Peranan Imam At-Thabari Dalam Pengembangan Ilmu Tafsir


Imam Thabari dikenal sebagai Amirul Mukminin dalam tafsir, banyak pujian terhadap kitab tafsirnya. Dengan ilmunya yang luas itu ia telah membantu pengembangan ilmu tafsir yang bisa dirasakan sampai hari ini. Berikut ini beberapa pendapat dan sikap beliau dalam ilmu tafsir yang kemudian layak untuk diikuti dan diteladani oleh generasi setelah beliau.

Pertama, Mengingkari Tafsir Yang Bersumber Pada Logika Saja

 

Tampaknya sejak kanak-kanak, Imam al-Thabari sudah bercita-cita ingin menjadi ahli tafsir. Karena menurut pengakuannya, redaksi judul bukunya tersebut telah dipersiapkannya sejak masih kecil. Buku yang terdiri dari sekitar 6 jilid besar ini selesai disusun sekaligus diajarkan kepada murid-muridnya selama 7 tahun (283H-290H).

Imam Thabari mengawali bukunya dengan pendahuluan tentang keistimewaan Al-Quran dari segi bahasa dan sastra, masalah tafsir dan cara-cara menerapkannya, dalil penafsiran Al-Quran yang yang dibolehkan dan dilarang, penjelasan pernyataan Rasulullah saw bahwa Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa. Kemudian Imam Thabari masuk dalam tafsir Al-Quran kata-demi kata dengan mengutip pendapat para Sahabat, tabi’in dan ulama generasi berikutnya, menjelaskan pendapat ahli bahasa baik dari Bashrah atau Kufah, menjelaskan hukum yang terdapat dalam ayat dan perbedaan pendapat ulama di dalamnya, membantah pendapat ahli bid’ah dan seterusnya.

 Imam Thabari bila ingin menafsirkan Al Qur’an berkata: “Pendapat mengenai ta’wil (tafsir) firman Allah ini begini dan begitu”. Kemudian beliau tafsirkan ayat tersebut dengan berdasarkan pada pendapat para sahabat dan tabi’in yang dengan sanad yang lengkap, dan inilah yang disebut dengan tafsir Bil Ma’tsur (dan bukan tafsir bir ra’yi bahkan beliau mengingkari orang yang menafsirkan dengannya).

Al-Thabari mengedepankan tafsir yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi`in dengan ragam jalan periwayatan mereka, seperti Ibn Abbas, Sa`id ibn Jubair, Mujahid ibn Jabr, Qatadah ibn Da`amah, al-Hasan al-Bashri, `Ikrmah, al-Dhahak  ibn Muzahim, Abdullah ibn Mas`ud, Abd al-Rahman ibn Zaid, Ibn Juraij, Muqatil ibn Hayyan dan lain-lain. Al-Thabari tidak menggunakan sumber-sumber riwayat yang tidak valid, seperti Muhammad ibn al-Sa’ib al-Kalbi, Muqatil ibn Sulaiman, al-Waqidi dan lain-lain, karena dalam penilaian al-Thabari, mereka lemah.

Kekuatan dan validitas sumber-sumber tafsir inilah yang menjadi titik berat penilain Ibn Taimiyah yang membawanya kepada kesimpulan, setelah membandingkan dengan tafsir-tafsir lain, bahwa “Tafsir paling shahih diantara semua tafsir  itu adalah Tafsir Muhammad ibn Jarir al-Thabari, karena ia mengutip pendapat ulama generasi salaf dengan sanad yang valid, tidak ada bid`ah, dan tidak mengutip dari sumber-sumber yang tertuduh (muttaham) seperti Muqatil ibn Bukair dan al-Kalbi”.

Imam Thabari memaparkan segala riwayat yang bekenaan dengan ayat, namun tidak hanya sekedar mengemukakan riwayat semata, melainkan ia juga mengkonfrontir pendapat-pendapat (riwayat-riwayat) tersebut satu dengan yang lain lalu mentarjihkan salah satunya. Disamping itu ia juga menerangkan aspek I’rob jika ini dianggap perlu dan mengistimbatkan sejumlah hukum.

Kedua,Kritikus Sanad

 

Walaupun beliau (Ibnu Jarir) konsisten terhadap metode tafsirnya yaitu dengan  menyebutkan riwayat-riwayat plus dengan sanad-sanadnya namun beliau tidak menyebutkan mana yang shohih dan mana yang dho’if. Itu dikarenakan beliau telah keluar dari perjanjian (yaitu meringkas tafsir beliau).

Bersamaan dengan itu beliau terkadang kritis terhadap sanad tak ubahnya seperti kritikus yang berpengalaman, maka beliau menta’dilkan yang adil, dan menjarh yang cacat, menolak riwayat yang tidak syah riwayatnya, dan mengutarakan pendapatnya. Sebagai satu contoh: “dalam surat Al Kahfi, ayat ke-93: “

“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Beliau berkata: “Diriwayatkan dari Ikrimah tentang ayat itu (yaitu tentang dhomah atau fathahnya huruf “siiin” dalam lafadz “As Suda”) yaitu hadist yang diriwayatkan Ahmad bin Yusuf, ia berkata: bercerita kepada kami Al Qosim, Hajjaj, dari Harun dari Ayub, dari Ikrimah ia berkata: “yang biasa dipakai Bani Adam, yaitu dengan dibaca: “ass sada” dengan memakai fathah, tapi kalau kalau dari Allah adalah memakai dhomah “ass suda”. Kemudian menerangkan sanad ini: “Adapun yang disebutkan dari Ikrimah itu maka itu sama dengan yang dinukil dari Ayub Harun, tapi dalam penukilannya diperselisihkan, dan kami tidak mengetahui riwayat dari Ayub yang sahabatnya tsiqoh.[1]

Ketiga, Menentukan Ijma’

 

Kita dapatkan juga Ibnu Jarir di dalam tafsir beliau, menetapkan  atau menentukan ijma’. Sebagai contoh adalah surat Al Baqarah ayat: 230.

“Kemudian jika si suami menthalaknya (sesudah talak yang kedua),maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain”.

 

Beliau berkata: “jika ada orang berkata: “Nikah mana yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya itu? Nikah jima’kah atau nikah yang dimaksud adalah akad pernikahan itu sendiri? Ada yang mengatakan kedua-duanya, yaitu bahwa seorang wanita bila nikah dengan seorang laki-laki, tapi belum di gaulinya lalu dicerai maka tidak halal bagi suami yang pertama. Begitu juga jika ada yang menggaulinya tapi tidak melalui nikah maka tidak halal juga untuk dinikahi oleh suami pertama, menurut ijma’ ulama’. Maka sudah menjadi ma’lum bahwa ta’wil (tafsir) firman Allah itu: adalah nikah yang sebenarnya, kemudian digaulinya, lalu di tholak. Apabila ada yang mengatakan: “sesungguhnya penyebutan Jima’ tidak didapatkan dalam Al Qur’an, apa dalil yang mendukung bahwa yang dimaksud ayat itu adalah jima’? di katakan: “bahwa dalilnya adalah ijma’ umat seluruhnya bahwa ma’nanya adalah seperti itu”.[2]

Keempat, Sebagai Imam Dalam Ilmu Qiraah

 

Kita dapatkan juga dalam tafsirnya, beliau menyebutkan ilmu-ilmu bacaan dalam Al Qur’an. Beliau banyak menolak bacaan-bacaan yang tidak ada dasarnya dari para Aimmah Qiroah dan yang hanya didasarkan landasan-landasan yang tidak falid yang (karena bila tidak begitu) akan menimbulkan pergeseran dan perubahan makna terhadap Al Qur’an. Sebagai contoh: ayat 81 dari surat Al Anbiya':

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”.

 

Beliau menyebutkan bahwa mayoritas para quro’ membaca lafadz “ar riih” dengan nashob (fathah) karena sebagai maf’ul (obyek), tapi Abdur Rohman membacanya dengan rofa’ (dhomah) karena sebagai mubtada’. Lalu beliau berkata: “Adapun bacaan yang tidak aku perbolehkan kecuali dengan selainnyaadalah yang dibaca oleh mayoritas para ulama’.

Dan sebab mengapa beliau menyebutkan juga ilmu bacaan ayat, adalah bahwa beliau termasuk ulama’ Qiroah yang masyhur, sampai mereka (para qurro’ yang lainnya) mengatakan: “Bahwa baliau (ibnu Jarir) telah mengarang kitab khusus tentang ilmu bacaan, sebanyak 18 jilid, didalamnya beliau menyebutkan seluruh bacaan yang mayhur sekaligus bacaan yang nyeleweng dan menjelaskan, kemudian beliau memilih dari bacaan yang paling masyhur. Tapi walaupun kitab ini telah lenyap dengan berjalannya waktu, akan tetapi karangan-karangan beliau yang lain masih banyak.

 

Kitab tersebut berjudul “al-Fashl Baina al-Qiraat”, dalam kitab ini ia menyebutkan perselisihan para Qurra’ dalam huruf al-Quran, membagi nama qurra berdasarkan kotanya, seperti Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah dan Syam, selain itu dalam kitab ini disebutkan juga macam-macam qiraah, lalu ia  sebutkan tawil dan dalalah dari setiap qari’ dan memilih pendapat yang benar berdasarkan ikhtiyar yang benar yang diperkuat dengan kemampuan tafsir dan irabnya yang tidak dimiliki qari lainnya.

Abu Bakar bin Mujahid berkata: “Tidak ada ditempat ini yang paling mengetahui ilmu qiraah selain Abu Jafar.” [3]

Ibnu Kamil berkata: “Abu Ja’far belajar qiraah kepada Hamzah sebelum berikhtiyar dengan qiraahnya.”[4]

Abu Jafar memiliki riwayat dari Waras dari Nafi’ dari Yunus bin Abd al-Ala, dan suatu ketika  Abu Bakar bin Mujahid ingin mendengar riwayat tersebut sendiri, maka Abu Jafar menolaknya kecuali jika didengar juga oleh manusia, hal ini termauk salah satu sifat mulia dari Abu Jafar dimana ia tidak suka untuk mengkhususkan ilmu hanya pada seseorang saja. Dan jika ada seseorang yang telah diberi tugas untuk membaca kitab beliau, lalu ia tidak datang, ia tidak mengizinkan orang lain untuk menggantikannya, dan jika ada seseorang yang meminta untuk membacakan qiraah, lalu orang itu tidak datang, ia tidak membacakannya hingga orang itu datang, kecuali kitab fatwa, karena setiap ia ditanya, ia akan menjawab.[5]

Kelima, Tentang Israiliyat

 

Kita dapatkan juga beliau menyebutkan dalam tafsirnya mengenai kisah-kisah isroiliyat, yang beliau ambil dari Ka’ab Al Ahbar, Wahab bin Munabih, Ibnu Juraij, As Suda dan yang lainnya. Dan kita juga melihat beliau menukil banyak dari Muhammad bin Ishaq yang diriwayatkan oleh Maslamah seorang Nasroni.

Adapun sanad-sanad beliau yang masih membutuhkan penelitian adalah: “Dari Ibnu Hamid ia berkata kepadaku dan bercerita: “Bercerita kepada kami Salamah dari Ibnu Ishaq dari Abi Atab… ia seorang nasroni lalu masuk islam dan mempelajari Al Qur’an serta mendalami ilmu dien, disebutkan bahwa beliau memeluk agama nasroni 40 tahun dan mem eluk islam 40 tahun juga. Contoh ayat yang beliau riwayatkan dari orang Nasrani adalah Surat Al Isra’ ayat 7.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

 

Dan juga dalam surat Al Kahfi ayat 94 tentang Ya’juj dan Ma’juj:

“Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj, itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”.

Walaupun beliau memberikan kritikan terhadap kisah-kisah israiliyat ini, akan tetapi masih membutuhkan kritikan yang lebih detail lagi.

Banyak ulama yang mencela Imam Thabari tentang masalah Israiliyat dalam tafsir Thabari, dan Syaikh Ahmad Syakir telah meneliti masalah ini, lalu ia mendapatkan sebabnya; yaitu Imam Thabari terpengaruh dengan penelitiannya dalam masalah sejarah selain itu ia hanya menukil dari kitab tarikh ulama sebelumnya, setelah mereka hapus sanadnya lalu ditulis pada kitab ulama sebelum Imam Thabari, seakan berita itu adalah benar, dan Ibnu Jarir menukilnya dalam kitabnya.[6]

Keenam, Perhatian Terhadap Ilmu Nahwu

Imam Thabari berpegangan dengan bahasa dalam menafsirkan Al-Quran karena Al-Quran turun dalam bahasa arab, dan banyak kita dapatkan Imam Thabari menguatkan tafsiran dengan bahasa setelah tidak ada dari hadits atau dari perkataan sahabat, ia kuatkan dengan syair arab atau pekataan orang arab.

Ketujuh,Meneliti Hukum-Hukum Fiqih

Suatu kali saya dan teman-teman saya di perguruan tinggi pernah ditugaskan dosen kami untuk mencari 10 hal yang dirajihkan Imam Thabari, jika jumlah kami 15 orang, maka terkumpul 150 pendapat yang dirajihkan oleh Imam Thabari, selain juga ia menyebutkan ijma’ tentang suatu masalah. Dalam masalah fiqih ia memiliki mazhab sendiri dan tidak berta’ashub terhdap mazhabnya selain itu ia juga memiliki ikhtiyar sendiri.

Demikianlah sekelumit keluasan ilmu Imam Thabari yang semoga bisa menggambarkan keluasan ilmunya dan perannya dalam ilmu Tafsir. Bagi para penuntut ilmu yang ingin menelaah kitab Tafsir Imam Thabari hendaknya tidak tergesa-gesa dalam membacanya karena pembahasannya yang terlalu panjang dalam membahas masalah, demikian juga ketika beliau mengungkapkan hujjahnya, sehingga tidak terjadi dengan yang biasa disebut orang-orang dengan miss understanding.:)


[1]  Husain az-Zahabi,i Tafsir wal Mufassirun, hal. 213

[2] Tafsir Ibnu jarir, juz: 16, hal: 13. dinukil dari tafsir wal Mufassirun, hal: 214.

[3] Yaqut al-Himawi,

[4] Yaqut al-Himawi,

[5] Yaqut al-Himawi,

[6] Qurais Suhail, Al-Mufasir: surutuhu, adabuhu,mashadiruhu: 235

One Response

  1. [...] http://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2012/03/31/peranan-imam-at-thabari-dalam-pengembangan-ilmu-tafsi…. [...]

Kirim Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: