protector of Al Aqsha – Mengajak Kita Lebih Dekat dengan Masjid Al-Aqsha


Kali ini saya akan update informasi perkembangan teknologi Islam dalam hal game. Zaman sekarang, siapa sih yang gak pernah main game? Siapa yang punya HP, maka pasti ada gamenya sekalipun game ular yang kadang sudah built in dari developer.

Bagi yang suka main game yang gak jelas dan ingin merubah atau berpindah ke game yang lebih bernuansa Islamic, sila coba game Al-Aqsha Mosque Guard Educational Game yang didesain untuk lebih mengenal masjid Al-Aqsha, nama gamenya Protector of Al-Aqsha atau حارس المسجد الأقصى.

Aplikasi ini didesain oleh sekelompok pemuda Palestina dari Burj Al-Lak Lak Community Center yang didukung oleh Turkey’s Vakti Kıraat association. Game didesain untuk mengedukasi remaja tentang sejarah Al-Aqsha dan budaya yang ada disekitar Al-Aqsha.

Pemain game dapat lolos ke level berikutnya setelah menjawab 250 pertanyaan tentang sejarah dan mendapatkan gelar “Guard,” “Servant” dan “Mentor” dalam empat tahap yang terpisah.

Jika pemain berhasil menjawab semua pertanyaan dengan benar, mereka memenangkan kunci gerbang Al-Maghrib di sudut tenggara kompleks masjid, yang telah dikendalikan oleh pasukan Israel sejak Israel pertama kali menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967.

Kelebihan dari game ini, kita bisa melihat lebih dekat gambaran luar dan dalam masjid Al-Aqsha dan nama-nama gedung di masjid Al-Aqsha. Kekurangannya, game ini masih menggunakan bahasa Arab, belum menggunakan bahasa Inggris yang lebih umum di dunia. Semoga ke depan bisa dirilis dalam versi bahasa Inggrisnya.

Jika ingin coba download di Google Play, sila klik tautan ini.
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.MQ.JerusalemProtector

Tautan di Youtube bisa anda lihat di bawah ini.
https://www.youtube.com/watch?v=MLwVWGQMSXg&feature=youtu.be

Dan berikut ini keterangan beberapa gambar dalam game ini.

Kita diajak melihat keindahan sekitar Masjid Al-Aqsha
Pengetahuan kita tentang Masjid Al-Aqsha semakin bertambah dengan menjawab pertanyaan seputar masjid Al-Aqsha
Menyingkap rahasia di bawah masjid Al-Aqsha
di pelataran masjid Al-Aqsha

Sebentar lagi bulan Ramadan 2019, mungkin game ini bisa menjadi sarana menunggu waktu buka puasa dengan mengenal lebih dekat masjid Al-Aqsha dari game ini.

Sumber:

https://www.dailysabah.com/religion/2019/02/21/palestinian-group-develops-educational-game-app-about-al-aqsa-mosque

Jika berkenan, sila membagikan informasi ini kepada siapa saja yang Anda inginkan kebaikan baginya. Bisa jadi kebaikan kecil yang kita lakukan akan membuka kebaikan-kebaikan selanjutnya bagi orang lain. Terima kasih.

Terselip Lidah Sebut Kafir, KH. Raden Asnawi Diadili Kolonial Belanda


Seorang ulama dihadapkan ke pengadilan karena menyebut orang yang tidak salat sebagai kafir atau orang gila.

Di Kudus, tinggallah seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dan teguh pendiriannya. Ulama tersebut bernama Kiai Haji Raden Asnawi, A’wan Syuriah Nahdlatul Ulama. Pada zaman kolonial Belanda, dia hadapkan ke Pengadilan Negeri (landraad) karena tuduhan melakukan delik penghinaan kepada orang yang tidak salat sebagai orang kafir atau orang gila.

Menurut KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya, Berangkat dari Pesantren, mengingat ulama tersebut sudah berusia lanjut dan sangat berpengaruh dalam masyarakat Kudus, ketua pengadilan secara persuasif meminta terdakwa mencabut kata-katanya dengan alasan tergelincir lidah (slip of the tongue). “Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah,” kata Menteri Agama era Presiden Sukarno itu.

Kiai Asnawi menegaskan bahwa dirinya sekadar mengatakan apa yang tersebut dalam kitab Fiqih: Falaa tajibu ‘alaa kafirin ashliyyin wa shobiyyin wa majnuunin artinya maka sembahyang itu tidak wajib dikerjakan oleh orang kafir, anak masih bayi, dan orang gila.

“Dengan demikian maka siapa pun yang tidak melakukan sembahyang atau yang merasa dirinya tidak dibebani kewajiban sembahyang, samalah artinya dengan menyamakan dirinya orang gila. Yang menamakan dirinya sama dengan orang gila ialah pengakuannya sendiri berdasarkan bunyi kitab Fiqih, saya sekadar menerangkan bunyi kitab itu,” kata Kiai Asnawi membela diri.

Pengadilan menjatuhkan hukuman denda sebesar 100 gulden. Namun, Kiai Asnawi tidak memiliki uang sebanyak itu. “Kalau tak mampu membayar denda 100 gulden, Pak Kiai mesti masuk penjara sekian hari,” kata ketua pengadilan.

Kiai Asnawi keberatan alasannya masuk penjara bagi orang tua seperti dirinya amat menyusahkan. “Lagi pula bagaimana nasib santri-santri saya? Siapa yang mengajar mereka? Siapa yang mengimami sembahyang?” tanya Kiai Asnawi menebar pandangan ke sekeliling ruang pengadilan. Dia tetap berdiri dibantu tongkat dengan kepala tegak.

Majelis menjadi riuh. Ketua pengadilan menskor persidangan sambil berunding dengan jaksa. “Perundingan sambil berbisik itu diakhiri dengan sang ketua pengadilan merogoh dompet dari kantongnya dan menyerahkan sejumlah uang kepada jaksa,” kata Saifuddin, ayah dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Pak Kiai, ini ada uang seratus gulden, harap Pak Kiai membayarkan dendanya,” kata jaksa. Kiai Asnawi pun dibebaskan dengan membayar denda seratus gulden yang berasal dari ketua pengadilan.

Menurut Saifuddin, begitulah gambaran Kiai Asnawi yang juga pernah mengirim surat kepada Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Rois Akbar NU, dan membuatnya masygul berhubung dengan penggunaan terompet dan genderang oleh Ansor NU dalam baris berbaris.

“Beliau tidak sependapat dengan Hadlaratusy Syaikh yang memperbolehkan terompet dan genderang dalam Ansor NU,” kata Saifuddin.

Meskipun memiliki kharisma yang disegani di kalangan masyarakat, namun Kiai Asnawi tidak luput dari sentimen masyarakat karena tidak mengungsi ketika kota Kudus diduduki Belanda dalam agresi militer kedua pada Desember 1948.

Alasannya, menurut Saifuddin, Kiai Asnawi yang sudah berusia 80 tahun tidak mampu hidup dalam gerilya, dikejar-kejar musuh dan bergerak terus. Selain itu, dia amat berat meninggalkan masjid dan pesantrennya.

“Beliau tetap Republiken, menolak kerja sama dengan Belanda, meskipun tetap tinggal di dalam kota,” tegas Saifuddin.

Sumber:
https://historia.id/agama/articles/sebut-kafir-kiai-diadili-P1Bl2

Keterangan Foto:
Pimpinan Muktamar NU tahun 1958. Kiri-kanan: KH Bisri Syansuri, KH M. Dahlan, KH Abdulwahab Hasbullah, dan KH Raden Asnawi.

Makalah dalam bentuk video bisa disimak di bawah ini.

Berpikr Kritis dan Kreatif Sebagai Bagian dari Kemampuan Berpikir Reflektif


proses berpikir

Pendahuluan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang ditangkap manusia mengenai objek sebagai hasil dari proses mengetahui baik melalui indra maupun akal. Jadi, segala sesuatu yang kita lihat, kita rasakan, kita pikirkan merupakan pengetahuan.

Pengetahuan juga didapat dari proses berpikir. Proses berpikir tersebut merupakan kemampuan manusia dalam menggunakan akal untuk memahami lingkungannya. Tanpa berpikir manusia tidak bisa diakui keberadaannya seperti yang dikemukakan oleh René Descartes yaitu Je pense donc je suis atau Cogito Ergo Sum, yang berarti Saya berpikir maka saya ada. Keberadaan saya diakui karena saya berpikir. Dari kemampuan berpikirlah, manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Untuk mengembangkan pengetahuan manusia melakukan proses berpikir ilmiah yaitu berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah keilmiahan.

Berpikir dilakukan di bidang apapun dan kesempatan apapun, begitu juga di bidang pendidikan. Begitu banyak pakar pendidikan yang telah memikirkan bagaimana cara untuk mengembangkan pendidikan karena pendidikan adalah proses yang terus menerus berubah atau berkembang menyesuaikan kebutuhan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi.

Akal pikiran yang dimiliki manusia, menyebabkan manusia dapat menciptakan pengetahuan, namun bukan jaminan manusia memilki pengetahuan secara otomatis, karena pikiran manusia hanyalah ruang kosong yang harus diisi dengan pengetahuan. 


Penelitian menempatkan posisi yang paling urgen dalam ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Penggunaan cara-cara ilmiah dalam sebuah aktivitas menjawab rasa ingin tahu, tidak saja memerhatikan kebenaran ilmiah (scientific truth), akan tetapi juga mempertimbangkan cara-cara untuk memperoleh kebenaran itu, cara itu adalah penelitian ilmiah (scientific research) atau disebut dengan metode penelitian. 

Metode ilmiah merupakan prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis keilmuan menurut John Dewey adalah metode berpikir reflektif (reflective thinking) yang terdiri dari mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah

  1. Menyusun kerangka pemikiran (logical construct).
  2. Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah).
  3. Menguji hipotesis secara empirik.
  4. Melakukan pembahasan.
  5. Menarik kesimpulan.

Pembahasan

Pengertian Berpikir Reflektif


Berpikir reflektif (reflective thinking) merupakan bagian dari metode penelitan yang dikemukakan oleh John Dewey. Pendapat Dewey menyatakan bahwa pendidikan merupakan proses sosial dimana anggota masyarakat yang belum matang (terutama anak-anak) diajak ikut berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan pendidikan adalah memberikan kontribusi dalam perkembangan pribadi dan sosial seseorang melalui pengalaman dan pemecahan masalah yang berlangsung secara reflektif (Reflective Thinking).

Menurut John Dewey metode reflektif di dalam memecahkan masalah, yaitu suatu proses berpikir aktif, hati-hati, yang dilandasi proses berpikir ke arah kesimpulan-kesimpulan yang definitif melalui lima langkah yaitu :

  1. Siswa mengenali masalah, masalah itu datang dari luar diri siswa itu sendiri.
  2. Selanjutnya siswa akan menyelidiki dan menganalisa kesulitannya dan menentukan masalah yang dihadapinya.
  3. Lalu dia menghubungkan uraian-uraian hasil analisisnya itu atau satu sama lain, dan mengumpulkan berbagai kemungkinan guna memecahkan masalah tersebut. Dalam bertindak ia dipimpin oleh pengalamannya sendiri.
  4. Kemudian ia menimbang kemungkinan jawaban atau hipotesis dengan akibatnya masing-masing.
  5. Selajutnya ia mencoba mempraktekkan salah satu kemungkinan pemecahan yang dipandangnya terbaik. Hasilnya akan membuktikan betul-tidaknya pemecahan masalah itu. Bilamana pemecahan masalah itu salah atau kurang tepat, maka akan di cobanya kemungkinan yang lain sampai ditemukan pemecahan masalah yang tepat.

Konsep reflektif dari John Dewey berkenaan dengan kemampuan berfikir reflektif dan bersikap reflektif. Kemampuan berfikir reflektif terdiri atas lima komponen yaitu: 

  1. recognize or felt difficulty/problem, merasakan dan mengidentifikasikan masalah;
    1. location and definition of the problem, membatasi dan merumuskan masalah;
    2. suggestion of posible solution, mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah;
    3. rational elaboration of an idea, mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan;
    4. test and formation of conclusion, melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan.

Sikap reflektif yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berfikir reflektif, dikembangkan berdasarkan konsep awal dari Dewey yang telah diperluas dan diaplikasikan oleh beberapa praktisi di bidang pendidikan guru.

Dalam artikel jurnal Teaching and Teacher Education (vol.12.no.1, Januari 1996), Helen L. Harrington cs mengemukakan dan mengembangkan tiga komponen sikap reflektif yaitu: 

  1. Openmindedness atau keterbukaan, sebagai refleksi mengenai apa yang diketahui, dalam pembelajaran ada tiga pola dasar yaitu pola berfokus pada guru, siswa, dan inklusif;
  2. Responsibility atau tanggung jawab, sebagai sikap moral dan komitmen profesional berkenaan dengan dampak pembelajaran pada siswa saja, siswa dan guru, serta siswa, guru dan orang lainnya;
  3. Wholeheartedness atau kesungguhan dalam bertindak dan melaksanakan tugas, dengan cara pembelajaran langsung guru, proses interaktif, dan proses interaktif yang kompleks.

Kemampuan berpikir reflektif terdiri dari kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif sama seperti kemampuan berpikir lainnya.

A.      Berpikir Kritis

Krulik dan Rudnick (NCTM, 1999) mengemukakan bahwa yang termasuk berpikir kritis adalah berpikir yang menguji, mempertanyakan, menghubungkan, mengevaluasi semua aspek yang ada dalam suatu situasi ataupun suatu masalah. Sebagai contoh, ketika seseorang sedang membaca suatu naskah ataupun mendengarkan suatu ungkapan atau penjelasan ia akan berusaha memahami dan coba menemukan atau mendeteksi adanya hal-hal yang istimewa dan yang perlu ataupun yang penting.

Demikian juga dari suatu data ataupun informasi ia akan dapat membuat kesimpulan yang tepat dan benar sekaligus melihat adanya kontradiksi ataupun ada tidaknya konsistensi atau kejanggalan dalam informasi itu. Jadi dalam berpikir kritis itu orang menganalisis dan merefleksikan hasil berpikirnya. Tentu diperlukan adanya suatu observasi yang jelas serta aktifitas eksplorasi, dan inkuiri agar terkumpul informasi yang akurat yang membuatnya mudah melihat ada atau tidak ada suatu keteraturan ataupun sesuatu yang mencolok.

Menurut Ennis (1996), berpikir kritis sesungguhnya adalah suatu proses berpikir yang terjadi pada seseorang serta bertujuan untuk membuat keputusan-keputusan yang masuk akal mengenai sesuatu yang dapat ia yakini kebenarannya serta yang akan dilakukan nanti. Seseorang pada suatu saat tertentu akan selalu harus membuat keputusan, oleh karena itu kemampuan berpikir kritis harus dikembangkan, terutama ketika dalam membuat keputusan itu ia sedang berhadapan dengan suatu situasi kritis, terdesak oleh waktu serta apa yang dihadapi itu tidaklah begitu jelas dan rumit. Hal ini biasanya terjadi jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan keputusan yang mungkin, dan dia harus memilih manakah yang terbaik dari sekian pilihan tersebut.

Demikian juga dalam hal berpikir kritis, keputusan yang akan diambil itu haruslah didasarkan pada informasi yang akurat serta pemahaman yang jelas terhadap situasi yang dihadapi. Misalnya dalam membuat suatu keputusan dalam memilih suatu strategi atau suatu teorema dalam matematika untuk membuktikan suatu statemen untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang benar, maka hal ini harus didasarkan pada informasi yang diketahui atau yang bersumber dari apa yang dketahui serta sifat-sifat matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Sebab, jika keputusan itu tidak didasarkan pada informasi serta asumsi yang benar, maka kesimpulan itu tidak memiliki dasar yang benar.

Ada enam unsur dasar yang perlu dipertimbangkan dalam berpikir kritis (Ennis, 1996), disingkat FRISCO, yaitu: fokus , alasan, kesimpulan, situasi, kejelasan dan pemeriksaan secara keseluruhan. Jika keseluruhan unsur ini telah dipertimbangkan secara matang maka orang dapat membuat keputusan yang tepat. 

B. Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif adalah suatu kemampuan berpikir yang berawal dari adanya kepekaan terhadap situasi yang yang sedang dihadapi, bahwa di dalam situasi itu terlihat atau teridentifikasi adanya masalah yang ingin atau harus diselesaikan. Selanjutnya ada unsur originalitas gagasan yang muncul dalam benak seseorang terkait dengan apa yang teridentifikasi.

Hasil yang dimunculkan dari berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu yang baru bagi yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya dia lakukan. Untuk mencapai hal ini orang harus melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi, dan tidak tinggal diam saja menunggu.

Dalam keadaan yang ideal, manakala siswa dihadapkan (oleh guru) pada suatu situasi, siswa diminta untuk melakukan suatu observasi, eksplorasi, dengan menggunakan intuisi serta pengalaman belajar yang mereka miliki, dengan hanya sedikit panduan atau tanpa bantuan guru (Sobel, dan Maletsky, 1988). Tetapi pendekatan seperti ini khususnya tidak hanya cocok bagi siswa yang pandai, namun memberikan suatu pengalaman yang diperlukan bagi mereka di kemudian hari dalam melakukan penelitian.

Berpikir kreatif juga nampak dalam bentuk kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru, serta memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya (Evans, 1999).

Evans (1991) mengemukakan bahwa berpikir kreatif terdeteksi dalam empat bentuk yaitu : kepekaan (sensitivity), kelancaran (fluency), keluwesan (flexibiliy), dan keaslian (originality).Berkaitan dengan kepekaan, keaslian, kelenturan serta kelancaran dalam proses berpikir yang melahirkan gagasan (kreatif) dipandang perlu adanya suatu tindakan lanjut untuk membenahi serta menata dengan baik atau teratur dan rinci apa yang telah dihasilkan. Hal ini perlu dilaksanakan agar individu tidak kehilangan momentum dalam suasana belajar, terutama sebelum ia sempat lupa akan ide-ide yang bagus yang muncul. Penantaan yang teratur dan rinci ini membuka kesempatan padanya untuk sewaktu-waktu dapat mengulangi atau membaca serta mengkaji kembali apa yang ia hasilkan

Proses berpikir refleksi ini pernah diperkenalkan oleh John Dewey. Ia mengemukakan proses berpikir tersebut melalui langkah-langkah, berikut ini:

  1. The felt need, yaitu suatu kebutuhan
  2. The problem, yaitu menetapkan masalah
  3. The hyphothesis, yaitu menyusun hipotesis
  4. Collection of data as avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian
  5. Concluding belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya
  6. General value the conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum

John Dewey dalam menerapkan konsep pragmatisme secara eksperimental dalam memecahkan masalah dengan 5 langkah utama yaitu: 

1.   Adanya suatu kesulitan yang dirasakan.

Kesulitan mungkin dirasakan dengan adanya kepastian yang memadai, sehingga hal ini menyebabkan akal budi memikirkan pemecahannya yang mungkin atau menimbulkan kegelisahan atau kejutan yang tidak jelas sehingga baru kemudian mencetuskan upaya yang pasti untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pada langkah ini pebelajar mempunyai pengalaman langsung dari keterlibatannya artinya dalam tahap ini, pebelajar merasakan adanya permasalahan setelah mengalami langsung situasi belajar.

2.    Menentukan letak dan batas kesulitan

Langkah ini menuntun pebelajar untuk berfikir kritis yang terkendali dan pemikiran yang tidak terkendali. Berdasarkan pengalaman pada langkah pertama tersebut pebelajar mempunyai masalah khusus yang merangsang pikirannya, dalam langkah ini pebelajar mencermati permasalahan dan timbul upaya mempertajam masalah sampai pada menentukan faktor-faktor yang diduga menyebabkan timbulnya masalah.

3.    Saran pemecahan yang mungkin

Pebelajar mempunyai atau mencari informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut, dalam langkah ini pebelajar memikirkan dan merumuskan penyelesaian masalah dengan mengumpulkan data-data pendukung.

4.   Pengembangan melalui penalaran dari langkah ketiga

Pada langkah ini pebelajar mengembangkan berbagai kemungkinan dan solusi tentatif untuk memecahkan masalah, pebelajar berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalah dengan memunculkan hipotesis penyelesaian masalah.

5.   Melakukan pengamatan dan percobaan lebih lanjut

Pada langkah kelima mengarahkan pada penerimaan atau penolakan kesimpulan mengenai keyakinan atau kesangsian. Artinya pebelajar menguji kemungkinan dengan jalan menerapkannya untuk memecahkan masalah sehingga pebelajar menemukan sendiri keabsahan temuannya, pebelajar mencoba menyelesaikan permasalahan dengan menguji hipotesis yang sudah disusunnya dan kemudian menarik kesimpulan. Menguji hipotesis dilakukan dengan eksperimen, pengujian dan perekaman data di lapangan. Data-data dihubungkan satu dengan yang lain agar nantinya ditemukan keterkaitan antar data tersebut dengan melakukan analisis. Berdasarkan analisis data tersebut kemudian ditarik kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis (Yusufhadi, 2005 :129).


Dari langkah di atas, Dewey berusaha menyusun suatu teori yang logis dan tepat berdasarkan konsep, pertimbangan, penyimpulan dalam bentuknya yang beraneka ragam, dalam arti alternatif. Menurutnya apa yang dikatakan benar adalah apa yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Jadi menurut Dewey, kesimpulan penelitian yang dihasilkan haruslah berlaku secara umum tidak hanya untuk kasus tertentu saja.

Kegiatan berpikir timbul karena adanya gangguan terhadap situasi yang menimbulkan masalah bagi manusia (langkah 1,2) untuk memecahkannya disusun hipotesis sebagai bimbingan bagi tindakan berikutnya. Dewey menegaskan bahwa berpikir ilmiah merupakan alat untuk memecahkan masalah, yang kemudian disebut metode ilmiah. Metode ilmiah tersebut oleh Dewey disebut dengan reflective thinking. Langkah-langkah metode ilmiah menurut Nana (2007) adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi masalah
  2. Merumuskan dan membatasi masalah
  3. Menyusun hipotesis
  4. Mengumpulkan dan menganalisis data
  5. Menguji hipotesis dan menarik kesimpulan

Hubungan antara Filasafat Ilmu dengan Berpikir Reflektif

Menurut Endang Komara (2010) dalam Endang Komara’s Blog menyatakan bahwa hubungan antara filsafat ilmu dengan metode penelitian yang didalamnya terdapat urutan berpikir reflektif  adalah filsafat ilmu menjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science itu, apa yang menjadi landasan asumsinya, bagaimana logikanya (doktrin netralistik etik), apa hasil-hasil empirik yang dicapainya, serta batas-batas kemampuannya. Sedangkan Metodologi penelitian menjelaskan tentang upaya pengembangan ilmu berdasarkan tradisi-tradisinya, yang terdiri dari dua bagian, yaitu deduktif maupun induktif. Demikian pula tentang hasil-hasil yang dicapai, yang disebut pengetahuan atau knowledge, baik yang bersifat deskriptif (kualitatif dan kuantitatif) maupun yang bersifat hubungan (proporsi tingkat rendah, proporsi tingkat tinggi, dan hukum-hukum).

Filsafat ilmu maupun metodologi penelitian bersifat mengisi dan memperluas cakrawala kognitif tentang apa yang disebut ilmu, yang diharapkan akan menimbulkan pengertian untuk berdisiplin dalam berkarya ilmiah, sekaligus meningkatkan motivasi sebagai ilmuwan untuk melaksanakan tugas secara sungguh-sungguh.

Filsafat Ilmu menurut Beerling (1988:1-4) adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat ilmua erat kaitannya dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi, yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengalaman manusia, juga mengenai logika dan metodologi.

Metode ilmiah merupakan prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis keilmuan menurut Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007:157) sebagai berikut:

  1. Mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah.
  2. Menyusun kerangka pemikiran (logical construct).
  3. Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah)
  4. Menguji hipotesis secara empirik.
  5. Melakukan pembahasan.
  6. Menarik kesimpulan.

Tiga langkah pertama merupakan metode penelitian, sedangkan langkah-langkah selanjutnya bersifat teknis penelitian. Dengan demikian maka pelaksanaan penelitian menyangkut dua hal, yaitu hal metode dan hal teknis penelitian. Namun secara implisit metode dan teknik melarut di dalamnya.

1.  Mencari, Merumuskan Dan Mengidentifikasi Masalah.

Yaitu menetapkan masalah penelitian, apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa obyeknya. Menyatakan obyek penelitian saja masih belum spesifik, baru menyatakan pada ruang lingkup mana penelitian akan bergerak. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah yang spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan penelitian (research question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberikan penjelasan (explanation) yang memuaskan berdasarkan teori (hukum atau dalil) yang ada.

Misalnya menurut teori dinyatakan bahwa tidak semua orang akan bersedia menerima suatu inovasi, sebab ada golongan penolak inovasi (laggard). Tetapi pada kenyataannya (faktual) terdapat inovasi yang mudah diterima sehingga tidak mungkin ada golongan yang menolaknya (laggard). Oleh karena itu pertanyaan penelitiannya dapat diidentifikasikan pada situasi mana atau pada kondisi mana tidak ada golongan laggard. Dengan mengidentifikasi situasi atau kondisi yang memungkinkan atau tidak memungkinkan secara lebih lanjut berarti telah merumuskan masalah penelitian.


Cara yang paling sederhana untuk menemukan pertanyaan penelitian (research question) adalah melalui data sekunder. Wujudnya berupa beberapa kemungkinan misalnya:

  • Melihat suatu proses dari perwujudan teori.
  • Melihat linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud memperbaikinya.
  • Merisaukan keberlakuan suatu dalil atau model di tempat tertentu atau pada waktu tertentu.
  •  Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada. Kemudian bermaksud meningkatkannya.
  • Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
2.   Menyusun Kerangka Pemikiran

Yaitu mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini tidak lain dari mendudukperkarakan masalah yang diteliti (diidentifikasi) dalam kerangka teoretis yang relevan dan mampu menangkap, menerangkan, serta menunjukkan perspektif terhadap masalah itu. Upaya ditujukan untuk menjawab atau menerangkan pertanyaan peneltian yang diidentifikasi.

Cara berpikir (nalar) kearah memperoleh jawaban terhadap masalah yang diidentifikasi ialah dengan penalaran deduktif. Cara penalaran deduktif ialah cara penalaran yang berangkat dari hal yang umum (general) kepada hal-hal yang khusus (spesifik). Hal-hal yang umum ilah teori/dalil/hukum, sedangkan hal yang bersifat khusus (spesifik) tida lain adalah masalah yang diidentifikasi.

3.   Merumuskan Hipotesis.

Hipotesis adalah kesimpulan yang diperoleh dari penyusunan kerangka pemikiran, berupa proposisi deduksi. Merumuskan berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan serta tingkat-tingkat kebenarannya. Bentuk-bentuk proposisi menurut tingkat keeratan hubungannya (linkage) serta nilai-nilai informasinya (informative value). Jika dikaji kembali kalimat-kalimat proposisi, baik berupa teori maupun hipotesis, ternyata kalimat-kalimat itu mengandung juga komponen, yaitu komponen antiseden, konsekuen, dan depedensi.

4.   Menguji hipotesis

Yaitu membandingkan atau menyesuaikan (matching) segala yang terkandung dalam hipotesis dengan data empirik. Pembandingan atau penyesuaian itu pada umumnya didasarkan pada pemikiran yang beranggapan bahwa di alam ini suatu peristiwa mungkin tidak terjadi secara tersendiri. Dengan kata lain, suatu sebab mungkin akan menimbulkan beberapa akibat, atau mungkin pula suatu akibat ditimbulkan oleh beberapa penyebab.

Pengujian hipotesis dalam penelitian mutakhir mempergunakan metode matematika/statistika, dengan mempergunakan rancangan uji hipotesis yang telah tersedia. Dengan kata lain, peneliti tinggal memilih rancangan uji mana yang tepat dengan hipotesisnya. Meskipun demikian jika peneliti tidak memahami sifat-sifat data/informasi (variabel) yang akan diukur maka akan sulit baginya untuk memilih rancangan uji statistik.

5.   Membahas Dan Menarik Kesimpulan.

Dalam membahas sudah termasuk pekerjaan interpretasi terhadap hal-hal yang ditemukan dalam penelitian. Dalam interpretasi, pikiran kita diarahkan pada dua titik pandang. Pertama, kerangka pemikiran yang telah disusun, bahkan ini harus merupakan frame of work pembahasan penelitian. Kedua, pandangan diarahkan ke depan, yaitu mengaitkan kepada variabel-variabel dari topic aktual. Pembahasan tidak lain adalah mencocokkan deduksi dalam kerangka pemikiran dengan induksi dari empiric (hasil pengujian hipotesis), atau pula kepada induksi yang diperoleh orang lain (hasil penelitian orang lain) yang relevan. Bagaimana hasil dari mencocokkan ini, apakah cocok (parallel atau analog), atau sebaliknya (bertentangan atau kontradiktif). Apabila ternyata bertentangan atau tidak cocok maka perlu dilacak di mana letak perbedaan atau pertentangan itu dan apa kemungkinan penyebabnya.

6.  Kesimpulan.

Kesimpulan penelitian adalah penemuan-penemuan dari hasil interpretasi dan pembahasan. Penemuan dari interpretasi dan pembahasan harus merupakan jawaban terhadap pertanyaan penelitian sebagai masalah, atau sebagai bukti dari penerimaan terhadap hipotesis yang diajukan. Pernyataan-pernyataan dalam kesimpulan dirumuskan dalam kalimat yang tegas dan padat, tersusun dari kata-kata yng baik dan pasti, sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda (apa yang dimaksud oleh peneliti harus ditafsirkan sama oleh orang lian). Pernyataan tersusun sesuai dengan identifikasi masalah tahu dengan susunan hipotesisnya.

Manfaat Berpikir Reflektif dalam Filsafat Ilmu

Manusia berfikir karena sedang menghadapi masalah, masalah inilah yang menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan tenggelam dalam berpikir untuk dapat menjawab dan mengatasi masalah tersebut, dari masalah yang paling sumir/ringan hingga masalah yang sangat “Sophisticated”/sangat muskil.

Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan

.

Berpikir reflektif dalam filsafat ilmu bermanfaat dalam:

  1. Menemukan pertanyaan penelitian (research question) melalui data sekunder.
  2. Melihat suatu proses dari perwujudan teori
  3. Melihat linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud memperbaikinya.tertentu.
  4. Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada. Kemudian bermaksud meningkatkannya.
  5. Menjelaskan segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
  6. Menyusun kerangka pemikiran yaitu mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini tidak lain dari mendudukperkarakan masalah yang diteliti (diidentifikasi) dalam kerangka teoretis yang relevan dan mampu menangkap, menerangkan, serta menunjukkan perspektif terhadap masalah itu. Upaya ditujukan untuk menjawab atau menerangkan pertanyaan peneltian yang diidentifikasi.

Kesimpulan

  1. Berpikir reflektf adalah merupakan bagian dari metode penelitan yang dikemukakan oleh John Dewey yaitu suatu proses berpikir aktif, hati-hati, yang dilandasi proses berpikir ke arah kesimpulan-kesimpulan yang definitif melalui lima langkah yaitu :

      a.      Menyusun kerangka pemikiran (logical construct)
      b.      Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah).
      c.      Menguji hipotesis secara empirik.
      d.      Melakukan pembahasan.
      e.      Menarik kesimpulan. 

  • Hubungan antara Filsafat Ilmu dengan berpikir kreatif adalah hubungan antara filsafat ilmu dengan metode penelitian yang didalamnya terdapat urutan berpikir reflektif  adalah filsafat ilmu menjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science itu, apa yang menjadi landasan asumsinya, bagaimana logikanya (doktrin netralistik etik), apa hasil-hasil empirik yang dicapainya, serta batas-batas kemampuannya.

Sedangkan Metodologi penelitian menjelaskan tentang upaya pengembangan ilmu berdasarkan tradisi-tradisinya, yang terdiri dari dua bagian, yaitu deduktif maupun induktif yang didalamnya terdiri dari  menyusun kerangka pemikiran (logical construct), Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah), Menguji hipotesis secara empirik, Melakukan pembahasan Menarik kesimpulan.

Daftar Pustaka


Anwar, Saeful. 2007. Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi. Bandung: Pustaka Setia.
Beerling. 1988. Filsafat Dewasa Ini. Terj. Hasan Amin. Jakarta: Balai Pustaka.Kattsof, Louis. 1987. Element of Pholosophy. Terj.Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana.
 Endang_komara’s blog
Suriasumantri, Jujun S. 1986. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Soetriono dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi

Hadits dan Ilmu Hadits Menurut Sunnah dan Syiah


Hadits adalah salah satu sumber tasyri‟ dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir Al-Qur‟an, bahkan sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al- Qur‟an sendiri. Itulah sebabnya, di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untuk menjaga dan “mengawal” pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi.

Mereka –misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupun hasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits sebagai hujjah.

Di samping Ahl al-Sunnah –sebagai salah satu kelompok Islam terbesar-, ternyata Syiah –sebagai salah satu kelompok Syiah terbesar- juga memiliki perhatian khusus terhadap al-Sunnah. Namun mereka memiliki jalur sanad dan sumber khusus dalam menerima al-Sunnah yang berbeda dengan sanad dan sumber Ahl al-Sunnah. Oleh karena itu, menjadi menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang perbandingan hadits, ilmu hadits dan metodologi antara Ahl Sunnah dan Syiah dalam melakukan kritik hadits. Dan secara singkat akan dibahas dalam tulisan ini.

PDF

Hikmah Dibalik Musibah Banjir


980622-banjir-gowa-23-januari-2019.jpg

Apapun bentuk musibah atau bencana yang melanda, pada hakikatnya memiliki peran besar dalam mendidik jiwa. Jiwa perlu dilatih untuk memiliki keteguhan hati, keteguhan sikap, terlatih dan senantiasa waspada terhadap sekitar.

Musibah merupakan sunnatullah sebagai proses sebab akibat dari tindakan seseorang. Musibah juga merupakan peringatan dari Allah SWT sebagai ujian keimanan dan musibah tidak selamanya tanda kemurkaan Allah SWT.

Saat musibah datang, manusia akan menyadari bahwa tidak ada Perlindungan diri kecuali kepada Allah SWT saja, ketika tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya, tidak ada pertolongan kecuali dari pada-Nya. Allah SWT berfirman: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (Surah At-Taghabun: 11)

Di antara tanda-tanda kebesaran Allah SWT ialah menjadikan kita atau keluarga sebagai tempat sasaran ujian-Nya. Musibah, memang akan selalu mengikuti manusia di dunia ini karena dunia adalah tempat ujian dan cobaan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya akan Kami ujikan kamu dengan sedikit daripada ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (Al-Baqarah: 155)

Musibah dan cobaan yang menimpa bertujuan memperbaiki ketakwaan dan kesabaran hamba-Nya, kemudian dipilih siapa yang sukses menerima ujian dengan penuh kesabaran. Dalam sebuah Hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Mereka yang banyak menerima ujian itu ialah para nabi, siddiqin dan salihin, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya“.

Ujian yang menimpa hendaknya ditempuh dengan penuh kesabaran karena akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan berarti orang yang Sabar akan bergembira bila ditimpa musibah dan ujian, mereka tetap sedih dan berduka. Namun, mereka tidak akan bertindak diluar batasan Agama.

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa orang yang berhasil melewati cobaan dan ujian akan mendapatkan pahala, rahmat dari Allah SWT dan selalu mendapatkan petunjuk. Hati mereka tidak akan terlintas pemikiran kenapa Dia memilih diri atau keluarganya sebagai tempat ujian-Nya.

Allah SWT menyebutkan dalam Qs Al-Baqarah ayat 156 bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik-Nya, termasuk orang-orang yang kita cintai, harta benda yang ditakuti akan berkurang dan hilang, seperti pangkat, kedudukan dan pekerjaan. Karena semuanya milik Allah SWT, cepat atau lambat pasti akan kembali kepada pemiliknya yang asli yaitu Allah SWT.

Ada pun diri kita hanyalah sekadar pemegang amanah untuk menjaganya atau memeliharanya. Karena bencana itu kekuasaan Allah SWT secara mutlak, sedangkan Allah tidak pernah zalim kepada makhluk ciptaan-Nya, maka dibalik bencana, musibah atau bala terdapat banyak hikmah bagi para hamba-Nya yang beriman.

Kematian yang menyayat hati akibat banjir atau tanah runtuh adalah ketentuan terbaik pada pandangan Allah, penguasa alam semesta.

Tidak ada yang akan terjadi di alam raya ini kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Meskipun, perlu diingat bahwa kehendak-Nya tercermin pada hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Apabila seseorang tidak menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya yang tercermin dalam hukum-hukum alam itu, dia pasti mengalami kesusahan serta kesukaran. Dia akan mengalami bencana, baik pada dirinya maupun sekitarnya.

Di dalam Al Quran, banjir pernah menelan korban jiwa kaum ‘Ad, negeri Saba’ dan kaumnya Nabi Nuh. Peristiwa ini dapat kita telaah dalam beberapa ayat di antaranya Surah Hud ayat 32-49, Surah al-A’raf ayat 65-72, dan Surah Saba ayat 15-16. Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang coba disampaikan para nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.

Mengambil Hikmah rentetan fenomena demi fenomena yang terjadi, pastinya dapat direnungi sebagai hasil perbuatan daripada tangan manusia.

Allah SWT berfirman: “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”. (Q.S. Hud: 101).

Maka mari menjadikan musibah yang menimpa sebagai jalan untuk kembali kepada Allah SWT dan jangan mengabaikan tanda-tanda kehadiran Allah dalam musibah yang menjadikan hati gersang dan kacau, dan mengundang jauhnya rahmat Allah.

Oleh: Jumal Ahmad (@JumalAhmad)

Ujian Proposal Tesis Jumal Ahmad


Tanggal 21 Januari 2019 menjadi hari bersejarah dimulainya perjuangan saya menyelesaikan Tesis di SPs UIN Jakarta dengan memulai langkah pertama yaitu Ujian Proposal Tesis.

Berikut ini informasi resmi dari SPs tentang hari, waktu dan peserta ujian proposal tesis, termasuk nama saya di urutan ke enam.

proposal tesis

Sebelum sidang proposal tesis, seringkali kita mengalami demam panggung. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti, ketakutan karena belum menguasai materi dan teori atau kurang nyaman dengan kondisi ruangan.

Ketakutan ini bisa dilawan dengan menerapkan hal-hal sebaliknya yaitu, jangan berharap yang tidak-tidak, berlatih sidang di rumah atau di depan teman, menguasai teori, dan lawan ketakutan.

Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan penguji;

  1. Latar belakang masalah dan rumusan masalah.
  2. Relevansi teori dengan masalah penelitian.
  3. Kerangka konseptual.
  4. Metodologi penelitian.
  5. Penguasaan materi proposal.

Tips Menghadapi Ujian Proposal Tesis

  1. Siapkan Mental
  2. Siapkan Proposal Penelitian
  3. Siapkan Presentasi

Saya upload slide yang saya presentasikan di SlideShare dan saya sertakan di makalah ini. Sebenarnya masih banyak perbaikan yang saya buat setelah ujian proposal ini. Sengaja saya upload untuk disimpan dan agar mudah diakses kembali.

%d bloggers like this: