Bid’ah Besar


​Ada yg menuduh 212 yaitu sholat Jumat diluar masjid Adalah BIDAH BESAR… oleh tokoh NU yaitu GUS Mus..

Ulama Besar Level Dunia Syeikh Sayid Sabiq dalam buku Fiqh Sunah, bab tempat untuk didirikannya Sholat Jumat dan di buku Raudhah Naddiyah bahwa sholat  Jumat bisa dilakukan di kota, desa, baik di masjid atau boleh di dalam bangunan, atau lapangan disekelilingnya. Dan juga sah dilakukan ditempat tempat lain.

Umar Bin Khatab pernah mengirim surat ke penduduk Bahrain yang isinya

” lakukanlah sholat Jumat dimanapun kalian berada” (riwayat ibn Abu Syaibah dab menurut Ahmad sanadnya Jayid).

Diriwayatkan  Bukhari dan Abu Daud) dari Ibn Abbas mengatakan bahwa “Sholat Jumat pertama dilakukan dalam Islam setelah sholat Jumat yang dikerjakan di masjid Nabi saw, di Madinah ialah Sholat Jumat di Juwa’i ( Juwatsi ) daerah Bahrain.

 Terdapat riwayat bahwa Mush’ab bin ‘Umair pernah melakukan sholat Jumat bersama kaum Anshar di suatu tanah khusus negara (naqii’/hima) bernama Al Khadhimat, yakni bukan di dalam masjid. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, II/243).

Masih banyak dalil dalil yang membolehkan sholat diluar masjid..
Buka buku Nailul Awtar jilid 2 halaman 498 sd 499.

Maka Gus Mus TIDAK benar menghukumi BIDAH BESAR..
yang Bidah besar itu. 

👇👇👇👇

https://ekspresidiri.wordpress.com/2012/02/07/berdzikir-bersama-inul/

http://m.liputan6.com/news/read/50761/ampquotberzikir-bersama-inul-primadona-pekan-muharram

Lebih baik urusan seni lukisan wanita Joged sambil dzikir yang dihukumi Bidah besar..!!

Seniman jangan masuk wilayah Fiqih.
Malulah dengan LUKISAN maksiat yg jelas BIDAH BESAR !!

Sumber: kajian ahad pagi masjid pondok indah

Perbandingan Mazhab #4 ICD MRPI


Shalat Jumat Termegah


Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

أَنَّهُمْ كَتَبُوْا إِلَى عُمَرَ يَسْأَلُوْنَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ فَكَتَبَ: جَمِّعُوْا حَيْثُمَا كُنْتُمْ.“

Kaum muslimin pernah menulis surat kepada ‘Umar menanyakan tentang shalat Jum’at? Lalu beliau menulis surat kepada mereka (yang isinya): ‘Lakukanlah shalat Jum’at di mana saja kalian berada.’”

Sanad hadits ini shahih, diriwayatkan pula dari Imam Malik, beliau berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ فِيْ هذِهِ الْمِيَاهِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ يُجَمِّعُوْنَ.
“Dahulu para Sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di sekitar perairan ini, antara Makkah dan Madinah mereka melakukan shalat Jum’at”. 


Mayoritas ulama masih membolehkan shalat di jalan karena dengan alasan keumuman hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Semua tempat di muka adalah masjid kecuali kuburan dan tempat pemandian.” (HR. Tirmidzi, no. 317; Ibnu Majah, no. 745; Abu Daud, no. 492)

Membaca adanya protes bahwa sholat jumat di jalanan merupakan bid’ah, adakah praktek ini pernah dilakukan umat islam sebelumnya. yuk kita buka buka buku sejarah.

Tahukah anda, sholat Jumat termegah dan terpanjang pernah terjadi pada tahun 1453 dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath. 
Termegah karena sholat itu dilakukan di jalan menuju konstatinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 km dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara.

Sholat jumat tesebut terjadi 1.5 KM di depan benteng Konstantinopel, dalam proses Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan yang kemudian mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium dan menjadi cikal bakal kekhalifahan Utsmaniyah.

Penaklukan Konstantinopel merupakan pembuktian atas kabar gembira “Bisyarah” atau nubuwat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada sahabat sahabatnya, bahwa negara adidaya seperti Romawi akan dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin.

Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? 

Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)



Sholat Jumat termegah di jalanan pernah dilakukan Al Fatih, yang menghantarkan umat membuka lembaran baru, membuktikan nubuwat Rasulullah dalam penaklukan konstantinopel.

Dan Insyaallah, sholat Jumat 212 nanti pun akan jadi lembaran baru bagi kita, menjadi penanda baru bagi kita, untuk menuntut keadilan sekaligus mengakhiri kedzaliman dan kesombongan rezim penguasa  antek asing dan aseng. Aamiin.

Setelah melakukan pengkajian dalil masing-masing mazhab fiqih, pendapat yang rajih (kuat) menurut kami adalah yang membolehkan sholat Jum’at di luar masjid, termasuk di jalan raya. 
Ada 3 (tiga) alasan; 

pertama, terdapat riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan sholat Jum’at di perut lembah (bathn al wadi) sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan para penulis sejarah perang Rasulullah SAW (ahlus siyar). Kata Imam Syaukani,”Kalaupun riwayat ini tidak shahih, maka tindakan Rasulullah SAW melakukan sholat Jum’at di masjid tidaklah menunjukkan persyaratan sholat Jum’at wajib dilakukan di masjid.” (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Abadi,‘Aunul Ma’bud, III/399; Imam Syaukani, Nailul Authar, IV/304).  

Kedua, terdapat riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa Umar pernah menulis kepada penduduk Bahrain untuk melaksanakan sholat Jum’at di mana pun mereka berada (an jamma’uu haitsu maa kuntum). (Imam Syaukani, Nailul Authar, IV/303). 

Ketiga, terdapat riwayat bahwa Mush’ab bin ‘Umair pernah melakukan sholat Jumat bersama kaum Anshar di suatu tanah khusus negara (naqii’/hima) bernama Al Khadhimat, yakni bukan di dalam masjid. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, II/243).

Ulama Syafi’iyyah sendiri sebenarnya membolehkan sholat Jum’at di lapangan atau tempat terbuka di luar masjid, asalkan tempat tersebut masih dekat dengan area pemukiman [darul iqamah] dan jaraknya dekat, yakni tidak sampai jarak qashar, yaitu 4 barid = 88,7 km.  Imam Nawawi berkata:
قال أصحابنا ولا يشترط إقامتها في مسجد ولكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة من خطتها فلو صلوها خارج البلد لم تصح بلا خلاف سواء كان بقرب البلدة أو بعيدا منه وسواء صلوها في كن أم ساحة
“Telah berkata para sahabat kami [ulama Syafi’iyyah],’Tidak disyaratkan mendirikan sholat Jum’at di masjid tetapi boleh di lapangan terbuka dengan syarat tempat itu ada di dalam kampung [qaryah] atau kota [baldah] yang masih terhitung dalam batas kampung/kota itu. Kalau mereka melaksanakan sholat Jum’at di luar kota [baldah] maka tidak sah sholat Jum’atnya tanpa perbedaan pendapat, baik tempat itu dekat dengan kota [baldah] maupun jauh dari kota, baik mereka sholat di rumah (kin) kota maupun di lapangan.” (Imam Nawawi, Al Majmu’, IV/501).

Imam Al Khathib Al Syarbaini berkata :
ويجوزإقامتها في فضاء معدود من الأبنية المجتمعة بحيث لا تقصر فيه الصلاة كما في الكن الخارج عنها المعدود منها بخلاف غير المعدود منها.
“Boleh mendirikan sholat Jum’at di tanah lapang yang masih terhitung bagian dari bangunan-bangunan yang terkumpul [area pemukiman], dalam arti jaraknya tidak sampai membolehkan qashar shalat pada tempat itu, seperti rumah yang terletak di luar kampung tapi masih terhitung bagian area pemukiman. Ini berbeda dengan rumah yang letaknya tidak lagi terhitung bagian dari area pemukiman.” (Imam Al Khathib Al Syarbaini, Mughnil Muhtaj, I/529).

Sumber: BC WhatsApp 

Antara Nar dan Nur


Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 17, Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan fasik terhadap cahaya petunjuk-Nya. 

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”. 

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa api (nar) dapat menghasilkan cahaya (nur) dan sekaligus panas. Namun bagi orang munafik dan fasik, mereka hanya merasakan efek panasnya api tersebut dan tidak menikmati efek terang cahayanya, karena Allah telah menghilangkannya. 

Maka tidak mengherankan mengapa dari sisi bahasa/linguistik, istilah api (nar) dan istilah cahaya (nur) mempunyai kekerabatan akar kata dan makna. Sebab keduanya mewakili substansi yang sama yakni energi. 

Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan sifat fisik, dimana kata nar lebih menonjolkan sifat panasnya, sedangkan kata nur lebih menekankan sifat radiasinya sebagai cahaya. 

Sumber: Belajar dari Kejatuhan Iblis dan Adam  as oleh Muhammad Furqan Al-Faruqy

Selamat Hari Guru


Kenapa Sang Guru awet muda?

Karena selalu bekerja dengan penuh kebahagiaan serta ketulusan mendampingi siswa yang dinamis.

Kenapa Sang Guru selalu selamat?

Karena tiap pagi menyambut anak dan siswa mendoakan “Assalamu’alaikum”.

Kenapa Sang Guru banyak amalannya?

Karena setiap saat ia dengan ikhlas menginfakkan ilmunya pada siswa.

Kenapa Sang Guru sangat berjasa?

Karena kita semua hadir bisa membaca dan menulis serta berprofesi apapun karena jasanya.

Kenapa Sang Guru kelak dijanjikan kebahagiaan oleh-Nya?

Karena meski telah wafat ia masih dapat kiriman pahala karena amal jariyah ilmunya yang diamalkan siswanya.

Maka …..

Berbahagialah wahai para guru, ibu bapak akan dapat kemuliaan di dunia dan akherat. Dengan syarat kita menjalankan tugas diniati ibadah serta dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing/mendampingi siswa yang diamanahkan pada kita.

Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan bagi kita semua wahai Sang Guru…. Aamiin ya Robb…


“Selamat Hari Guru Nasional 2016 : Mulia karena Karya…!!! “


Sumber: Broadcast WA

Pohon Tin di Depan Rumah


​Sudah lebih dari empat bulanan bapak di Magelang mencoba menanam tanaman Al-Quran yaitu Pohon Tin dan Zaitun. Bibitnya dibawa langsung oleh adik saya yang menjadi pembimbing di pesantren Al-Filaha yang konsen dalam pengembangan tanaman Al-Quran di Jonggol. 

Katanya, tekstur tanah di Adipuro itu mirip dengan keterangan tanah tempat menanam buah Tin yang ada di Al-Quran yaitu mendapatkan sinar matahari full dalam sehari dan ketinggian yang pas di atas 1500 mdpl. 

Maka adik saya ini meminta bapak untuk mencoba menanam tin dan zaitun di salah satu kebun punya bapak. Akhirnya dipilihlah kebun ‘wuloh ngisor‘ yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah dan mendapatkan sinar matahari langsung tanpa terhalang pepohonan. 

Rencana kalau bapak sudah punya niat benar untuk budidaya tin dan zaitun, akan menanam di kebun ‘pongaang‘ yang letaknya paling.. jauh dan sudah dekat dengan pohon hutan gunung Sumbing. 

Keuntungan menanam tin dan zaitun ini, dia bisa ditanam berbarengan dengan tanaman yang lain, dan tidak mengganggu. Maka bapak saya sambil menanam bawang putih atau kubis dia menyisipkan percobaan tanama tin dan zaitun. 

Alhamdulillah setelah beberapa bulan, pertumbuhan tin dan zaitun sangat bagus dan tanah di Adipuro cocok untuk budidaya tin dan zaitun. 

Selain di kebun, bapak juga mencoba nanam di depan rumah.Pohon tin di rumah kami berwarna hijau. Dengan daun lebar dan pertumbuhan yang sangat cepat. Kalau saya lihat dibanyak referensi, dimensi pohonnnya bisa sangat besar juga. Kalau untuk ini, kita harus menanamnya di kebun yang luas.

Atau bisa juga di cangkok untuk bibit baru, semakin banyak dicangkok buah tin akan semakin baik pertumbuhannya. 

Inilah foto pohon tin di depan rumah kami di Adipuro, Magelang. 

Hikmah Sakit


Kesibukan seseorang dalam hidup untuk mencari harta kekayaan dan keadaan yang sehat dan bugar, terlepas dari penyakit dan cacat sering membuat kita tidak memikirkan keadaan saudara atau orang tua yang sedang sakit, lalu tergugah hatinya untuk memenuhi haknya. 

Maka hikmah yang Allah berikan kepada saudara kita yang sakit agar kita bisa mengingat ingat mereka, yang selama ini dilalaikan selama dalam keadaan sehat. Sehingga hati terketuk untuk memenuhi haknya dengan mengunjungi, membantu keperluan, menghibur, mendoakan agar sehat dan lain lain. 

Keadaan sehat bisa mengundang seseorang untuk bersikap sombong dan takjub pada diri sendiri, sebab dalam keadaan seperti ini dia bebas beraktifitas dan berbuat apa saja. 

Namun jika penyakit sudah menguasainya dan derita merundung diri, maka jiwa bisa menjadi lunak, hati menjadi lembut, sifat kurang baik seperti sombong, takabur, dengki dan membanggakan diri bisa hilang darinya, lalu dia tunduk dan pasrah kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. 

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak bisa diraskan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya”. 

Beliau berkata, “Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kesombongan, ujub dan kekerasan hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan penghancur kehidupan dunia dan akhirat. Di antara rahmat Allah, kadang kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit – penyakit hati dan menjaga kebersihan ubudiyahnya. Maha suci Allah yang merahmati manusia dengan musibah dan ujian”.  (Tuhfatul Mariidh, hal 25)

Di antara hikmah sakit dan musibah adalah sebagai berikut. 

  • Sakit dan musibah, semuanya sudah ditakdirkan Allah. 
  • Sakit dan musibah adalah ketetapan Allah, dan Allah lebih menyayangimu daripada rasa sayangmu terhadap diri sendiri. 
  • Allah telah memilih sakit dan musibah, karena Allah lebih tahu kemaslahatan untuk kita. Dia Maha Bijaksana dan meletakkab sesuatu pada tempatnya. Musibah dan sakit merupakan kebijaksanaan dan rahmat dari Allah. 
  • Sakit dan musibah sebagai pertanda kecintaan Allah pada hamba-Nya. 
  • Putus asa tidak akan memberikan manfaat, justru menambah derita. 
  • Allah menjanjikan surga bagi siapa yang sabar dan ridha dalam ujian dan cobaan. 
  • Nikmat Allah jauh lebih banyak. 
  • Membandingkan musibah dan sakit dengan saudara kita yang tertimpa lebih parah. 
  • Setiap sakit pasti ada obatnya. 

    Teriring doa untuk siapa saja yang sakit, semoga diberikan kesabaran dan segeran diberi kesehatan. Semoga kesehatan untuk bapak kami yang sedang sakit di rumah. Semoga lekas sembuh. 😊😊😊

    %d bloggers like this: