Bagaimana Mengubah Cinta Semu Menjadi Cinta Hakiki


Cinta semu dan cinta hakiki sama-sama halal. Bedanya, cinta semu hanya cinta sebatas dunia, sedangkan cinta hakiki merupakan cinta yang hasilnya dapat dipetik di akhirat kelak. Untuk memahami hal ini ada baiknya disajikan sabda Nabi saw. berikut, yang berkaitan dengan hijrah:

 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnyasemuaamalbergantungpadaniatnyadansesungguhnyasetiap orang berhakatasapa yang ianiatkan. Barangsiapa yang hijrahnyamenujudunia yang iaupayakanatauuntukperempuan yang akanianikahimakahijrahnyamenujupadaapa yang iahijrahuntuknya. (HR al-Bukhari). Continue reading

Hukum Membaca Tasbih Lebih dari 3 Kali dalam Ruku’ dan Sujud


Ada dua pendapat dalam hal ini. 

Pertama. Jumlah paling minimal tasbih dalam ruku dan sujud adalah tiga kali. 

Dalilnya. 

  • Hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda: “Jika seseorang dari kalian ruku maka bacalah tiga kali ‘subhaana rabbiyal adhiim’ dan itu paling sedikit. Jika sujud bacalah tiga kali ‘subhaana rabbiyal a’ laa’ dan itu paling sedikit” (HR. At-Tirmidzi) 
  • Ketika turun ayat فسبح باسم ربك العظيم (dan sucikanlah Tuhanmu yang Maha Agung) Nabi bersabda, “jadikan ayat ini bacaan dalam ruku kalian” (HR. Abu Daud) 

Nabi memerintahkan tasbih dan hanya menyebutkan jumlah yang paling rendah adalah tiga kali. 

Kedua, dibolehkan menambah tasbih untuk munfarid (shalat sendirian) sampai lima, tujuh, sembilan atau sebelas. Imam hanya membaca sampai tiga kali, makmum menambah sampai imam mengangkat kepala. 

Pendapat yang rajih. Boleh menambah bacaan tasbih tanpa ada batasan untuk yang shalat sendirian. Adapun untuk imam boleh sampai sepuluh kali selama tidak membebani makmum. 

Sumber: Ahkam Dzikr fis Syariah Alislamiyyah oleh Amal binti Muhamad Falih As-Shaghir

Menjaga Lisan


Nikmaat Allah yg sangat dahsyat diantaranya LISAN

TAPI pertanggungjawabannya sangat DAHSYAT juga.
من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة
“Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari). 

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Bukankah yang menyebabkan manusia diseret ke neraka tertelungkup di atas wajah-wajah mereka adalah akibat perkataan yang keluar dari lisan-lisan”. 
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dalam keadaan dia tidak peduli dengan ucapan tersebut sehingga menyebabkan dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari)

Maka bila bicara siapapun apalagi jadi ustadz atau guru atau dosen yang didengar banyak orang, maka harusnya
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang BAIK ( MENYEJUKAN HATI ) ❤😘atau DIAM 😑☺😑” (HR. Bukhori dan Muslim)

(مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. [Surat Qaf 18]

Bahasa bahasa yang dipakai dalam ceramah juga harus santun. Tidak boleh menghina orang lain seperti BINATANG 😭😭😭😭
Orang berilmu harus sadar bahwa ia diuji dengan kesombongan.
Orang berkuasa (penguasa apapun) diuji dengan kekuasaannya.
Maka semua ada PERTANGGUNGJAWABAN

Orang yang bermaksiat belum tentu ia jadi binatang.. bisa saja ia tobat dan jd lebih Sholeh dari para ustadz !!😭😭😭❤❤❤

Membawa Keberkahan


“Dan Dia menjadikan aku seorang yang membawa keberkahan di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”  (Qs. Maryam: 31) 

Surat Maryam ayat 31 diatas memberikan makna yang agung untuk keseharian kita. Nabi Isa diturunkan dengan maksud membawa keberkahan yaitu Membawa manfaat bagi orang banyak. Membawa ajaran Tauhid dengan mukjizat yang banyak. 

Maka kemanfaatan kita tergantung sejauh mana kita memberikan keberkahan atau kebaikan kepada orang lain. 

Orang yang ikut ngaji bisa memberikan keberkahan pada orang lain, dia bisa mengajak orang lain untuk ikut belajar juga, artinya memberi berkah dan kebaikan untuk orang lain. 

Komunitas yang shalih akan memberikan keberkahan, sebagaimana sabda Nabi Albarakatu Ma’al Jama’ah keberkahan itu diberikan kepada orang orang yang berjamaah /berkomunitas. Maka akan kita dapatkan yang ikut pengajian, belajar agama, orangnya itu itu saja. 

Orang kafir dan munafik akan masuk neraka berkelompok, sesuai dengan teman mereka di dunia.  “Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. (Az-Zumar: 71) dan demikian juga orang orang yang beriman, ” Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula).”. (Az-Zumar: 73) 

Di antara bentuk mudah untuk menyebarkan keberkahan adalah dengan merasa mudah membantu orang lain dan peduli kepada permasalahan orang lain. Idkhalus Surur, membawa keberkahan dan membuat orang lain senang. 

Sementara, orang yang selalu menahan orang lain dari berbuat baik adalah teman dari Syetan yang mengabadikan hidupnya untuk menyesatkan manusia. 

Allah SWT berfirman,  “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (Qs.  Al-Lail: 4-11)

Usaha kalian bermacam-macam. 1. Berkah = berbagi, bertaqwa dan percaya dengan balasan kebaikan –  hidupnya happy dab mudah di dunia sampai akhirat nanti. 2. Sombong = Bakhil dan mendustakan balasan kebaikan – hidup menjadi susah. 

Bid’ah Besar


​Ada yg menuduh 212 yaitu sholat Jumat diluar masjid Adalah BIDAH BESAR… oleh tokoh NU yaitu GUS Mus..

Ulama Besar Level Dunia Syeikh Sayid Sabiq dalam buku Fiqh Sunah, bab tempat untuk didirikannya Sholat Jumat dan di buku Raudhah Naddiyah bahwa sholat  Jumat bisa dilakukan di kota, desa, baik di masjid atau boleh di dalam bangunan, atau lapangan disekelilingnya. Dan juga sah dilakukan ditempat tempat lain.

Umar Bin Khatab pernah mengirim surat ke penduduk Bahrain yang isinya

” lakukanlah sholat Jumat dimanapun kalian berada” (riwayat ibn Abu Syaibah dab menurut Ahmad sanadnya Jayid).

Diriwayatkan  Bukhari dan Abu Daud) dari Ibn Abbas mengatakan bahwa “Sholat Jumat pertama dilakukan dalam Islam setelah sholat Jumat yang dikerjakan di masjid Nabi saw, di Madinah ialah Sholat Jumat di Juwa’i ( Juwatsi ) daerah Bahrain.

 Terdapat riwayat bahwa Mush’ab bin ‘Umair pernah melakukan sholat Jumat bersama kaum Anshar di suatu tanah khusus negara (naqii’/hima) bernama Al Khadhimat, yakni bukan di dalam masjid. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, II/243).

Masih banyak dalil dalil yang membolehkan sholat diluar masjid..
Buka buku Nailul Awtar jilid 2 halaman 498 sd 499.

Maka Gus Mus TIDAK benar menghukumi BIDAH BESAR..
yang Bidah besar itu. 

👇👇👇👇

https://ekspresidiri.wordpress.com/2012/02/07/berdzikir-bersama-inul/

http://m.liputan6.com/news/read/50761/ampquotberzikir-bersama-inul-primadona-pekan-muharram

Lebih baik urusan seni lukisan wanita Joged sambil dzikir yang dihukumi Bidah besar..!!

Seniman jangan masuk wilayah Fiqih.
Malulah dengan LUKISAN maksiat yg jelas BIDAH BESAR !!

Sumber: kajian ahad pagi masjid pondok indah

Perbandingan Mazhab #4 ICD MRPI


Shalat Jumat Termegah


Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

أَنَّهُمْ كَتَبُوْا إِلَى عُمَرَ يَسْأَلُوْنَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ فَكَتَبَ: جَمِّعُوْا حَيْثُمَا كُنْتُمْ.“

Kaum muslimin pernah menulis surat kepada ‘Umar menanyakan tentang shalat Jum’at? Lalu beliau menulis surat kepada mereka (yang isinya): ‘Lakukanlah shalat Jum’at di mana saja kalian berada.’”

Sanad hadits ini shahih, diriwayatkan pula dari Imam Malik, beliau berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ فِيْ هذِهِ الْمِيَاهِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ يُجَمِّعُوْنَ.
“Dahulu para Sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di sekitar perairan ini, antara Makkah dan Madinah mereka melakukan shalat Jum’at”. 


Mayoritas ulama masih membolehkan shalat di jalan karena dengan alasan keumuman hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Semua tempat di muka adalah masjid kecuali kuburan dan tempat pemandian.” (HR. Tirmidzi, no. 317; Ibnu Majah, no. 745; Abu Daud, no. 492)

Membaca adanya protes bahwa sholat jumat di jalanan merupakan bid’ah, adakah praktek ini pernah dilakukan umat islam sebelumnya. yuk kita buka buka buku sejarah.

Tahukah anda, sholat Jumat termegah dan terpanjang pernah terjadi pada tahun 1453 dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath. 
Termegah karena sholat itu dilakukan di jalan menuju konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara.

Sholat jumat tesebut terjadi 1.5 KM di depan benteng Konstantinopel, dalam proses Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan yang kemudian mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium dan menjadi cikal bakal kekhalifahan Utsmaniyah.

Penaklukan Konstantinopel merupakan pembuktian atas kabar gembira “Bisyarah” atau nubuwat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada sahabat sahabatnya, bahwa negara adidaya seperti Romawi akan dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin.

Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? 

Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)



Sholat Jumat termegah di jalanan pernah dilakukan Al Fatih, yang menghantarkan umat membuka lembaran baru, membuktikan nubuwat Rasulullah dalam penaklukan konstantinopel.

Dan Insyaallah, sholat Jumat 212 nanti pun akan jadi lembaran baru bagi kita, menjadi penanda baru bagi kita, untuk menuntut keadilan sekaligus mengakhiri kedzaliman dan kesombongan rezim penguasa  antek asing dan aseng. Aamiin.

Setelah melakukan pengkajian dalil masing-masing mazhab fiqih, pendapat yang rajih (kuat) menurut kami adalah yang membolehkan sholat Jum’at di luar masjid, termasuk di jalan raya. 
Ada 3 (tiga) alasan; 

pertama, terdapat riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan sholat Jum’at di perut lembah (bathn al wadi) sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan para penulis sejarah perang Rasulullah SAW (ahlus siyar). Kata Imam Syaukani,”Kalaupun riwayat ini tidak shahih, maka tindakan Rasulullah SAW melakukan sholat Jum’at di masjid tidaklah menunjukkan persyaratan sholat Jum’at wajib dilakukan di masjid.” (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Abadi,‘Aunul Ma’bud, III/399; Imam Syaukani, Nailul Authar, IV/304).  

Kedua, terdapat riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa Umar pernah menulis kepada penduduk Bahrain untuk melaksanakan sholat Jum’at di mana pun mereka berada (an jamma’uu haitsu maa kuntum). (Imam Syaukani, Nailul Authar, IV/303). 

Ketiga, terdapat riwayat bahwa Mush’ab bin ‘Umair pernah melakukan sholat Jumat bersama kaum Anshar di suatu tanah khusus negara (naqii’/hima) bernama Al Khadhimat, yakni bukan di dalam masjid. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, II/243).

Ulama Syafi’iyyah sendiri sebenarnya membolehkan sholat Jum’at di lapangan atau tempat terbuka di luar masjid, asalkan tempat tersebut masih dekat dengan area pemukiman [darul iqamah] dan jaraknya dekat, yakni tidak sampai jarak qashar, yaitu 4 barid = 88,7 km.  Imam Nawawi berkata:
قال أصحابنا ولا يشترط إقامتها في مسجد ولكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة من خطتها فلو صلوها خارج البلد لم تصح بلا خلاف سواء كان بقرب البلدة أو بعيدا منه وسواء صلوها في كن أم ساحة
“Telah berkata para sahabat kami [ulama Syafi’iyyah],’Tidak disyaratkan mendirikan sholat Jum’at di masjid tetapi boleh di lapangan terbuka dengan syarat tempat itu ada di dalam kampung [qaryah] atau kota [baldah] yang masih terhitung dalam batas kampung/kota itu. Kalau mereka melaksanakan sholat Jum’at di luar kota [baldah] maka tidak sah sholat Jum’atnya tanpa perbedaan pendapat, baik tempat itu dekat dengan kota [baldah] maupun jauh dari kota, baik mereka sholat di rumah (kin) kota maupun di lapangan.” (Imam Nawawi, Al Majmu’, IV/501).

Imam Al Khathib Al Syarbaini berkata :
ويجوزإقامتها في فضاء معدود من الأبنية المجتمعة بحيث لا تقصر فيه الصلاة كما في الكن الخارج عنها المعدود منها بخلاف غير المعدود منها.
“Boleh mendirikan sholat Jum’at di tanah lapang yang masih terhitung bagian dari bangunan-bangunan yang terkumpul [area pemukiman], dalam arti jaraknya tidak sampai membolehkan qashar shalat pada tempat itu, seperti rumah yang terletak di luar kampung tapi masih terhitung bagian area pemukiman. Ini berbeda dengan rumah yang letaknya tidak lagi terhitung bagian dari area pemukiman.” (Imam Al Khathib Al Syarbaini, Mughnil Muhtaj, I/529).

Sumber: BC WhatsApp 

%d bloggers like this: