Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 15-16, Kesesatan Aqidah Kaum Nasrani


a. Asbabun Nuzul

Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan dari Ikrimah bahwa Nabi saw pernah didatangi sekelompok orang Yahudi yang bertanya tentang rajam, lalu nabi bertanya: siapakah di antara kalian yang paling banyak ilmunya? Lalu mereka menunjuk Ibnu Shuriya, dia bersumpah dengan dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, yang telah menganggkat gunung Thursina dan member perjanjian-perjanjian atas mereka, sampai dia bergemetar dan mengatakan: kami menjilidnya seratus kali, kami potong kepala mereka dan menghukumi rajam. Maka Allah swt menurunkan ayat ini. (Tafsir Ath-Thabari 6: 103-104)

b. Intisari Tafsir

Wahai Ahli kitab yaitu Yahudi dan Nasrani telah datang kepadamu Muhammad saw dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, dia diutus dengan membawa penjelas dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Dalam ayat ini Rasul Muhammad disifati dengan dua sifat pertama, menjelaskan kepada mereka banyak hal dari isi kitab yang mereka sembunyikan. Ibnu Abbas berkata: “Mereka sembunyikan sifat Muhammad, dan perkara rajam, dan banyak pula yang dibiarkan sehingga tidak terbuka keburukan mereka”. Kedua, banyak yang dibiarkan dan tidak ditampakkan dari apa-apa yang telah mereka sembunyikan.

Allah swt menjelaskan bahwa kitab Al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw adalah kitab yang jelas, dan nabi Muhammad saw adalah cahaya, ada juga yang menafsirkan kata cahaya dengan Islam.

Kemudian Allah berfirman bahwa dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk bagi siapa yang ingin mengikuti agama yang diridhai Allah, menunjukkan jalan keselamatan dan mengeluaran mereka dari kegelapan kekufuran kepada cahaya iman, karena itu ini adalah agama yang benar yang semestinya diikuti oleh seluruh manusia. Oleh karena itu dari keterangan tadi dapat disimpulkan tiga faidah:

1. Orang yang mengikuti apa yang diridhai Allah akan diberi petunjuk kepada jalan keselamatan dari kesengsaraan dan adzab di dunia dan akhirat dengan Islam, karena Islam adalah agama yang benar, adil dan seimbang.

2. Al-Quran mengeluarkan orang beriman dari kegelapan kekufuran, syirik dan keragu-raguan kepada cahaya tauhid yang murni.

3. Al-Quran menjadi petunjuk kepada jalan yang benar dan kebaikan di dunia dan di akhirat. (Tafsir As-Shahih Al-Masbur minat Tafsir bil Ma’tsur oleh Hikmat bin Yasir bin Yasin 2: 168, Tafsir Al-Munir Lizzuhaili, 6: 131)

c. Hadits

Dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; Rasulullah saw. bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muttafaq Alaih. Bukhari no. 6775, Muslim no. 4822)

d. Panduan Amal

Menyikapi orang kafir yang mengucapkan selamat hari besar islam.

  1. Mensyukuri nikmat islam dan iman serta berusaha untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus
  2. Jangan membalas dengan mengucapkan selamat kepada mereka karena dilarang menurut agama
  3. Jangan pula menghadiri hari raya mereka
  4. Jangan menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam perayaan mereka dengan mengadakan pesta atau bertukar hadiah.
  5. Memperbanyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Islam yang ada disekitar tempat tinggal kita.
  6. Mewaspadai maker-makar dari musuh islam yang berusaha mempublikasikan hari besar-hari besar mereka sehingga umat Islam menganggap hal itu bersifat umum dan bias diperingati oleh siapa saja.

e. Khazanah pengetahuan

Hukum menghadiri perayaan natal atau pengucapan selamat natal

Mengucapkan “Happy Christmas” (Selamat Natal) atau perayaan keagamaan mereka lainnya kepada orang-orang Kafir adalah haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama.

Menurut Ibn al-Qayyim r.a. di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah”, beliau berkata,”Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap Hari-Hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan,’Semoga Hari raya anda diberkahi’ atau anda yang diberikan ucapan selamat berkenaan dengan perayaan hari besarnya itu dan semisalnya. Kalaupun orang yang mengucapkannya dapat lolos dari kekufuran, maka dia tidak akan lolos dari melakukan hal-hal yang diharamkan. Seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya haram hukunya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu (QS. Az-Zumar:7)

Bila mereka mengucapkan selamat berkenaan dengan hari-hari besar mereka kepada kita, maka kita tidak boleh menjawabnya karena hari-hari besar itu bukanlah hari-hari besar kita. Juga karena ia adalah hari besar yang tidak diridhai Allah Ta’ala; baik disebabkan perbuatan itu semua telah dihapus oleh Dienul Islam yang dengannya Nabi Muhammad saw. diutus Allah kepada seluruh makhluk. (QS. Al- Ma‘idah :3)

Demikian pula, haram hukumnya bagi kaum Muslimin menyerupai orang-orang Kafir,.Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw., “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Daud). (Majmû’ Fatâwa asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-’Utsaimîn)

f. Doa Ma’tsur

Doa ketika ditimpa keraguan dalam iman

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku berada di atas agama-Mu” (HR Tirmidzi no. 2066)

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: