Kontroversi Pemikiran Ibnu Arabi Ash-Shufi


Futuhat Makkiyyah, buku kotroversial Ibnu Arabi

Pengantar

Ibnu ‘Arabi adalah sosok sufi yang banyak mendapatkan kritikan dan tuduhan tajam. Bahkan, sebagian ulama ada yang mengatakan, “Ma Ikhtalafal ulama’u fi ahadin ka ikhtilafihim fi Muhyidin Ibnu ‘Arabi”, tak ada satupun seseorang yang lebih kontrovesional di kalangan para ulama yang melebihi Ibnu Arabi. banyak ulama yang telah berusaha menjelaskan peri kehidupan dari Ibnu Arabi, yang paling lengkap adalah Taqiyudin Al-Faasi dalam kitab ‘Al-‘Aqduts Tsamin fi Tarikh Al-buldan Al-Amin’ dan ia mengatakan “Saya telah menulis biografi paling lengkap tentang Ibnu Arabi yang belum ada di kitab manapun, dan sebagiannya saya rujuk dari orang yang hidup semasa dengannya’.

Secara ringkas namanya adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i, Al-hatimi, Al-Mursi, Muhyiddin Ibnu Arabi. Lahir di Mursiyah pada tahun 560 H, ia tumbuh disana,  tahun 578 H pindah ke Asbelia setelah itu ia banyak mengadakan perjalanan menuntut ilmu seperti Syam, Romawi dan Baghdad.

Artikel ini berusaha mengetengahkan pemikiran-pemikiran kontroversial dari Ibnu Arabi dan selanjutnya kita bandingkan dengan Abdul Hamid Al-Ghazali dalam hal keterpengaruhan mereka terhadap sufi. Dan sebelumnya kita bahas dulu asal-usul nama Tasawuf, Definisi Tasawuf, dan Hakikat Tasawuf.

Asal usul Nama Tasawuf

 

Para ahli tasawuf sendiri mempunyai pendapat yang berbeda tentang asal-usulama tasawuf. Syaikh Sarraj Al-thusi menulis sebuah bab khusus yang berjudul “Babu Kasyfi ‘An Ismi Al-Shuffiyyah wa lima Summu Bihadzal Ismi, wa lima Nusibu Ila Hadza Al-libsati”.  Ia berkata, “Seseorang bertanya, “Para ahli hadits, dinisbatkan keahlian mereka pada ilmu hadits, para ahli fiqih dinisbatkan pada ilmu fiqih. Tetapi kenapa anda memberi nama “Shufiiyah” tanpa menisbatkannya pada sebuah keadaan atau suatu disiplin ilmu tertentu? Seperti zuhud dinisbatkan pada perilaku para ahli zuhud, tawakal terhadap perilaku orang-oarng yang bertawakal, sabar terhadap perilaku orang-orang yang bersabar?” Maka jawabannya adalah: karena orang-orang sufi sendiri tidak mendalami salah satu cabang ilmu tertentu, tanpa cabang-cabang yang lain. Dan mungkin masih dipersoalkan kenapa mereka malah dinisbatkan kepada pakaiannya? Jawabannya adalah karena pakaiandari wol kasar merupakan kebiasaan para Nabi as dan syiar para wali dan orang-orang yang disucikan.”[1]

Dari kutipan di atas, As-Sarrraj berpendapat bahwa tasawuf diambil dari kata ‘shuf’ yang bermakna wol kasar dengan melihat pakaian yang kebanyakan digunakan kaum sufi.

Tetapi Al-Qusyairi yang juga seorang sufi berbeda pendapat dengan As-Sarraj. Ia berkata: “ketahuuilah oleh kalian semua –semoga kalian dirahmati Allah swt- sesungguhnya umat islam setelah wafatnya Rasulullah saw tidaklah melakukan penamaan apa pun untuk menunjukkan keutamaan mereka di jaman itu, kecuali para pengikut setia Nabi saw, sebab tidak ada keutamaan yang melebihi mereka, maka golongan tadi disebut dengan nama “As-Shahabah”.

Tetapi generasi berikutnya, orang-orang yang menjadi pengikut sahabat mulai dinamai dengan istilah “Tabi’in”, dan tampaklah dalam nama itu keutamaan yang tinggi dan keagungan. Dan orang-orang yang mengikuti tabi’in juga dinamai dengan “Tabi’ut Tabi’in”. Kemudian umat Islam terpecah belah, dan terjadilah perbedaan tingkatan. Orang-orang tertentu yang dengan tekun dan rajin mengamalkan ajaran agama lalu dinamai dengan Az-Zuhhad (Ahli Zuhud) atau Al-Ubbad (Ahli Ibadah).

Selanjutnya bid’ah mulai merebak di tengah-tengah masyarakat, dan terjadilah saling klaim antar golongan. Setiap golongan di antara mereka mengklaim bahwa dirinyalah yang paling “zuhhad”. Lalu keluarlah dari kemelut ini orang-orang khusus dari golongan ahli sunnah, yang selalu menjaga dirinya agar selalu dekat dengan Allah swt dan selalu menjaga dirinya dari jalan yang membuat lalai kepada-Nya, mereka itu lalu dinamai dengan ahli tasawuf. Maka menjadi mashurlah nama itu di antara pembesar-pembesar mereka sebelum akhir abad kedua hijriyah.”[2]

Dr. Musa bin Sulaiman Ad-Duwaisy ketika memberikan komentar atas perkataan Qusyairi di atas mengatakan; Pendapat Al-Qusyairi itu tidak bisa diterima, sebab orang-orang khusus dari golongan Ahlus Sunnah adalah mereka yang konsisten mengikuti ajaran Rasulullah saw dan mempelajari dengan sungguh-sungguh agama Allah swt. Mereka juga merumuskan berbagai hukum ajaran agama, mereka beribadah kepada Allah swt dengan dasar ilmu pengetahuan. Mereka juga menentang para ahli bid’ah, menasehati mereka, dan mereka sendiri berhati-hai dari jalan para ahli bid’ah. Mereka juga tidak menamai dirinya dengan istilah-istilah yang agung dan muluk-muluk, seperti yang dilakukan oleh golongan-golongan lain yang menyimpang dari sunnah Rasulullah saw. Walaupun pada hakekatnya dalam diri mereka ada kebenaran”.[3]

Oleh karena itu , golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah selalu terkenal di setiap zaman dengan kemoderatannya serta kekonsistenannya dalam mengikuti sunnah Rasulullah saw, sahabat-sahabatnya, tabi’in dan para tabi’ut tabi’in.

Dari sini nampaklah, bahwa Al-Quyairi berlebih-lebihan dalam memberikan nama tasawuf, bahkan tidak cermat. Pendapatnya juga bertentangan dengan pendapat As-Saraj Al-Thusi yang hidup lebih awal dan lebih mengetahui golongan ini.

Kesimpulan ini juga diperkuat oleh Ibnu Taimiyah ketika beliau mendiskusikan asal penamaan kelompok tasawuf, ia berkata, “Kemudian mereka berselisih tentang asal muasal penamaan golongan ini. Sesungguhnya “Ash-Shufi” adalah “Isim Nisbat” sebagaimana nama Al-Quraisy, Al-Madani dan contoh-contoh lainya. Ada yang berpendapat, ia dinisbatkan ‘‘Ahlu Shuffah”, pendapat ini tentu keliru, sebab jika dinisbatkan padanya maka ia harus dibaca “Shuffiy”ada juga yang menisbatkannya pada “shof” yang utama di sisi Allah swt, ini juga salah, sebab seharusnya ia berbunyi “Shofi”. Nama ini juga dinisbatkan pada kata “Shafwah” di antara makhluk Allah, ini juga salah, karena seharusnya ia berbunyi “Shifawiy”. Ada juga yang berpendapat nama ini dinisbatkan pada Shufah bin Bisyr bin Adhan Thabikhah. Ia merupakan kabilah Arab yang tinggal di sekitar Makkahsejak zaman dahulu kala. Mereka identik dengan para ahli ibadah. Walau pun penisbatan terhadap mereka adalah benar dari segi lafadz, tetapi pendapat ini sangat lemah sebab mereka tidaklah terkenal di antara kaum ahli zuhud, dan jika penisbatan dilakukan terhadap mereka, maka tentunya istilah ini telah muncul sejak zaman sahabat dan tabi’in generasi pertama. Dan orang-orang yang sering menggunakan istilah “sufi” tidaklah mengetahui kabilah ini. Bahkan mereka tidak rela jika dinisbatkan pada sebuah kabilah jahiliyah yang tidak dikenal dalam agama islam. Nama ini juga dikaitkan –dan ini yang paling masyhur- pada pakaian wol kasar.

Abu Syaikh Al-Asbahani meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin, bahwa ada beberapa kaum yang mengutamakan pakaian wol kasar. Ia berkata: “Sesungguhnya ada kaum yang memilih dan mengutamakan baju wol. Mereka mengatakan bahwa mereka menyerupai Al-Masih bin Maryam sedangkan petunjuk nabi kami lebih kami cintai, dan nabi Muhammad saw memakai pakaian dari katun atau yang lainnya.”[4]

17 Responses

  1. kayak nya ne artikel gak seimbang gan..

    • dimana letak gak seimbangnya??…mohon disebutkan biar kita semua tahu, dan saya bisa menjawabnya…

  2. Al hallaj, ibnu arabi, al busthami, abdul qadir jaelani,jalaludin rumi,dll..atas izin Allah,mereka smua adalah Al-Haq…

  3. Dari Ini Semua Jelas Ahmadbinhambal adalah individu yg tidak pake Tashowwuf dalam kesehariannya. kita hormati saja itu. saran saya silakan menggali lebih dalam agar anda yakin bahwa pendapat anda itu benar. dan jangan lupa anda juga harus belajar Tashowwuf lebih dalam biar lebih fasih dalam menntang ajaran Tashowwuf. Mudh2an kita semua diberi Hidayah oleh Allah SWT Aminn…..

  4. Maaf Gan ane tidak mau menghujat anda sebagaimana anda menghujat Imam sekaliber Ibnu Arabi dan Imam Ghazali. Tapi Be Careful aja deh daripada menulis yang nggak jelas lebih baek Nulis yang manfaat aja deh

    • Menghujat? siapa menghujat siapa, saya tidak pernah berniat untuk menghujat Ibnu Arabi apalagi Hujjatul islam Abu Hamid Al-Ghazali.

      Saya hanya menyampaikan kekeliruan paham dan pemikiran Ibnu Arabi dan bagaimana pandangan serta upaya pembelaan ulama untuk membersihkan aqidah pemikiran ngawur Ibnu Arabi.

      Dan saya dengan izin Allah swt akan terus menulis artikel di blog ini sebagai kontribusi saya untuk mencerahkan umat, melestarikan kedamaian serta membudidayakan sikap adil di segala keadaan.

      • iu aja duehhh wat ente…jempol turun…..hhhiiiii

  5. izin share di islamisana.com ^^

    • Baik, silahkan dengan senang hati.

    • Maaf akhi Yudi, sepertinya bukan islamsana.com tetapi islamsiana.com he..he…

  6. […] Para ahli tasawuf sendiri mempunyai pendapat yang berbeda tentang asal-usulama tasawuf. Syaikh Sarraj Al-thusi menulis sebuah bab khusus yang berjudul “Babu Kasyfi ‘An Ismi Al-Shuffiyyah wa lima Summu Bihadzal Ismi, wa lima Nusibu Ila Hadza Al-libsati”.  Ia berkata, “Seseorang bertanya, “Para ahli hadits, dinisbatkan keahlian mereka pada ilmu hadits, para ahli fiqih dinisbatkan pada ilmu fiqih. Tetapi kenapa anda memberi nama “Shufiiyah” tanpa menisbatkannya pada sebuah keadaan atau suatu disiplin ilmu tertentu? Seperti zuhud dinisbatkan pada perilaku para ahli zuhud, tawakal terhadap perilaku orang-oarng yang bertawakal, sabar terhadap perilaku orang-orang yang bersabar?” Maka jawabannya adalah: karena orang-orang sufi sendiri tidak mendalami salah satu cabang ilmu tertentu, tanpa cabang-cabang yang lain. Dan mungkin masih dipersoalkan kenapa mereka malah dinisbatkan kepada pakaiannya? Jawabannya adalah karena pakaiandari wol kasar merupakan kebiasaan para Nabi as dan syiar para wali dan orang-orang yang disucikan.”[1] […]

  7. wahabi..wahabi.. suka mentakfiri dan membidahkan orang. Bertaobatlah kalian.. Jangan hina ulama dan para wali.. Lebih mulia mereka daripada kalian yang menghina mereka. Berkedok membela Islam tapi mengkafirkan umat islam lainnya. Kalau tak mengerti tasawuf jangan cepat menmvonisnya. Baca kitab Ilhya Ulumuddin, Kitab Al-Hikam dan kitab lainnya supaya anda paham bagaimana tasawuf itu.

  8. KESESATAN IBNU TAIMIYAH
    Pernyataan Kontroversial Ibnu Taimiyah Bahwa Neraka Akan Punah
    neraka1Termasuk kontroversi besar yang menggegerkan dari Ibn Taimiyah adalah pernyataannya bahwa neraka akan punah, dan bahwa siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya memiliki penghabisan. Kontroversi ini bahkan diikuti oleh murid terdekatnya; yaitu Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (Lihat Ibn al-Qayyim dalam Hadi al-Arwah Ila Bila al-Afrah, h. 579 dan h. 582).Dalam karyanya berjudul ar-Radd ’Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut:
    ”Di dalam kitab al-Musnad karya ath-Thabarani disebutkan bahwa di bekas tempat neraka nanti akan tumbuh tumbuhan Jirjir. Dengan demikian maka pendapat bahwa neraka akan punah dikuatkan dengan dalil dari al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para sahabat. Sementara mereka yang mengatakan bahwa neraka kekal tanpa penghabisan tidak memiliki dalil baik dari al-Qur’an maupun Sunnah” (Ar-Radd ‘Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, h. 67).
    Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas merupakan dusta besar terhadap para ulama Salaf dan terhadap al-Imam ath-Thabarani. Anda jangan tertipu, karena pendapat itu adalah ”akal-akalan” belaka. Anda tidak akan pernah menemukan seorang-pun dari para ulama Salaf yang berkeyakinan semacam itu. Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas telah menyalahi teks-teks al-Qur’an dan hadits serta ijma’ seluruh orang Islam yang telah bersepakat bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Dalam kurang lebih dari 60 ayat di dalam al-Qur’an secara sharih (jelas) menyebutkan bahwa surga dengan segala kenikmatan dan seluruh orang-orang mukmin kekal di dalamnya tanpa penghabisan, dan bahwa neraka dengan segala siksaan serta seluruh orang-orang kafir kekal di dalamnya tanpa penghabisan. Di antaranya dalam QS. Al-Ahzab: 64-65, QS. At-Taubah: 68, QS. An-Nisa: 169, dan berbagai ayat lainnya.
    Kemudian di dalam hadits-hadits shahih juga telah disebutkan bahwa keduanya kekal tanpa penghabisan. Di antaranya hadits shahih riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
    يقال لأهل الجنة: يا أهل الجنة خلود لا موت، ولأهل النار: خلود لا موت (رواه البخاري)
    ”Dikatakan kepada penduduk surga: ”Wahai penduduk surga kalian kekal tidak akan pernah mati”. Dan dikatakan bagi penduduk neraka: ”Wahai penduduk neraka kalian kekal tidak akan pernah mati”. (HR. al-Bukhari)
    Ini adalah salah satu kontroversi Ibn Taimiyah, -selain berbagai kontroversi lainnya- yang memicu ”peperangannya” dengan al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki. Hingga kemudian al-Imam as-Subki membuat risalah berjudul ”al-I’tibar Bi Baqa al-Jannah Wa an-Nar”sebagai bantahan keras kepada Ibn Taimiyah, yang bahkan beliau tidak hanya menyesatkannya tapi juga mengkafirkannya. Di antara yang dituliskan al-Imam as-Subki dalam risalah tersebut adalah sebagai berikut:
    ”Sesungguhnya keyakinan seluruh orang Islam bahwa surga dan neraka tidak akan pernah punah. Kesepakatan (Ijma’) kayakinan ini telah dikutip oleh Ibn Hazm, dan bahwa siapapun yang menyalahi hal ini maka ia telah menjadi kafir sebagaimana hal ini telah disepakati (Ijma’). Sudah barang tentu hal ini tidak boleh diragukan lagi, karena kekalnya surga dan neraka adalah perkara yang telah diketahui oleh seluruh lapisan orang Islam. Dan sangat banyak dalil menunjukan di atas hal itu” (Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah karya al-Hafizh ‘Ali ibn ‘Abd al-Kafi as-Subki, h. 60).
    Pada bagian lain dalam risalah tersebut, al-Imam as-Subki menuliskan:
    ”Seluruh orang Islam telah sepakat di atas keyakinan bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Keyakinan ini dipegang kuat turun temurun antar generasi yang diterima oleh kaum Khalaf dari kaum Salaf dari Rasulullah. Keyakinan ini tertancap kuat di dalam fitrah seluruh orang Islam yang telah diketahui oleh seluruh lapisan mereka. Bahkan tidak hanya orang-orang Islam, agama-agama lainpun di luar Islam meyakini demikian. Maka barang siapa meyalahi keyakinan ini maka ia telah menjadi kafir” (Ibid, h. 67).
    Dalil Tambahan:

    [Al -ahzab (33):64] Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),

    [Al -ahzab (33):65]mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.
    Dalam surat attaubat ayat 68:

    [9:68] Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
    Dalam Surat Annisa 169:

    [4:169] kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
    Kemudian di dalam hadits-hadits shahih juga telah disebutkan bahwa keduanya kekal tanpa penghabisan. Di antaranya hadits shahih riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
    يُقَالُ لِأهْلِ الْجَنّةِ: يَا أهْلَ الْجَنّةِ خُلُوْدٌ لاَ مَوْت، وَلأهْلِ النّار: خُلُوْدٌ لاَ مَوْت (رواه البخاري)
    ”Dikatakan kepada penduduk surga: ”Wahai penduduk surga kalian kekal tidak akan pernah mati”. Dan dikatakan bagi penduduk neraka: ”Wahai penduduk neraka kalian kekal tidak akan pernah mati”. (HR. al-Bukhari)
    2. fatwa fatwa sesat Ibnu qayyim al Jawziyyah (Murid Ibnu Taymiyah)
    Ibn Qayyim berkata: “Karena itu hendaklah makam Rasulullah jangan diziarahi…!”….
    Ibn Qayyim al Jawziyyah; adalah murid Ibn Taimiyah, banyak mengambil kesalahpahaman-kesalahpahaman dari Ibn Taimiyah, benar-benar telah mengekor setiap jengkalnya kepada gurunya tersebut dalam berbagai masalah ushuliyyah.
    Ia bernama Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ayyub az-Zar’i, dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jawziyyah, lahir tahun 691 hijriyah dan wafat tahun 751 hijriyah. Al-Dzahabi dalam kitab al-Mu’jam al-Mukhtash menuliskan tentang sosok Ibn Qayyim sebagai berikut:
    “Ia tertarik dengan disiplin Hadits, matan-matan-nya, dan para perawinya. Ia juga berkecimpung dalam bidang fiqih dan cukup kompeten di dalamnya. Ia juga mendalami ilmu nahwu dan lainnya. Ia telah dipenjarakan beberapa kali karena pengingkarannya terhadap kebolehan melakukan perjalanan untuk ziarah ke makam Nabi Ibrahim. Ia menyibukan diri dengan menulis beberapa karya dan menyebarkan ilmu-ilmunya, hanya saja ia seorang yang suka merasa paling benar dan terlena dengan pendapat-pendapatnya sendiri, hingga ia menjadi seorang yang terlalu berani atau nekad dalam banyak permasalahan” (al-Mu’jam al-Mukhtash).
    Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab ad-Durar al-Kaminah menuliskan tentang Ibn Qayyim sebagai berikut:
    “Ia ditaklukkan oleh rasa cintanya kepada Ibn Taimiyah, hingga tidak sedikitpun ia keluar dari seluruh pendapat Ibn Taimiyah, dan bahkan ia selalu membela setiap pendapat apapun dari Ibn Taimiyah. Ibn Qayyim inilah yang berperan besar dalam menyeleksi dan menyebarluaskan berbagai karya dan ilmu-ilmu Ibn Taimiyah. Ia dengan Ibn Taimiyah bersama-sama telah dipenjarakan di penjara al-Qal’ah, setelah sebelumnya ia dihinakan dan arak keliling di atas unta hingga banyak dipukuli ramai-ramai. Ketika Ibn Taimiyah meninggal dalam penjara, Ibn Qayyim lalu dikeluarkan dari penjara tersebut. Namun demikian Ibn Qayyim masih mendapat beberapa kali hukuman karena perkataan-perkataannya yang ia ambil dari fatwa-fatwa Ibn Taimiyah. Karena itu Ibn Qayyim banyak menerima serangan dari para ulama semasanya, seperti juga para ulama tersebut diserang olehnya” (ad-Durar al-Kâminah Fi A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah ).
    Sementara Ibn Katsir menuliskan tentang sosok Ibn Qayyim sebagai berikut:
    “Ia (Ibn Qayyim) bersikukuh memberikan fatwa tentang masalah talak dengan menguatkan apa yang telah difatwakan oleh Ibn Taimiyah. Tentang masalah talak ini telah terjadi perbincangan dan perdebatan yang sangat luas antara dia dengan pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât); Taqiyuddin as-Subki dan ulama lainnya” (Al-Bidâyah Wa an-Nihâyah, j. 14, j. 235).
    Ibn Qayyim adalah sosok yang terlalu optimis dan memiliki gairah yang besar atas dirinya sendiri, yang hal ini secara nyata tergambar dalam gaya karya-karya tulisnya yang nampak selalu memaksakan penjelasan yang sedetail mungkin. Bahkan nampak penjelasan-penjelasan itu seakan dibuat-buatnya. Referensi utama yang ia jadikan rujukan adalah selalu saja perkataan-perkataan Ibn Taimiyah. Bahkan ia banyak mengutak-atik fatwa-fatwa gurunya tersebut karena dalam pandangannya ia memiliki kekuatan untuk itu. Tidak sedikit dari faham-faham ekstrim Ibn Taimiyah yang ia propagandakan dan ia bela, bahkan ia jadikan sebagai dasar argumentasinya. Oleh karena itu telah terjadi perselisihan yang cukup hebat antara Ibn Qayyim dengan pimpinan para hakim(Qâdlî al-Qudlât); Imam al-Hâfizh Taqiyuddin as-Subki di bulan Rabi’ul Awwal dalam masalah kebolehan membuat perlombaan dengan hadiah tanpa adanya seorang muhallil (orang ke tiga antara dua orang yang melakukan lomba). Ibn Qayyim dalam hal ini mengingkari pendapat Imam as-Subki, hingga ia mendapatkan tekanan dan hukuman saat itu, yang pada akhirnya Ibn Qayyim menarik kembali pendapatnya tersebut.
    Imam Taqiyuddin al-Hishni (w 829 H), salah seorang ulama terkemuka dalam madzhab asy-Syafi’i; penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr, dalam karyanya berjudul Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarradsebagai bantahan atas kesalahpahaman Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut:
    “Ibn Taimiyah adalah orang yang berpendapat bahwa mengadakan perjalanan untuk ziarah ke makam para Nabi Allah adalah sebagai perbuatan yang haram, dan tidak boleh melakukan qashar shalat karena perjalanan tersebut. Dalam hal ini, Ibn Taimiyah secara terang-terangan menyebutkan haram safar untuk tujuan ziarah ke makam Nabi Ibrahim dan makam Rasulullah. Keyakinannya ini kemudian diikuti oleh muridnya sendiri; yaitu Ibn Qayyim al-Jaiuziyyah az-Zar’i dan Isma’il ibn Katsir as-Syarkuwini. Disebutkan bahwa suatu hari Ibn Qayyim mengadakan perjalan ke al-Quds Palestina. Di Palestina, di hadapan orang banyak ia memberikan nasehat, namun ditengah-tengah nasehatnya ia membicarakan masalah ziarah ke makam para Nabi. Dalam kesimpulannya Ibn Qayyim kemudian berkata: “Karena itu aku katakan bahwa sekarang aku akan langsung pulang dan tidak akan menziarahi al-Khalil (Nabi Ibrahim)”. Kemudian Ibn Qayyim berangkat ke wilayah Tripoli (Nablus Syam), di sana ia kembali membuat majelis nesehat, dan di tengah nasehatnya ia kembali membicarakan masalah ziarah ke makam para Nabi. Dalam kesimpulan pembicaraannya Ibn Qayyim berkata: “Karena itu hendakalah makam Rasulullah jangan diziarahi…!”. Tiba-tiba orang-orang saat itu berdiri hendak memukulinya dan bahkan hendak membunuhnya, namun peristiwa itu dicegah oleh gubernur Nablus saat itu. Karena kejadian ini, kemudian penduduk al-Quds Palestina dan penduduk Nablus menuslikan berita kepada para penduduk Damaskus prihal Ibn Qayyim dalam kesalahpahamannya tersebut. Di Damaskus kemudian Ibn Qayyim dipanggil oleh salah seorang hakim (Qadli) madzhab Maliki. Dalam keadaan terdesak Ibn Qayyim kemudian meminta suaka kepada salah seorang Qadli madzhab Hanbali, yaitu al-Qâdlî Syamsuddin ibn Muslim al-Hanbali. Di hadapannya, Ibn Qayyim kemudian rujuk dari fatwanya di atas, dan menyatakan keislamannya kembali, serta menyatakan taubat dari kesalahan-kesalahannya tersebut. Dari sini Ibn Qayyim kembali dianggap sebagai muslim, darahnya terpelihara dan tidak dijatuhi hukuman. Lalu kemudian Ibn Qayyim dipanggil lagi dengan tuduhan fatwa-fatwa yang menyimpang yang telah ia sampaikan di al-Quds dan Nablus, tapi Ibn Qayyim membantah telah mengatakannya. Namun saat itu terdapat banyak saksi bahwa Ibn Qayyim telah benar-benar mengatakan fatwa-fatwa tersebut. Dari sini kemudian Ibn Qayyim dihukum dan di arak di atas unta, lalu dipenjarakan kembali. Dan ketika kasusnya kembali disidangkan dihadapan al-Qâdlî Syamsuddin al-Maliki, Ibn Qayyim hendak dihukum bunuh. Namun saat itu Ibn Qayyim mengatakan bahwa salah seorang Qadli madzhab Hanbali telah menyatakan keislamannya dan keterpeliharaan darahnya serta diterima taubatnya. Lalu Ibn Qayyim dikembalikan ke penjara hingga datang Qadli madzhab Hanbali dimaksud. Setelah Qadli Hanbali tersebut datang dan diberitakan kepadanya prihal Ibn Qayyim sebenarnya, maka Ibn Qayyim lalu dikeluarkan dari penjara untuk dihukum. Ia kemudian dipukuli dan diarak di atas keledai, setelah itu kemudian kembali dimasukan ke penjara. Dalam peristiwa ini mereka telah mengikat Ibn Qayyim dan Ibn Katsir, kemudian di arak keliling negeri, karena fatwa keduanya -yang nyeleneh- dalam masalah talak” (Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad, h. 122-123).
    Ibn Qayyim benar-benar telah mengekor setiap jengkalnya kepada gurunya; yaitu Ibn Taimiyah, dalam berbagai permasalahan. Dalam salah satu karyanya berjudul Badâ-i’ al-Fawâ-id, Ibn Qayyim menuliskan beberapa bait syair berisikan keyakinan tasybîh, yang lalu dengan dusta mengatakan bahwa bait-bait syair tersebut adalah tulisan Imam ad-Daraquthni. Dalam bukunya tersebut Ibn Qayyim menuliskan:
    “Janganlah kalian mengingkari bahwa Dia Allah duduk di atas arsy, juga jangan kalian ingkari bahwa Allah mendudukan Nabi Muhammad di atas arsy tersebut bersama-Nya” (Badâ-i’ al-Fawâ-id, j. 4, h. 39-40).
    Tulisan Ibn Qayyim ini jelas merupakan kedustaan yang sangat besar. Sesungguhnya Imam ad-Daraquthni adalah salah seorang yang sangat mengagungkan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari; sebagai Imam Ahlussunnah. Seandainya ad-Daraquthni seorang yang berkeyakinan tasybîh, seperti anggapan Ibn Qayyim, tentu ia akan mengajarkan keyakinan tersebut.
    Pada bagian lain dalam kitab yang sama Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa langit lebih utama dari pada bumi, ia menuliskan: ”Mereka yang berpendapat bahwa langit lebih utama dari pada bumi mengatakan: Cukup alasan yang sangat kuat untuk menetapkan bahwa langit lebih utama dari pada bumi adalah karena Allah berada di dalamnya, demikian pula dengan arsy-Nya dan kursi-Nya berada di dalamnya” (Badâ-i’ al-Fawâ-id, h. 24).
    Penegasan yang sama diungkapkan pula oleh Ibn al-Qayyim dalam kitab karyanya yang lain berjudul Zâd al-Ma’âd. Dalam pembukaan kitab tersebut dalam menjelaskan langit lebih utama dari bumi mengatakan bahwa bila seandainya langit tidak memiliki keistimewaan apapun kecuali bahwa ia lebih dekat kepada Allah maka cukup hal itu untuk menetapkan bahwa langit lebih utama dari pada bumi.
    Syekh Muhammmad Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn dalam menanggapi tulisan-tulisan sesat Ibn al-Qayyim di atas berkata:
    ”Orang ini (Ibn al-Qayyim) meyakini seperti apa yang diyakini oleh seluruh orang Islam bahwa seluruh langit yang tujuh lapis, al-Kursi, dan Arsy adalah benda-benda yang notabene makhluk Allah. Orang ini juga tahu bahwa besarnya tujuh lapis langit dibanding dengan besarnya al-Kursi tidak ubahnya hanya mirip batu kerikil dibanding padang yang sangat luas; sebagaimana hal ini telah disebutkan dalam Hadits Nabi. Orang ini juga tahu bahwa al-Kursi yang demikian besarnya jika dibanding dengan besarnya arsy maka al-Kursi tersebut tidak ubahnya hanya mirip batu kerikil dibanding padang yang sangat luas. Anehnya, orang ini pada saat yang sama berkeyakinan persis seperti keyakinan gurunya; yaitu Ibn Taimiyah, bahwa Allah berada di arsy dan juga berada di langit, bahkan keyakinan gurunya tersebut dibela matia-matian layaknya pembelaan seorang yang gila. Orang ini juga berkeyakinan bahwa seluruh teks mutasyâbih, baik dalam al-Qur’an maupun Hadits-Hadits Nabi yang menurut Ahl al-Haq membutuhkan kepada takwil, baginya semua teks tersebut adalah dalam pengertian hakekat, bukan majâz (metafor). Baginya semua teks-teks mutasyâbih tersebut tidak boleh ditakwil” (Barâ-ah al-Asy’ariyyîn, j. 2, h. 259-260).

  9. KESESATAN IBNU TAIMIYAH

    Fatwa-Fatwa Ibnu Taimiyah Yang Melanggar Ijma’

    Ibnu Taimiyah memfatwakan bahwa thalak 3 sekali jatuh hanya jatuh satu dan thalak dengan sumpah tidak jatuh.
    Fatwa semacam ini sama dengan fatwa kaum Syiah Imamiyah di Iran, bahwa thalak tiga sekaligus hanya jatuh satu.
    Fatwa semacam ini ditolak oleh ke-empat mazdhab, yaitu oleh mazdhab-mazdhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali. Keempat mazdhab itu mengatakan bahwa talak 3 sekaligus jatuh tiga.
    Menurut kitab Fashlul Aqwaal, page 32, Ibnu Taimiyah telah melanggar dan merongrong 16 (enam belas) Ijma’, yaitu kesepakatan Imam-Imam Mujtahid dalam suatu masa.
    Fatwa-fatwa yang melanggar ijma’ itu adalah :
    Bersumpah dengan thalak tidak membikin jatuh thalak, tetapi hanya suami diwajibkan membayar kafarat sumpah
    Thalak ketika istri membawa haidh tidak jatuh.
    Thalak diwaktu suci yang disetubuhi tidak jatuh
    Sembahyang yang ditinggalkan dengan sengaja tidak diqadha
    Thalak tiga sekaligus hanya jatuh.
    Orang yang junub (habis bersetubuh dengan istrinya) boleh melakukan sembahyang sunat malam tanpa mandi lebih dulu.
    Syarat si waqif tidak diperdulikan
    Orang yang mengingkari ijma’ bukan kafir dan bukan fasiq.
    Tuhan itu tempat yang hadits (yang baru), dengan arti Tuhan menjadi tempat bagi sifatnya yang baru.
    Zat Tuhan tersusun, yang satu berkehendak dari yang lain
    Qur’an itu baru bukan Qadim
    Alam Itu Qadim
    Tuhan bertubuh, berjihat dan pindah-pindah tempat
    Neraka akan lenyap, bukan kekal.
    Tuhan sama besar dengan Arsy.
    Nabi-Nabi tidak Ma’sum
    Nah, Ibnu Taimiyah telah melakukan penyelewengan dari 3 jurusan yaitu dari pihak I’tiqad, pihak akhlak, dan dari pihak hukum fiqih.

  10. Para Ulama Ahlussunnah Memerangi Ibn Taimiyah [Mengenal "Tiang Utama" Ajaran Sesat Wahabi]

    Ibn Taimiyah (w 728 H) adalah sosok kontroversial yang segala kesesatannya telah dibantah oleh berbagai lapisan ulama dari empat madzhab; ulama madzhab Syafi’i, ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan oleh para ulama madzhab Hanbali. Bantahan-bantahan tersebut datang dari mereka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri maupun dari mereka yang datang setelahnya. Berikut ini adalah di antara para ulama tersebut dengan beberapa karyanya masing-masing :
    1. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H).
    2. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.
    3. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.
    4. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali. Ibn Taimiyah di masa hidupnya dipenjarakan karena kesesatannya hingga meninggal di dalam penjara dengan rekomedasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab ini, yaitu pada tahun 726 H. Lihat peristiwa ini dalam kitab ‘Uyûn at-Tawârikh karya Imam al-Kutubi, dan dalam kitab Najm al-Muhtadî Fî Rajm al-Mu’tadî karya Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi.
    5. Syekh Shaleh ibn Abdillah al-Batha-ihi, Syekh al-Munaibi’ ar-Rifa’i. salah seorang ulama terkemuka yang telah menetap di Damaskus (w 707 H).
    6. Syekh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan Ali as-Sarraj ar-Rifa’i al-Qurasyi asy-Syafi’i. salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri.
    • Tuffâh al-Arwâh Wa Fattâh al-Arbâh
    7. Ahli Fiqih dan ahli teologi serta ahli tasawwuf terkemuka di masanya; Syekh Tajuddin Ahmad ibn ibn Athaillah al-Iskandari asy-Syadzili (w 709 H).
    8. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) di seluruh wilayah negara Mesir; Syekh Ahmad ibn Ibrahim as-Suruji al-Hanafi (w 710 H).
    • I’tirâdlât ‘Alâ Ibn Taimiyah Fi ‘Ilm al-Kalâm.
    9. Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; Syekh Ali ibn Makhluf (w 718 H). Di antara pernyataannya sebagai berikut: “Ibn Taimiyah adalah orang yang berkeyakinan tajsîm, dan dalam keyakinan kita barangsiapa berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir yang wajib dibunuh”.
    10. Syekh al-Faqîh Ali ibn Ya’qub al-Bakri (w 724 H). Ketika suatu waktu Ibn Taimiyah masuk wilayah Mesir, Syekh Ali ibn Ya’qub ini adalah salah seorang ulama terkemuka yang menentang dan memerangi berbagai faham sesatnya.
    11. Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi’i (w 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara.
    12. Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H).
    • al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa an-Nâr.
    • ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah.
    • Syifâ’ as-Saqâm Fî Ziyârah Khair al-Anâm
    • an-Nazhar al-Muhaqqaq Fi al-Halaf Bi ath-Thalâq al-Mu’allaq.
    • Naqd al-Ijtimâ’ Wa al-Iftirâq Fî Masâ-il al-Aymân Wa ath-Thalâq.
    • at-Tahqîq Fî Mas-alah at-Ta’lîq.
    • Raf’u asy-Syiqâq Fî Mas’alah ath-Thalâq.
    13. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushûly al-Faqîh Muhammad ibn Umar ibn Makki yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Murahhil asy-Syafi’i (w 716 H). Di masa hidupnya ulama besar ini telah berdebat dan memerangi Ibn Taimiyah.
    14. Imam al-Hâfizh Abu Sa’id Shalahuddin al-‘Ala-i (w 761 H). Imam terkemuka ini mencela dan telah memerangi Ibn Taimiyah. Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ’ al-‘Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33.
    • Ahâdîts Ziyârah Qabr an-Naby.
    15. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) kota Madinah Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (w 726 H).
    16. Imam Syekh Ahmad ibn Yahya al-Kullabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri.
    • Risâlah Fî Nafyi al-Jihah.
    17. Al-Qâdlî Kamaluddin ibn az-Zamlakani (w 727 H). Ulama besar yang semasa dengan Ibn Taimiyah ini telah memerangi seluruh kesesatan Ibn Taimiyah, hingga beliau menuliskan dua risalah untuk itu. Pertama dalam masalah talaq, dan kedua dalam masalah ziarah ke makam Rasulullah.
    18. Al-Qâdlî Shafiyuddin al-Hindi (w 715 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri.
    19. Al-Faqîh al-Muhaddits Ali ibn Muhammad al-Baji asy-Syafi’i (w 714 H). Telah memerangi Ibn Taimiyah dalam empat belas keyakinan sesatnya, dan telah mengalahkan serta menundukannya.
    20. Sejarawan terkemuka (al-Mu-arrikh) al-Faqîh al-Mutakallim al-Fakhr ibn Mu’allim al-Qurasyi (w 725 H).
    • Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu’tadî
    21. Al-Faqîh Muhammad ibn Ali ibn Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Damasyqi (w 721 H).
    • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah ath-Thalâq
    • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah az-Ziayârah
    22. Al-Faqîh Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad asy-Syirazi (w 733 H).
    • Risâlah Fi ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah
    23. Al-Faqîh al-Muhaddits Jalaluddin al-Qazwini asy-Syafi’i (w 739 H).
    24. As-Sulthan Ibn Qalawun (w 741 H). Beliau adalah Sultan kaum Muslimin saat itu, telah menuliskan surat resmi prihal kesesatan Ibn Taimiyah.
    25. Al-Hâfizh adz-Dzahabi (w 748 H) yang merupakan murid Ibn Taimiyah sendiri.
    • Bayân Zaghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab.
    • an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah.
    26. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (745 H).
    • Tafsîr an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth
    27. Syekh Afifuddin Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i al-Yamani al-Makki (w 768 H).
    28. Al-Faqîh Syekh Ibn Bathuthah, salah seorang ulama terkemuka yang telah banyak melakukan rihlah (perjalanan).
    29. Al-Faqîh Tajuddin Abdul Wahhab ibn Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 771 H).
    • Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ
    30. Seorang ulama ahli sejarah terkemuka (al-Mu-arrikh) Syekh Ibn Syakir al-Kutubi (w 764 H).
    • ‘Uyûn at-Tawârikh.
    31. Syekh Umar ibn Abi al-Yaman al-Lakhmi al-Fakihi al-Maliki (w 734 H).
    • at-Tuhfah al-Mukhtârah Fî ar-Radd ‘Alâ Munkir az-Ziyârah
    32. Al-Qâdlî Muhammad as-Sa’di al-Mishri al-Akhna’i (w 750 H).
    • al-Maqâlât al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah, dicetak satu kitab dengan al-Barâhîn as-Sâthi’ah karya Syekh Salamah al-Azami.
    33. Syekh Isa az-Zawawi al-Maliki (w 743 H).
    • Risâlah Fî Mas-alah ath-Thalâq.
    34. Syekh Ahamad ibn Utsman at-Turkimani al-Jauzajani al-Hanafi (w 744 H).
    • al-Abhâts al-Jaliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah.
    35. Imam al-Hâfizh Abdul Rahman ibn Ahmad yang dikenal dengan Ibn Rajab al-Hanbali (w 795 H).
    • Bayân Musykil al-Ahâdîts al-Wâridah Fî Anna ath-Thalâq ats-Tsalâts Wâhidah.
    36. Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani (w 852 H).
    • ad-Durar al-Kâminah Fî A’yân al-Mi-ah ats-Tsâminah.
    • Lisân al-Mizân.
    • Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri.
    • al-Isyârah Bi Thuruq Hadîts az-Ziyârah.
    37. Imam al-Hâfizh Waliyuddin al-Iraqi (w 826 H).
    • al-Ajwibah al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-As-ilah al-Makkiyyah.
    38. Al-Faqîh al-Mu-arrikh Imam Ibn Qadli Syubhah asy-Syafi’i (w 851 H).
    • Târîkh Ibn Qâdlî Syubhah.
    39. Al-Faqîh al-Mutakallim Abu Bakar al-Hushni penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr (829 H).
    • Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasaba Dzâlika Ilâ Imam Ahmad.
    40. Salah seorang ulama terkemuka di daratan Afrika pada masanya; Syekh Abu Abdillah ibn Arafah at-Tunisi al-Maliki (w 803 H).
    41. Al-‘Allâmah Ala’uddin al-Bukhari al-Hanafi (w 841 H). Beliau mengatakn bahwa Ibn Taimiyah adalah seorang yang kafir. Beliau juga mengkafirkan orang yang menyebut Ibn Taimiyah dengan Syekh al-Islâm jika orang tersebut telah mengetahui kekufuran-kekufuran Ibn Taimiyah. Pernyataan al-’Allâmah Ala’uddin al-Bukhari ini dikutip oleh Imam al-Hâfizh as-Sakhawi dalam kitab adl-Dlau’ al-Lâmi’.
    42. Syekh Muhammad ibn Ahmad Hamiduddin al-Farghani ad-Damasyqi al-Hanafi (w 867 H).
    • ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah Fi al-I’tiqâdât.
    43. Syekh Ahamd Zauruq al-Fasi al-Maliki (w 899 H).
    • Syarh Hizb al-Bahr.
    44. Imam al-Hâfizh as-Sakhawi (902 H)
    • al-I’lân Bi at-Taubikh Liman Dzamma at-Târîkh.
    45. Syekh Ahmad ibn Muhammad yang dikenal dengan Ibn Abd as-Salam al-Mishri (w 931 H)
    • al-Qaul an-Nâshir Fî Radd Khabbath ‘Ali Ibn Nâshir.
    46. Al-‘Allâmah Syekh Ahmad ibn Muhammad al-Khawarizmi ad-Damasyqi yang dikenal dengan Ibn Qira (w 968 H).
    47. Imam al-Qâdlî al-Bayyadli al-Hanafi (1098 H)
    • Isyârât al-Marâm Min ‘Ibârât Imam.
    48. Syekh al-‘Allâmah Ahmad ibn Muhammad al-Witri (w 980 H)
    • Raudlah an-Nâzhirîn Wa Khulâshah Manâqib ash-Shâlihîn.
    49. Al-Faqîh al-’Allâmah Syekh Ibn Hajar al-Haitami (w 974 H).
    • al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah.
    • al-jawhar al-Munazh-zham Fî Ziyârah al-Qabr al-Mu’azham.
    • Hâsyihah al-Idlâh Fî Manâsik al-Hajj Wa al-‘Umrah.
    50. Syekh Jalaluddin ad-Dawani (w 928 H).
    • Syarh al-‘Aqâ-id al-Adludiyyah.
    51. Syekh Abd an-Nafi ibn Muhammad ibn Ali ibn Iraq ad-Damasyqi (w 962 H). Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ’ al-Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33.
    52. Syekhal-Qâdlî Abu Abdillah al-Maqarri.
    • Nazhm al-La-âlî Fî Sulûk al-Âmâlî.
    53. Syekh Mulla Ali al-Qari al-Hanafi (w 1014 H)
    • Syarh asy-Syifâ Bi Ta’rif Huqûq al-Musthafâ Li al-Qâdlî ‘Iyâdl.
    54. Imam Syekh Abd ar-Ra’uf al-Munawi asy-Syafi’i (w 1031 H).
    • Syarh asy-Syamâ’il al-Muhammadiyyah Li at-Tirmidzi.
    55. Syekh al-Muhaddits Muhammad ibn Ali ibn Allan ash-Shiddiqi al-Makki (w 1057 H).
    • aL-Mubrid al-Mubki Fî Radd ash-Shârim al-Manki.
    56. Syekh Ahmad al-Khafaji al-Mishri al-Hanafi (w 1069 H).
    • Syarh asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ Li al-Qâdlî ‘Iyâdl.
    57. Al-Mu-arrikh Syekh Ahmad Abu al-Abbas al-Maqarri (w 1041 H).
    • Azhar ar-Riyâdl.
    58. Syekh Muhammad az-Zarqani al-Maliki (w 1122 H)
    • Syarh al-Mawâhib al-Ladunniyyah.
    59. Syekh Abd al-Ghani an-Nabulsi ad-Damasyqi (1143 H). Beliau banyak menyerang Ibn Taimiyah dalam berbagai karyanya.
    60. Al-Faqîh ash-Shûfi Syekh Muhammad Mahdi ibn Ali ash-Shayyadi yang dikenal dengan nama ar-Rawwas (w 1287 H).
    61. Syekh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi al-Maliki.
    • an-Nasyr ath-Thayyib ‘Alâ Syarh Syekh ath-Thayyib.
    62. Syekh as-Sayyid Muhammad Abu al-Huda ash-Shayyadi (w 1328 H).
    • Qilâdah al-Jawâhir.
    63. Syekh Musthafa ibn Syekh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali, hakim Islam wilayah Duma, hidup sekitar tahun 1331 H.
    • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah.
    64. Syekh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al-Hanbali ad-Damasyqi (w 1348 H).
    • an-Nuqûl asy-Syar’iyyah.
    65. Syekh Mahmud Khaththab as-Subki (w 1352 H).
    • ad-Dîn al-Khâlish Aw Irsyâd al-Khlaq Ilâ Dîn al-Haq.
    66. Mufti kota Madinah Syekh al-Muhaddits Muhammad al-Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H).
    • Luzûm ath-Thalâq ats-Tsalâts Daf’ah Bimâ La Yastahî’ al-Âlim Daf’ah.
    67. Syekh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani (w 1362 H).
    • an-Naf-hah az-Zakiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah.
    • al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah.
    68. Syekh Ahmad Hamdi ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H).
    • Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah.
    69. Syekh Salamah al-Azami asy-Syafi’i (w 1376 H)
    • al-Barâhîn as-Sâth’iah Fî Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ-i’ah.
    • Berbagai makalah dalam surat kabar al-Muslim Mesir.
    70. Mufti negara Mesir Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (w 1354 H).
    • Tath-hîr al-Fu’âd Min Danas al-‘I’tiqâd.
    71. Wakil para Masyâyikh Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki Syekh al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari (1371 H).
    • Kitâb al-Maqâlât al-Kautsari.
    • at-Ta’aqqub al-Hatsîts Limâ Yanfîhi Ibn Taimiyah Min al-Hadîts.
    • al-Buhûts al-Wafiyyah Fî Mufradât Ibn Taimiyah.
    • al-Isyfâq ‘Alâ Ahkâm ath-Thalâq.
    72. Syekh Ibrahim ibn Utsman as-Samnudi al-Mishri, salah seorang ulama yang hidup di masa sekarang.
    • Nushrah Imam as-Subki Bi Radd ash-Shârim al-Manki.
    73. Ulama terkemuka di kota Mekah Syekh Muhammad al-Arabi at-Tabban (w 1390 H).
    • Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn.
    74. Syekh Muhammad Yusuf al-Banuri al-Bakistani.
    • Ma’ârif as-Sunan Syarh Sunan at-Tirmidzi.
    75. Syekh Manshur Muhammad Uwais, salah seorang ulama yang masih hidup di masa sekarang.
    • Ibn Taimiyah Laysa Salafiyyan.
    76. Al-Hâfizh Syekh Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Maghribi (w 1380 H).
    • Hidâyah ash-Shughrâ’.
    • al-Qaul al-Jaliyy.
    77. Syekh al-Musnid al-Habîb Abu al-Asybal Salim ibn Husain ibn Jindan, salah seorang ulama terkemuka di Indonesia (w 1389 H)
    • al-Khulâshah al-Kâfiyah Fî al-Asânid al-‘Âliyah.
    78. Syekh al-Muhaddits Abdullah al-Ghumari al-Maghribi (w 1413 H).
    • Itqân ash-Shun’ah Fî Tahqîq Ma’nâ al-Bid’ah.
    • ash-Shubh as-Sâfir Fî Tahqîq Shalât al-Musâfir.
    • ar-Rasâ’il al-Ghumâriyyah.
    • Dan berbagai tulisan beliau lainnya.
    79. Syekh Hamdullah al-Barajuri, salah seorang ulama terkemuka di Saharnafur India.
    • al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr.
    80. Syekh Abu Saif al-Hamami secara terang telah mengkafirkan Ibn Taimiyah dalam karyanya berjudul Ghauts al-‘Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd. Beliau adalah salah seorang ulama besar dan terkemuka di wilayah Mesir. Kitab karyanya ini telah direkomendasikan oleh para masyayikh Azhar dan ulama besar lainnya, yaitu oleh Syekh Muhammad Sa’id al-Arfi, Syekh Yusuf ad-Dajwi, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, Syekh Muhammad al-Bujairi, Syekh Muhammad Abd al-Fattah Itani, Syekh Habibullah al-Jakni asy-Syinqithi, Syekh Dasuqi Abdullah al-Arabi, dan Syekh Muhammad Hafni Bilal.
    81. Syekh Muhammad ibn Isa ibn Badran as-Sa’di al-Mishri.
    82. As-Sayyid Syekh al-Faqîh Alawi ibn Thahir al-Haddad al-Hadlrami.
    83. Syekh Mukhtar ibn Ahmad al-Mu’ayyad al-Azhami (w 1340 H).
    • Jalâ’ al-Awhâm ‘An Madzhab al-A-immah al-‘Izhâm Wa at-Tawassul Bi Jâh Khayr al-Anâm -‘Alaih ash-Shalât Wa as-Salâm-. Kitab ini berisi bantahan atas kitab karya Ibn Taimiyah berjudul Raf’u al-Malâm.
    84. Syekh Isma’il al-Azhari.
    • Mir’âh an-Najdiyyah.
    85. KH. Ihsan ibn Muhammad Dahlan Jampes Kediri, salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga.
    • Sirâj ath-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-‘Âbidîn Ilâ Jannah Rabb al-‘Âlamîn.
    86. KH. Hasyim Asy’ari Tebu Ireng Jombang. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia, perintis ormas Islam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Beliau merintis ormas ini tidak lain hanya untuk membentengi kaum Ahlussunnah Indonesia dari faham-faham Ibn Taimiyah yang telah diusung oleh kaum Wahhabiyyah.
    • ‘Aqîdah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah.
    87. KH. Sirajuddin Abbas, salah seorang ulama terkemuka Indonesia.
    • I’tiqad Ahl as-sunnah Wa al-Jama’ah.
    • Empat Puluh Masalah Agama
    88. KH. Ali Ma’shum Yogyakarta (w 1410 H), salah seorang ulama terkemuka Indonesia.
    • Hujjah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah.
    89. KH. Ahmad Abd al-Halim Kendal, salah seorang ulama besar Indonesia.
    • Aqâ-id Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah. Ditulis tahun 1311 H
    90. KH. Bafadlal ibn Syekh Abd asy-Syakur as-Sinauri Tuban. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga.
    • Risâlah al-Kawâkib al-Lammâ’ah Fî Tahqîq al-Musammâ Bi Ahl as-Sunnah.
    • Syarh Risâlah al-Kawâkib al-Lammâ’ah Fî Tahqîq al-Musammâ Bi Ahl as-Sunnah.
    • Al-‘Iqd al-Farîd Bi Syarh Jawharah at-Tauhîd
    91. Tuan Guru Zainuddin ibn Abd al-Majîd Pancor Lombok Nusa Tenggara Barat.
    • Hizb Nahdlah al-Wathan
    92. KH. Muhammad Syafi’i Hadzami ibn Muhammad Saleh Ra’idi, salah seorang ulama betawi, pernah menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta (1990-2000).
    • Taudlîh al-Adillah.
    93. KH. Ahmad Makki Abdullah Mahfuzh Sukabumi Jawa Barat.
    • Hishn as-Sunnah Wa al-Jama’âh

  11. masyaAllah fitnah ini begitu mendalamnya, yaAllah lindungi saya dari dari jalan yang menyimpang.

    • Amien ya rabbal alamin semoga diri kita, anak kita, keluarga kita dan masyarakat kita juga mendapat lindungan Allah dari fitnah. Terutama fitnah syubhat dan fitnah syahwat yang banyak menjerumuskan manusia ke jalan menyimpang.

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: