Sejarah Palestina


Untuk Gaza


Sebuah video menjadi viral di media dan youtube khususnya tentang seorang pemuda yang menampilkan kemampuannya dalam bahasa tubuh menceritakan kepedihan yang dialami saudara kita di Palestina, Syria, Mesir. 

Dia sampai meneteskan air matanya, berkali kali melihat videonya tidak pernah bosan bahkan terhanyut dan ikut menangis. 

Apa yang bisa kita lakukan untuk saudara kita berupa doa, menulis di media atau share informasi saudara kita di Palestina dan lainnya, mari kita lakukan. 

Media kini lebih berduka pada Chester Bennington daripada jamaah Masjid Al-Aqsha yang ditembaki saat beribadah. 

Apa yang akan kita jawab di hadapan Allah nanti, ketika kita membiarkan saudara saudari muslim kita di Palestina disakiti, didholimi bahkan dibunuh oleh tentara tentara Zionis. 

Adakah Kau Lupa? 


Kisah kehidupan Salahuddin sangat menarik untuk diteliti dan ditelaah, seseorang yang dihormati oleh kawan maupun lawan. Dia adalah ahli rekayasa perang, prestasi monumentalnya adalah sebagai panglima ratusan pertempuran pada perang salib kurang lebih dua puluh tahun. 

Di Timur, Shalahuddin menjadi simbol heroisme dan figur pemimpin cakap dan disegani dalam merekayasa perang akbar berjangka panjang. Di Barat, nama beliau menjadi legenda panglima perang teladan dan pribadi mulia nyaris tiada cela. 

Shalahuddin tidak hanya mampu menggalang ribuat prajurit pilihan ke medan perang, tapi dia juga pandai mengumpulkan energi sosial untuk melawan status quo. 

Ketika Richard I kalah di medan perang, Shalahuddin tidak menggunakan kesempatan emas ini untuk membunuhnya, tetapi justru mengirimnya hadiah dan dokter spesialis guna merawat dan mengobatinya. 

Shalahuddin dan pasukannya pula yang berhasil membebaskan Al-Quds dari cengkeraman kaum Salib dan sampai sekarang kita masih menunggu siapa yang akan kembali menyelamatkan Al-Quds dari kejahatan Yahudi dan Zionis. 

Apa yang terjadi dengan Al-Aqsho saat ini adalah bukti bahwa Israel tidak hanya menyulut api  dengan warga Palestina, akan tetapi menyulut api  dengan seluruh umat islam.

Hendaknya umat Islam dan khususnya para pemuda saat ini untuk mengenal Islam lebih dalam. Tak hanya berkecimpung dalam proses perbaikan diri, namun juga usaha perbaikan masyarakat dengan penerapan syariah Islam.

 Tak sekadar menyerukan boikot produk negara-negara penjajah, kampanyekan juga tegaknya khilafah yang akan melindungi, mengayomi, dan menaungi seluruh umat manusia.

 Adakah kau lupa? Bahwa Islam pernah berjaya dan berkuasa untuk kebaikan manusia. Kini, giliran kita untuk membawa kembali kejayaan itu di tengah hadangan ide-ide sekuler barat yang menyesatkan. 

Nasyid islami silahkan disimak, menggedor umat Islam yang tengah tertidur lelap.

Pembelaan Sultan Abdul Hamid II Terhadap Aceh Dalam Film “Payitaht Abdülhamid” 


Sebuah film sinetron berjudul “Payitaht Abdülhamid” menggambarkan kisah pembelaan Kekhilafahan Utsmaniyah terhadap Aceh di Indonesia. Kisah tersebut dapat dilihat pada episode ke-15 sinetron berbahasa Turki itu.

Dikisahkan, Sultan Abdul Hamid II menerima surat dari muslim di Aceh. Dalam surat itu, rakyat Aceh menyampaikan tentang perlakuan penjajah Belanda yang sudah kelewat batas. Penjajah tidak mengizinkan mereka untuk ibadah haji. Mereka menyampaikan persoalan tersebut kepada Sultan dengan harapan mendapat pembelaan.

Mendengar hal itu, Sultan Abdul Hamid II pun marah. Di akhir cuplikan film, tampak adegan Sultan memanggil duta besar Belanda untuk memperjuangkan hak rakyat Aceh agar dapat ibadah haji.

Sinetron tersebut ditayangkan di stasiun televisi nasional Turki, TRT 1. Dikutip dari situs web IMDB, Payitaht Abdülhamid adalah film yang mengisahkan tentang perjuangan sultan Abdul Hamid II untuk mempertahankan keberlangsungan Kekhilafahan Utsmaniyah (Ottoman).

Film ini dibintangi oleh Bülent Inal sebagai Sultan Abdul Hamid II, dengan setting suasana tahun 1896-an. Film ini mendapatkan banyak perhatian di dunia arab, penonton ingin sekali mengetahui apa yang terjadi di masa Sultan dan bagaimana peran Sultan Abdul Hamid II ketika masa masa genting kekhilafahan waktu itu. 

Saya sangat mengapresiasi Bunet Inal sebagai pemeran utama Sultan Abdul Hamid II yang dikenal lewat peran Yahya dalam serial sanawat dhiyaa’,  beliau memerankan dengan sangat baik sebagai khalifah, beliau memerankan bukan hanya berperan saja, tetapi seakan akan bisa menghadirkan Sultan Abdul Hamid II kepada penonton. 

Saya sudah menulis beberapa artikel tentang film ini, banyak pembaca yang menanyakan subtitle dalam bahasa Indonesia. Saya mencoba menyampaikan hal ini di laman resmi page FB serial, semoga nanti ada terjemah dalam bahasa Indonesia. 

***

Serial Sultan Abdul Hamid II dalam bahasa Inggris bisa dikunjungi informasinya di laman page Sultan Abdul Hamid II English Subtitle

Sumber: dakwatuna, aljazera

Video pendek ketika Sultan Abdul Hamid menerima surat dari kerajaan Aceh

Video Pendek yang mengisahkan impian Sultan Abdul Hamid

Link lengkap Youtube serial Sultan Abdul Hamid bisa dilihat disini. 

​Allah Melihat Perjuanganmu


Belajarlah dari jam dinding yang berdetak disetiap saat, ia tak pernah berhenti hingga batrainya habis. Ia juga tetap berdetak meskipun orang tak melihatnya, ia tetap berdetak meskipun semua orang terlelap tidur. Ia pula yang tak pernah bosan mengingatkan waktu demi waktu untuk manusia bersujud.

Keikhlasannya pun tak tertandingi, ketika ia diabaikan, ketika ia kadang-kadang dilihat, kadang-kadang juga tidak. Ia tetap menjaga keikhlasannya meskipun ia dilihat ketika ia dibutuhkan saja.

Allah melihat setiap perjuangan dari hamba-Nya. Baik terlihat di mata manusia, maupun dirahasiakan. Allah melihat ikhtiar kita, jadi tetaplah bergerak meskipun itu berat, teruslah berkarya meskipun tak pernah dihargai, tetaplah bergerak meskipun tak dilihat mata manusia.

Tak perlu meminta balasan dari seseorang, tak perlu menunjukkan bahwa engkau seorang yang hebat, biarkan Allah yang menilai, biarlah Allah yang akan membalas dengan balasan yg terbaik. 

Kalau kita melakukan sesuatu, orang ada atau orang tidak ada, sama saja, Allah pasti ada. Apakah orang lain melihat atau  tidak melihat, tidak apa- apa karena Allah pasti melihat. Begitu juga orang mau memuji atau tidak memuji, tidak ada urusan buat kita, yang penting ridha Allah. 

Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Perlukah kita dikagumi orang? Tidak perlu, karena yang penting kita lakukan saja yang terbaik sampai Allah kagum kepada kita. 

Jika kita  sibuk dengan Allah yang Maha Melihat, tidak perlu mencari cinta dan kekaguman orang.
Semoga Allah senantiasa menjaga niat baik kita semua dan semata-mata hanya mengharap ridha dari-Nya.

Wa’allahu’alam

Umroh Untuk Gotta


Sabtu kemarin, di hari pertama Lebarun Peduli Mentawai, ada acara Talkshow yang menghadirkan langsung orang orang Mentawai dari Buttui. Mereka sengaja dihadirkan agar sesuai dengan tema Peduli Mentawai dan agar masyarakat tahu program yang sedang dilaksanakan Aksi Peduli Bangsa benar benar terealisasi di Mentawai. 

5 orang Sikerei maju ke depan panggung bersama pak Nawir, GM Aksi Peduli Bangsa yang memberikan pengantar acara. 

Salah satu Sikerei menyebutkan bahwa mereka sangat bersyukur dengan kedatangan Aksi Peduli Bangsa ke tempat mereka sehingga kehidupan mereka bisa lebih baik dan anak anak mereka juga bisa berkembang. 

Di antara para Sikerei ini, ada anak kecil dari dusun #buttui yang akan disekolahkan di Bogor, hafalan anak ini sudah cukup lumayan dan suaranya bagus. 

Anak ini bernama Gotta, kami meminta dia untuk membacakan surat yang dia hafal dan mengumandangkan adzan. 

Alhamdulillah setelah selesai membaca Al-Quran dan adzan ada peserta yang terharu dan berjanji memberikan hadiah umroh untuk Gotta. 

Ini menjadi menguatkan bukti bahwa Allah Swt selalu memuliakan orang Penghafal Al-Quran, rizki mereka sudah diatur oleh Allah swt. 

Semoga umroh ini jadi penyemangat bagi Gotta untuk terus belajar agama dan kelak menjadi dai di tempat asalnya. 

***

Beberapa foto dan video ttg acara ini ada di IG saya, silahlan follow @JumalAhmad 

Anak kecil dg kaos Hitam di atas bernama Gotta

Pada Setiap Hati Yang Basah Terdapat Pahala


Di postingan sebelumnya saya sampaikan bahwa menolong sesama dengan penuh keikhalasan karena Allah semata hakikatnya adalah menolong diri sendiri. Bukan saja kita mendapatkan pahala karena telah menolong, tetapi perbuatan menolong tersebut akan mengundang pertolongan Allah SWT kepada pelakunya. 

Dalilnya adalah hadits berikut: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya,”. 
Selanjutnya, saya ingin menyampaikan hadits lain yang memotivasi untuk berbuat baik kepada orang lain, hadits yang bercerita tentang kisah seorang lelaki yang berbuat baik kepada seekor Anjing yang karena kebaikannya dia masuk surga. 

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Yang menjadi perhatian kita bukan pada teks ceritanya, tapi pada kata terakhir yang disampaikan Nabi Muhammad Saw:  في كل كبد رطبة أجر)..

“Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”. 

Jika berbuat baik kepada hewan bisa memasukkan ke surga, maka bagaimana dengan berbuat kepada sesama manusia yang membutuhkan, seperti saudara kita di pedalaman Indonesia atau saudara kita di luar sana seperti Somalia, Palestina dan lain sebagainya. 

Maka, pada setiap kesempatan yang ada gunakan untuk berbuat baik kepada sesama. 

Saudara kita di pedalaman Mentawai contohnya, mereka sangat kekurangan dalam masalah ekonomi, sarana listrik, sarana transportasi dan sarana ibadah. 

Lihatlah mereka sebagai saudara kita, Allah memberikan mereka kasih sayang dan kehidupan, kita pun harus memberikan kasih sayang sebagaimana Allah memberikan kepada mereka. 

%d bloggers like this: